Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Bulletin of Geology

KARAKTERISTIK GEOTEKNIK MINERAL LEMPUNG PADA TEROWONGAN TAMBANG BAWAH TANAH CIURUG LEVEL 600, PONGKOR, JAWA BARAT Robby Ginanjar; Imam Achmad Sadisun
Bulletin of Geology Vol 3 No 1 (2019): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.1.6

Abstract

Zona argilik pada terowongan tambang bawah tanah Ciurug level 600 memerlukan penanganan dan perhatian khusus pada perkuatan terowongan. Hal ini perlu dilakukan karena zona argilik tersebut secara umum membuat massa batuan disekitar penambangan menjadi lemah. Zona argilik tersebut dapat diidentifikasi secara langsung pada bukaan terowongan atau dari hasil inti pemboran bawah permukaan. Argilitisasi yang terjadi pada bukaan XC 662 dan XC 6-1a memiliki karakteristik yang berbeda, baik secara persebarannya maupun jenis kehadiran mineral lempungnya. Zona argilik yang hadir pada bukaan XC 662 menunjukan distribusi yang terkonsentrasi di sekitar urat kuarsa, sedangkan pada bukaan XC 6-1a distribusinya lebih merata, sehingga melemahkan hampir di seluruh bagian bukaan terowongan. Karakteristik mineral lempung pada zona argilik di kedua bukaan terowongan diuji menggunakan beberapa pengujian salah satunya adalah uji batas Atterberg. Hasil uji batas Atterberg menunjukan bahwa Indeks Plastisitas (IP) dari mineral lempung pada zona argilik berkisar antara 17,64 – 33,33 dan nilai aktivitas yang berkisar antara 1,1 – 1,6. Nilai tersebut dipengaruhi oleh mineral lempung berupa kaolinit, vermiculite, smektit, dan halloysite. Kata kunci: Zona argilik, karakteristik, batas Atterberg, nilai aktivitas
GEOMORFOLOGI SESAR AKTIF DI PULAU RUMBERPON, PAPUA Pamumpuni, Astyka; Sapiie, Benyamin; Ipranta, Ipranta; Sadisun, Imam Achmad
Bulletin of Geology Vol 6 No 1 (2022): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.1.4

Abstract

Morfologi di bagian Leher Burung, Papua didominasi oleh bentuk morfologi sesar naik dan lipatan. Morfologi yang menunjukkan lipatan ideal yang masih muda, bentukan antiform merepresentasikan antiklin. Namun demikian, data kegempaan di daerah Leher Burung, Papua menunjukkan banyaknya gempa dengan mekanisme sesar normal dan sesar mendatar.Observasi geomorfologi di lokasi Leher Burung, di Pulau Rumberpon dilakukan pada studi ini dengan menggunakan data DEM (digital elevation model) dengan resolusi 8m dari DEMNAS (digital elevation modelnasional). Analisis geomorfologi ditekankan pada identifikasi sesar aktif. Data kegempaan yang berupa lokasi gempa (epicenter dan hipocenter), magnitudo, dan waktu kejadian didapatkan dari katalog kegempaan yang telah direlokasi. Mekanisme fokal gempa didapatkan dari katalog CMT (centroid moment tensor). Data kegempaan digunakan untuk melihat hubungan data kegempaan dan hasil analisis geomorfologi.Hasil analisis geomorfologi menunjukkan adanya sesar normal yang aktif berkorelasi dengan arah jurus dari mekanisme fokal yang ada di area ini. Observasi menunjukkan adanya bukti-bukti sesar normal dengan arah jurus utara-selatan (N-S) dan timur laut-barat daya (NE-SW). Fitur-fitur geomorfologi yang terpetakan antara lain adalah laguna yang memanjang, lembah paralel, penampang topografi yang menunjukkan seri rangkaian sesar normal, gawir sesar, dan relay-ramp. Fitur geomorfologi yang ada menunjukkan adanya seri sesar normal aktif memiliki kemiringan ke barat dengan jurus ke utara-selatan sesuai dengan arah jurus dari mekanisme fokal kegempaan yang ada. Kesesuaian antara mekanisme fokal gempa dan bukti morfologi menunjukkan adanya sesar normal aktif di area Leher Burung, terutama di Pulau Rumberpon. Mekanisme pembentukan sesar di Pulau Rumberpon ini terkait erat dengan Sesar Yapen-Sorong dan adanya pembelokan ke kanan zona sesar tersebut. Kata kunci: geomorfologi, sesar normal, Papua, sesar aktif
LIQUEFACTION POTENTIAL ANALYSIS IN TRANS-SULAWESI RAILWAY, POLEWALI MANDAR-MAJENE SEGMENT USING CONE PENETRATION TEST METHOD Zhafira, Dzikra; Sadisun, Imam Achmad
Bulletin of Geology Vol 6 No 2 (2022): Bulletin of Geology Special Issue: International Seminar on Earth Sciences and Te
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.2.8

Abstract

Trans-Sulawesi Railway is the first railway in Sulawesi. One of the segments that is passed by this railway is Polewali Mandar-Majene segment, West Sulawesi. The research focused on this segment and mostly contains of Quaternary sediments such as alluvial. Liquefaction may occur because of earthquake that causes loss of strength within soils. Most of the cases, liquefaction occur in Quaternary sediments that are decomposed, loose, and unconsolidated. So, liquefaction analysis is needed on the research area to determine the liquefaction potential that might happen there. Liquefaction potential analysis was carried out using Cone Penetration Test method (CPT). The analysis was carried out by calculating liquefaction safety factor (FSL) and liquefaction potential index (LPI) at 14 CPT sites with varying depth from 3.8 meters – 14 meters. Based on the analysis, the liquefaction safety factor (FSL) value shown that the 14 CPT sites has a potential for liquefaction with Mw 7.5 earthquake because the FSL values are less than 1. Based on the calculation of LPI, the research area is in the high – highest category. Keywords: Cone Penetration Test (CPT), Polewali Mandar, liquefaction, Liquefaction Potential Index (LPI)
EFEK DERAJAT PELAPUKAN BATULEMPUNG FORMASI BOBONARO TERHADAP KESTABILAN LERENG PADA RENCANA LOKASI OBSERVATORIUM NASIONAL TIMAU DI KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR Setiawan, Arie; Sadisun, Imam Achmad; Sani, Rifki Asrul
Bulletin of Geology Vol 7 No 2 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.2.3

Abstract

Durabilitas dan stabilitas batulempung menjadi hal yang cukup menyita perhatian dalam kegiatan rekayasa akhir-akhir ini. Perubahan kondisi batulempung saat muncul ke permukaan, terutama pada wilayah yang direncanakan dalam kegiatan pembangunan infrastruktur memerlukan kajian geologi teknik dan geoteknik yang tepat. Pembangunan Observatorium Nasional Timau di Kabupaten Kupang yang berdiri di atas lapisan batuan sedimen berupa batulempung Formasi Bobonaro berumur Miosen, memerlukan analisis yang tepat dalam hal karakterisasi keteknikan dan durabilitas batulempung untuk menunjang aspek teknis kegiatan rekayasa di sekitar area tersebut. Penelitian ini berfokus pada sifat keteknikan, derajat pelapukan dan kestabilan lereng pada batulempung Formasi Bobonaro. Parameter dasar dalam analisis kestabilan lereng yang terdiri dari berat isi, kohesi, dan sudut geser dalam mengalami penurunan nilai seiring dengan meningkatnya derajat pelapukan. Analisis kestabilan lereng didasarkan pada asumsi bahwa lereng terdiri dari material yang tidak homogen yaitu dengan nilai sifat keteknikan bervariasi terhadap derajat pelapukan dan material homogen, yaitu dengan nilai sifat keteknikan batulempung derajat pelapukan V. Dalam analisis kestabilanlereng juga mempertimbangkan aspek beban gempa dengan nilai PGA yang berbeda sebagai bahan perbandingan. Hasil analisis memperlihatkan bahwa batulempung Formasi Bobonaro ini rentan terhadap proses pelapukan dengan nilai indeks slake durability rendah – sangat rendah dan aktivitas atau potensi mengembang rendah - sedang. Analisis kestabilan lereng memperlihatkan perbedaan nilai faktor keamanan yang drastis antara lereng yang terdiri dari material variasi derajat pelapukan dan lereng yang terdiri dari material homogen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin berkembang derajat pelapukan pada batulempung, maka kekuatan geser akan menurun, sehingga stabilitas lereng juga menurun, tercermin pada nilai faktor keamanan yang semakin rendah Kata kunci: batulempung, Formasi Bobonaro, derajat pelapukan, sifat keteknikan, kuat geser, kestabilan lere