Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Limbaga (Proverbs) Simalungun as a Source of Forming Character Education Asriaty R. Purba; Herlina Herlina; Jamorlan Siahaan
Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education (BirLE) Journal Vol 3, No 3 (2020): Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education, August
Publisher : BIRCU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birle.v3i3.1459

Abstract

This research is entitled Limbaga (Proverbs) Simalungun as a Source of Formation of Character Education. Character education is a human activity to establish peace-loving and prosperous personalities in order to build their own personal character and people around them. Character education is closely related to moral education which aims to shape and practice one's ability to perfect him in a better direction. Character education has been applied since childhood. Character education can be done in their family, school and community. The purpose of this study is to describe the character values contained in limbaga (proverbss) that can be used as a source of character education. This research belongs to the category of descriptive qualitative research. The results showed that there were 9 (nine) character values contained in the Simalungun limbaga (proverbs) namely: religious, hard working, honest, disciplined, independent, rewarding achievement, responsibility, social care, and peace-loving.
Ornamen pada Bagas Godang Mandailing : Kajian Kearifan Lokal Herlina Herlina; Toyba Lubis
Journal of Language Development and Linguistics Vol. 1 No. 1 (2022): February 2022
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/jldl.v1i1.993

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nama dan bentuk ornamen yang ada pada bagas godang, fungsi dan maknanya, juga mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal. Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori kearifan lokal yang diungkap Sibarani (2012). Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan hasil pendeskripsian yang dapat penulis simpulkan adapun hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah (1) terdapat 58 bentuk ornamen yang ditemukan, (2) terdapat 58 fungsi dan makna yang terkandung dalam ornamen yang ditemukan, (3) terdapat dua jenis kearfan lokal dalam ornamen bagas godang yaitu: kearifan lokal kedamaian dan kesejahteraan. Dalam kedua jenis kearifan lokal tersebut ada 15 nilai kearfan lokal yang terkandung yakni: kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, rasa syukur, kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong royong, pengelolaan gender, pelestarian dan kreativitas budaya dan peduli lingkungan.
PERAN TOLU SAHUNDULAN LIMA SAODORAN DALAM UPACARA MANGGALAR ADAT MARHAJABUAN PADA ETNIK SIMALUNGUN : KAJIAN TRADISI LISAN Risdayanti Situngkir; Herlina Herlina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.025 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.75

Abstract

Tujuan dilakukannya upacara manggalar adat adalah untuk menyelesaikan adat yang tertunda. Penelitian ini menggunakan kajian tradisi lisan membahas mengenai peran tolu sahudulan lima saodoran terhadap pelaksanaan manggalar adat marhajabuan dalam masyarakat Simalungun. Penelitian ini membahas mengenai unsur tolu sahundulan lima saoduran, tahap pelaksanaan dan peran tolu sahundulan lima saodoran dalam upacara manggalar adat maharjabuan pada etnik Simalungun. Landasan teori yang digunakan dalam menganalisis masalah ini adalah teori tradisi lisan yang dikemukakan oleh Neuman dengan menggunakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa tradisi manggalar adat dilakukan jika terdapat sepasang suami istri yang melakukan pernikahan disebabkan oleh hal-hal yang memaksakan mereka untuk melakukan upacara pernikahan tanpa adat istiadat. Dalam pelaksanaan upacara manggalar adat maka harus melibatkan tolu sahundulan lima saodoran sebagai penggerak utama untuk melakukan upacara adat. Manggalar adat dilakukan agar seseorang mendapat kebebasan dalam melakukan aktivitas adat istiadat.
Kearifan Lokal Dalam Tradisi Paijur Batu Pada Masyarakat Batak Toba Di Desa Lobu Tua Kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapanuli Tengah Yusnia Matondang; Herlina Herlina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.913 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.76

Abstract

Kajian akademik ini berjudul “Kearifan Lokal Dalam Tradisi Paijur Batu Masyarakat Batak Toba Desa Lobu Tua Kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapanuli Tengah” dan judul lengkapnya adalah “Kearifan Lokal Dalam Tradisi Paijur Batu Masyarakat Toba”. masyarakat Batak.” Dalam artikel ilmiah ini, dibedah praktik paijur batu yang umum di kalangan masyarakat Batak Toba dusun Lobutua. Fokus utama penelitian ini adalah tahapan-tahapan tradisi paijur batu pada masyarakat Batak Toba di Desa Lobutua serta signifikansi pemanfaatan kearifan lokal dalam tradisi paijur batu pada masyarakat Batak Toba di Desa Lobutua. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tahapan-tahapan tradisi paijur batu yang dipraktikkan oleh masyarakat Batak Toba di Desa Lobutua, dan (2) mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang dipraktikkan oleh masyarakat Batak Toba di Desa Lobutua yang termasuk dalam paijur. tradisi batu. Penelitian ini memanfaatkan konsep kearifan lokal yang dikembangkan oleh Robert Sibarani. Selain itu, pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan temuan penelitian lapangan, ada tujuh fase tradisi paijur batu dalam masyarakat Batak Toba, khususnya di Desa Lobu Tua. Selain itu, ada sebelas nilai kearifan lokal. Dalam rangka membantu terpeliharanya budaya Batak Toba di Desa Lobu Tua yang sedang mengalami transisi budaya, maka akan dilakukan penilaian tentang nilai-nilai kearifan lokal.
ANALISIS TOKOH DALAM NOVEL INONG KARYA RADIUS S.K SIBURIAN: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Trisna Erawani Aritonang; Herlina Herlina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.855 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i2.78

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian tentang Psikologi Sastra terhadap buku yang berjudul Inong karya Radius S.K Siburian.Tujuan dalam penelitian ini ialah unsur intrinsik yang ada dalam novel Inong dan mendeskripsikan struktur kepribadian yang melatar belakangi psikologis para tokoh dalam novel Inong karya Radius S.K Siburian. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan studi kepustakaan. Teori yang digunakan dalam menganalisis tokoh cerita tersebut ialah teori struktural, dan teori psikologi sastra dari teori kepribadian Sigmund Freud yaitu: id, ego, dan superego. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini ditemukan aspek psikologi yaitu Id, Ego, dan Superego pada masing-masing tokoh. Aspek Id pada tokoh Inong mengacu kepada tindakan refleks seperti menolak rasa sakit. Berlanjut kepada ego dari tokoh inong, pengambilan keputusan, penyelesaian masalah yang ada. Sedangkan superego tokoh inong mengacu kepada nilai moral kepribadian yang terdapat pada masyarakat dan nilai agama. Pada tokoh Bapak id nya lebih mengacu kepada sifat penguasa dan sewenang-wenang. Pada tokoh Dame dan Jon id yang dimiliki lebih mengacu kepada menolak rasa sakit dan memilih kenikmatan. Sedangkan untuk aspek ego Dame, dan Jon memiliki kemiripan dengan Inong.
STRUKTUR INTRINSIK DAN FUNGSI CERITA PROSA RAKYAT SIANTURI TUAN DIHORBO PADA MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN FOLKLOR Jalentar F Siburian; Herlina Herlina
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 2 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.879 KB)

Abstract

Legenda ini merupakan salah satu peninggalan bagi masyarakat batak terkhusus marga sianturi. tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik dan fungsi dari legenda Sianturi Tuan Dihorbo. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik penelitian lapangan dengan metode observasi, wawancara, dan kepustakaan. Penelitian ini menggunakan teori struktur yang dikemukakan oleh Nurgiantoro dan Teori fungsi yang dikemukakan oleh Bascom. Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut; tema dari legenda sianturi adalah menyebarnya keturunan Sianturi Tuan Dihorbo dan berdirinya rumah bercat darah manusia. alur/plot menggunakan alur maju. latar/setting meliputi latar tempat di desa Simatupang, desa Paranginan Utara, dan desa Lumban Sianturi. Latar waktu terjadi pada zaman dahulu, pagi hari, malam hari. penokohan/perwatakan terdapat 6 tokoh yaitu Tuan Dihorbo, Datu Birara, Boru sanduduk, saudara Tuan Dihorbo( Mandosi Raja, Bonanionan, Parmassahati). Sudut pandang yang digunakan penulis adalah sudut pandang orang ketiga. Gaya bahasa/majas menggunakan gaya bahasa Eufeminisme. Amanat yang terdapat dalam legenda Sianturi Tuan Dihorbo adalah pentingnya memastikan sebuah tindakan karena jika ceroboh dapat menimbulkan malapetaka. Serta memiliki fungsi: sebagai cerminan atau proyeksi angan-angan pemiliknya, sebagai alat pengesah pranata dan lembaga kebudayaan, sebagai alat pendidikan, dan sebagai alat penekan atau pemaksa berlakunya tata nilai masyarakat dan pengendalian perilaku masyarakat.
ANALISIS FILOLOGIS DAN KONTEKS HISTORIS NASKAH PAGAR PANGULU BALANG (NO. INV. 07.143) KOLEKSI MUSEUM NEGERI SUMATERA UTARA Patar Kristian Sihombing; Herlina Herlina; Asriaty R Purba
Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/aksara.v9i2.1288

Abstract

This study aims to analyze the Pagar Pangulu Balang manuscript (Inventory No. 07.143), one of the significant collections at the North Sumatra State Museum, through philological and historical contextual approaches. The manuscript contains teachings, advice, and customary leadership structures that reflect the socio-political system of the Batak community in the past. The research employs a descriptive-qualitative method based on philological analysis, including inventory, physical description, transliteration, textual normalization, and the preparation of a critical standard edition. Additionally, the study explores the historical context of the manuscript’s origin and its function within traditional social structures. The results show that Pagar Pangulu Balang is not merely a historical document but also conveys social values, customary law, and local leadership ethics. Linguistically, the manuscript employs a variant of the Batak language with distinct lexical characteristics, rich in metaphors and traditional symbols. Historically, the manuscript functioned as a guide for village governance and the relationship between the pangulu balang (customary leaders) and the community. These findings highlight the importance of preserving local manuscripts as sources of cultural knowledge and collective identity in traditional societies of North Sumatra. This study is expected to serve as a foundation for further research in philology, cultural anthropology, and the preservation of Indonesian manuscript heritage
KAJIAN FILOLOGIS TERHADAP IDENTITAS DAN EDISI TEKS STANDAR NASKAH PODA NI HATA-HATA NI PAGAR PAMUHUNAN (NO. INV. 3052/07.237) KOLEKSI MUSEUM NEGERI PROVINSI SUMATERA UTARA Mery Grace Jenita Saragi; Herlina Herlina; Warisman Sinaga
Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/aksara.v9i2.1283

Abstract

This study aims to examine the identity and produce a standard text edition of the manuscript Poda ni Hata-Hata ni Pagar Pamunuhan (Inventory No. 3052/07.237), which is part of the collection of the North Sumatra Provincial State Museum. The research employs a philological approach to uncover the manuscript’s physical characteristics, cultural background, and content. The methodology includes inventorying, physical description, transliteration, and the preparation of a standard edition based on textual criticism principles. The findings reveal that the manuscript is written on bark material using Batak script and contains traditional teachings and moral advice passed down through generations in Batak society. The text editing process resulted in a valid standard edition, complete with critical apparatus and restored readings. This study highlights the importance of preserving traditional manuscripts as intangible cultural heritage rich in historical, linguistic, and educational values. The resulting edition is expected to serve as a foundational reference for further studies in philology, regional literature, and Batak cultural heritage.