Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PESANTREN AS A FORM OF SOCIAL REHABILITATION FOR NARCOTICS INSTITUTIONS OF NARCOTICS INSTITUTIONS OF CLASS II A JAKARTA VIVI SYLVIANI BIAFRI
卷 2 编号 1 (2019): Journal of Correctional Issues (JCI)
Publisher : Polteknik Ilmu Pemasyarakatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52472/jci.v2i1.20

Abstract

Drug convicts are scattered in all prisons in Indonesia. Only some are placed in special narcotics prisons. Therefore, in accordance with SMR 58 and 59, the prison must carry out their recovery. Narcotics special prisons have the responsibility for implementing rehabilitation for narcotics convicts. This is done to prepare them to return to the midst of society and not use narcotics anymore. This research raises the problem of how the implementation of Islamic boarding schools as a form of social rehabilitation for narcotics inmates at the Class II A Narcotics Prison, Jakarta? This study aims to determine the implementation of pesantren activities as a form of social rehabilitation for narcotics convicts. This research was conducted at the Class II A Narcotics Prison, Jakarta. This study uses a qualitative research approach. This research was conducted in October 2018. The data were collected using observation, interview and document study techniques which were then processed and analyzed qualitatively. The results of this study indicate that Islamic boarding school activities as a form of social rehabilitation for narcotics prisoners have not been optimal.
Analisis Kebutuhan Program Pembinaan Bagi Anak Tindak Pidana “Klitih” di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Yogyakarta Mukhammad Miftakhulhuda Fatkhurrokhim; Vivi Sylviani Biafri
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8724

Abstract

Kata klitih dalam bahasa Jawa berarti aktivitas malam hari seseorang di luar rumah tanpa tujuan yang jelas yang kemudian berubah makna yang identik dengan kekerasan yang dilakukan oleh remaja, baik itu pelajar SMP maupun SMA (Nurisman, 2022). Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana penyebab anak melakukan tindak pidana klitih sehingga setelah diketahui penyebabnya dapat menyumbangkan pemikiran untuk program pembinaan sehingga anak kelak dapat kembali ke masyarakat serta mengembalikan hubungannya dengan tuhan, masyarakat dan perekonomiannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. . Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah anak melakukan tindak pidana klitih karena kemampuan kognitif anak cenderung rendah, sehingga anak kurang mampu mengantisipasi konsekuensi perbuatannya dan anak yang melakukan tindak pidana klitih memiliki kontrol diri (self control) yang rendah sehingga lebih mudah terpengaruh dengan kondisi lingkungan yang negatif untuk melakukan penyimpangan seperti tindak pidana klitih. Kebutuhan program pembinaan terhadap anak dengan tindak pidana klitih yang dapat dilakukan oleh Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Yogyakarta adalah Pembinaan kepribadian berupa konseling keluarga, pembinaan pendidikan karakter berupa focus group discussion (FGD), pembinaan ketrampilan berupa pelatihan membuat karangan bunga.
Partisipasi Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan dalam Mendukung Program Kemandirian bagi Klien Anak di Bapas Kelas II Jambi M. Fadly Abimayu Pradeza; Vivi Sylviani Biafri
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8862

Abstract

Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca maupun pribadi penulis tentang partisipasi kelompok masyarakat peduli pemasyarakatan pada program bimbingan kemandirian klien anak yang ada di Balai Pemasyarakatan Kelas II Jambi. Dalam mendapatkan data penulis menggunakan teknik observasi lapangan dan wawancara kepada pegawai bapas jambi serta mitra pokmas lipas bapas jambi dan klien anak bapas jambi. Untuk melengkapi data, penulis juga menggunakan teknik studi pustaka dengan mengambil informasi dari peraturan perundang-undangan dan bahan bacaan seperti: buku, jurnal ilmiah, dan artikel. Kesimpulannya meskipun ada beberapa kendala dan hambatan dari partisipasi pokmas lipas, namun ada mitra pokmas lipas yang mau dengan besar hati membantu bapas dalam memberikan bimbingan kemandirian bagi klien anak untuk melatih skill dan mendapatkan pengetahuan, keterampilan baru untuk bekal klien anak kembali kemasyarakat luas dan menjadi manusia yang lebih baik maupun berguna bagi masyarakat nantinya. Hal ini terbukti dari dari jumlah klien anak yg mengikuti pelatihan di mitra bakso dan mie ayam ceker dengan jumlah 3 orang.
Kegiatan Musik Dol Sebagai Proses Pembelajaran Dan Rekreasi Bagi Anak Pidana Di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Bengkulu Morion Jonata; Vivi Sylviani Biafri
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8975

Abstract

Dalam melaksanakan pembinaan di LPKA, anak masih kurang disiplin karena menganggap bahwa pembinaan merupakan rutinitas atau bahkan paksaan dan membosankan yang harus diikuti, mereka menjalankan dan mengikuti pembinaan tidak dengan apa yang mereka senangi atau tidak sesuai dengan yang mereka sukai Akibatnya masih terdapat Anak yang mengalami pengulangan tindak pidana/residivis karena tidak mendapatkan bekal apapun selama masa pidananya di LPKA. Musik dol memiliki peran penting sebagai proses pembelajaran dan rekreasi bagi Anak Binaan di Lembaga Pembinaan Anak Khusus Kelas II Bengkulu. Dalam pelaksanaannya diharapkan melalui program Musik Dol ini pembinaan di LPKA Kelas II Bengkulu benar-benar dapat diterima semaksimal mungkin oleh anak, serta sebagai sarana rekreasi yang berdampak pada daya dorong dalam pembentukan motivasi anak kriminal dalam melaksanakan kegiatan pembinaan. Desain penelitian pada penelitian ini ialah penelitian deskriptif. Data yang bersumber dari hasil wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan atau memo penelitian maupun dokumen resmi yang sesuai Serta bertujuan mengumpulkan informasi aktual secara lengkap yang menggabarkan kondisi yang ada. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber bahwa nilai-nilai karakater seperti disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggung jawab sudah tercermin atau terlihat saat Anak binaan mengikuti kegiatan Musik Dol di LPKA Kelas II Bengkulu. Dari yang peneliti amati selama latihan, Anak Binaan sangat bersemangat saat mengikuti kegiatan. Mereka memperhatikan setiap arahan dan materi yang diajarkan oleh pelatih. Saat latihan berlangsung tidak ada Anak binaan yang sibuk bermain sendiri. Mereka semua fokus dengan alat musik yang mereka pegang dan memperhatikan betul setiap yang dipelajari.
PENINGKATAN PELAKSANAAN LITMAS PEMBEBASAN BERSYARAT BAGI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN DI POS BAPAS PADA LAPAS KELAS IIA PEMATANG SIANTAR M. Hafiz Habibi; Vivi Sylviani Biafri
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 9, No 10 (2022): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v9i10.2022.3966-3976

Abstract

Pembebasan Bersyarat (PB) adalah suatu upaya reintegrasi sosial. Salah satu syarat narapidana untuk memperoleh PB adanya penelitian kemasyarakatan (litmas) yang dilakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan. Litmas merupakan bagian penting untuk melaksanakan program integrasi bagi narapidana. Bapas merupakan lembaga yang melaksanakan pelayanan kemasyarakatan berupa pembuatan litmas, Namun karena keterbatasannya bapas tidak berada di setiap kabupaten atau kota. Untuk melaksanakan pelayanan kemasyarakatan didirikan pos bapas di setiap lapas dan rutan disetiap kabupaten atau kota. pelaksanaan litmas di pos bapas berjalan kurang optimal oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan pelaksanaan litmas di pos bapas pada lapas kelas IIA Pematangsiantar. metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif. teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. dari Hasil penelitian ditemukan permasalahan penjamin yang sulit dihubingi saat pelaksanaan litmas serta penjamin yang sudah lansia sehingga diragukan untuk melaksanakan pengawasan bagi klien yang akan diberikan pembebasan bersyarat. pengiriman hasil litmas ke bapas induk menggunakan jasa ekspedisi pos sehingga memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya. kurangnya SDM pos bapas dalam menangani wilayah kerja yang luas serta medan yang sulit diakses. pemilihan wbp yang diusulkan litmas kurang selektif. hasil temuan dilapangan ada beberapa wbp yang kurang optimal mengikuti pembinaan di lapas.
FAKTOR PENGHAMBAT LAYANAN LITMAS BERBASIS ONLINE DENGAN APLIKASI SILIMBAT DI BAPAS JAKARTA TIMUR-UTARA Muhammad Fajar Adjie Wibowo; Vivi Sylviani Biafri
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 9, No 10 (2022): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v9i10.2022.3953-3959

Abstract

Pelaksanaan terhadap pelayanan publik yang saat ini sudah berkembang menjadi salah satu alasan butuhnya perkembangan terhadap pelayanan yang lebih terpadu dan dapat digunakan untuk publik secara baik, tidak hanya melihat dari tampilan yang menarik tetapi fungsi dan kegunaan yang sesuai serta akses yang mudah. Suatu hal penting dalam kemasyarakatan untuk berinovasi terhadap pelayanan publik yang dimilikinya, untuk itu pihak Bapas Timur-Utara mengembangkan aplikasi SILIMBAT sebagai alat bantu pelayanan litmas berbasis online untuk seluruh masyarakat pengguna. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang dilakukan memakai pendekatan deskriptif-analisis yaitu menganalisis langsung melalui observasi dan wawancara di lapangan. Jenis data yang dipergunakan meliputi data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan yaitu studi kepustakaan dan penelitian lapangan berupa wawancara. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa SILIMBAT yang saat ini digunakan telah beroperasi maksimal dengan penggunaan yang tidak hanya terbatas untuk PK di Bapas tetapi fitur lainnya digunakan oleh beberapa petugas dari Bapas lain. Pengoperasian aplikasi yang berjalan dengan baik tidak menutup kemungkinan adanya kendala dimana beberapa diantaranya adalah resisten yang diterima saat pengembangan aplikasi berlangsung, adanya keterbatasan internal kapasitas ruang dan akses SILIMBAT dan juga sumber daya manusia pengembang yang terbatas membuat aplikasi ini perlu dikembangkan lebih baik lagi kedepannya.
IMPLEMENTATION OF THE SELF REPORTING QUESTIONNAIRE (SRQ) SCREENING PROGRAM FOR NARCOTICS CONFIDENTS AT CLASS IIA NARCOTICS CORRECTION INSTITUTION IN JAKARTA Ranisa Diati; Vivi Sylviani Biafri
卷 5 编号 1 (2022): Journal of Correctional Issues (JCI)
Publisher : Polteknik Ilmu Pemasyarakatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52472/jci.v5i1.113

Abstract

The screening program for early detection of psychiatric problems using the Self Reporting Questionnaire (SRQ) has the goal of developing mental health. The screening program for early detection of psychiatric problems using the Self Reporting Questionnaire (SRQ) held by the Class IIA Jakarta Narcotics Prison has not yet been carried out in other Correctional Technical Implementation Units (UPT), especially prisons and detention centers. The author is interested in researching this. The purpose of the study was to determine the implementation and obstacles to the Self Reporting Questionnaire (SRQ) screening program for narcotics prisoners at the Class IIA Narcotics Prison in Jakarta. The research method used is qualitative using a descriptive approach. The results showed that the implementation of the Self Reporting Questionnaire (SRQ) screening program for narcotics prisoners at the Class IIA Jakarta Narcotics Prison had not run optimally because in the management of the screening program there were still some shortcomings. The implementation of the Self Reporting Questionnaire (SRQ) screening program has several obstacles, namely: 1) lack of human resources, namely the screening officer, 2) the Self Reporting Questionnaire (SRQ) skinning program only focuses on prospective medical rehabilitation participants, 3) SRQ screening is not carried out continuously, 4) reporting of screening results has not been fully implemented and is constrained by the technical reporting flow. In optimizing the implementation of the Class IIA Jakarta Narcotics Prison, it is necessary to evaluate the Self Reporting Questionnaire (SRQ) screening program that has been running previously so that future plans can achieve the expected vision, one of which is that the implementation of SRQ screening is carried out for all prisoners, not only for prospective participants in medical rehabilitation and carried out continuously so that all prisoners have a healthy soul.
Pelaksanaan Program Skrining Self Reporting Questionnaire (SRQ) Narapidana Narkotika Di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas II A Jakarta Ranisa Diati; Vivi Sylviani Biafri
Unizar Law Review Vol. 5 No. 2 (2022): Unizar Law Review
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Al-Azhar Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36679/ulr.v5i2.15

Abstract

Program skrining deteksi dini masalah kejiwaan dengan menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ) memiliki tujuan untuk pembangunan kesehatan jiwa. Program skrining deteksi dini masalah kejiwaan dengan menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang diselenggarakan Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta masih belum dilakukan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang lain khususnya Lapas dan Rutan. Penulis tertarik untuk meneliti hal tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pelaksanaan dan hambatan pada program skrining Self Reporting Questionnaire (SRQ) narapidana narkotika di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan program skrining Self Reporting Questionnaire (SRQ) narapidana narkotika di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta belum berjalan dengan optimal karena dalam manajemen program skrining masih adanya beberapa kekurangan. Pelaksanaan program skrinning Self Reporting Questionnaire (SRQ) terdapat beberapa hambatan yaitu: 1) kurangnya sumber daya manusia yaitu petugas pelaksana skrining, 2) program skinning Self Reporting Questionnaire (SRQ) hanya mengkhusukan untuk calon peserta rehabilitasi medis saja, 3) skrining SRQ tidak dilakukan secara kontinu, 4) pelaporan dari hasil skrining belum sepenuhnya dijalankan dan terkendala pada teknis alur pelaporan. Dalam mengoptimalisasi pelaksanaan Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta perlu mengevaluasi program skrining Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang sudah berjalan sebelumnya agar perencanaan dimasa yang akan datang mencapai visi yang diharapkan salah satunya agar pelaksanaan skrining SRQ dilakukan untuk seluruh narapidana tidak hanya untuk calon peserta rehabilitasi medis dan dilakukan secara kontinu agar semua narapidana memiliki jiwa yang sehat.