Darto Saharso
Divisi Syaraf Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga - RSUD Dr. Soetomo, Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo 6-8, Surabaya, Indonesia

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : MEDICINUS

Faktor Risiko Disabilitas Berat pada Anak dengan Guillain-Barré Syndrome di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Ratih Dwi Andini; Darto Saharso; Prastiya Indra Gunawan
MEDICINUS Vol. 34 No. 1 (2021): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.648 KB) | DOI: 10.56951/medicinus.v34i1.48

Abstract

Latar Belakang: Guillain-Barré Syndrome (GBS) merupakan penyebab paralisis neuromuskular akut yang paling sering ditemukan. Prognosis anak-anak dengan GBS pada umumnya tergolong baik, namun terdapat kemungkinan prognosis buruk yang membutuhkan ventilasi mekanis dan mengakibatkan terjadinya defisit neurologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati faktor risiko disabilitas yang berpengaruh pada anak dengan GBS di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilakukan pada anak dengan GBS, menggunakan data yang diperoleh dari rekam medis. Outcome pasien selama perawatan pada penelitian ini adalah sembuh, disabilitas, dan meninggal. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square dengan nilai signifikansi p<0,05. Hasil: Sebanyak 61 anak dengan GBS memenuhi kriteria inklusi selama masa studi penelitian. Anak laki-laki didapatkan sebanyak 54,1% dan infeksi saluran pernafasan atas merupakan penyebab paling sering (73,8% kasus). Mean usia pada penelitian ini adalah 8,4(±3,79) tahun. Sebagian besar jenis GBS adalah acute inflammatory demyelinating polyradiculoneuropathy (AIDP) yakni sebanyak 89,1% kasus. Hasil analisis menunjukan bahwa pasien GBS yang mengalami gagal napas dengan penggunaan ventilasi mekanis, menunjukkan odds ratio terjadinya disabilitas berat sebesar 8,9(1/0,112) kali lebih besar dibandingkan pasien yang tidak menggunakan ventilasi mekanis. Kesimpulan: Penggunaan ventilasi mekanis merupakan faktor risiko terjadinya disabilitas berat pada anak dengan GBS.
Serum Level of 25-Hydroxyvitamin D in Children with Epilepsy Receiving Long-Term Antiepileptic Treatment Ismail, Chasan; Irawan, Roedi; Saharso, Darto
MEDICINUS Vol. 33 No. 2 (2020): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.621 KB) | DOI: 10.56951/medicinus.v33i2.59

Abstract

Background: Long-term treatment with antiepileptic drugs (AED) requires monitoring of potential side effects, one of them is the decreasing in serum vitamin D level. Low serum vitamin D level is also a global health problem in healthy children. There are conflicting results regarding the low serum vitamin D level in epileptic children due to treatment with AED. Purpose: This study aimed to compare serum vitamin D level between healthy children and children with epilepsy receiving long-term AED treatment in Soetomo General Hospital. Methods: This was a cross-sectional study conducted in the pediatric neurology clinic of Soetomo general academic hospital from August 2018 to July 2019. Subjects are children ages 2-18 years with epilepsy receiving AED treatment for over 6 months (n=22), with healthy children as control (n=22). Peripheral serum 25-hydroxyvitamin D level were measured using enzyme-linked fluorescence assay (ELFA) method. The differences of those groups were analyzed by comparing the mean of 25-hydroxyvitamin D level of both groups using Anova and T-test (95% CI). Results: Low serum vitamin D level were identified in 27% children with epilepsy and 13% healthy children. The mean of serum 25-hydroxyvitamin D level in children with epilepsy and healthy children was 21.5 ng/ml (SD 8.41) and 34.3 ng/ml (SD 10.09), respectively. There was a significant difference between groups (p<0.05). Conclusion: Children with epilepsy receiving long-term AED treatment have lower level of serum 25-hydroxyvitamin D than healthy children.