Nasir Saleh
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kotak pos 66 Malang 65101

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

HAMA BOLENG PADA TANAMAN UBIJALAR DAN PENGENDALIANNYA Indiati, Sri Wahyuni; Saleh, Nasir
Buletin Palawija No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.847 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n19.2010.p27-37

Abstract

Di Indonesia, ubijalar merupakan bahan pangan sumber karbohidrat sesudah beras dan jagung. Sayangnya produktivitas ubijalar hingga saat ini masih tergolong rendah yaitu sekitar 10,78 t/ha. Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas ubijalar tersebut adalah serangan hama boleng, Cylas formicarius sedangkan petani belum melakukan pengendalian terhadap hama tersebut secara optimal. Pengendalian terpadu menggunakan dua atau lebih komponen pengendalian sangat diperlukan untuk mengatasi serangan hama boleng tersebut. Pengendalian hama boleng terpadu dilakukan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian, yaitu: Sanitasi lahan, cara bercocok tanam meliputi penggunaan bibit sehat (stek pucuk), pembumbunan, pengairan, dan pergiliran tanaman; penggunaan varietas/klon toleran terhadap hama boleng seperti Cangkuang dan Genjahrante; penangkapan serangga jantan dengan menggunakan feromon seks sintetik atau C. formicarius virgin sebanyak 5–10 ekor/100 m2; pemanfaatan agensia biologi, jamur B. bassiana; penyemprotan dengan insektisida organik yaitu serbuk biji mimba dengan takaran 20 kg/ha; secara kimiawi dengan perendaman stek ke dalam insektisida dan penyemprotan pertanaman dengan insektisida permetrin, karbosulfan, dan endosulfan, atau insektisida dalam bentuk butiran yaitu karbofuran 3G masing-masing dengan konsentrasi anjuran.
PENYAKIT ”LELES” PADA TANAMAN UBIKAYU BIOEKOLOGI DAN CARA PENGENDALIANNYA Rahayu, Mudji; Saleh, Nasir
Buletin Palawija No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.343 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n26.2013.p83-90

Abstract

Penyakit “leles” pada tanaman ubikayu (Manihot esculenta Crantz.) di Indonesia, identik dengan penyakit busuk akar/umbi (root rot disease) yang merupakan penyakit sangat penting dan merugikan di negara produsen ubikayu di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Kehilangan hasil akibat penyakit tersebut sangat tinggi mencapai 80–100% pada varietas rentan. Di Lampung, penyakit “leles” pada varietas UJ-3 serangannya mencapai 74,6%. Gejala penyakit pada tanaman muda berupa layu, daun menguning dan gugur, dan akhirnya tanaman mati, sedangkan gejala pada tanaman tua berupa busuk akar/umbi serta busuk pangkal batang. Penyakit tersebut biasanya berkembang pada lahan dengan kelembaban tinggi atau pada musim hujan. Hasil identifikasi patogen menunjukkan bahwa beberapa jamur patogenis yaitu Botryodiplodia sp., Fusarium spp. Colletotrichum sp., Sclerotium rolfsii, Cladosporium sp. dan Aspergillus spp. berasosiasi dengan penyakit tersebut. Cara pengendalian yang sangat potensial diterapkan terhadap penyakit “leles” adalah dengan menanam varietas tahan penyakit (seperti UJ-5, Malang-4, Adira-4, Litbang UK-2), pemilihan lokasi bebas penyakit, pengelolaan tanaman melalui pemupukan berimbang, pengelolaan lahan dengan baik termasuk menghindari tanam di daerah rawan banjir ataupun tergenang, perbaikan drainase, sanitasi lahan, eradikasi tanaman sakit, rotasi tanaman, serta tidak menunda waktu panen. Selain itu untuk mencegah penyakit terbawabibit (stek), maka stek perlu dikelola dengan baik misalnya dengan pencelupan dalam air hangat ataupun menggunakan fungisida benomil.
HAMA TUNGAU MERAH Tetranychus urticae PADA TANAMAN UBIKAYU DAN UPAYA PENGENDALIANNYA Indiati, Sri Wahyuni; Saleh, Nasir
Buletin Palawija No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.707 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n20.2010.p%p

Abstract

Ubikayu merupakan bahan pangan sumber karbohidrat sesudah beras dan jagung. Produktivitas ubikayu di Indonesia tergolong masih rendah yaitu sekitar 18 t/ha. Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas ubikayu tersebut adalah adanya serangan hama tungau merah Tetranychus urticae. Sejauh ini petani belum mengendalian jasad pengganggu secara optimal. Untuk mengatasi masalah tersebut perpaduan antara dua atau lebih komponen pengendalian sangat diperlukan sehingga hasil dapat ditingkatkan, pendapatan petani meningkat serta kelestarian dan kesehatan lingkungan tetap terjaga. Beberapa komponen pengendalian yang dapat diterapkan untuk mengendalikan hama tungau merah adalah pengendalian secara kultur teknis dengan menggunakan varietas agak tahan seperti MLG 10113, MLG 10077, 07 DHL, Adira-4, OMM9601-140, OMM9601-142, OMM9601-70 dan MLG-10075, sanitasi lingkungan, secara mekanis dan pengendalian secara biologis dengan menggunakan pemangsa Oligota minuta dan beberapa dari famili Coccinellidae dan jamur patogen dari genus Neozygites (Zygomycetes: Enthomophthora) dan Hirsuta (Hypomycetes: Monilia), serta penyemprotan dengan pestisida nabati maupun kimia.
Perbaikan Perbenihan Guna Mendukung Peningkatan Produksi Ubi Jalar Widodo, Yudi; Rahayuningsih, St. A.; Saleh, Nasir
Buletin Palawija No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.939 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n18.2009.p48-57

Abstract

Perbaikan perbenihan guna mendukung peningkaan produksi ubi jalar. Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan dan bahan baku industri. Sejalan dengan program diversifikasi pangan yang menjadikan sumber karbohidrat sebagai alternatif selain beras, perkembangan industri kimia berbasis ubi jalar, dan berkembangnya industri pakan ternak, kebutuhan ubi jalar dipastikan akan meningkat tajam sehingga diperlukan peningkatan produksi baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanaman komoditas tersebut. Teknologi budidaya untuk peningkatan produktivitas maupun lahan untuk pengembangan ubi jalar telah tersedia. Namun masih diperlukan sistem perbenihan yang mampu menjamin tersedianya benih bermutu secara memadai dan berkesinambungan. Sistem perbenihan ubi jalar yang perbanyakannya menggunakan bagian vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk dan secara genetis tidak berbeda dengan induknya perlu diatur tersendiri agak berbeda dengan tanaman yang diperbanyak melalui biji. Hubungan, keterkaitan dan koordinasi antara produsen benih/benih terutama penyedia benih sumber, penangkar benih, distributor/penyalur benih yang selama ini masih dirasa kurang harmonis masih perlu ditingkatkan. Untuk mencapai pertumbuhan industri benihan yang berkelanjutan, diperlukan peran sinergi sektor swasta, institusi riset pemerintah dan institusi yang menangani regulasi serta fasilitasi perbenihan.
Incorporating Root Crops under Agro-Forestry as the Newly Potential Source of Food, Feed and Renewable Energy Widodo, Yudi; Rahayuningsih, St. A.; Saleh, Nasir; Wahyuningsih, Sri
International Journal of Renewable Energy Development Vol 3, No 3 (2014): October 2014
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijred.3.3.193-206

Abstract

Entering the third millennium food and energy crisis is becoming more serious in line with water scarcity amid of climate change induced by global warming, that so called as FEWS (food energy and water scarcity).  In the last five decades Indonesian agricultural development of food crops had been emphasized on cereals and grains based. Conversion of forest into agricultural field in the form of upland and lowland facilitated by irrigation is prioritized for cereals such as rice, maize as well as grain legumes such as soybean, peanut etc. Unfortunately, root crops which their main yield underground are neglected. At the end of second millennium Indonesia was seriously suffered from multi-crisis economic trap, so Indonesia as part of countries under World Food Program to import the huge of food to cover domestic consumption such as rice, wheat, soybean, corn etc. On the other hand, consumption of energy was also increase significantly. These conditions triggering government to stimulate integrated agricultural enterprises for providing abundance of food as well as adequate renewable energy. Although root crops were neglected previously, however from its biological potential to produce biomass promotes root crops into an appropriate position. The variability of root crops which ecologically can be grown from upland in dry areas till swampy submergence condition. Forest conversion into agricultural land is not allowed due to forest is useful to prevent global warming. Therefore, food, feed and fuel (renewable energy) production have to be able grown under agro-forestry. Fortunately the potential of root crops has competency to meet the current need to fulfil food, feed and fuel as well as fibre under future greener environment.
Control of "Damping Off" Disease Caused by Sclerotium Rolfsii Sacc. using Actinomycetes and Vam Fungi on Soybean in The Dry Land Based on Microorganism Diversity of Rhizosphere Zone Rochjatun, Ika; Djauhari, Syamsuddin; Saleh, Nasir; Muhibuddin, Anton
AGRIVITA Journal of Agricultural Science Vol 33, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v33i1.37

Abstract

One of the obstacles in the efforts to increase soybean production in Indonesia is disease such as damping off which is caused by Sclerotium rolfsii. In East Java, the intensity of S. Rolfsii reached approximately 8.61% that spread all over Indonesia region, even in our neighbor countries such as Malaysia, Thailand and the Philippines. This research was carried out to determine the efficacy of Actinomycetes and VAM (Vesicular Arbuscular Mycorrhizal) against damping-off attack and the diversity of microorganisms in rhizosfer. Research conducted in the laboratory and screen house on Plant Protection Department, Faculty of Agriculture, University of Brawijaya and in Lawang District Malang. Observation variables include level of pathogen attack and infection rate of dampingoff pathogen. Plant height, number of pods, pod weight, seed weight and weight of 100 seeds from each treatment, diversity and identification of microorganisms in rhizosphere were also observed. The results showed that Actinomycetes and VAM application could decrease the percentage of plant death due to damping-off. Application of Actinomycetes and VAM gave effect on microorganism diversity of Ratai Rhizosphere but not on Wilis. Keywords: Sclerotium rolfsii, vesicular arbuscular mycorrhizal, actinomycetes, and rhizosphere