Sulistyo - Saputro
Program Studi Magister Pendidikan Sains, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNS Surakarta

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Prosiding Pendidikan Sains

PENGEMBANGAN MODUL KIMIA BERBASIS MASALAH PADA MATERI KONSEP MOL KELAS X SMA/MA SESUAI KURIKULUM 2013 Sunaringtyas, Kristianita -; Saputro, Sulistyo -; Masykuri, Mohammad -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains FKIP UNS Vol 1, No 1 (2014): Seminar Nasional Pendidikan Sains IV (SNPS IV 2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.496 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1)  hasil  dari setiap langkah pengembangan modul kimia berbasis masalah atau problem based learning (PBL) menggunakan model Borg dan Gall yang dimodifikasi, (2) kelayakan modul kimia problem based learning. Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian dan pengembangan atau research and development  model Borg dan Gall yang dimodifikasi. Uji lapangan awal dilakukan di SMAN 1 Kota Madiun dan SMAN 3 Kota Madiun. Uji lapangan utama dilakukan di SMAN 1 Kota Madiun dan SMAN 2 Kota Madiun. Uji lapangan operasional dilakukan di 10 sekolah pelaksana Kurikulum 2013 Tahun Pelajaran 2013/2014, yaitu: (1) SMAN 1 Kota Madiun,  (2)  SMAN 2 Kota Madiun, (3) SMAN 3 Kota Madiun, (4)  SMAN 1 Caruban Kabupaten Madiun, (5) SMAN 2 Caruban Kabupaten Madiun, (6) SMAN 1 Geger Kabupaten Madiun, (7) SMAN 1 Kabupaten Ngawi,  (8) SMAN 2 Kabupaten Ngawi,  (9) SMAN 1 Kabupaten Magetan, dan (10) SMAN 1 Maospati Kabupaten Magetan. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, angket dan tes. Jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif.  Data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara, saran dan masukan saat  uji lapangan.  Data kuantitatif diperoleh dari isian angket kelayakan modul kimia problem based learning dan tes hasil belajar. Kelayakan modul kimia problem based learning disimpulkan dari hasil uji lapangan awal, utama dan operasional. Dari hasil penelitian  disimpulkan bahwa: (1)  hasil setiap langkah pengembangan modul kimia berbasis masalah  adalah modul kimia yang telah direvisi berdasarkan saran dan masukan dari konsultan ahli modul, validator modul dan telah diujicobakan kepada calon pengguna modul,  (2) modul kimia problem based learning layak digunakan dalam proses pembelajaran dengan skor 4,3 oleh Ahli modul dan Praktisis Pendidikan, skor 128 oleh guru dan 72,5 oleh siswa pada uji lapangan awal, skor 133 oleh guru dan 74,5 oleh siswa pada uji lapangan utama, dan skor 138 oleh guru dan 76 oleh siswa pada uji lapangan operasional.  
PEMBELAJARAN KIMIA UNSUR DENGAN MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) MENGGUNAKAN MEDIA GAME KARTU DAN MEDIA GAME ANIMASI DITINJAU DARI MOTIVASI DAN GAYA BELAJAR SISWA Sundari, Endang -; Saputro, Sulistyo -; Mulyani, Sri -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains FKIP UNS Vol 1, No 1 (2014): Seminar Nasional Pendidikan Sains IV (SNPS IV 2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.496 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media game kartu dan media game animasi pada model pembelajaran TGT, motivasi belajar, gaya belajar, dan interaksinya terhadap prestasi belajar ranah kognitif dan afektif.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu dan dilaksanakan dari bulan April 2013 – Pebruari 2014. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XII IPA SMA N 2 Purwokerto tahun Pelajaran 2013/2014. Sampel diperoleh dengan teknik cluster random sampling yang terdiri dari dua kelas, XII IPA 4 dan kelas XII IPA 5.Kelas XII IPA 4 diberi pembelajaran dengan model TGT dengan menggunakan media game kartu dan kelas XII IPA 5 diberi pembelajarandengan model TGT dengan media game animasi. Data dikumpulkan dengan metode tes untuk prestasi belajar kognitif, angket untuk prestasi belajar afektif, motivasi belajar dan gaya belajar. Hipotesis diuji menggunakan uji non-parametrik.Dari hasil analisis data disimpulkan 1) ada perbedaan prestasi belajar kognitif dan afektif  siswa pada pembelajaran dengan model Teams Games Tournament (TGT) menggunakan media game kartu dan siswa yang belajar dengan model Teams Games Tournament (TGT) menggunakan media game animasi. 2) tidak ada perbedaan prestasi belajar kognitif dan afektif siswa yang memiliki gaya belajar visual dan gaya belajar auditorial. 3) ada perbedaan prestasi belajar kognitif dan afektif siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah. 4) tidak ada interaksi antara media ajar dan gaya belajar terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif  siswa. 5) ada interaksi antara media ajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif siswa. 6) tidak ada interaksi antara gaya belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif siswa. 7) ada interaksi antara media ajar, motivasi belajar dan gaya belajar terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif siswa.  
Mendorong Peminatan Pada Saintek Melalui Introduksi Program Super Sains Jepang di SMA Ramli, Murni -; Praseptiangga, Dana -; Saputro, Sulistyo -; Rinarto, Yudi -; -, Suciati -; -, Kusumawardani -; Saraswati, Teguh Endah
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains FKIP UNS Vol 1, No 1 (2014): Seminar Nasional Pendidikan Sains IV (SNPS IV 2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.496 KB)

Abstract

Super Science High School Project (SSHs) dilaksanakan pertama kali di Jepang pada tahun 2002, dan setelah kurang lebih dua belas tahun pelaksanaanya, peminatan terhadap sains dan budaya meneliti di kalangan siswa SMA di Jepang meningkat secara signifikan. SSHs telah mengubah mainstream pembelajaran sains dari pembelajaran teksbook menjadi pembelajaran yang lebih menyenangkan dengan pendekatan konstruktivis dan berfokus pada kegiatan inkuiri siswa. Program ini di Jepang dilaksanakan dengan me-link-kan pembelajaran sains di SMA dengan laboratorium di perguruan tinggi, dan dukungan data dari Japan Science and Technology (JST), serta didanai sepenuhnya oleh pemerintah. Melihat perkembangan yang positif dari program tersebut, maka Pusat Studi Jepang Universitas Sebelas Maret telah melaksanakan riset terkait kebijakan dan implementasi SSHs di Jepang pada tahun 2013, dan tahun 2014 mulai mengkaji kemungkinan mengitroduksikan SSHs ke SMA di Surakarta dan sekitarnya. Artikel ini mengkaji prinsip-prinsip SSHs, dan kemungkinan mengadaptasikannya ke sistem pendidikan sains di Indonesia. Melalui SSHs diharapkan  pembelajaran dan peminatan sains di kalangan siswa dan guru SMA dapat meningkat, dan pada akhirnya akan melahirkan budaya berpikir saintifik, dan budaya meneliti.  
PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN STAD DAN JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN SIKAP PERCAYA DIRI PADA MATERI POKOK LAJU REAKSI KELAS XI.IPA SEMESTER 1 SMA N 1 POLOKARTO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Suyono, Edi -; -, Ashadi -; Saputro, Sulistyo -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains FKIP UNS Vol 1, No 1 (2014): Seminar Nasional Pendidikan Sains IV (SNPS IV 2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.496 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan model pembelajaran STAD dan jigsaw dengan kemampuan berpikir kritis dan sikap percaya diri terhadap prestasi belajar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu, sampelnya ditentukan dengan menggunakan teknik cluster random sampling, data dikumpulkan dengan tes untuk prestasi kognitif, kemampuan berpikir kritis, dan observasi untuk prestasi psikomotorik serta angket untuk prestasi afektif dan sikap percaya diri. Teknik analisis data menggunakan analisis non parametrik Kruskal Wallis. Kesimpulan hasil penelitian: 1) Pembelajaran model STAD dan jigsaw tidak memberikan perbedaan prestasi belajar ranah kognitif, afektif dan psikomotorik pada materi laju reaksi, 2) Kemampuan berpikir kritis tidak memberikan perbedaan prestasi belajar ranah kognitif, afektif dan psikomotorik pada materi laju reaksi, 3) Sikap percaya diri tidak memberikan perbedaan prestasi belajar ranah kognitif, afektif dan psikomotorik pada materi laju reaksi, 4) Tidak ada interaksi model pembelajaran STAD dan jigsaw dengan kemampuan berpikir kritis peserta didik terhadap prestasi belajar ranah kognitif, afektif dan psikomotorik materi laju reaksi, 5) Tidak ada interaksi antara model pembelajaran STAD dan jigsaw dengan sikap percaya diri peserta didik terhadap prestasi belajar untuk ranah kognitif dan psikomotorik, terdapat interaksi untuk ranah afektif, 6) Terdapat interaksi antara kemampuan berpikir kritis dengan sikap percaya diri peserta didik terhadap prestasi belajar materi laju reaksi pada ranah kognitif, tidak terdapat interaksi pada ranah afektif dan psikomotorik, 7) Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran STAD dan jigsaw, kemampuan berpikir kritis serta sikap percaya terhadap prestasi belajar kimia materi laju reaksi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Â