Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGASEBAGAI MEDIA BUDIDAYA UNTUK MENINGKATKANPRODUKTIVITASCACING TANAHEisenia fetida Mashur
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 6 No. 2 (2020): Juni 2020
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah rumah tangga merupakan sampah terbesar dalam produksi sampah di Nusa Tenggara Barat. Untuk itu diperlukan upaya dan kesadaran pemanfaatan dan pengelolaan sampah yang baik dan tepat untuk dikembangkan di setiap lingkungan masyarakat sehingga kualitas kesehatan dan lingkungan dapat ditingkatkan serta sampah dapat menjadi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan sampah organik rumah tangga sebagai media budidaya cacing tanah Eisenia foetida. Untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan sampah organik rumah tangga sebagai media budidaya untuk meningkatkan produktivitas cacing tanahEisenia foetida telah dilakukan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan sampah organik rumah tangga berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produktivitas cacing tanahEisenia foetida. Campuran 50% (sampah organik rumah tangga+feses sapi) merupakan media terbaik untuk menghasilkan kokon terbanyak 318,3 butir/kotak sarang, sedangkan campuran 50% (sampah organik rumah tangga+feses kuda) merupakan media terbaik untuk menghasilkan biomassa terbanyak 958,3ekor dengan bobot 51,8 g/kotak sarang. Simpulannya sampah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk meningkatkan produktivitas cacing tanahEinesia foetidaapabila dicampur feses sapi dan feses kuda.
IDENTIFIKASI KANDUNGAN TANNIN DAN SAPONIN HIJAUAN PAKAN SAPI POTONG DI DESA SENAYAN KABUPATEN SUMBAWA BARAT Apri Sanjani; Mashur; Dina Oktaviana; Novariana SulsiaIsta’in Ningtyas
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 9 No. 2 (2022): Juni 2022
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the levels of tannin and saponin compounds contained in lamtoro leaves, indigofera leaves and turi leaves used as forage for beef cattle in Senayan Village, Poto Tano District, West Sumbawa Regency. The research method used was laboratory observation using an Ultra Violet-Visible Spectroscopy (UV-VIS) Spectrophotometer at the Integrated Chemistry Laboratory, Faculty of Pharmacy, Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun. The results showed that the tannin and saponin levels quantitatively in the three types of forage for beef cattle, namely lamtoro leaf tannins 5.41%, indigofera leaves 7.39% and turi leaves 13.83%. Saponin content of lamtoro leaf is 10.28%, indigofera leaf is 11.82% and turi leaf is 14.55%. Based on these data, it can be concluded that the tannin and saponin levels in turi leaves in this study were higher than indigofera leaves and lamtoro leaves.
IDENTIFIKASI KANDUNGAN TANIN DAN SAPONIN PADA HIJAUAN PAKAN TERNAK KERBAU DI DESA LOPOK KECAMATAN LOPOK KABUPATEN SUMBAWA Dandi Fibryansah; Mashur; Supriadi; Novariana SulsiaIsta’in Ningtyas
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 9 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerbau merupakan ternak ruminansia yang tidak terlepas dari gangguan berbagai penyakit yang dapat menghambat peningkatan produktivitasnya. Gangguan penyakit tersebut dapat berupa infeksi bakteri, virus, cendawan maupun agen parasitik seperti cacing. Untuk mengurangi kejadian penyakit cacing dan mengurangi biaya pengobatan ternak dapat menggunakan hijauan pakan ternak yang mengandung senyawa metabolit sekunder, yaitu tanin dan saponin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan tanin dan saponin pada daun ubi kayu, daun pisang kepok dan daun katuk yang digunakan sebagai hijauan pakan ternak kerbau di Desa Lopok Kecamatan Lopok, Kabupaten Sumbawa. Sebanyak masing-masing 50 mg ekstrak hijauan dianalisis menggunakan metode spektrofotometri Ultra Violet-Visible Spectroscopy untuk menentukan kadar tanin dan saponin yang dikandungnya. Hasil penelitian menunjukkan kadar tanin daun ubi kayu 1,77% dan saponin 1,17%; kadar tanin daun pisang kepok 1,48% dan kadar saponin 2,34% dan kadar tanin daun katuk 3,44% dan kadar saponin 2,92%. Kesimpulannya ketiga jenis hijauan pakan ternak kerbau tersebut mengandung tannin dan saponin yang berbeda-beda.
IDENTIFIKASI KANDUNGAN TANIN DAN SAPONIN HIJAUAN PAKAN TERNAK SAPI POTONG YANG DIGEMBALAKAN DI DESA MURA KECAMATAN BRANG ENE SUMBAWA BARAT Agung Satria; Mashur; Candra Dwi Atma; Maratun Janah
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 9 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Substitution of chemical anthelmintics with anthelmintics derived from plants needs to be considered, if proven to have an effect on mortality of the worm Haemonchus contortus, so that the negative impact can be anticipated. The purpose of this study was to determine the content of tannins and saponins in forage fodder (corn leaves, gamal leaves and odot grass) given to beef cattle in Mura Village, West Sumbawa Regency. This research was conducted in March-April 2022. Sampling of the three types of forage studied was carried out in Mura Village, Brang Ene District, West Sumbawa Regency. Analysis of tannin and saponoin levels was carried out at the Pharmacy Laboratory of Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun using Ultra Violet-Visible Spectroscopy Spectrophoto meter. Each unit of sample prepared as much as 2500 grams of wet leaves. The results showed that the tannin content of corn leaf was 3.52%, gamal leaf was 16.29% and odot grass was 7.88%, while the saponin content of corn leaf was 9.19%; 15.1% of gamal leaves and 6.46% of odot grass. In conclusion, gamal leaves contain higher tannins than odot grass and corn leaves, while for saponins gamal leaves are higher than corn leaves and odot grass.
PREVALENSI NEMATODIASIS GASTROINTESTINAL PADA KUDA CIDOMO DI DUSUN GILI TRAWANGAN DESA GILI INDAH KABUPATEN LOMBOK UTARA Pasrul Rosidi; Supriadi; Mashur
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 9 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kuda merupakan salah satu golongan ternak di masyarakat dengan populasi yang tidak terlalu tinggi. Keberadaan kuda saat ini lebih berperan sebagai alat transportasi, olahraga dan rekreasi. Eksistensi peran kuda bagi kehidupan manusia dapat dipengaruhi oleh pakan, nutrisi, sanitasi dan infeksi agen penyakit, salah satunya cacing nematoda. Cacing nematode merupakan salah satu kelompok cacing yang yang berdistribusi luas pada kuda cidomo diantaranya dapat menyebabkan anemia, rambut rontok, terlihat kusam, dan nafsu makan menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi nematoda gastrointestinal pada kuda cidomo di Dusun Gili Trawangan di Desa Gili Indah Kabupaten Lombok Utara. Sebanyak 15 sampel feses kuda cidomo telah dikoleksi selama bulan Mei 2022 dengan metode purposif. Seluruh sampel telah diperiksa di Laboratorium dengan menggunakan metode natif dan pengapungan. Hasil pemeriksaan sampel menunjukkan terdapat 7 sampel positf mengandung telur cacing nematoda. Berdasarkan hasil identifikasi lebih lanjut diperoleh bahwa jenis telur cacing yang ditemukan adalah : Strongyiloides sp 33%, Trichostrongylus sp 20%, sehingga total nilai prevalensi keseluruhan cacing yang ditemukan adalah sebesar 53%. Perlu dilakukan Tindakan pencegahan dan pengobatan kuda cidomo di Gili Trawangan untuk meminimalisir prevalensi cacing nematoda di daerah ini.