MEITA SANTI BUDIANI
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA PEMBERDAYAAN PSIKOLOGIS DENGAN WORKFORCE AGILITY PADA KARYAWAN PRODUKSI PT X Dwi Agustia, Erlina; Santi Budiani, Meita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.5838

Abstract

The manufacturing industry plays a vital role in the global economy and tends to focus on production processes, thereby closely involving production employees. Continuous development and change demand that production employees respond and adapt effectively. This research seeks to explore and illustrate the connection between psychological empowerment and workforce agility among employees in the production secto. A correlational quantitative research design was employed, using a saturated sampling technique involving 157 employees from the Production Division. Data were collected using psychological empowerment and workforce agility scales. Data analysis was conducted using Pearson product-moment correlation via SPSS version 25.0 for Windows. The results indicated a significance value of 0.000 (p < 0.05) and a correlation coefficient of 0.791 (r = 0.791). These results show a significant, strong, and positive relationship between psychological empowerment and workforce agility. So, the higher the psychological empowerment, the greater the workforce agility among PT X’s production employees. The implications of this study suggest that the company should facilitate development programs that enhance dimensions of psychological empowerment, such as job skills training, employee involvement in decision-making, and recognition of employee initiatives and contributions. ABSTRAK Industri manufaktur memiliki peran penting dalam perekonomian global dan cenderung berfokus pada proses produksi, sehingga erat kaitannya dengan karyawan produksi. Adanya perkembangan dan perubahan yang terus menerus menuntut karyawan produksi respon dan adaptasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan dan membuktikan hubungan antara pemberdayaan psikologis dengan workforce agility pada karyawan produksi. Studi ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif korelasional dengan teknik sampling jenuh pada 157 karyawan Divisi Produksi. Pengambilan data penelitian menggunakan instrumen skala pemberdayaan psikologis dan skala workforce agility. Analisis data dilakukan menggunakan metode korelasi pearson product moment memakai perangkat lunak SPSS versi 25.0 untuk windows. Berdasarkan analisa data, didapatkan nilai signifikansi mencapai 0,000 (p<0,05). Selain itu, diperoleh koefisien korelasi mencapai 0,791 (r=0,791). Nilai yang diperoleh mengindikasikan bahwa terdapat hubungan signifikan pemberdayaan psikologis dengan workforce agility serta tergolong kuat dan positif. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat pemberdayaan psikologis karyawan, maka semakin tinggi pula tingkat workforce agility karyawan produksi PT X. Implikasi penelitian ini diharapkan perusahaan memfasilitasi program-program pengembangan yang dapat meningkatkan dimensi pemberdayaan psikologis, seperti pelatihan keterampilan kerja, melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan, dan memberikan penghargaan atas inisiatif serta kontribusi karyawan. 
HUBUNGAN ANTARA ORIENTASI MASA DEPAN TERHADAP KESIAPAN KERJA PADA SISWA SMK Rhamadani Raharja, Bagus; Santi Budiani, Meita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6065

Abstract

This study is motivated by the mismatch between the competencies of vocational high school (SMK) graduates and the needs of the labor market, which has resulted in the highest open unemployment rate among SMK graduates in Indonesia. The purpose of this study is to examine the relationship between future orientation and work readiness among students of SMK. A correlational quantitative approach was employed, involving all eleventh-grade students (N = 241) as research subjects using a saturated sampling technique. The instruments used were a future orientation scale and a work readiness scale, both of which had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using Pearson Product Moment correlation. The results revealed a significant and strong relationship between future orientation and work readiness (r = 0.604; p < 0.001). These findings indicate that the higher the students' future orientation, the greater their level of work readiness. This study provides practical implications for designing career planning interventions in vocational schools and offers a future orientation-based approach as a strategy to improve students' work readiness. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan dunia kerja, yang menyebabkan tingkat pengangguran terbuka pada lulusan SMK menjadi yang tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara orientasi masa depan dengan kesiapan kerja pada siswa SMK. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan melibatkan seluruh siswa kelas XI (N = 241) sebagai subjek melalui teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan adalah skala orientasi masa depan dan skala kesiapan kerja yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Teknik analisis data menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil menunjukkan hubungan yang signifikan dan kuat antara orientasi masa depan dan kesiapan kerja (r = 0,604; p < 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi orientasi masa depan siswa, maka semakin tinggi kesiapan kerja yang dimiliki. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam merancang intervensi perencanaan karir di SMK dan menawarkan pendekatan berbasis orientasi masa depan sebagai strategi untuk meningkatkan kesiapan kerja siswa.