Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Pollen Morphology of Dragon’s Blood Rattans (Daemonorops spp.) from Sumatra. Revis Asra; Upik Yelianti; Joko Ridho Witono
Floribunda Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : PTTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.855 KB) | DOI: 10.32556/floribunda.v6i2.2019.262

Abstract

Revis Asra, UpikYelianti & Joko Ridho Witono. 2019. The Pollen Morphology of Dragon’s Blood Rattans(Daemonorops spp.) from Sumatra. Floribunda 6(2): 35–40. —  Dragon’s blood rattans (Daemonorops spp.) or locally known as jernang, is one of the well anticipated and economically valuable non timber forest products from Sumatra. The species group produces a red resin on the fruit scale and is one of the main resources of some medicines and colouring. The characteristic of pollen morphology was one of important role in determining the pollination system of dioecious species such as dragon’s blood rattans. The purpose of this study was to examine the pollen characteristic and its relation to the pollination system of four species of dragon’s blood rattans from Sumatra, i.e. Daemonorops aff. propinqua Becc., D. propinqua Becc., D. draconcella Becc. and D. didymophylla Becc. Pollen of dragon’s blood rattans were collected from the secondary forest of Jambi and Bukit Duabelas National Park, then stored in FAA solution, followed by observation using SEM (Scanning Electron Microscope). The pollen of Daemonorops aff. propinqua and D. propinqua have aperture and irregular ex-ornamentation type, while D. draconcella is monocolpus and D. didymophylla is tricolpus. The pollen of Daemonorops aff. propinqua and D. propinqua show uneven exines while the others Daemonorops have even exines. Characters of smooth pollen grainsin D. draconcella and D. didymophylla are indicated that those species associated with wind pollination, whereas sculptured pollen grains in Daemonorops aff. propinqua and D. propinqua are associated with insect pollination. 
Analysis of the need for ICT (Information and Communication Technology) based biology teaching materials at the high school level Musdahlipah Musdahlipah; Ervan Johan Wicaksana; Upik Yelianti; Puji Rizky Widyaningsih
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 5, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v5i2.15892

Abstract

Based on the demands of the learning curriculum in the classroom, it must create an atmosphere that is active, creative, analytical, and critical in solving problems through the development of thinking skills. However, the involvement of students in learning activities in class is still low. The research aims to determine the need for ICT-based biology teaching materials and the constraints in applying them. The research used a qualitative descriptive approach, the subjects of the research were class X students, biology teachers, ICT teachers, and Deputy Principal for Curriculum. The sampling technique used purposive sampling technique. The research procedure goes through three stages, namely preparation, implementation, and member check. Based on the research results, the biology learning process still uses contextual models and lecture methods. It is also that 83.3% of students said they needed ICT teaching materials to understand the material, concretize abstract material, and increase interaction in the learning process. Constraints in implementing ICT-based teaching materials are classified into physical and non-physical facilities. Physical facilities in the form of learning equipment, while non-physical means lack time and lack of training in designing ICT-integrated learning. Teacher expertise in ICT-based learning needs to be trained so that students can be more active in the learning process.AbstrakBerdasarkan tuntutan kurikulum pembelajaran di kelas harus menciptakan suasana yang aktif, kreatif, analisis, dan kritis dalam pemecahan masalah melalui pengembangan keterampilan berpikir. Namun keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran di kelas masih rendah. Penelitian bertujuan mengetahui kebutuhan bahan ajar biologi berbasis TIK dan kendala dalam menerapkannya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, subjek penelitian adalah peserta didik kelas X, guru biologi, guru TIK dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Prosedur penelitian melalui tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan, dan member check. Berdasarkan hasil penelitian, proses pembelajaran biologi masih menggunakan model kontekstual dan metode ceramah. Diketahui pula 83,3% peserta didik mengungkapkan membutuhkan bahan ajar TIK untuk memahami materi, mengkonkretkan materi yang abstrak, serta meningkatkan interaksi dalam proses pembelajaran. Kendala dalam menerapkan bahan ajar berbasis TIK digolongkan menjadi dua yaitu sarana fisik dan non fisik. Sarana fisik berupa peralatan belajar, sedangkan secara non fisik adalah kekurangan waktu dan belum terlatihnya dalam mendesain pembelajaran terintegrasi TIK. Keahliah guru dalam melaksanakan pembelajaran berbasis TIK perlu dilatih agar peserta didik dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Hybrid Deep Learning dan STEM PJBL: Inovasi Pembelajaran Berdaya Saing Global untuk Guru Sains MGMP Evita Anggereini; Maison Maison; Nizlel Huda; M. Haris Effendi Hsb; Sri Purwaningsih; Upik Yelianti; Dara Mutiara Aswan
Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM) Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM) Vol.7 No 1 (Maret 2026)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52060/jppm.v7.i1.3735

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman, pengalaman, tantangan, dan kesiapan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran sains yang berdaya saing global melalui lokakarya Hybrid Deep Learning dan STEM Project-Based Learning (STEM-PjBL). Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain penelitian tindakan partisipatif, penelitian ini melibatkan 29 guru sains dari MGMP di Muaro Jambi, Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi sebelum, selama, dan setelah lokakarya, dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa guru umumnya memiliki pengetahuan terbatas tentang pembelajaran mendalam dan hybrid deep learning, pengalaman minimal dalam menerapkan STEM-PjBL, dan menghadapi tantangan signifikan seperti fasilitas terbatas, kompetensi pedagogis yang tidak memadai, dan kurangnya dukungan kelembagaan. Terlepas dari keterbatasan ini, sebagian besar guru menunjukkan kesiapan dan motivasi yang tinggi untuk mengintegrasikan teknologi berbasis AI dan pendekatan berbasis proyek ke dalam praktik mengajar mereka, dengan syarat mereka diberikan bimbingan intensif dan pengembangan profesional berkelanjutan. Kebaruan program ini terletak pada integrasi Pembelajaran Mendalam Hibrida dengan STEM-PjBL sebagai model untuk meningkatkan kapasitas guru dalam merancang perangkat pembelajaran sains inovatif berbasis teknologi. Implikasinya menyoroti pentingnya pelatihan profesional berkelanjutan, dukungan institusional, dan kemitraan kolaboratif untuk memastikan keberhasilan implementasi pedagogi berbasis AI dan berbasis proyek dalam pendidikan sains.