Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Fenomena Sawah sebagai Dasar Penciptaan Karya Tari Pamatang Yan Stevenson; Wardi Metro
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 5, No 1 (2021): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNI 2021
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.102 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v5i1.21098

Abstract

Pamatang diartikan juga bagaimana kehati-hatian dalam berjalan di sawah baik yang searah ataupun yang berlawanan arah. Konsep Karya Tari pada ide dasarnya, dikemukanakan dalam pamatang adalah bagaimana kita menjadikan batasan pengarapan yang akan dicapai dan kehati-hatian dalam menjalankan kehidupan. Pemikiran dalam berkarya yang berangkat dalam artian pamatang merupakan suatu hal yang harus dijalankan dengan baik, kehati-hatian dalam menjalankan pola hidup di tengah masyarakat, jika kita tidak berhati-hati dalam berjalan dipematang maka kita akan tergelincir dan masuk kedalam sawah. Perkembangan dalam menentukan ide garap karya tari pamatang berdasarkan dari filosofis pamatang itu sendiri, sebuah batasan wilayah yang akan ditanam dan kehati-hatian dalam berjalan dipematang. Pemikiran ide kreatif dalam melahirkan bentuk karya seni tentu akan berbeda-beda pada setiap orang yang akan menafsirkannya. Pengkarya disini menampilkan dengan dua orang penari untuk menampilkan karya tari pamatang, dua orang penari menyimbolkan dua laras kepemimpinan di Minangkabau yaitu Bodi Chaniago dan Koto Piliang yang keduanya memilki aturan tertentu dalam menjalankan tata pemerintahannya. Artinya kepimpinan dalam karya pamatang ini kehati-hatian dalam bertindak dan mengambil keputusan yang tepat, karena berdampak kepada kaumnya.
TANAH LIAT SEBAGAI INSPIRASI DALAM MENCIPTAKAN KARYA TARI “TUBUH YANG MENGGELIAT” Anisa Rabdina; Yan Stevenson; Wardi Metro
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 2 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i2.3111

Abstract

ABSTRAK  Karya tari Tubuh Yang Menggeliat berangkat dari sifat tanah liat yang memiliki sifat mudah dibentuk ketika basah seperti gerakan mengalir dan bersifat keras ketika kering seperti gerakan stakato atau sentakan-sentakan. Fokus pengkarya ialah mentransformasikan sifat tanah liat itu ke dalam tubuh penari. Dimana disampaikan dalam respons tubuh penari terhadap sifat tanah liat tersebut pada setiap bagian dalam karya ini. Divisualkan oleh lima orang penari serta diperkuat dengan musik tekno live serta elemen komposisi lainnya. Metode yang digunakan dalam penggarapan karya ini adalah metode eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Karya ini digarap dengan tema kehidupan dan menggunakan tipe abstrak yang terdiri dari tiga alur garapan dan ditampilkan di Auditorium Boestanoel Arifin Adam Institut Seni Indonesia Padang Panjang.Kata Kunci : Sifat, Tubuh, dan Tanah Liat ABSTRAK  The Body Wriggling dance work departs from the nature of clay, which is easy to shape when wet like a flowing movement and hard when dry like a staccato movement or jerks. The focus of the artist is to transform the nature of the clay into the dancer's body. Which is conveyed in the response of the dancer's body to the nature of the clay in every part of this work. Visualized by five dancers and reinforced by live techno music and other compositional elements. The methods used in this work are exploration, improvisation, and shaping methods. This work is done with the theme of life and uses an abstract type consisting of three plots and is displayed at the Boestanoel Arifin Adam Auditorium, the Indonesian Art Institute, Padang Panjang.  Keywords: Nature, Body, and Clay
SASARAN SILEK JUNGUIK SATI DALAM LANGKAH AMPEK NAGARI BATU TABA KABUPATEN TANAH DATAR Yan Stevenson; Auliana Mukhti Maghfirah; oktavianus oktavianus; Ernawita Ernawita
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 2 (2023): Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencak silat martial arts have their own style and characteristics, both in attack and defense. The very rapid development of culture and technology has an impact on the development of silat in the archipelago. One oBeladiri pencak silat memiliki gaya dan ciri khas masing-masing baik dalam penyerangan serta pertahanan. Perkembangan yang sangat begitu pesat terhadap budaya dan teknologi memiliki dampak terhadap perkembangan silat di nusantara. Salah satunya berkurangnya minat generasi muda terhadap perkembangan seni budaya silat yang membuat terjadi pergeseran serta semakin tergerusnya budaya seiring berjalannya waktu. Kekayaan lokal dalam berbagai aliran silek (silat) di Minangkabau yang dimiliki oleh ketiga Luhak (daerah) yaitu, Luhak nan tuo/Tanah Datar, Luhak Agam ( daerah agam) dan Luhak 50 koto ( daerah 50 Kota). Fenomena perkembangan silek tradisi sangat miris untuk kondisi sekarang dengan berkurangnya minat generasi muda, akan tetapi pada daerah nagari Batu Taba Kabupaten Tanah Datar memiliki antusias yang cukup baik dan diterima oleh kalangan masyarakat sekitarnya. Sasaran Junguik Sati ini memiliki peran dalam pembentukan karakter generasi muda pada saat sekarang ini dengan memiliki ragam dan pola Langkah Ampek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelestarian langkah ampek dan bentuk metode pembentukan karakter generasi muda nagari Batu Taba Kabupaten Tanah Datar terhadap perkembangan silek saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah literatur, observasi, dokumentasi serta wawancara
SASARAN SILEK JUNGUIK SATI DALAM LANGKAH AMPEK NAGARI BATU TABA KABUPATEN TANAH DATAR Yan Stevenson; Auliana Mukhti Maghfirah; Oktavianus Oktavianus; Ernawita Ernawita
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 2 (2023): Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/gjg.v1i2.3772

Abstract

This research aims to understand the preservation of the "langkah ampek" tradition and the method of character formation among the younger generation in the Batu Taba Nagari, Tanah Datar District, and its impact on the development of silek (a traditional martial art) today. The research method used in this study is qualitative research with a descriptive analysis approach, where all the data collected in the field are compiled, described, and analyzed according to the discussed issues. The cultural theory by Jacobus Ranjabar is employed to analyze this research. In line with the research object, the results reveal that pencak silat (martial arts) has its own unique style and characteristics in both offensive and defensive techniques. The rapid development of culture and technology has had an impact on the development of silat in the archipelago, leading to a decline in the interest of the younger generation in the development of this cultural art form, resulting in a gradual erosion of the culture over time. The local richness of various silat styles in Minangkabau, which are owned by the three regions (Luhak), namely Luhak nan Tuo/Tanah Datar, Luhak Agam, and Luhak 50 Koto, is one of the cultural treasures. The phenomenon of the development of traditional silek is concerning due to the decreasing interest of the younger generation. However, in the Batu Taba Nagari, Tanah Datar District, there is a considerable enthusiasm for silek, which is well-received by the local community. The target of Junguik Sati plays a role in shaping the character of the younger generation through the Langkah Ampek pattern.
Tari Tanun dalam Perspektif Etnokoreologi sebagai Representasi Identitas Budaya Masyarakat Kota Sawahlunto Dindha Atika Sukma; Yan Stevenson; Hardi Hardi; Syielvi Dwi Febrianti
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3a0ha005

Abstract

This study aims to describe and analyze the Tanun Dance from an ethnocoreological perspective as a representation of the cultural identity of the people of Sawahlunto City. The research focuses on the emergence of the Tanun Dance, its presentation form, and the socio-cultural context underlying its existence within the community. This study employed a qualitative method with a dance ethnography approach within the framework of ethnocoreological studies. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature review. The informants consisted of the choreographer of Tanun Dance, the first dancer, and Silungkang songket weavers. Data analysis was conducted through data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification. The results indicate that the Tanun Dance originated from the weaving activities (batanun) of the Silungkang community, which were later stylized into an artistic performance form. The movements in the Tanun Dance were inspired by weaving activities such as arranging threads, moving the turak, dyeing yarn, and tidying woven fabrics. Performance elements including movements, musical accompaniment, properties, costumes, floor patterns, and presentation structure represent the socio-cultural life of the weaving community. The Tanun Dance functions not only as entertainment, but also as a medium for cultural preservation, cultural education, and a symbol of cultural identity of the Sawahlunto community. Through an ethnocoreological approach, the Tanun Dance is understood as a cultural product reflecting the values of perseverance, patience, skill, and the collective memory of the Silungkang community toward the songket weaving tradition as local cultural heritage.
Karya Tari  “Nan Bagandiang” Representasi Prosesi Manjopuik Limau Masyarakat Lubuk Jambi, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau Jenilva Magrilla; Yan Stevenson; Dony Osmond; Ariefin Alham Jaya Putra
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/d2z8gc13

Abstract

The Manjopuik Limau Tradition or Menjemput Limau is a tradition carried out by the Community in the Lubuk Jambi Region, Kuantan Mudik District, Kuantan Singingi Regency, Riau Province. This tradition is a tradition for Maagiah Tando (giving a sign) to a girl carried out by a young man with the aim of conveying the intention of establishing a relationship with the girl. In this work, Nan Bagandiang will raise the tradition of manjopuik limau as a source of inspiration for the work. This work raises three important stages in the traditional procession, namely the delivery process, the delivery of petitah-petitih, and the procession of the procession on the banks of Batang Kuantan. This tradition is interpreted as a symbol of the sincerity of a young man in establishing a relationship with a girl towards married life. Through the development of movements based on Randai Kuantan Ali Baba, this work presents a form of group choreography that emphasizes the values of togetherness, respect for customs, and the relationship between humans and traditions that are passed down from generation to generation. Nan Bagandiang was performed at the Hoeridjah Adam performance hall with eighteen dancers. It is hoped that this dance will contribute to the preservation of regional culture, particularly that of Lubuk Jambi, Kuantan Singingi Regency
Tari Katera Sebagai Bentuk Ungkapan Budaya Masyarakat Kota Bengkulu Nada Naqiah Rahmadini; Yesriva Nursyam; Yan Stevenson; Ninon Syofia
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/n163sh18

Abstract

Penelitian ini membahas Tari Katera sebagai bentuk ungkapan budaya masyarakat Kota Bengkulu. Tari Katera merupakan tari kreasi yang diciptakan oleh Iswanto pada tahun 1991 sebagai hasil pengembangan dari Tari Saputangan Bengkulu. Tari ini berkembang dalam kehidupan masyarakat Kota Bengkulu dan sering ditampilkan dalam acara adat perkawinan, khususnya pada acara bimbang gedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Tari Katera sebagai bentuk ungkapan budaya masyarakat Kota Bengkulu. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Katera memiliki bentuk pertunjukan yang terdiri atas unsur gerak, penari, musik, busana, rias, properti, dan tempat pertunjukan. Sebagai bentuk ungkapan budaya masyarakat Kota Bengkulu, Tari Katera mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, keharmonisan, kegembiraan, dan identitas budaya masyarakat. Kehadiran Tari Katera dalam upacara perkawinan adat menunjukkan hubungan yang erat antara seni dan kehidupan masyarakat. Selain itu, Tari Katera memiliki fungsi sebagai bagian dari upacara adat, fungsi nilai budaya, fungsi identitas budaya, dan fungsi hiburan bagi masyarakat Kota Bengkulu.
Koreografi Tari Pilin Salapan Di Air Bangis Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat Sulistari; A.A.I.A Citrawati; Rasmida; Yan Stevenson
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1376

Abstract

Penelitian ini membahas koreografi Tari Pilin Salapan di Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat sebagai warisan budaya yang lahir dari semangat perjuangan masyarakat melawan penjajah Belanda. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis koreografi Tari Pilin Salapan berdasarkan unsur penari, gerak, musik, rias, busana, properti, pola lantai, tata cahaya, tempat pertunjukan, serta fungsi dan makna tari. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori koreografi Y. Sumandiyo Hadi yang menitikberatkan pada unsur gerak, ruang, waktu, dan tenaga, serta didukung teori Robby Hidajat yang memandang koreografi sebagai proses penataan gerak tari secara sadar dan memiliki kesatuan bentuk sehingga menghasilkan sajian tari yang utuh dan estetis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pilin Salapan memiliki koreografi yang sederhana, tetapi menuntut kekompakan dan keterampilan penari. Geraknya mencerminkan nilai kebersamaan, keberanian, dan saling menghargai, sedangkan properti, musik, busana, dan rias memperkuat identitas budaya masyarakat Air Bangis. Tari ini berfungsi sebagai hiburan, media pendidikan, serta sarana pelestarian budaya dan pewarisan nilai-nilai tradisi kepada generasi muda.
Karya Tari di Antara Pijak Patah Interpretasi Filosofi Bajanjang Naiak Batanggo Turun Putry Wulandari; Yan Stevenson; Emri Emri; Ariefin Alham Jaya Putra
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/01f88669

Abstract

The dance work Di Antara Pijak Patah is grounded in the Minangkabau philosophy of Bajanjang Naiak Batanggo Turun, a life principle that emphasizes order, process, and ethical conduct in social life. This philosophy has long served as a foundation for shaping social etiquette within Minangkabau society, particularly in intergenerational relationships, both within the family and in broader social contexts. However, alongside rapid social change and technological advancement, these values have gradually shifted, especially among younger generations who tend to prioritize speed and instant achievement over meaningful processes. This condition has contributed to a decline in ethical awareness, manners, and mutual respect in everyday social interactions. These circumstances form the basis for the creation of this dance work as a medium of reflection and social critique on contemporary social realities. Di Antara Pijak Patah is realized as an abstract contemporary dance with a social theme. The creative process involves several stages, including data collection, observation, exploration, improvisation, structuring, and evaluation. Movement development focuses on the exploration of space, time, and energy, combined with symbolic bodily expressions and the use of a ladder as a prop to represent the moral journey of the younger generation. This metaphor illustrates the rise and fall of ethical values and the fragility of moral foundations when social norms are neglected. The work is performed by four female dancers and accompanied by live music, which serves to enhance the dramatic atmosphere and reinforce the overall structure of the performance. Through Di Antara Pijak Patah, the choreographer seeks to convey a moral message regarding the importance of social etiquette, respect for process, and ethical awareness as fundamental aspects of social life. This work is expected to function as a space for reflection for younger generations while also contributing to the development of contemporary dance creation rooted in local cultural values.