Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Scoping Review: Perbandingan Pengaruh Diet Rendah Lemak dan Diet Rendah Karbohidrat (Diet Keto) terhadap Penurunan Berat Badan pada Obesitas Dewasa Mihdatun Nurul Fauziyah; Dicky Santosa; Purwitasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.120

Abstract

Abstract. Obesity is still a health problem in Indonesia, so it requires further treatment. Treatment of obesity with a low-fat diet (DRL) and a low-carbohydrate diet (DRK) is currently being used, so the aim of this study was to compare the effect of DRL and DRK on weight loss in obese adults. This study was taken using the scoping review method with a sample of international articles from Pubmed, Spinger Link and Proquest data sources with a total of 1092. Articles that met the inclusion, exclusion and eligibility criteria used the JBI Critical Appraisal Checklist which included two articles. The results of the second article show that DRL can lose weight in obese adults but it takes longer and DRK can lose weight in obese adults more quickly and significantly. The results of the comparison of DRL and DRK on weight loss in adults, one article showed that DRK was more significant and faster in losing weight than DRL, another article showed that the comparison of DRL and DRK there was no significant difference in losing weight because of differences in patterns. genotype. The conclusion in this study is that one article shows significant results and another article shows insignificant results between DRL and DRK so that it requires further research. Abstrak. Obesitas masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut. Penanganan obesitas dengan diet rendah lemak (DRL) dan diet rendah karbohidrat (DRK) sedang marak dibicarakan sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pengaruh DRL dan DRK terhadap penurunan berat badan pada obesitas dewasa. Penelitian ini diambil dengan metode scoping review dengan sampel artikel internasional dari sumber data Pubmed, Spinger Link dan Proquest dengan jumlah 1092. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi, eksklusi dan kelayakan menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist berjumlah dua artikel. Hasil dari kedua artikel menunjukan DRL dapat menurunkan berat badan pada obesitas dewasa tetapi membutuhkan waktu lebih lama dan DRK dapat menurunkan berat badan pada obesitas dewasa lebih cepat dan signifikan. Hasil dari perbandingan DRL dan DRK terhadap penurunan berat badan pada obesitas dewasa, satu artikel menunjukan hasil bahwa DRK lebih signifikan dan cepat dalam menurunkan berat badan dibanding DRL, artikel lainnya menunjukan bahwa perbandingan DRL dan DRK tidak ada perbedaan signifikan dalam menurunkan berat badan dikarenakan adanya perbedaan pola genotif. Simpulan pada penelitian ini bahwa satu artikel menunjukan hasil yang signifikan dan artikel lainnya menunjukan hasil yang tidak signifikan diantara DRL dan DRK sehingga membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Potensi Hazard Ergonomi terhadap Kejadian Osteoarthirits Lutut pada Pekerja Buruh Pelabuhan di Pelabuhan Cappa Ujung Kota Parepare Dandy Yusuf Iglesis; Nuzirwan Acang; Dicky Santosa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.408

Abstract

Abstract. Osteoarthritis is a degenerative disease characterized by the breakdown of joint cartilage. Osteoarthritis can affect the hips, knees, hands and feet, causing severe disability especially in the elderly population. The process of knee OA is a load that exceeds its normal capacity on normal tissue or normal load on tissue that has a problem. Work has a risk of a certain disease due to a hazard or hazard, one of which is Knee Osteoarthritis. Based on this phenomenon, the problems in this study are: (1) How many dock workers at the port of Caapa at the end of Parepare City are affected by knee osteoarthritis? (2) What is the description of the risk of ergonomic hazard on the incidence of Knee Osteoarthritis in port workers at the Cappa port at the end of Parepare City? The study used observational analysis with a cross-sectional approach. Analysis of the data used in this study using univariate analysis with a sample of 114 people. The results of the study from 114 people there were complaints of knee osteoarthritis with a total of 42 people (36.5%) which were divided by job division and by age group. The history and examination carried out on dock workers by doctors showed that there were complaints of knee osteoarthritis in the age group of 50 to 54 years with 17 people (40.4%), while the ergonomic hazard risk was reviewed using the BRIEF survey of posture, force, duration. , and frequency there is the highest risk in the unloading section with 3 points and the arranging goods section with 4 points. There is an influence of age with the incidence of Knee Osteoarthritis and the potential for ergonomic hazards that can be exposed to dock workers which can cause knee Osteoarthritis. Abstrak. Osteoarthritis adalah penyakit degeneratif yang ditandai dengan kerusakan rawan sendi. Osteoarthritis dapat terkena pada pinggul, lutut, tangan dan kaki, yang menyebabkan kecacatan parah terutama pada populasi lansia. Proses terjadinya OA lutut adalah beban yang melebihi kapasitas normalnya pada jaringan normal atau beban normal pada jaringan yang memiliki masalah. Pekerjaan memiliki risiko terjadinya suatu penyakit tertentu akibat adanya bahaya atau hazard salah satunya Osteoarthritis Lutut. Berdasarkan fenomena tersebut maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Berapakah jumlah buruh pelabuhan di pelabuhan caapa ujung Kota Parepare yang terkena osteoarthritis Lutut? (2) Bagaimanakah Gambaran risiko hazard ergonomi terhadap kejadian Osteoarthritis Lutut pada pekerja buruh pelabuhan di pelabuhan cappa ujung Kota Parepare? Penelitian menggunakan metode observasional analisis dengan pendekatan cross-sectional. Analisis data yang digunakan dalam penelitian dengan menggunakan analisis univariat dengan jumlah sampel 114 orang. Hasil penelitian dari 114 orang terdapat adanya keluhan osteoarthritis lutut dengan jumlah 42 orang (36,5%) yang terbagi berdasarkan perbagian pekerjaan dan berdasarkan kelompok usia. Anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan pada buruh pelabuhan yang dilakukan oleh dokter terdapat adanya keluhan osteoarthritis lutut pada kelompok usia 50 hingga 54 tahun dengan 17 orang (40,4%), sedangkan pada risiko hazard ergonominya yang ditinjau menggunakan BRIEF survey dari posture, force, duration, dan frequency terdapat risiko tertinggi pada bagian pembongkaran barang dengan poin 3 dan bagian menyusun barang dengan poin 4. Terdapat adanya pengaruh usia dengan kejadian Osteoarthritis Lutut dan potensi hazard ergonomi yang dapat terkena pada buruh pelabuhan yang dapat menyebabkan Osteoarthritis lutut.
Daya Hambat Ekstrak Air Kopi Robusta (Coffea Canephora) terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes Ilham Mauludin; Hendro Sudjono Yuwono; Dicky Santosa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1926

Abstract

Abstract. The prevalence of acne vulgaris in Indonesia as much as 80-85% is teenagers peak at 15-18 years. Topical and oral antibiotics suppressed the activity of Propionibacterium acnes in acne. It can cause resistance and result in therapy failure. The purpose was to determine the antibacterial effect of Robusta Coffee (Coffea canephora) aqueous extract. This research is a descriptive experimental study using isolates of bacteria P. acnes ATCC 11827, taken from the Unisba Pharmaceutical Microbiology Lab, with the method of disc diffusion and adapted to the standard 0.5 McFarland. Six research groups were comprised four concentrations of aqueous extract. It is namely 25%, 50%, 75%, and 100%. Positive control (erythromycin antibiotics), and negative control (aqua des) which was then incubated for 24 hours at 37°C and it measured the diameter of the inhibition zone in millimeters. The results showed that the largest inhibition zone at 100% concentration was 7.90 mm. Of 50% and 25% were not detected. The erythromycin inhibition zone formed 23.99 mm. Coffee can overcome bacterial infections that cause acne because it can produce H₂O₂ and create a hyperosmotic solution atmosphere. This study concludes that robusta coffee water extract can inhibit the growth of bacteria P. acne, but the inhibition zone is lower than the erythromycin inhibition zone. Abstrak. Prevalensi akne vulgaris di Indonesia sebanyak 80-85% adalah usia remaja puncaknya pada usia 15-18 tahun. Penggunaan antibiotik untuk menekan aktivitas Propionibacterium acne pada jerawat, dapat menyebabkan resistensi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui daya hambat ekstrak air Kopi Robusta (Coffea canephora) pada media agar kultur Propionibacterium acne. Penelitian ini merupakan studi deskriptif eksperimental in vitro menggunakan isolat bakteri P. acnes, yang diambil dari Lab Mikrobiologi Farmasi Unisba, dengan metode disc diffusion dan disesuaikan dengan standar 0,5 McFarland. Terdapat enam kelompok penelitian terdiri dari empat konsentrasi ekstrak air yaitu 25%, 50%, 75% dan 100%, kontrol positif (antibiotik eritromisin), dan kontrol negatif (cairan akuades) yang selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37℃. Zona hambat diukur diameternya dalam milimeter. Hasil penelitian menunjukan zona hambat pada konsentrasi 100% yaitu 7,90 mm, sedangkan pada konsentrasi 50% dan 25% tidak terdeteksi. Pada eritromisin zona hambat terbentuk 23,99 mm. Kopi dapat mengatasi infeksi bakteri penyebab jerawat karena menghasilkan H₂O₂ dan menciptakan larutan hiperosmotik. Kesimpulan ekstrak air kopi robusta dapat menghambat pertumbuhan bakteri P. acne, namun lebih rendah dibandingkan zona hambat eritromisin.
Scoping Review: Angka Kejadian Stroke Infark pada Pasien dengan DM Tipe 2: Kajian Pustaka M. Maulvi Rizqi A.; Dicky Santosa; Nuri Amalia
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2199

Abstract

Abstract. Stroke is the second most common cause of death in the world and the third most common cause of disability in the world. Stroke is a disease that rapidly developing clinical signs of focal (or global) disturbance of brain function, with symptoms lasting 24 hours or more or leading to death, with no apparent cause other than cerebral vascular origin. There are various factors that can cause stroke, one of which is type 2 diabetes mellitus (DM). As time goes on, the incidence of diabetes mellitus is increasing. Type 2 diabetes mellitus is metabolic disorders in the presence of hyperglycemia as a result of insufficient insulin secretion or decreased effectiveness of insulin (or both). There are 2 main types of diabetes mellitus, namely type 1 and type 2. Patients with DM usually have three classic symptoms, namely polyuria, polyphagia, polydipsia. And to diagnose DM, people can use plasma glucose test in 3 different times, when fasting, when 2-hours after eating, and when at random times. The incidence of a disease is defined as the number of new cases of a disease that occur over a certain period of time in a population at risk for the disease. Abstrak. Stroke merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di dunia dan penyebab kecacatan ketiga terbanyak di dunia. Stroke adalah penyakit yang berkembang pesat dengan tanda-tanda klinis gangguan fungsi otak fokal (atau global), dengan gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih atau menyebabkan kematian, tanpa penyebab yang jelas selain asal vaskular serebral. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan stroke, salah satunya adalah diabetes melitus (DM) tipe 2. Seiring berjalannya waktu, angka kejadian diabetes melitus semakin meningkat. Diabetes mellitus tipe 2 adalah gangguan metabolisme dengan adanya hiperglikemia sebagai akibat dari sekresi insulin yang tidak mencukupi atau penurunan efektivitas insulin (atau keduanya). Ada 2 tipe utama diabetes mellitus, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Penderita DM biasanya memiliki tiga gejala klasik yaitu poliuria, polifagia, polidipsia. Dan untuk mendiagnosis DM, orang bisa menggunakan tes glukosa plasma dalam 3 waktu yang berbeda, saat puasa, saat 2 jam setelah makan, dan saat satu waktu. Angka kejadian suatu penyakit didefinisikan sebagai jumlah kasus baru suatu penyakit yang terjadi selama periode waktu tertentu dalam suatu populasi yang berisiko terkena penyakit tersebut.
Gambaran Kejadian Miopia di SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi Ghiffari Muhammad Suriadi; Dicky Santosa; Tryando Bhatara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6129

Abstract

Abstract. Myopia is a refractive disorder due to axial elongation of the eyeball, occurs when the image of a distant object is focused in front of the retina. According to the American Academy of Ophthalmology 2021, myopia is marked by blurring of distant objects and clearly visible objects near, according to WHO, in 2019 the prevalence of myopia reached 53% in Asia-Pacific and increased in high school students around 84.89%. This study aims to determine the incidence of myopia in students of SMAN 1 Cibadak, Sukabumi Regency. The sample selection technique for this study used probability sampling, with 92 research subjects. This study used an observational method with a cross-sectional approach. Data collection was carried out using an eye examination by a refractionist using an autorefractometer and Snellen chart. The results of this study showed that 65 students (70.4%) had myopia and 27 students (29.3) did not have myopia. The relatively high percentage of myopia associated with students at SMAN 1 Cibadak, Sukabumi Regency, can cause muscle tension, as well as activities that force the eyes to work in a monotonous manner for a long time and at close range, resulting in the eyes continuously accommodating. Keywords: high school students, myopia, refractive error Abstrak. Miopia merupakan kelainan refraksi akibat pemanjangan aksial bola mata, terjadi ketika bayangan benda jauh terfokus di depan retina. Menurut American Academy of Ophthalmology 2021 miopia ditandai dengan kaburnya objek yang jauh dan objek dekat terlihat dengan jelas, menurut WHO pada tahun 2019 prevalensi miopia mencapai 53% di Asia–pasifik dan meningkat pada siswa SMAN sekitar 84,89%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian miopia pada siswa SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi. Teknik pemilihan sampel penelitian ini menggunakan probability sampling, dengan subjek penelitian sebanyak 92 orang. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan potong lintang. Pengambilan data dilakukan menggunakan pemeriksaan mata oleh refractionist menggunakan autorefractometer dan snellen chart. Hasil penelitian ini menunjukkan siswa yang mengalami miopia sebanyak 65 orang (70,4%) dan tidak miopia sebanyak 27 orang (29,3). Persentase terjadinya miopia berkaitan dengan siswa SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi yang relatif tinggi dapat menyebabkan ketegangan otot, serta aktivitas memaksa mata untuk bekerja secara monoton dengan waktu yang lama dan jarak yang dekat sehingga berakibat pada mata yang terus menerus berakomodasi. Kata Kunci: kelainan refraksi, miopia, siswa SMA.
Senam Aerobik Menurunkan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Dilla Maliha Anggitania; Dicky Santosa; Listya Hanum Siswanti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5849

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus (DM) is a disease caused by the pancreas that cannot produce insulin (a glucose regulating hormone). Based on data from Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Diabetes Mellitus patients initially increased from 6.9% to 8.5%. One of the pillars of Diabetes Mellitus management is physical exercises, for example aerobics exercise which is useful for controlling blood sugar levels. Actively moving muscles will increase muscle metabolism, and stimulate the release of bradykinin so that insulin receptor sensitivity increases. The purpose of this study was to explore article the effect of aerobic exercise on decreasing blood glucose levels of adult patients with Type 2 Diabetes. The research uses a scoping review studies to identify, analyze, and evaluate scientific writings through PubMed, ScienceDirect, ProQuest, Garuda and Neliti. Use the JBI Critical Appraisal Checklist and summarized in the PRISMA diagram. A total of 15,321 articles were generated from the five data sources taken from 2012-2022, 6,383 articles fulfilled the inclusion criteria and 4 articles fulfilled the exclusion and eligibility criteria. These four articles shows that there is a decrease in blood glucose levels in Type 2 Diabetes patients after aerobic exercise (aerobic dance). Regular aerobic exercise can reduce or control blood glucose levels in Type 2 Diabetes Mellitus patients, because active muscles increase insulin receptor sensitivity so that glucose uptake increased 7-20 times. The conclusion of this study is that there is an effect of aerobic exercise on reducing blood glucose levels for Type 2 Diabetes patients. Keywords: Adult, Aerobic Exercise, Blood Glucose, Dancing, Diabetes Mellitus Abstrak. Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit yang disebabkan pankreas tidak dapat memproduksi insulin (hormon pengatur glukosa). Menurut data Kemenkes, jumlah penderita Diabetes Mellitus meningkat dari 6,9% menjadi 8,5%. Salah satu pilar dalam tatalaksana Diabetes Mellitus adalah aktivitas fisik, termasuk senam aerobik yang berguna untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Otot yang aktif bergerak akan meningkatkan metabolisme otot dan stimulasi pelepasan bradikinin sehingga sensitivitas reseptor insulin meningkat. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi artikel tentang pengaruh senam aerobik terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 dewasa. Penelitian menggunakan studi scoping review untuk mengindentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi tulisan ilmiah melalui sumber data PubMed, ScienceDirect, ProQuest, Garuda dan Neliti yang memenuhi kriteria kelayakan menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist dan disajikan dalam diagram PRISMA. Dihasilkan 15.321 artikel dari empat sumber data diambil dari tahun 2012-2022, 6.383 artikel memenuhi kriteria inklusi dan 4 artikel memenuhi kriteria eksklusi dan kelayakan. Keempat artikel menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 dewasa setelah melakukan senam aerobik, kegiatan senam aerobik secara teratur dapat menurunkan ataupun mengendalikan kadar glukosa darah Diabetes Mellitus Tipe 2, Hal ini dikarenakan otot yang aktif akan meningkatkan sensitifitas reseptor insulin sehingga ambilan glukosa meningkat 7 – 20 kali. Simpulan penelitian ini didapatkan adanya pengaruh senam aerobik terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 dewasa. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Glukosa darah, Senam Aerobik
Hubungan Skor APGAR Keluarga dengan Kualitas Hidup Penderita MDR TB di Poli MDR TB RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya Daffa Muhammad Desyawalsah; Dicky Santosa; Susan Fitriyana
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6066

Abstract

Multi Drug Resisten Tuberculosis merupakan salah satu penyakit yang sulit ditangani. Penderita MDR TB sering mengalami penurunan kualitas hidupnya dari aspek fisiologis, psikologis, dan keuangan. Keluarga yang sehat merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas hidup penderita MDR TB. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan Skor APGAR keluarga dengan kualitas hidup penderita MDR TB di Poli MDR TB RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Subjek adalah penderita MDR TB yang berjumlah 79 orang yang dipilih melalui Covenience Sampling. Pengambilan data diambil melalui data primer dengan menggunakan kuisioner APGAR keluarga dan SF-36. Pengolahan data menggunakan uji person chi-Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden dengan keluarga fungsional 61 0rang (77,2%), keluarga kurang fungsional 15 orang (19,0%), keluarga tidak fungsional 3 orang (3,8%). Sedangkan untuk responden yang memiliki kualitas hidup baik 65 orang (82,2%) dan kualitas hidup buruk 14 (17,7%). Hasil dari penelitian ini tidak terdapat hubungan antara Skor APGAR Keluarga dengan Kualitas Hidup penderita MDR TB di RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya.
Hubungan Antara Status Gizi dan Stunting pada Usia 0-4 Tahun di Puskesmas Petir Kabupaten Serang Tahun 2023 Adhika Afriadi; Dicky Santosa; Lisa Adhia Garina
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10465

Abstract

Abstract. Stunting is a disruption in children's growth and development that often occurs in the world until 2025, including Indonesia. The incidence of stunting is influenced by many factors, especially the nutritional status of children. The aim of this study was to analyze the relationship between nutritional status and stunting at ages 0–4 years. This research is an analytical observational study with a cross sectional approach. Research samples that met the research criteria were taken using purposive sampling totaling 269. Statistical analysis used SPSS version 29.0 with the bivariate Chi square test. Most of the stunted children were male, 153 children (56,9%), 173 children aged 0-24 months (66,5%), normal nutritional status 181 children (67,3%), and stunting stratification was short (stunting) 185 children (68,8%). There is a relationship between nutritional status and the incidence of stunting (p= 0,024). Nutritional status and stunting have a significant relationship, with the largest distribution of both stunted and severely stunted occurring in the normal nutrition group and more frequently occurring in men compared to women. Monitoring body weight and length or height is important to do regularly to detect malnutrition and risk of stunting. Abstrak. Stunting menjadi gangguan tumbuh kembang anak yang banyak terjadi didunia hingga tahun 2025, termasuk Indonesia. Kejadian stunting dipengaruhi oleh banyak faktor terutama adalah status gizi pada anak. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan stunting pada usia 0–4 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria penelitian diambil menggunakan purposive sampling berjumlah 269. Analisis statistik menggunakan SPSS versi 29.0 dengan uji bivariat Chi square. Sebagian besar anak stunting berjenis kelamin laki-laki sebanyak 153 anak (56,9%), usia 0-24 bulan 173 anak (66,5%), status gizi normal 181 anak (67,3%), dan stratifikasi stunting adalah pendek ( stunting) 185 anak (68,8%). Terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian stunting (p = 0,024). Status gizi dan stunting mempunyai hubungan yang signifikan, dengan distribusi terbesar baik stunting maupun stunting berat terjadi pada kelompok gizi normal dan banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Pemantauan berat badan dan panjang atau tinggi badan penting dilakukan secara rutin untuk mendeteksi malnutrisi dan risiko stunting.
Hubungan Berat Badan Lahir Rendah dengan Kejadian Stunting pada Balita di Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat Dinda Syafira Agitha; Santun Bhekti Rahimah; Dicky Santosa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10754

Abstract

Abstract. A baby's birth weight is the first weight recorded after birth, ideally measured in the first hours after birth. Low Birth Weight (LBW) is a birth weight of less than 2500 grams or 5.5 pounds. Low birth weight is a risk factor for stunting. Stunting is a growth and development disorder experienced by children due to poor nutrition. Children are said to be stunted if their height at their age is less than -2 standard deviations on the WHO child growth curve. The percentage of stunted toddlers in West Bandung Regency in 2021 will reach 11.85%. The aim of this research is to determine the relationship between low birth weight and stunting. The research was conducted at the Padalarang District Health Center, West Bandung Regency in 2023. This research was an analytical observational study using the case-control method. The variables in this study are birth weight as the independent variable and stunting as the dependent variable. The number of research subjects was 118 children under five which were determined using the purposive sampling method. This research shows that the majority of children under five in Padalarang District, West Bandung, are girls (55.1%) with the majority aged 24 to 60 months. The results of research on children under five in Padalarang District, West Bandung showed that more children with LBW experienced stunting than those without stunting (7.6%:2.5%). The results of this study show that there is a relationship (p-value < 0.05) between low birth weight and the incidence of stunting in toddlers in Padalarang District, West Bandung. Insufficient energy intake in babies affects the baby's growth and development, making it a risk factor for stunting. Abstrak. Berat lahir bayi merupakan berat badan pertama yang dicatat setelah lahir, idealnya diukur dalam jam-jam pertama setelah lahir. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah berat lahir yang kurang dari 2500 gram atau 5,5 pon. Berat badan lahir rendah merupakan faktor risiko dari stunting. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak karena gizi buruk. Anak-anak disebut stunting apabila tinggi badan pada usianya kurang dari -2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan anak WHO. Persentase balita stunting di Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2021 mencapai angka 11,85%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan berat badan lahir rendah dengan stunting. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode case control. Variabel dalam penelitian ini adalah berat badan lahir sebagai variabel bebas dan stunting sebagai variabel terikat. Jumlah subjek penelitian sebanyak 118 orang anak balita yang ditentukan dengan metode purposive sampling. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas anak balita di Kecamatan Padalarang, Bandung Barat, perempuan (55.1%) dengan sebagian besar berusia 24 sampai 60 bulan. Hasil penelitian pada anak balita di Kecamatan Padalarang, Bandung Barat menunjukkan bahwa balita dengan BBLR lebih banyak yang mengalami stunting dari pada tidak stunting (7.6%:2.5%). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan (p-value < 0,05) antara berat badan lahir rendah dengan kejadian stunting pada balita di Kecamatan Padalarang Bandung Barat. Asupan energi yang tidak memenuhi pada bayi mempengaruhi tumbuh kembang bayi sehingga menjadi salah satu faktor risiko stunting.
Analisis Kejadian Stunting terhadap Perkembangan pada Anak Usia 3-5 Tahun di Kecamatan Padalarang Bandung Barat 2023 Magfira Putri Darna; Lisa Adhia Garina; Dicky Santosa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11003

Abstract

Abstract. Indonesia is the 4th country in the world and 2nd in Southeast Asia with the highest Stunting rate, namely; 149.2 million cases in 2020. Development in the first 1,000 days is an aspect that is closely related to Stunting, an aspect that can be disrupted in the form of developmental obstacles. This study aims to analyze the relationship between Stunting and development in children aged 3-5 years in Padalarang District, West Bandung. This research is an analytical observational study with a cross sectional approach. Purposive sampling was carried out in the population, the research sample came from primary data taken from filling out questionnaires and measuring body height using a microtoise and entered into the Kuisioner Pra Screening Perkembangan (KKSP). Data were analyzed using univariate and bivariate tests using the Man Whitney test. The number of respondents was 87 children with the characteristics of the respondents being mostly female (51%), with an average age of 45.19 months and most of them were stunted (51), 49% were stunted and 51% were very stunted. The results of the analysis obtained a p value of 0.72 (>0.05) which shows that there is no significant difference between Stunting and development in children aged 3-5 years. Development is influenced by many factors other than nutrition, such as internal factors (mother's role, psychological function) and external factors such as the child's growing environment. Abstrak. Indonesia merupakan negara ke-4 di dunia dan ke-2 di Asia Tenggara dengan angka Stunting tertinggi yaitu; 149,2 juta kasus pada tahun 2020. Perkembangan pada periode 1.000 hari pertama merupakan aspek yang sangat berhubungan erat dengan Stunting, aspek yang dapat terganggu dapat berupa hambatan perkembangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara Stunting dan perkembangan pada anak usia 3—5 tahun di Kecamatan Padalarang Bandung Barat. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Dilakukan purposive sampling pda polulasi, sampel penelitian berasal dari data primer yang diambil dari dari pengisian kuesioner dan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan dimasukan ke dalam Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KKSP). Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji Man Whitney. Jumlah responden sebanyak 87 anak dengan karakteristik responden mayoritas berjenis kelamin perempuan (51%), dengan rata-rata usia 45,19 bulan dan mayoritas mengalami Stunting (51), pada stunted sebesar 49% dan pada severy stunted sebesar 51% Hasil analisis didapatkan nilai p sebesar 0,72 (>0,05) yang menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara Stunting dan perkembangan pada anak usia 3—5 tahun. Perkembangan dipengaruhi banyak faktor lainnya selain gizi seperti faktor internal (peran ibu, fungsi psikis) dan eksternal seperti lingkungan tumbuh anak.