Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Inquiry Based Teaching Material Development Guided in Calor and Materials the Transfer of Class V Primary State 2 Alue Teh Santi Dewi; Fauziah Harahap; Adi Sutopo
Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education (BirLE) Journal Vol 4, No 1 (2021): Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education, Februa
Publisher : BIRCU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birle.v4i1.1551

Abstract

Development of Inquiry-Based Teaching Materials Guided by the Material of Heat Transfer Class V Elementary School 2 Alue Teh This study aims to: 1) produce a product in the form of science teaching materials based on guided inquiry on heat transfer material; 2) describe the results of product validation based on guided inquiry teaching materials on the material heat transfer class V Elementary School 2 Alue Teh; and 3) analyzing effectiveness science teaching materials based on guided inquiry on heat transfer material can improve student learning outcomes class V Elementary School 2 Alue Teh. Research This was carried out in class V of Alue Teh 2 Public Elementary School. This research is a Research Research & amp; Development (R & D) includes Define (definition), Design (Design), Develop (development), and Disseminate (deployment). The design of teaching materials uses small group trials and large group trials which was conducted in class V Elementary School 2 Alue 2 Alue Teh. Data has been verified by 2 a material expert lecturer, and 2 design expert lecturers. Overall the results of expert validation the material obtained an average of 92% with the very feasible category while the results the design expert validation as a whole obtained an average of 95% in the category very worthy. At the effectiveness stage, the results showed that the second posttest data on the ability of student learning outcomes has a value of t count (= 0,000) so there is a difference because sig (2-tailed) & lt; 0.05 and t count is positive so that H 0 is rejected. Based on this, it can concluded that "there is a significant difference in learning outcomes among students who are taught using based teaching materials guided inquiry with students who are not taught to use inquiry guided.
Penentuan Jenis Kelamin Ayam Kampung dan Ayam Pama (Gallus gallus) melalui Pendekatan Kualitatif Deskriptif Berdasarkan Karakter Morfologi dan Perilaku Indah Rizka Apriliani; Koko Pribadi; Fauziah Harahap; Syahmi Edi; Melva Silitonga
JURNAL BIOSHELL Vol 15 No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/bio.v15i1.5555

Abstract

Ayam kampung dan ayam pama (Gallus gallus) merupakan unggas lokal yang banyak dipelihara masyarakat karena memiliki nilai ekonomi serta potensi sebagai sumber pangan hewani. Dalam pemeliharaan unggas, penentuan jenis kelamin sering menjadi kendala karena tidak selalu dapat dilakukan secara cepat tanpa metode khusus, padahal informasi tersebut penting untuk manajemen reproduksi dan seleksi indukan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penentuan jenis kelamin ayam kampung dan ayam Pama melalui pendekatan kualitatif deskriptif berdasarkan pengamatan karakter morfologi dan perilaku. Penelitian dilakukan melalui observasi langsung terhadap ayam jantan dan betina yang dipelihara secara tradisional dengan mengamati ukuran dan bentuk tubuh, perkembangan jengger, warna dan struktur bulu, bentuk ekor, serta perilaku harian. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan morfologi dan perilaku yang jelas antara ayam jantan dan betina. Ayam jantan umumnya memiliki tubuh lebih besar dan tegap, jengger lebih menonjol, warna bulu lebih kontras, ekor lebih panjang dan melengkung, serta perilaku lebih agresif. Sebaliknya, ayam betina memiliki tubuh lebih kecil, jengger lebih kecil, warna bulu lebih sederhana, ekor lebih pendek, dan perilaku lebih tenang. Selain itu, ayam Pama jantan menunjukkan karakter fisik dan agresivitas yang lebih dominan dibandingkan ayam kampung jantan. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya dimorfisme seksual yang dipengaruhi faktor genetik dan hormonal. Penentuan jenis kelamin ayam dapat dilakukan secara praktis melalui pengamatan morfologi eksternal dan perilaku sehingga dapat membantu peternak dalam mengidentifikasi jenis kelamin ayam secara lebih mudah.