Naharus Surur
Universitas Sebelas Maret

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGEMBANGAN KURIKULUM BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIF SMK DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Naharus Surur; Ulya Makhmudah; Agit Purwo Hartanto
JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING AR-RAHMAN Vol 6, No 2 (2020): December
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.731 KB) | DOI: 10.31602/jbkr.v6i2.2392

Abstract

Era revolusi industri 4.0 menuntut sumber daya manusia yang bermutu agar mampu bersaing dalam dunia kerja yang semakin kompetitif. Sehingga diperlukan ketrampilan dan kompetensi yang memadai dalam menghadapinya. Bimbingan dan konseling memiliki peran penting untuk membekali peserta didik, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan  (SMK)  sebagai upaya membimbing peserta didik agar menjadi insan yang terampil dan kompeten dalam mencapai kemandirian pribadi, sosial, karier dan belajar. Maka dari itu, dibutuhkan pengembangan kurikulum bimbingan dan konseling komprehensif untuk peserta didik SMK pada era revolusi industri 4.0 dengan tujuan menjadi acuan bagi guru bimbingan dan konseling dalam memberikan  layanan yang efektif dan efisien. Kurikulum ini akan  memuat: layanan dan tujuan setiap ranah, rumusan kompetensi tingkat kelas (standar yang kompeten peserta didik yang bisa diukur), rincian kegiatan yang harus dilakukan peserta didik dan konselor dalam satuan waktu. Pengembangan kurikulum menggunakan desain penelitian dan pengembangan Borg and Gall yang sampai pada tahap uji ahli. Hasil dari pengujian yang menyatakan bahwa perhitungan yang layak untuk pembangunan pada tahap uji terbatas di penelitian tahun mendatang.___________________________________________________________________ The era of the industrial revolution 4.0 demands quality human resources to be able to compete in an increasingly competitive world of work. So that it requires adequate skills and competences in dealing with it. Guidance and counseling have an important role in equipping students, especially Vocational High Schools (SMK) as an effort to guide students to become skilled and competent individuals in achieving personal, social, career and learning independence. Therefore, it is necessary to develop a comprehensive guidance and counseling curriculum for vocational school students in the era of the industrial revolution 4.0 with the aim of being a reference for guidance and counseling teachers in providing effective and efficient services. This curriculum will contain: the services and objectives of each domain, the formulation of class level competencies (competent standards of measurable learners), details of activities that students and counselors must do in units of time. The curriculum development uses the research and development design of Borg and Gall which has reached the expert testing stage. The results of the test state that the calculations that are feasible for development at the test stage are limited to future research years.
Harmonisasi Hubungan Guru Bimbingan dan Konseling dengan Orang Tua melalui Strategi Kolaborasi: Systematic Literature Review Ribut Purwaningrum; Naharus Surur; Asrowi Asrowi
Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application Vol 12 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijgc.v12i1.74559

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan telaah pada referensi primer mengenai kolaborasi dalam BK. Kolaborasi pada penelitian ini dibatasi antara guru BK dengan orangtua siswa dalam upaya mencegah munculnya masalah siswa di sekolah, serta upaya untuk melejitkan potensi siswa. Penelitian ini penting untuk dilakukan sebab kolaborasi adalah salah satu faktor penentu keberhasilan siswa. Guru BK melakukan tugasnya di sekolah, dibantu dengan orangtua siswa yang melakukan monitoring kegiatan siswa di rumah dan di luar lingkungan sekolah. Referensi terkait kolaborasi antara guru BK dengan orangtua siswa belum tersedia secara sistematis, sehingga diperlukan upaya untuk merangkum literatur menjadi satu bahan kajian komprehensif. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan menggunakan systematic literature review desain Kitchenham (2004). Tiga langkah utama dilakukan dalam penelitian ini, yaitu: planning the review, conducting the review, dan reporting the review. Penelitian ini melibatkan 18 sumber referensi primer yang diperoleh dari artikel, jurnal, dan konferensi prosiding nasional dan internasional. Seluruh referensi dikumpulkan sesuai dengan karakteristik systematic literature review. Semua referensi tersebut digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan oleh tim peneliti. Hasil penelitian dibahas dalam bagian diskusi dan perlu ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian-penelitian berikutnya. Rekomendasi penelitian yang perlu dilakukan adalah pelatihan pada guru BK dan orangtua siswa untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan kesadaran dan keterampilan kolaborasi. Penelitian lain yang dapat dilakukan berdasarkan hasil systematic literature review adalah studi kualitatif tentang bagaimana pemaknaan kolaborasi dalam upaya meningkatkan potensi siswa dimiliki oleh guru BK dan orangtua siswa. This study aims to review primary references regarding collaboration in guidance and counseling. Collaboration in this research is delimited to the partnership between school counselors and students' parents in efforts to prevent student problems in school and to enhance student potential. This research is crucial because collaboration is a determining factor in student success. School counselors perform their duties at school, assisted by students' parents who monitor students' activities at home and outside the school environment. References related to collaboration between BK teachers and students' parents are not systematically available, thus necessitating an effort to synthesize the literature into a comprehensive study material. This systematic literature review follows the Kitchenham (2004) design, encompassing three main steps: planning the review, conducting the review, and reporting the review. This study involved 18 primary reference sources obtained from articles, journals, and national and international conference proceedings, all collected in accordance with the characteristics of a systematic literature review. All these references were utilized to address the research questions. The research findings are discussed and require further investigation through subsequent studies. Recommended research includes training for school counselors and students' parents to assess whether there is an enhancement in collaborative awareness and skills. Another potential avenue for research emerging from the systematic literature review results is a qualitative study on how school counselors and parents perceive efforts of enhancing student potential.
Psychological Well-Being Seen from Broken Home Students' Gratitude: a Phenomenological Study Fausia Rahma Sa'adah; Ribut Purwaningrum; Naharus Surur
Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application Vol. 13 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/va6g6e07

Abstract

This research aimed to (1) describe the meaning of gratitude in the lives of students from broken families, (2) their experiences of gratitude in the lives of students from broken families, (3) describe the meaning of psychological well-being in students from broken families, and (4) the essence of gratitude in students from broken families regarding the process of forming psychological well-being. To this end, a qualitative phenomenological study was applied. Participants were recruited using purposive sampling technique. The subjects in the research were broken families students. Data were collected through in-depth interview. The finding of this study showed that the conditions (1) four subjects were able to interpret gratitude in their lives, (2) all subjects were able to interpret the experience of gratitude in their lives, (3) four subjects were able to interpret psychological well-being in their lives which included self-acceptance; positive relationships with others; autonomy; mastery of the environment; life purpose, and personal growth, while one of the four subjects still has some difficulty in interpreting psychological well-being in the indicators of positive relationships with others and mastery of the environment, and (4) all subjects are able to interpret the essence of gratitude towards the process of developing psychological well-being. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pemaknaan gratitude siswa broken home dalam kehidupannya, (2) mendeskripsikan pengalaman gratitude siswa broken home dalam kehidupannya, (3) mendeskripsikan pemaknaan psychological well-being pada siswa broken home dalam kehidupannya, dan (4) mendeskripsikan esensi gratitude siswa broken home terhadap proses pengembangan psychological well-being. Penelitian ini merupakan penelitian pendekatan kualitatif dengan metode studi fenomenologi dan desain penelitian fenomenologi hermeneutik. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Sampel penelitian terdiri dari empat dari populasi kurang lebih 25 siswa broken home. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa broken home. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian diperoleh dengan kondisi (1) empat subjek mampu memaknai gratitude dalam kehidupannya, (2) seluruh subjek mampu memaknai pengalaman gratitude dalam kehidupannya, (3) empat subjek mampu memaknai psychological well-being dalam kehidupannya yang meliputi penerimaan diri; hubungan positif dengan orang lain; otonomi; penguasaan lingkungan; tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi, sementara itu satu dari keempat subjek masih sedikit mengalami kesulitan dalam memaknai psychological well-being pada indikator hubungan positif dengan orang lain dan penguasaan lingkungan, dan (4) seluruh subjek mampu memaknai esensi gratitude terhadap proses pengembangan psychological well-being.