Abd Rozaq
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERANAN ISTRI DALAM RUMAH TANGGA PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN TINJAUANNYA DALAM FIKIH MUNAKAHAT Ulil Fauziyah; Abd Rozaq
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v4i1.13835

Abstract

Pasangan suami-istri yang ideal adalah hubungan yang didasari dengan kebersamaan untu saling melengkapi kekurangan masing-masing. Hubungan yang tercipta dengan saling berbagai akan menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Dalama proses hubungan berumah tangga tidak menutupkemungkinan terjadi masalah di antaranya persoalan peran istri dalam beruma tangga. Penelitian ingin mengkaji bagaimana perspektif al-Qur’an tentang peran istri dalam rumah tangga dan tinjauannya dalam fikih munakahat. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan menggunakan studi kepustakaan yang meliputi data primer separti al-Qur’an dan pendapat para ulama, adapaun data sekundernya adalah berbagai kitab tafsir dan jurnal ilmiah. Hasil penelitiannya bahwa al-Qur’an memberikan keleluasaan dalam pembagian peran antara suami-istri sesuai dengan kadar kemampuannya tanpa melampaui batas norma-norma agama dan kepatutan, sedangkan dalam tinjaun fikih munakahat ada sebagain ulama yang melarang istri untuk beraktifitas di luar, dan adapula yang membolehkan istri untuk berperan dalam ranah public di antaranya pendapat imam al-Suyuthi dan Yusuf al-Qaradhawi.
Studi Komparatif Lafad Al-Adlu dan Al-Qisthu Dalam Perspektif Al-Qur’an Abd Rozaq
Sakina: Journal of Family Studies Vol. 3 No. 4 (2019): Sakina: Journal of Family Studies
Publisher : Islamic Family Law Study Program, Sharia Faculty, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.271 KB)

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan lafadz ‘Adl dan Qist dalam al-Qur’an. Menggunakan metode library research, dengan Jenis analisa data deskriptif kualitatif, dan tekhnik analisa datanya menggunakan metode komparatif. Adapun sumber data primer artikel ini lafadz ‘Adl dan Qist dalam al-Qur’an, sedangkan sekundernya adalah kitab-kitab tafsir al-Qur’an. Hasil artikel ini, yang pertama Persamaan lafadz al-Adlu dan al-Qisthu secara global adalah ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mempunyai arti sama yaitu keadilan, tujuan dari al-‘Adlu dan al-Qisthu adalah sama-sama dalam rangka menegakkan nilai kebenaran, dan sasaran kata bi al-‘adli dan bi al-Qisthi adalah seluruh umat manusia. Adapun perbedaannya adalah al-‘Adlu lebih umum dan luas dari pada kata al-Qisthu, makna al-‘Adlu itu berlaku adil secara menyeluruh, kalau al-Qisth berlaku adil sesuai dengan kewajaran dan kepatutan, dan terakhir makna Al-‘Adlu adalah keadilan yang tidak tampak atau sulit diukur, sedangkan al-Qisthu adalah keadilan yang tampak dan jelas ukurannya. Kedua kesan lafadz al-Adlu dan al-Qisthu adalah dua kata sederhana tetapi mempunyai makna yang bervariatif. Terdapatnya makna yang berbeda tersebut karena disebabkan adanya konteks yang berbeda, sehingga makna dasar tersebut berubah menyesuaikan alur kalimat yang dapat difahami sebagai sebuah kesatuan yang komprehensif. Walaupun terjadi pergeseran makna tetapi tetap tidak sampai keluar dari makna dasarnya.
KONTRIBUSI MUFASIR NUSANTARA DALAM MENJAGA PRINSIP WASATHIYAH: Studi Analisis Tafsir Al-Nur, Al-Azhar dan Al-Misbah Abd Rozaq
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 4 No. 2 (2025): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v4i2.24935

Abstract

Nusantara mufasir developed at the same time as Islam entered Indonesia, such as Hasby ash-Shiddiqie with his tafsir al-Nur, Hamka with his tafsir al-Azhar and Quraish Shihab with his tafsir al-Mishbah. These three figures have strong popularity and influence. Researchers in this context want to explore in more detail the interpretation of wasathiyah principles and their contribution, where recently the issue of moderation has developed due to the emergence of extreme understanding. By using a qualitative descriptive analysis method which is included in the library research category, researchers will explore references in the form of three tafsir books from each commentator and written reference sources related to the research theme. From the results of the systematic research, the presentation of the three tafsir uses the standard coherent systematics of the Ottoman Mushaf, with the same language style using popular writing. As for the form of writing, the tafsir of an-Nur and al-Azhar use a scientific form of writing, while al-Mishbah uses non-scientific writing. While the nature of the exegesis was all carried out individually with the exegetical knowledge obtained by Hasbi and Hamka autodidactically and Quraish Shihab which was achieved through formal education, the origins of all literature came from non-academic writing. Abstrak Mufasir nusantara berkembang bersamaan dengan agama Islam masuk ke Indonesia, seperti Hasby ash-Shiddiqie dengan tafsir al-Nur nya, Hamka dengan tafsir al-Azhar nya dan Quraish Shihab dengan tafsir al-Mishbahnya. Tiga tokoh ini mempunyai popularitas dan pengaruh yang kuat. Peneliti dalam kontek ini ingin menelusuri lebih terperinci penafsiannya mengenai prinsip-prinsip wasathiyah serta kontribusinya, yang mana pada akhir- akhir ini isu moderasi berkembang sebab munculnya pemahaman yang ekstrim. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif yang termasuk dalam kategori library research peneliti akan menggali dari referensi yang berupa tiga kitab tafsir dari masing- masing mufasir dan sumber- sumber rujukan tertulis yang berkaitan dengan tema penelitian. Dari hasil penelitian Sistematika penyajian ketiga tafsir menggunakan sistematika runtut standart mushaf utsmani, dengan gaya bahasa yang sama-sama menggunakan penulisan popular. Adapun bentuk penulisannya tafsir an-Nur dan al-Azhar menggunakan bentuk penulisan ilmiah sedangkan al-Mishbah menggunakan penulisan non ilmiah. Sementara sifat mufasirnya semuanya dilakukan secara individual dengan keilmuan mufasirnya yang didapat Hasbi dan Hamka secara otodidak dan Quraish Shihab yang ditempuh dengan pendidikan formal,asal-usul literatur kesemuanya berasal dari penulisan non akademik.