Sri Turni Hartati
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

STATUS OF SMALL PELAGIC FISHERY IN THE MAKASSAR STRAIT BASED AT THE NORTHERN PART OF JAVA Sri Turni Hartati; Setiya Triharyuni; Lilis Sadiyah
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 22, No 1 (2016): (June 2016)
Publisher : Research Center for Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.732 KB) | DOI: 10.15578/ifrj.22.1.2016.9-16

Abstract

The coastal of Makassar Strait is one of main fishing grounds for purse seine vessels from northern part of Java which based at the following landing sites, i.e. Pekalongan, Tegal and Juwana. The purse seine fishery predominantly targets small pelagic fish. This paper attempts to present the current condition of small pelagic fishery in the Makassar Strait. Catch and effort (trip) data between 2004 and 2011 from the three landing sites were used to estimate Maximum Sustainable Yield (MSY) using Schaefer & Fox models. The results showed a decreasing trend in the catch rate, from 30.83 tons/trip in 2004 to 12.27 tons/trip in 2011. The estimated MSY is at the range of 34,705- 37,930 tons with optimum efforts for 2,234-2,500 purse seine trips. Thus the level of purse seine fishing effort in 2011, i.e. 3,078 trips, was exceeding the optimum effort. The decreasing trend in the catch rate may indicate overfishing is occurring between 2004 and 2011. For management of the small pelagic fisheries in the waters of Makassar Strait, important action recommended is fishing effort restrictions. The effort allowed would be only in the range of 2,234-2,500 purse seine trips, and the fishing capacity needs to be controled.
KEMATIAN MASSAL IKAN DAN SEBARAN PARAMETER KUALITAS AIR DI TELUK JAKARTA Masayu Rahmia Anwar Putri; Sri Turni Hartati; fayakun satria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.855 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.2.2016.77-90

Abstract

Berbagai jenis ikan, dengan bobot total lebih dari 650 kg ditemukan mati di pesisir Pantai Ancol tanggal 30 November 2015, diantaranya yang dominan adalah gulamah (Scianidae). Kematian ikan yang sering terjadi akan menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. Identifikasi faktor penyebab terjadinya peristiwa ini sangat penting untuk diketahui dalam rangka pengelolaan populasi ikan dan penyusunan tindakan pencegahan sehingga bisa mengurangi frekuensi dan besarnya tingkat kematian ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial beberapa parameter kualitas airguna mengidentifikasi faktor penyebab kematian masal ikan di Teluk Jakarta yang terjadi pada tanggal 30 November 2015. Pengamatan dilakukan pada tanggal 1-3 Desember 2015 di 14 stasiun penelitian mencakup14 parameter fisika, kimia dan biologi perairan. Sebaran spasial beberapa parameter perairan dipetakan dengan menggunakan software ArcGIS 9.3. Parameter perairan (kedalaman, kecerahan, suhu air, pH, oksigen terlarut dan ORP (Oxidation Reduction Potential)) diukur secara insitu dan contoh air permukaan diambil untuk pengamatan plankton serta parameter kimia air di laboratorium (nitrat, fosfat, ammonia, biochemical oxygen demand, total suspended solid, sulfide dan bahan organik terlarut). Berdasarkan analisa dari 14 parameter fisika, kimia dan biologi perairan diketahui faktor penyebab kematian masal ikan di Teluk Jakarta pada 30 November 2015 disebabkan karena rendahnya kandungan oksigen terlarut(0,07mg/l pada lokasi pusat kematian ikan),kadar nutrien yang berlebihan(nitrat,0,003-0,389 mg/l dan fosfat 0,811-1,653 mg/l,)dan tingginya konsentrasi ammonia yang merupakan gas beracun dan berbau (0,227-1,944 mg/l). On November 30th, 2015, more than 650 kg fishes found dead in the coast of Ancol. The identification of its causes is very vital to develop mitigation for managing fish population and preventing economic loss. This study aims to examine several waters parameters to identify the factors causing mass deaths of fish. The study was conducted on 1-3 December 2015 in Jakarta Bay by analyzing 14 parameters of physical, chemical and biological aspect. Spatial distribution of water parameters mapped using ArcGIS 9.3 software. Some water parameters were measured in situ (depth, brightness, water temperature,pH, dissolved oxygen and ORP (oxidation reduction potential) while surface water samples were taken and analyzed in the laboratory (Nitrate, phosphate, ammonia, biochemical oxygen demand. The result showed that a mass fish kills in Jakarta Bay on 30 November 2015 due to low dissolved oxygen content, release of toxic gas into the water, excessive nutrient and high ammonia.
PARAMETER POPULASI IKAN BAWAL PUTIH (Pampus argenteus) DI PERAIRAN TARAKAN, KALIMANTAN TIMUR Prihatiningsih Prihatiningsih; Nurainun Mukhlis; Sri Turni Hartati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.572 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.3.2015.165-174

Abstract

Ikan bawal putih (Pampus argenteus) mempunyai nilai ekonomis penting dan sebagai salah satu komoditas unggulan di perairan Tarakan. Informasi tentang biologi perikanan ikan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untukmengestimasi parameter populasi meliputi pertumbuhan, umur, mortalitas dan tingkat eksploitasi ikan bawal putih. Data frekuensi panjang bulanan dikumpulan pada Februari – Nopember 2013 dengan bantuan enumerator. Sebaran frekuensi panjang ikan dipisahkan kedalam sebaran normal menggunakan metode Bhattacharya pada progran FiSAT (FAO-ICLARM Stock Assessment Tools). Estimasi parameter populasi dengan aplikasi model analitikmenggunakan program ELEFAN-1 (Electronic Length Frequency Analysis). Hasil penelitian menunjukkan ukuran panjang ikan bawal putih berkisar antara 9,0 cm–35,0 cmFL. Hubungan panjangberat ikan bawal putih yang tertangkap dengan jaring insang bersifat allometrik negatif mengikuti persamaan W= 0,187L2,374. Nilai rata-rata panjang ikan pada saat pertama kali tertangkap (Lc) sama dengan ukuran pertama kali matang gonad (Lm). Laju pertumbuhan (K) sebesar 0,52/tahun dan panjang asimptotik (L ) sebesar 37,28 cmFL. Persamaan pertumbuhan dari Von Bertalanffy sebagai Lt = 37,28 (1 – e-0,52(t-+0,07)). Mortalitas alami (M) adalah 1,11/tahun, mortalitas karena penangkapan (F) = ,65/tahun dan mortalitas total (Z) = 1,65/tahun. Laju pengusahaan (E) sebesar 0,60 berarti tingkat eksploitasinya sudah melebihi dari nilai optimal (E=0,5) atau populasi ikan bawal putih dalam keadaan lebih tangkap (over exploited). Untuk itu diperlukan kebijakan pengelolaan secara hati-hati dengan mempertimbangkan aspek biologi dan aspek penangkapan yang sedang berjalan.White pomfret (Pampus argenteus) is one of the economically important fish and includes leading commodity in Tarakan waters. Information of fishing biology of those species were still limited. This study aims to determine the population parameters including growth, age, mortality and exploitation rate of white pomfret. Monthly length frequency data have been collected by enumerator from February to November 2013. Fish lengthfrequency distribution was separated into a normal distribution using the Bhattacharya method with software of FiSAT (FAO-ICLARMStock Assessment Tools). Estimation of population parameters were use analytical model application with ELEFAN-1 (Electronic Length Frequency Analysis) program. The results showed that lengths distribution of white pomfret ranged beetwen 9.0 cm -35.0 cmFL. Length-weight relationship was negatively allometric. Estimating the average length at first captured (Lc) was equal with average length at first maturity (Lm) with growth equation of Lt = 37.28 (1 - e-0, 52 (t +0.07)). Natural mortality (M) was 1.11/year, fishing mortality (F) was 1.65/yearand total mortality (Z) was 1.65/ year. The exploitation rate (E) was 0.60. It is mean that more higher than optimal exploitation so that the white pomfret fish population in a state of over fished. It is necessary to better policy in the management of white pomfret through precaution approach and describing of biologycal and fishing aspect in Tarakan, Kalimantan Timur.
KESEHATAN TERUMBU KARANG DAN STRUKTUR KOMUNITAS IKAN DI PERAIRAN PANTAI PANGANDARAN, JAWA BARAT Sri Turni Hartati; Arip Rahman
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 1 (2016): (April 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.959 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.1.2016.37-48

Abstract

Keanekaragaman jenis ikan karang merupakan suatu indikator penting yang dapat menggambarkan perubahan lingkungan perairan karang. Perubahan habitat karang adalah resiko yang mungkin dihadapi sebagai akibat pembangunan.  Penelitian dilakukan di perairan pantai Pangandaran dengan tujuan mengkaji kesehatan terumbu karang dan indeks ekologis komunitas ikan karang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah line intercept transect untuk menentukan persen tutupan karang dan metode sensus visual untuk menentukan keanekaragaman ikan karang pada area seluas 250m2. Hasil penelitian menunjukkan kesehatan terumbu karang pada kondisi buruk, tutupan karang hidup 11,4 -20,74%. Teridentifikasi 66 jenis ikan karang dengan kriteria kepadatan sangat jarang (0,59 – 0,91) ind/m2. Indeks kekayaan ikan karang pada kategori baik (4,60-8,68), keanekaragaman jenis ikan karang termasuk dalam kategori sedang (2,57-3,36). Tidak terjadi dominasi jenis ikan karang tertentu (0,05-0,120) dan kemerataan populasi di lokasi penelitian termasuk tinggi (0,81-0,87). Reef fish diversity is a major indicator to expose a current environmental state of coral reefs. Economic developments probably lead to habitat alteration risks. The research was conducted in Pangandaran Beach Waters, Batu Karas, Pananjung Barat, Pananjung Timur. The research objective was,  to assess the reef health, and to fine out several diversity indices of reef fish communities. Methods used for those are a line intercept transect and census visual technique within area of 250 m2. The results showed that all of the area had a poor reef health category(11,4-20,74%), reef fish densities were grouped in very rare areas, especially < 1-5 ind/m2. Richnes indices had a good category(4,60-8,68), shannon diversity indices of reef fish felt in the fair category(2,57-3,36), dominance indices of reef fish felt in the low category(0,05-0,120) and evenness indices were felt in a high category(0,81-0,87).
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN MEROPLANKTON DENGAN KUALITAS PERAIRAN DI TELUK JAKARTA Adriani Sri Nastiti; Masayu Rahmia Anwar Putri; Sri Turni Hartati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.784 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.2.2016.91-100

Abstract

Meroplankton adalah organisme akuatik yang sebagian dari daur hidupnya bersifat planktonik dan merupakan fase paling kritis karena belum dapat menghindar dari predator. Untuk tumbuh, meroplankton membutuhkan kualitas perairan yang sesuai dan kawasan yang terlindung. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi kelimpahan meroplankton dan kualitas perairan di Teluk Jakarta. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April, Juni, Agustus dan Oktober 2009 (10 stasiun) serta April dan Juni 2010 (5 stasiun) dengan metode stratified sampling. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa meroplankton di Teluk Jakarta tahun 2009, 2010 terdiri dari 4 kelompok yaitu:ikan, telur, udang dan kepiting. Komposisi meroplankton di Teluk Jakarta pada tahun 2009 dan 2010 didominasi oleh larva udang masing-masing sebesar 56,17-90,40 % dan 72,1-75,5 %. Kelimpahan larva udang tahun 2014 lebih rendah dibanding tahun 2009-2010. Kelimpahan larva udang dipengaruhi oleh pH, salinitas, kecerahan dan suhu air.Meroplankton are aquatic organisms that part of their life cycles was planktonic that need appropriate environmental conditions and protected area for escaping from predators. The research aims to examine the composition and abundance of meroplankton in Jakarta Bay. Sampling was conducted in Jakarta Bay on April, June, August and October 2009 (10 stations) and April and June 2010 (5 stations). The samples of meroplankton collected by stratified sampling method. The results showed that meroplankton in Jakarta Bay in 2009, 2010 consists of 4 groups: fish, eggs, shrimp and crab. Composition meroplankton in Jakarta Bay in 2009 and 2010 was dominated by shrimp larvae by 56.17-90.40% and from 72.1-75.5% respectively. The abundance of shrimp larvae probably correlated with pH, salinity, terbudity and temperature of the water.