This Author published in this journals
All Journal Sawerigading
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

AFIKS PEMBENTUK VERBA DALAM BAHASA BINONGKO Jerniati I.
SAWERIGADING Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v18i3.386

Abstract

Binongko language has a vey important role in daily life for the speakers. In addition to itsfunction as an instructional languae and ethnic identity, Binongko language is also one element of national cultural property. It means that its extinction of vernacular will impact to the loss of cultural elements which is unvaluable. Therefore, the preservation, maintenance, and development through language building and development like research on all aspects of the necessary absolutely must be done. Method used is descriptive. The analysis specifically shows that affix forming verb in Binongko language is much enough, but some of them are not productive its usage in daily communication. In addition, morphophonemic is hardly found in. Bahasa Binongko mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat penuturnya. Selain karena fungsinya sebagai bahasa pengantar dan identitas etnik yang bersangkutan, bahasa Binongko juga merupakan salah satu unsur kekayaan budaya secara nasional. Artinya, punahnya sebuah bahasa daerah akan berdampak pula kepada punahnya unsur kebudayaan yang tiada ternilai harganya. Oleh karena itu, pelestarian dan pemertahanan serta perkembangan melalui pembinaan dan pengembangan bahasa, antara lain melalui penelitian dari berbagai aspek mutlak dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengkajian secara khusus ini menunjukkan bahwa afiks pembentuk verba dalam bahasa Binongko cukup banyak walaupun beberapa di antaranya tidak terlalu produktif penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari. Sementara itu, proses morfofonemik hampir tidak ditemukan di dalamnya.
ANALISIS WACANA KISAH ASHABUL KAHFI DALAM TERJEMAHAN ALQURAN: TINJAUAN ASPEK GRAMATIKAL REFEREN Jerniati I.
SAWERIGADING Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i1.286

Abstract

This writing discusses about translated discourse of Ashabul Kahfi (the people of the cave) in the Qoran which is analyzed using grammatical cohesion theory focused on reference. The analysis aim is realized in personal reference and demonstrative reference. It is done using descriptive method by applying library research technique. Realization of analysis shows that apparatus of grammatical cohesion references plays its function well as the unification of translated discourse of Ashabul Kahfi.   Abstrak Tulisan ini membahas mengenai wacana terjemahan kisah Ashabul Kahfi dalam Alquran yang dianalisis dengan teori kohesi gramatikal khususnya referen atau pengacuan.Tujuan kajian ini direalisasikan dalam dua hal, yakni pengacuan persona dan pengacuan demonstratif. Kajian dilakukan dengan metode deskriptif, dengan teknik kajian pustaka. Realitas kajian menyatakan bahwa piranti kohesi gramatikal referen telah memerankan fungsinya dengan baik sebagai pengutuh wacana terjemahan kisah Ashabul Kahfi.    
REFERENSI DALAM WACANA TERJEMAHAN ALQURAN KISAH NABI MUSA ALAIHI SALAM MENCARI ILMU Jerniati I.
SAWERIGADING Vol 17, No 3 (2011): Sawerigading, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v17i3.407

Abstract

This writing discussed about translational discourse of Musa prophet (peace be upon him) in Alquran analyzed by grammatical cohesion theory, particularly reference. The aim of this writing was realized into two things that were personal reference and demonstrative reference. This analysis shows that grammatical cohesion of reference had played its role well in cohesion of Alquran translational discourse of Musa prophet story in lookingfor knowledge. Abstrak Tulisan ini membahas mengenai wacana terjemahan kisah Nabi Musa dalam Alquran yang dianalisis dengan teori kohesi gramatikal khususnya referen atau pengacuan. Tujuan tulisan ini direalisasikan dalam dua hal, yakni pengacuan persona dan pengacuan demonstratif. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik kajian pustaka. Realitas kajian ini menyatakan bahwa piranti kohesi gramatikal referen telah memerankan fungsinya dengan baik sebagai pengutuh wacana terjemahan Alquran kisah Nabi Musa dalam mencari ilmu.
MORFOFONOLOGI DALAM KONSTRUKSI NOMINA BAHASA MANDAR: PERSPEKTIF MORFOLOGI GENERATIF (Morphophonology in Noun Construction of Mandarese: Generative Morphology Perspective) Jerniati I.
SAWERIGADING Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v23i2.247

Abstract

This study aims to describe the morphophonology process of affix constructing noun of Mandar language. This research applies generative morphology theory and qualitative descriptive method with data collection techniques: observation, writing, and retrospection. The results show that the morphophonology of noun construction in Mandar language is found only in two affixes, namely pang- and confix pang-ang. The process of morphophonology occurs when the affixes are combined with the basic morpheme or the base word of the verb class or the noun class. Prefixes pang- if combined with base word class verbs or nouns by initial morphemes /g, j, d, b,/ bring up alomorph /pang-, pam, pany-/ and if combined with initial phonemic morphemes /p, c, t, k, h, l, r, q/ alomorph emerging /pap-, pac-, pat-, pak-, pah-, pal-, par-, and paq- /. As for the confix pang-ang when combined with the base word of the verb class or noun with initial phonemes /j, b, d, g, l, k, t, c, p/ and vowel /a, i, u, e, o/, the alomorphs that appear are /pany-ang, pam-ang, pan-ang, pang-ang, pas-ang, pal-ang, pak-ang, pat-ang, pac-ang, par-ang, pap-ang, paq-ang./AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses morfofonologi afiks pembentuk nomina bahasa Mandar. Penelitian ini menerapkan teori morfologi generatif dan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data: observasi, pencatatan, dan retrospeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfofonologi dalam konstruksi nomina bahasa Mandar ditemukan dua afiks, yaitu prefiks pang- dan konfiks pang-ang. Proses morfofonologi terjadi apabila afiks-afiks itu digabungkan dengan morfem dasar atau kata dasar kelas verba atau kelas nomina. Prefiks pang- jika digabungkan dengan kata dasar kelas verba atau nomina yang berfonem awal /g, j, d, b/ memunculkan alomorf /pang-, pam-, pany-,/. Jika digabungkan dengan morfem dasar yang berfonem awal /p, c, t, k, h, l, r, q/ alomorf yang muncul /pap-, pac-, pat-, pak-, pah-, pal-, par-, dan paq-/. Adapun konfiks pang-ang, apabila digabungkan dengan kata dasar kelas verba atau nomina yang berfonem awal /j, b, d, g, l, k, t, c, p/, dan vokal /a, i, u, e, o,/ alomorf yang muncul adalah /pany-ang, pam-ang, pan-ang, pang-ang, pas-ang, pal-ang, pak-ang, pat-ang, pac-ang, par-ang, pap-ang, paq-ang/.
Panasuan language, derivational verb, affixation Jerniati I.
SAWERIGADING Vol 20, No 2 (2014): Sawerigading
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v20i2.23

Abstract

The research aims at describing affixes that form the verbs of Panasuan language. It uses descriptive qualitative method with techniques of collecting data by elicitation, recording, and noting. Result of research shows that derivational verbs of Panasuan languages determine its part of speech when they are embedded with basic verbs, while derivations are embedded with noun and adjective. Morphophonemic process only happens on prefix affixation.