Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hybrid Deep Learning dan STEM PJBL: Inovasi Pembelajaran Berdaya Saing Global untuk Guru Sains MGMP Evita Anggereini; Maison Maison; Nizlel Huda; M. Haris Effendi Hsb; Sri Purwaningsih; Upik Yelianti; Dara Mutiara Aswan
Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM) Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM) Vol.7 No 1 (Maret 2026)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52060/jppm.v7.i1.3735

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman, pengalaman, tantangan, dan kesiapan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran sains yang berdaya saing global melalui lokakarya Hybrid Deep Learning dan STEM Project-Based Learning (STEM-PjBL). Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain penelitian tindakan partisipatif, penelitian ini melibatkan 29 guru sains dari MGMP di Muaro Jambi, Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi sebelum, selama, dan setelah lokakarya, dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa guru umumnya memiliki pengetahuan terbatas tentang pembelajaran mendalam dan hybrid deep learning, pengalaman minimal dalam menerapkan STEM-PjBL, dan menghadapi tantangan signifikan seperti fasilitas terbatas, kompetensi pedagogis yang tidak memadai, dan kurangnya dukungan kelembagaan. Terlepas dari keterbatasan ini, sebagian besar guru menunjukkan kesiapan dan motivasi yang tinggi untuk mengintegrasikan teknologi berbasis AI dan pendekatan berbasis proyek ke dalam praktik mengajar mereka, dengan syarat mereka diberikan bimbingan intensif dan pengembangan profesional berkelanjutan. Kebaruan program ini terletak pada integrasi Pembelajaran Mendalam Hibrida dengan STEM-PjBL sebagai model untuk meningkatkan kapasitas guru dalam merancang perangkat pembelajaran sains inovatif berbasis teknologi. Implikasinya menyoroti pentingnya pelatihan profesional berkelanjutan, dukungan institusional, dan kemitraan kolaboratif untuk memastikan keberhasilan implementasi pedagogi berbasis AI dan berbasis proyek dalam pendidikan sains.
Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa pada Kelas VII SMPN 12 Kota Jambi Geza Pesesa; Ilham Falani; Nizlel Huda
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 8 No. 3 (2025): September - Desember 2025
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.8.3.2025.6488

Abstract

Urgensi dalam penelitian Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa pada kelas VII SMP. sangat tinggi karena Kemampuan berkomunikasi dalam matematika menjadi salah satu unsur utama dalam proses pembelajaran, karena berperan besar terhadap pemahaman konsep, keterampilan menyelesaikan masalah, serta pembentukan cara berpikir kritis dan teratur pada diri siswa. Oleh sebab itu, penguasaan komunikasi matematis merupakan keterampilan penting yang seharusnya dimiliki siswa sepanjang kegiatan belajar matematika. Kemampuan ini meliputi keterampilan mengemukakan gagasan, memahami materi, serta menerapkan simbol dan bahasa matematika dengan benar. Penelitian ini ditujukan untuk menelaah sejauh mana kemampuan komunikasi matematis yang dimiliki oleh siswa SMP Negeri 12 Kota Jambi serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pencapaiannya. Pendekatan penelitian yang dipakai ialah deskriptif kualitatif, dengan siswa tingkat SMP sebagai subjek utama. Lokasi penelitian di SMP N 12 Kota Jambi. Teknik pengumpulan data yaitu meliputi tes untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis disesuaikan berdasarkan indikator dari kemampuan komunikasi, serta wawancara mendalam dengan siswa terpilih untuk menggali pemahaman, kesulitan, dan cara siswa mengkomunikasikan ide matematisnya. Teknik analisis data yaitu reduksi data, keabsahan data, dan triangulasi Siswa akan dikategorikan menjadi 3 bagian yaitu kemampuan komunikasi tinggi, sedang, dan rendah. Adapun instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar instrumen berupa tes kemampuan komunikasi matematis yang dipadukan dengan wawancara tak terstruktur. Berdasarkan hasil temuan, siswa dengan tingkat kemampuan komunikasi matematis tinggi dapat memenuhi seluruh indikator yang ditetapkan. Sementara itu, siswa dengan kemampuan sedang hanya dapat mencapai sebagian indikator, dan siswa dengan kemampuan rendah tidak mampu memenuhi satupun indikator komunikasi matematis.
The Influence of Collaborative Learning on Students' Misconceptions about Polynomials Maifa Munsyaila Putri; Nizlel Huda; Syaiful Syaiful; Kamid Kamid
Juring (Journal for Research in Mathematics Learning) Vol. 8 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/juring.v8i4.37566

Abstract

Misconceptions in polynomial material pose a significant issue in mathematics education, hindering students’ conceptual understanding. This study aims to examine the effect of collaborative learning on students’ misconceptions regarding polynomials in Grade XI at SMA Negeri 14 Kota Jambi. The research employed a quasi-experimental nonequivalent control-group design involving 57 students: 28 in the experimental group and 29 in the control group. The research instrument was a diagnostic test in the form of essay items, validated by subject matter experts, and administered as both a pretest and a posttest to measure misconceptions in polynomial operations, polynomial division, and the factors and roots of polynomial equations. Data were analyzed using descriptive statistics, gain scores, and an independent sample t-test. The results indicated that collaborative learning was highly effective in reducing student misconceptions. The experimental group showed a 42.3% reduction in misconception scores (from 71.29 to 41.14), while the control group experienced only a 12.2% decrease (from 70.93 to 62.24). Hypothesis testing revealed a highly significant difference (p < 0.001) with a very large effect size (Cohen’s d = 8.848). All students in the experimental group reached the low misconception category, whereas all students in the control group remained in the moderate category. Therefore, collaborative learning was proven to be more effective than conventional instruction in addressing students’ misconceptions
Critical Review of Character Education in Vocational High Schools in Era Society 5.0 Nizlel Huda; Nurhanurawati Nurhanurawati; Ajeng Gelora Mastuti; Mazlini Adnan
Review of Education, Science, and Technology Vol 1 No 2: December 2025
Publisher : Ihsan Cahaya Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66031/reset.v1i2.47

Abstract

The rapid advancement of digital technology and the accelerated pace of social transformation have fundamentally reshaped work, learning, and human interaction, making character education increasingly strategic in Vocational High Schools (SMKs). This study presents a critical review of national and international literature to evaluate the relevance of character education in the Society 5.0 era, identify implementation challenges, and propose strategic directions for adaptive and contextually grounded practice. The analysis indicates that effective character education requires a multidimensional approach, integrating moral, social, spiritual, and professional competencies through holistic curricula, extracurricular programs, school leadership, and stakeholder collaboration. Technology offers opportunities to enhance engagement, digital literacy, and collaboration, yet it also introduces risks such as distractions, ethical dilemmas, and gaps in digital competence. Key challenges include misalignment between school programs and industry demands, inconsistent integration of religious and digital values, and varied stakeholder involvement. Therefore, character education must operate as an ecosystemic effort, balancing technological innovation with ethical and humanistic values to produce SMK graduates who are competent, ethical, and resilient in meeting the demands of Society 5.0