Dewi Ratnaningrum
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

RUANG HIJAU ALTERNATIF PADEMANGAN Teresa Natalia; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8559

Abstract

Ray Oldenburg, in his book entitled "The Great Good Places" explains a concept of initial space, by which one can find comfort aside from the house (first place) and workplace (second place). Unfortunately, these days, this concept of place are not familiar within the community. Alternative Green Space of Pademangan is a place which accommodates the needs and interests of the community in daily life from where visitors can interact with others in a natural environment. Lacking in open space, various potential activities by the community, and the use of road as a public space are some of the reasons behind this project. Based on field study and regional analysis, this project seeks to become a third place that provides individually and communally. Regardless to it main focus on the surrounding community, this project also opens to public and allows visitors from outside the region, making it a comfortable place to socialized. Aiming to create a light and transparent building, and with the method of critical regionalism that responds to the region, this project attempts to create a spacious place and safe haven for visitors.  Keywords: green; pademangan; third Place Ray Oldenburg, dalam bukunya yang berjudul “The Great Good Places” menawarkan sebuah konsep ruang ketiga, di mana seseorang dapat menemukan zona nyamannya di luar dari rumah (first place) dan tempat kerja (second place). Namun, sayangnya, saat ini third place belum menjadi bagian dari seluruh masyarakat, padahal third place memungkinkan seseorang untuk beristirahat sejenak dan bersosialisasi dengan sesama. Ruang Hijau Alternatif Pademangan merupakan sebuah wadah yang berusaha menjawab kebutuhan dan ketertarikan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari di mana pengunjung tidak hanya dapat berinteraksi satu dengan yang lain tetapi juga dapat berinteraksi dengan ‘unsur hijau’. Kurangnya ruang terbuka hijau, banyaknya potensi kegiatan di dalam masyarakat, serta penggunaan ruang jalan sebagai ruang publik adalah beberapa alasan yang melatarbelakangi proyek ini. Berdasarkan hasil survey lapangan dan analisis kawasan, proyek ini berusaha untuk menjadi third place yang yang dapat dimanfaatkan baik secara individual maupun komunal. Terlepas dari fokus utamanya yang tertuju pada masyarakat sekitar, proyek ini juga terbuka untuk umum dan memungkinkan untuk pengunjung dari luar kawasan, menjadikannya sebuah tempat yang mampu menciptakan interaksi sekaligus memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya. Dengan konsep bangunan yang ringan dan transparan, dan dengan metode critical regionalism yang berusaha menjawab kebutuhan kawasan, proyek ini berusaha  untuk menjadi tempat yang dapat  memberikan kesan lega dan menjadi tempat yang dapat diandalkan masyarakat setempat untuk beristirahat. 
FASILITAS KESEHATAN TERINTEGRASI Michael Ong; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4573

Abstract

Millennials are currently the most prominent age demographic in Indonesia, a generation that has the highest number of people compared to other age groups that wholly consist of peope in productive age. As the prominent demographic group, their behaviour and lifestyle is an important trend that needs to be observed. Their 2 most dominant lifestlye are: 1. Food, a big part of their lifestyle, Millennials spend most of their money on food, especially on dining out, and; 2. Sedentary Lifestyle, 84% of Jakarta citizen’s profession can be categorized as a job with passive physical activity, furthermore the advancement of digital technology has made daily activity less active. These things needs to be paid attention to, as both of them are the main cause of obesity, which itself is a major cause of 4 of 5 illness that caused death in Indonesia, and can be observed in 37.1% of adults in Jakarta. To mitigate this, a program is designed to solve this issue preventively, by instilling a healthy bevahiour in their daily life. The chosen design method is typology. Function-wise it is based on wellness center, which promotes health not only by medicine but also through building a healthy lifestyle. Shape-wise, is to design a building which passively promotes healthy lifestyle by its shape. Based on these, the proposed program is Integrated Health Facility, which is an integrative medicine based  facility. The main focus of this program is diet nutrition and physical activiy, with the main program categorized as food, pyhsical activity, clinic, and health community. Stair is the main concept, used as the main circulation and split level design, to passively encourage physical activity. Abstrak Generasi Millennial adalah sebuah generasi yang sedang mendominasi di Indonesia, sebagai generasi yang keseluruhannya merupakan usia produktif dengan persentase terbesar dibandingkan dengan generasi usia lainnya. Sebagai generasi yang dominan, gaya hidup dan perilaku mereka layak menjadi perhatian. Dua hal yang dominan adalah: 1. Makanan, sebuah bagian besar dari gaya hidup mereka, terlihat dari pengeluaran Generasi Millennial untuk makanan, khususnya untuk makan di luar, merupakan pengeluaran terbesar mereka, dan; 2. Sedentary Lifestyle, 84% profesi penduduk Jakarta merupakan profesi yang tidak aktif, selain itu dengan kemajuan teknologi digital membuat aktivitas sehari-hari semakin menjadi kurang aktif. Kedua gaya hidup ini perlu menjadi perhatian, karena keduanya merupakan penyebab utama dari Obesitas, yaitu penyebab 4 dari 5 penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia, serta diderita oleh 37.1% penduduk dewasa Jakarta. Sebagai upaya penyelesaian dari masalah ini, sebuah program dan fasilitas dirancang untuk menyelesaikan masalah ini secara preventif, yaitu melalui menumbuhkan kebiasaan gaya hidup sehat. Metode perancangan yang digunakan adalah tipologi. Secara fungi mengikuti trend wellness center, yaitu kesehatan tidak hanya melalui pengobatan, tetapi juga melalui gaya hidup sehat. Selain itu secara bentuk, yaitu menghasilkan bangunan yang melalui bentuknya mendorong gaya hidup sehat. Berdasarkan ini, bangunan yang dihasilkan adalah Integrated Health Facility, yaitu sebuah fasilitas kesehatan yang secara menyeluruh. Fokus utama dari fasilitas ini merupakan nutrisi (makanan) dan aktivitas fisik, dengan program utama yang ditawarkan dapat dikategorikan menjadi makanan, aktivitas fisik, klinik serta komunitas kesehatan. Tangga menjadi konsep utama dari bangunan, yaitu sebagai sirkulasi dan permainan split level, untuk mendorong aktivitas fisik secara pasif.
RUANG KOMUNITAS TIONGHOA DI GLODOK Leonardo Leonardo; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8564

Abstract

The development of modern urban society tends to have an individual nature and is more aloof to its personal space, where humans should be created as social beings who need interaction and socialization with people around them. Modern times with their technologies make society more selfish and as if they do not need others. To meet social needs in the current modern era, it takes a social container that can accommodate the activities of the surrounding community. The community can meet with each other, socialize and also interact through these social media platforms. Glodok is known as a Chinatown in Jakarta, the majority of the population are Chinese. The Chinese Community Room in Glodok is present as the third room or "The Third Place", where the third place as a place for people to gather, interact and move with each other. The project is intended as a forum for local people and migrants to interact together, and create an atmosphere like the old days full of fun, comfort, and free to be visited by anyone, such as entertainment venues, games, dance performances and dance. The idea of the program planned in this project will be a place to be able to enjoy performances and recreation for the local community and its surroundings with programs in it such as performance areas, parks, food culinary, games, and art galleries. This project design method takes contextuality around the site and takes local Chinese elements into account. Keywords:  community; interaction; social; space AbstrakPerkembangan masyarakat kota modern cenderung memiliki sifat yang individual dan lebih menyendiri terhadap personal space-nya, dimana seharusnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dan sosialisasi dengan orang disekitarnya. Zaman modern dengan teknologi-teknologinya membuat masyarakat lebih mementingkan diri mereka sendiri dan seakan tidak membutuhkan orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan sosial di era modern saat ini, dibutuhkan wadah sosial yang dapat menampung aktivitas-aktivitas masyarakat sekitar. Masyarakat dapat saling bertemu, bersosialisasi dan juga berinteraksi melalui media wadah sosial tersebut. Glodok dikenal sebagai pecinan di Jakarta, Mayoritas penduduk nya adalah kaum Tionghoa. Ruang Komunitas Tionghoa di Glodok hadir sebagai ruang ketiga atau “The Third Place”, dimana tempat third place sebagai tempat untuk masyarakat dapat berkumpul, berinteraksi dan beraktivitas dengan sesamanya. Proyek ditujukan sebagai wadah bagi masyarakat setempat maupun pendatang untuk berinteraksi bersama, dan membangkitkan suasana seperti dahulu kala yang penuh dengan rasa senang, nyaman, dan bebas untuk dikunjungi oleh siapapun, seperti tempat hiburan, permainan, pertunjukan barongsai dan tari-tarian. Ide dari program yang direncanakan dalam proyek ini akan menjadi tempat untuk dapat menikmati pertunjukan dan rekreasi bagi masyarakat setempat dan sekitarnya dengan program yang di dalamnya seperti area pertunjukan, taman, kuliner makanan, permainan, dan galeri seni. Metode perancangan proyek ini mengambil kontekstual pada sekitar tapak dan mengambil unsur-unsur Tionghoa kawasan setempat.
REKREASI SEBAGAI PUSAT REHABILITASI GEN Z Grace Jovita; Dewi Ratnaningrum; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10742

Abstract

Generation Z has a significant influence on technological developments, productivity, and social interactions. In the Covid-19 phenomenon that occurred in 2020, it caused humans to become aware of the importance of face-to-face social interactions. Therefore, the provision of social facilities that can restore social interaction between humans is needed. The purpose of this research is to restore socialization between people, especially in the z generation after the pandemic, to provide spatial rehabilitation through social space in the form of entertainment in stages, to provide facilities that are able to meet the social needs of the community, and to create activity programs that are able to meet the socialization needs of the community while improving the quality of life local community. Reported by Maslow's Hierarchy of Needs, there are five stages of human needs, namely self-actualization, respect, compassion, security, and psychological needs. Which is where generation Z is needed to make ends meet. Therefore, it is necessary to have housing that requires a technology concept that can be used more effectively in interacting better than face-to-face. The method used is a communication approach which is used through observation and data collection from the internet and correlation to find a relationship between two quantitative variables. The results obtained are to create a public space where generation z can take advantage of technology and architecture that support the interaction process.Keywords: Recovery; Rehabilitation; Entertainment; Fundamental.AbstrakGenerasi Z memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan teknologi, produktivitas, dan interaksi sosial. Dalam fenomena Covid – 19 yang terjadi di tahun 2020 ini menyebabkan manusia sadar akan seberapa pentingnya interaksi sosial tatap muka. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas sosial yang dapat mengembalikan interaksi sosial antar manusia sangat dibutuhkan. Tujuan penelitian ini diantaranya adalah untuk mengembalikan interaksi sosial antar manusia terutama pada Generasi Z pasca pandemi, memberikan rehabilitasi ruang melalui ruang sosial berupa hiburan secara bertahap, menghadirkan fasilitas yang mampu memenuhi kebutuhan sosial masyarakat, dan menciptakan program kegiatan yang mampu memenuhi kebutuhan sosialisasi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. Dilansir Maslow Hierarchy of Needs ada lima tahap kebutuhan manusia yaitu aktualisasi diri, menghargai, kasih sayang, keamanan, dan kebutuhan psikologis. Yang dimana Generasi Z sangat dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu diperlukan hunian yang memerlukan konsep teknologi yang dapat digunakan lebih efektif dalam berinteraksi secara lebih baik dibanding dengan tatap muka secara langsung.  Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan komunikasi yang digunakan melalui pengamatan dan pengumpulan data dari internet serta korelasi untuk mencari hubungan antara dua variabel yang bersifat kuantitatif. Hasil yang didapatkan adalah dengan membuat public space dimana para Generasi Z dapat memanfaatkan teknologi serta arsitektur yang mendukung dalam proses interaksi.