Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

POTENSI JENIS DAN KEPADATAN POPULASI SATWA LIAR DI OBYEK WISATA ALAM AIR TERJUN BENANG KELAMBU DAN BENANG STOKEL DI KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG RINJANI DUSUN PEMOTOH DESA AIK BERIK SEPAGE KECAMATAN BATU KLIANG UTARA KABUPATEN LOMBOK TENGAH Raden Roro Narwastu Dwi Rita; Yulia Ratnaningsih
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 3 (2017): September 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui potensi jenis-jenis satwa (nama-nama satwa dan kepadatan satwa) yang berada di kawasan Wisata Alam Air Terjun Benang Kelambu dan Air Terjun Benang Stokel. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan skunder, untuk inventarisasi satwa liar menggunakan transek jalur. Dari hasil tansek jalur sejauh 2,3 km dan lebar 4 m ditemukan satwa 2 jenis primate, 5 jenis mamalia, 2 jenis reptile, 12 jenis aves dan 3 jenis aves, baik itu secara langsung ataupun secara tidak langsung. Terdapat beberapa jenis satwa yang dilindungi yaitu lutung, trenggiling, biawak, elang flores, ayam hutan hijau sesuai SK Menhutbun No. 733/Kpts-II/1999 merupakan satwa yang dilindungi keberadaannya yang sudah hampir punah. Satwa yang banyak di jumpai di kawasan benang stokel dan benang Kelambu adalah Monyet Ekor panjang. (Macaca fascicularis), Dari 3 transek jalur yang dilakukan ditemukan kepadatannya adalah 0,006 m².
POTENSI STRUKTUR DAN KEANEKARAGAMAN JENIS VEGETASI PADA OBYEK WISATA ALAM AIR TERJUN BENANG KELAMBU DAN BENANG STOKEL DI KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG RINJANI DUSUN PEMOTOH DESA AIK BERIK SEPAGE KECAMATAN BATU KLIANG UTARA KABUPATEN LOMBOK TENGAH Raden Roro Narwastu Dwi Rita; Yulia Ratnaningsih
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 4 (2016): Desember 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Rinjani protected forest area in the hamlet village of Aik Berik Pemotoh Sepage, Batu Kliang North Central Lombok regency are potential natural attractions that water falls benang kelambu and benang Stokel. Of forest areas in the villages Aik Berik has springs that most flows to Central Lombok and West Lombok, two waterfalls has beauty and the beauty and rich flora and fauna. Both these waterfalls make the village Aik Berik as a natural tourist destinations, this waterfall as there are only two in the world, namely in yarn nets and in Japan. The purpose of this study was to determine the potential of the type - the type of vegetation (names of types of vegetation, Values Important Type and index of species diversity in the area of nature Waterfall benang kelambu and Waterfall benangStokel. Types of data collected are primary and secondary data, vegetation data collection used for the analysis of vegetation and species diversity index line method terraced and species diversity index Krebs (1985), for inventory of wildlife using line transect and observation areas along the waterfall. From the analysis conducted vegetation index highest important value for the rate is dadap tree (Erythrina variegate) 57.3%, Lembokek (Ficus septic) 24.78%, Sonokeling (Dalbergia latifolia) 19.31% and Goak (Ficus fistula) 19 07%. To level the pole highest importance value index is Terep (Arthocarpus elasticus) 98.37%, Kepundung (Baccavre racemosa) 59.26%, Brother Bong-bong Lempinyu 17.36% and 15.28%. To saplings highest importance value index is Banana (Musa parasidiaca) 61.22%, Rotan (Daemonorops sp) 31.73%, 17.54% and brother Bongbong Coffee (Caffea sp) 15.18%. And for seedling highest importance value index is Kepundung (Baccavre racemosa) 39.65%, Rotan (Daemonorops sp) 38.92%, 32.47 Lempinyu and Coffee (Caffea sp) 23.53%. Value, biodiversity at the level of the tree (H) 2.902 can be categorized as high, .sedangkan for poles H '2, saplings H' 1,783 and for seedling H '1,895 species diversity is moderate.
PELATIHAN PEMBUATAN TEH HERBAL PENUNJANG PRIMARY HEALTH CARE SELAMA MASA PANDEMI COVID-19 BAGI IBU PKK TANJUNG KARANG KOTA MATARAM I Gusti Agung Ayu Hari Triandini; I Gde Adi Suryawan Wangiyana; Yulia Ratnaningsih; Raden Roro Narwastu Dwi Rita
SELAPARANG Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i2.8315

Abstract

ABSTRAKTanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan salah satu bentuk Primary Health Care (PHC) yang berperan kurisal selama masa pandemi COVID-19. TOGA yang banyak ditemukan di Tanjung Karang antara lain: jambu biji, sereh, kelor, dan gaharu. Pemanfaatan TOGA ini belum optimal dikarenakan penggunaannya dalam bentuk bahan mentah umumnya tidak disukai oleh anak – anak. Ibu selaku penanggung jawab utama PHC dalam keluarga perlu mengolah bahan baku TOGA menjadi produk yang diminati keluarga, salah satunya adalah teh herbal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melatih Kader TOGA Tanjung Karang mengolah daun TOGA menjadi teh herbal sebagai salah satu bentuk PHC untuk pencegahan infeksi COVID-19 di lingkungan keluarga. Kegiatan pengabdian ini dibagi menjadi dua tahap: tahap teori dan tahap praktek. Pada tahap teori participant diberikan materi terkait khasiat medis TOGA, pemeliharaan TOGA, dan pengolahan TOGA menjadi teh herbal. Pada tahap praktek, partisipan dilatih untuk mengolah daun TOGA jambu biji, sereh, kelor, dan gaharu menjadi teh herbal dengan menggunakan 5 Standard Operational Prosedur (SOP). SOP1: seleksi daun, SOP2: sterilisasi/pencucian daun, SOP 3: pengeringan/pelayuan daun, SOP4: pencacahan daun, dan SOP5: penyeduhan daun. Dapat disimpulkan bahwa peserta pelatihan mampu mengolah daun TOGA jambu biji, sereh, kelor, dan gaharu menjadi produk teh herbal sesuai dengan SOP yang diberikan. Kata kunci: kader; teh herbal; TOGA; PHC; tanjung karang. ABSTRACTFamily Medicinal Plant (FMP) is Primary Health Care (PCO) that is potentially used during the COVID-19 pandemic. Guava, lemongrass, moringa, and agarwood are FMP that could be easily found in Tanjung Karang Sub-district. However, the use of these FMP in raw materials could not be well accepted by Tanjung Karang society, especially children. Thus, mothers as leaders on PCO should be processing those FMP raw materials into a product which their children could accept. One of those products is herbal tea. This community service aims to train TOGA cadre in Tanjung Karang to process FMP raw material into herbal tea products. This community service program is divided into two phases: theoretical phase and practical phase. Participants were given theory about the medical effect of FMP, FMP maintenance, and FMP processing into herbal tea products. Participants were trained to process FMP leaves from guava, lemongrass, moringa, and agarwood into herbal tea products on the practical phase. This processing method used five steps procedures to make herbal tea products. Step1: leaves selection, step2: leaves sterilization, step3: leaves drying, step4: leaves chopping, step5: leaves brewing. It could be concluded that participants could process FMP leaves (guava, lemongrass, moringa, and agarwood) into herbal tea products with a standardization processing method. Keywords: cadre; herbal tea; FMP; PHC; tanjung karang.
IDENTIFIKASI KESEHATAN POHON DI JALUR HIJAU KOTA SELONG KABUPATEN LOMBOK TIMUR Elmayana Elmayana; Raden Roro Narwastu Dwi Rita
Jurnal Silva Samalas Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v5i2.5752

Abstract

Pohon sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki fungsi  penting  terutama yang berada pada jalur hijau perkotaan, Jalur hijau yang ada di Kota Selong merupakan salah  satu bentuk dari ruang terbuka hijau yang ada di kabupaten lombok timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi  jenis-jenis pohon yang tumbuh di Jalur hijau kota  selong  dan Untuk mengetahui status kesehatan pohon di jalur hijau kota selong kabupaten lombok timur. Penelitian ini menggunakan metode Forest Healt Monitoring (FHM) atau metode penilaian kesehatan pohon dengan sensus.Hasil pengamatan yang telah dilakukan di temukan sebanyak 28 jenis pohon dan Pohon yang paling banyak ditemukan ialah pohon mahoni (Swietenia mahagoni) dengan jumlah 169 pohon, Pohon Nangka (Arctocarpus heterophyllus) dengan jumlah 142 pohon dan Pohon Angsana ( Pterocarpus indicus) dengan jumlah 90 pohon dari Jumlah keseluruhan pohon yang ada di jalur hijau  kota selong adalah 810 pohon dan Kesehatan Kerusakan Pohon yang ada di Jalur hijau kota selong di temukan pada pohon sebanyak 11 tipe kerusakan pohon dan dapat di kelompokkan dalam Kelas Kesehatan pohon, Kelas kesehatan pohon yang ada di jalur hijau kota selong adalah kelas sehat sebesar 69% dengan jumlah 559 pohon, Kelas Ringan sebanyak 112 pohon (14%), Kelas sedang sebanyak 80 pohon (10%), Dan kelas Berat sebanyak 59 pohon (7%) dari 810 pohon yang ada di Jalur hijau kota selong.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGEMBANGAN KAWASAN TAMAN WISATA ALAM MADAPANGGA DI DESA NDANO KECAMATAN MADAPANGGA KABUPATEN BIMA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Riefqi Adhiepattih; Raden Roro Narwastu Dwi Rita
Jurnal Silva Samalas Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v5i2.7148

Abstract

Keberadaan hutan sebagai bagian dari sebuah ekosistem yang besar memiliki arti dan peran penting dalam menyangga Sistem kehidupan. Kecamatan Madapangga memiliki daerah-daerah potensi sekali sehingga dijadikan wisata yang berbasis pemandangan alam, wisata spiritual. Salah satu Desa yang memiliki potensi ekowisata yaitu Desa Ndano, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima. Namun pemanfaatan sumber daya alam yang ada di desa tersebut belum terealisasi secara optimal jika dibandingkan dengan desa lain yang ada di Kecamatan Madapangga tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengunjung kawasan Taman Wisata Alam Madapangga Desa Ndano, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima. Data yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari proses wawancara kepada pengunjung taman wisata alam Madapangga. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah sarana dan prasarana baik, promosi juga baik, untuk lapangan pekerjaan sangat baik, untuk pelayanan sangat baik demikian juga untuk pengembangan aktivitas ekonomi sangat baik. Menjaga kebersihan sarana dan prasarana, keutuhan kawasan Taman Wisata Alam Madapangga sebagai daerah konservasi dan sebagai sumber mata air. Meningkatkan produk wisata sehingga bisa meningkatkan pengunjung wisatawan lokal dan meningkatkan promosi keberadaan Taman Wisata Alam Madapangga sebagai hutan konservasi dan tetap menjaga kelestariannya.
ANALISIS VEGETASI TANAMAN TINGKAT POHON di HUTAN KEMASYARAKATAN BLOK 4 WILAYAH KERJA RESORT PRINGGABAYA KPH RINJANI TIMUR Baiq Usmania Mahzam; Raden Roro Narwastu Dwi Rita
Jurnal Silva Samalas Vol 6, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jss.v6i1.8505

Abstract

Hutan kemasyarakatan (HKm) adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya di tujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat, kebijakan hutan kemasyarakatan mengizinkan masyarakat untuk dapat mengelola sebagian dari sumberdaya hutan dengan aturan-aturan yang telah di tentukan permintaan dari kelompok-kelompok petani hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks nilai penting dan keanekaragaman pohon di Hutan Kemasyarakatan Blok 4 Wilayah Kerja Resort Pringgabaya KPH Rinjani Timur. Metode pengambilan sampel adalah dengan metode intensitas sampling yang menentukan besarnya sampel sebanyak 5% dari luas Hutan Kemasyarakatan Blok 4 Wilayah Kerja Resort Pringgabaya, dengan luas lahan sebesar 37, 131 ha yang kemudian di buatkan plot sebanyak 46 plot, dengan ukuran plot 20×20 m dan jarak antar plot sepanjang 50m. Berdasarkan hasil penelitian Analisis Vegetasi Tanaman Tingkat Pohon Di Hutan Kemasarakatan Blok 4 Wilayah Kerja Resort Pringgabaya KPH Rinjani Timur. Jenis pohon yang di temukan sebanyak 10 jenis dan total individu keseluruhan jenis pohon sebanyak 64 pohon yang mendominasi adalah pohon Mete (Anacardium occidentale). Dari hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah pohon Mete (Anacardium occidentale) dengan jumlah INP sebesar 58,7%, dan Indeks Nilai Penting terendah adalah pohon kersen (Muntingia calabura) dengan jumlah sebesar 17,1%. Untuk keanekaragaman hasil dari indeks shannon-winner menunjukan keanekaragaman sedang yaitu 1,67 yang berarti <1H`<3.