Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Nilai Estetika Tari dalam Kesenian Ronggiang pada Masyarakat Multietnis Pasaman Barat Oktavianus Oktavianus; Wardi Metro
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 5, No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v5i2.1815

Abstract

Ronggiang merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang berkembang di Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Kesenian ini terdiri atas tari dan syair berupa pantun yang diiringi oleh musik. Kesenian Ronggiang lahir dari sebuah proses akulturasi antara budaya etnis Jawa, Mandailing, dan Minangkabau. Etnis-etnis ini merupakan etnis yang mendiami wilayah Pasaman Barat, sehingga daerah ini juga dikenal dengan daerah multietnis. Sebagai suatu seni dengan eksistensi dan keberadaannya di tengah masyarakat, Ronggiang memiliki nilai estetika atau keindahan yang terkandung dalam kesenian tersebut. Nilai estetika dapat dilihat atau diamati dari tiga aspek, yaitu bentuk atau wujud, gagasan atau isi, dan penampilan. Nilai estetika ini merupakan mutu dari suatu seni yang memengaruhi eksistensinya di tengah masyarakat. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah menguraikan dan menganalisis estetika kesenian Ronggiang pada masyarakat multietnis Pasaman Barat. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktural dan estetis koreografis yang terdiri dari lima tahapan, yaitu tahap pra lapangan, lapangan, pengolahan data, penyajian data, dan pelaporan.
Karya Tari Jalan Pulang: Memaknai Fungsi Surau Pada Masyarakat Minangkabau Wardi Metro; Oktavianus Oktavianus
TAMUMATRA Vol 5 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/tmmt.v5i1.6406

Abstract

Penciptaan karya seni tari Jalan Pulang merupakan hasil pemaknaan terhadap fungsi surau sebagai pranata penting bagi masyarakat Minangkabau. Surau memiliki berbagai fungsi dan peran untuk memenuhi berbagai keperluan masyarakat dalam kehidupan sosial. Selain menjadi asrama bagi remaja laki-laki, surau juga berfungsi sebagai tempat bersosialisasi serta institusi pendidikan dan pengajaran nonformal. Landasan teori yang digunakan dalam proses penciptaan karya tari ini berpijak kepada teori penciptaan tari oleh Alma M. Hawkins dan Sal Murgiyanto. Vokabuler gerak yang digunakan dalam penciptaan karya tari ini berasal dari gerak tari tradisi Randai Ulu Ambek yang dipadukan dengan gerak-gerak Tari Zapin. Beberapa tahapan dalam metode penelitian terapan yang digunakan adalah riset, penyusunan konsep, penentuan gerak, dan pembentukan. Pemaknaan tentang surau dalam karya tari Jalan Pulang dikelompokkan menjadi tiga bagian karya, yaitu bagian pertama dengan judul “Berlindung”, bagian kedua berjudul “Pembelajaran”, dan bagian ketiga berjudul “Taubat”. Dengan memilih bentuk koreografi kelompok, karya ini mengangkat nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan di surau yang berdampak positif bagi generasi muda pada masa lalu.
“BASIJONTIAK” : Budaya Muda-mudi dalam menjalin Hubungan Kisah Cinta yang Hidup di Payakumbuh Widya Sari; Oktavianus Oktavianus; Adjuotoza Rovylendes
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2022): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v6i1.3725

Abstract

Karya ini berjudul “Basijontiak”ini terinspirasi dari fenomena sosial budaya yang ada di Payakumbuh yang mana Basijontiak itu adalah budaya muda-mudi dalam menjalani hubungan kisah cinta atau ajang untuk pencarian jodoh melalui seorang talangkai (makcomblang). Pengkarya terfokus pada konflik batin yang di alami perempuan yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai dan kepatutan serta hakikat dalam bergaul, pengkarya juga memakai tema budaya dan tipe dramatik. Metode dilakukan untuk mencari data-data yang akurat, seperti observasi langsung kepada salah satu seniman dan kepada salah satu warga yang ada di Payakumbuh, wawancara dan menganaliasa. Karya ini terdiri dari tiga bagian, pada bagian pertama adegan pertama disini saya menggambarkan perempuan yang pergi basijontiak pada adegan kedua menggambarkan aktifitas yang dilakukan basijontiak saling menunjukkan kecentilan, kecantikan. Pada bagian kedua adegan pertama menggambarkan salah satu penari perempuan tertarik dengan penari laki-laki, pada bagian dua adegan dua menggambarkan konflik ketidak senangan antara salah satu penari. Pada bagian tiga terjadi penolakan untuk bergaul dan akhirnya di ranggul kembali, bahwa apa yang kamu lakukan selama ini adalah salah.
SASARAN SILEK JUNGUIK SATI DALAM LANGKAH AMPEK NAGARI BATU TABA KABUPATEN TANAH DATAR Yan Stevenson; Auliana Mukhti Maghfirah; oktavianus oktavianus; Ernawita Ernawita
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 2 (2023): Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencak silat martial arts have their own style and characteristics, both in attack and defense. The very rapid development of culture and technology has an impact on the development of silat in the archipelago. One oBeladiri pencak silat memiliki gaya dan ciri khas masing-masing baik dalam penyerangan serta pertahanan. Perkembangan yang sangat begitu pesat terhadap budaya dan teknologi memiliki dampak terhadap perkembangan silat di nusantara. Salah satunya berkurangnya minat generasi muda terhadap perkembangan seni budaya silat yang membuat terjadi pergeseran serta semakin tergerusnya budaya seiring berjalannya waktu. Kekayaan lokal dalam berbagai aliran silek (silat) di Minangkabau yang dimiliki oleh ketiga Luhak (daerah) yaitu, Luhak nan tuo/Tanah Datar, Luhak Agam ( daerah agam) dan Luhak 50 koto ( daerah 50 Kota). Fenomena perkembangan silek tradisi sangat miris untuk kondisi sekarang dengan berkurangnya minat generasi muda, akan tetapi pada daerah nagari Batu Taba Kabupaten Tanah Datar memiliki antusias yang cukup baik dan diterima oleh kalangan masyarakat sekitarnya. Sasaran Junguik Sati ini memiliki peran dalam pembentukan karakter generasi muda pada saat sekarang ini dengan memiliki ragam dan pola Langkah Ampek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelestarian langkah ampek dan bentuk metode pembentukan karakter generasi muda nagari Batu Taba Kabupaten Tanah Datar terhadap perkembangan silek saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah literatur, observasi, dokumentasi serta wawancara
Nilai Estetika Tari dalam Kesenian Ronggiang pada Masyarakat Multietnis Pasaman Barat Oktavianus Oktavianus; Wardi Metro
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 5 No. 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v5i2.1815

Abstract

Ronggiang merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang berkembang di Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Kesenian ini terdiri atas tari dan syair berupa pantun yang diiringi oleh musik. Kesenian Ronggiang lahir dari sebuah proses akulturasi antara budaya etnis Jawa, Mandailing, dan Minangkabau. Etnis-etnis ini merupakan etnis yang mendiami wilayah Pasaman Barat, sehingga daerah ini juga dikenal dengan daerah multietnis. Sebagai suatu seni dengan eksistensi dan keberadaannya di tengah masyarakat, Ronggiang memiliki nilai estetika atau keindahan yang terkandung dalam kesenian tersebut. Nilai estetika dapat dilihat atau diamati dari tiga aspek, yaitu bentuk atau wujud, gagasan atau isi, dan penampilan. Nilai estetika ini merupakan mutu dari suatu seni yang memengaruhi eksistensinya di tengah masyarakat. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah menguraikan dan menganalisis estetika kesenian Ronggiang pada masyarakat multietnis Pasaman Barat. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktural dan estetis koreografis yang terdiri dari lima tahapan, yaitu tahap pra lapangan, lapangan, pengolahan data, penyajian data, dan pelaporan.
Sepi: Karya Tari Dramatik yang Menggambarkan Dampak Negatif Pergaulan Bebas pada Remaja Jaennetha Fathiatur Rahmah; Oktavianus Oktavianus
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2025): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v9i1.6237

Abstract

Fenomena pergaulan bebas pada remaja menjadi salah satu masalah sosial yang terus meningkat seiring perkembangan zaman. Pergaulan bebas yang mencakup perilaku menyimpang seperti merokok, mabuk, konsumsi narkoba, hingga seks bebas berdampak negatif terhadap psikologis remaja, termasuk timbulnya rasa kesepian, keterasingan, dan penurunan harga diri. Karya tari Sepi diciptakan sebagai refleksi artistik terhadap fenomena tersebut, khususnya menyoroti bagaimana rasa kesepian mendorong remaja terjerumus dalam lingkungan negatif, dan bagaimana kesadaran diri dapat membawa mereka keluar. Metode penciptaan yang digunakan adalah metode Alma M. Hawkins yang terdiri atas observasi lapangan, eksplorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Karya ini ditarikan oleh delapan penari perempuan dengan tipe dramatik dan iringan musik techno live. Pertunjukan dibagi dalam tiga bagian utama: kesepian, keterjerumusan dalam pergaulan bebas, dan proses katarsis untuk keluar dari jeratan sosial. Unsur gerak, properti, tata cahaya, musik, rias, dan busana dirancang untuk mendukung suasana emosional yang ingin disampaikan. Hasilnya menunjukkan bahwa karya tari dapat menjadi media edukasi dan kritik sosial yang efektif. Sepi tidak hanya menyajikan estetika gerak, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang pentingnya memilih lingkungan sosial yang sehat dan menghindari pergaulan bebas. 
Tor-Tor Raja-Raja sebagai Identitas Budaya Masyarakat Jorong Silayang Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat Zahratun Nisa; Hardi Hardi; Auliana Mukhti; Oktavianus Oktavianus
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/hcccn940

Abstract

This research aims to examine Tor-tor Raja-Raja as the cultural identity of the Mandailing community in Jorong Silayang, Ranah Batahan District, West Pasaman Regency. This study employed a qualitative method with a descriptive approach to describe factually the existence and implementation of Tor-tor Raja-Raja in community life. The theories used in this research are cultural identity theory by Alo Liliweri and Jonathan Rutherford, as well as performance structure theory by R. M. Soedarsono. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation involving traditional leaders, artists, and local community members. The results show that Tor-tor Raja-Raja is a cultural identity passed down from generation to generation and is still preserved today. This dance is characterized by performers from traditional leadership groups or kings, an odd number of dancers, and performances limited to certain traditional ceremonies such as weddings and welcoming honored guests. Furthermore, Tor-tor Raja-Raja functions as a means of respect, reinforcement of customary values, and social communication within Mandailing society.      
Ciluah : Interpretasi dari Fenomena Silang Peran Gender Laki-Laki Feminim dan Perempuan Maskulin Celsa Novia Biwis; Oktavianus Oktavianus; Emri Emri; Fattahul Anugraha
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/q5dxkz53

Abstract

Karya tari Ciluah terinspirasi dari fenomena sosial di Nagari Mandiangin, Kabupaten Pasaman Barat, yang memperlihatkan pergeseran dan perpaduan sifat maskulin dan feminim dalam kehidupan masyarakat. Karya ini mengangkat dua tokoh dengan karakter yang bertolak belakang, yaitu laki-laki berkarakter feminin yang bekerja sebagai biduan orgen dengan penampilan dan ekspresi yang lembut, serta perempuan maskulin seperti Ibu Maria yang mencari lokan di sungai untuk membantu perekonomian keluarga. Aktivitas yang penuh risiko dan tuntutan hidup membentuk keberanian, ketangguhan, dan disiplin pada sosok perempuan tersebut. Fenomena tersebut kemudian diinterpretasikan ke dalam karya tari bertema sosial dengan tipe garap abstrak. Melalui eksplorasi gerak, ekspresi, dan suasana pertunjukan, Ciluah menggambarkan keberanian, kelembutan, perjuangan, serta kompleksitas peran gender yang terbentuk oleh lingkungan, pekerjaan, dan kondisi kehidupan masyarakat. Karya ini disusun dalam tiga struktur garap suasana dan telah dipentaskan di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Nan Ka Sanang Realitas dari Peristiwa Tolak Bala dalam Tradisi Basapa di Taeh Bukik di Kabupaten Lima Puluh Kota Sonya Prima Putri; Emri Emri; Wahida Wahyuni; Oktavianus Oktavianus
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/sr5qhy70

Abstract

The Nan Ka Sanang dance is inspired by the Basapa tradition in Taeh Bukik, Lima Puluh Kota Regency, a tradition of praying during the month of Syafar as a way to ward off disaster and seek inner peace. This work depicts the reality of the tolak bala event in the basapa tradition, namely the spiritual journey of humans who come bringing disaster, anxiety, and hope, toward a point of purity through prayer and drawing closer to God. This work is danced by eight dancers accompanied by techno music. The methods used in creating this dance work are exploration, improvisation, and formation. The movements are developments of movements found in the basapa activity, namely sitting, walking, standing, and praying. This work uses a tray as a prop, symbolizing togetherness towards a common goal. This work is created with a religious theme and a pure style, consisting of three lines. It was performed at the Huriah Adam Performance Hall, Indonesian Institute of the Arts, Padangpanjang.
Karya Tari Rongga Sunyi Terinspirasi dari Tradisi Luambek di Padang Pariaman Aurelia Ivana; Ariefin Alham Jaya Putra; Oktavianus Oktavianus; Kurniadi Ilham
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/6yb5hz78

Abstract

The dance work Rongga Sunyi was inspired by the Luambek tradition from Padang Pariaman. The choreographer’s interest arose from the unique movements of Luambek martial arts, which differ from other forms of silek (silat). In Luambek, the duel occurs without any physical contact between the performers, yet it leaves emotional and psychological wounds for the Buluih (defeated) fighter. The central issue interpreted in this work focuses on social pressure experienced by the defeated fighter, who, from the very beginning of the duel, already feels the burden and expectation to win in order not to bring shame upon their village or themselves. This work is structured into three dramatic sequences, carrying a social theme and employing a dramatic type of choreography. The choreographic method used is based on the principles written by Prof. Dr. Y. Sumandiyo Hadi in his book Aspek Dasar-Dasar Koreografi Kelompok (The Basic Aspects of Group Choreography). To strengthen the atmosphere, the choreographer incorporated live techno music as accompaniment. The performance features five female dancers, selected based on their strong character, technical ability, and expressive interpretation that aligns with the choreographer’s vision in conveying the intended social issue. The dance work, titled Rongga Sunyi, was created in the style of traditional contemporary dance and was performed at the Boestanul Arifin Adam Auditorium on January 15, 2026.