Timmy Setiawan
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENGEMBANGAN PUSAT NIAGA TERPADU MELALUI PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE PADA KAWASAN PERDAGANGAN CENGKARENG Felicia Wijaya; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22144

Abstract

A number of traders began to complain about their declining sales in the last 5 years. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) reported that the retail industry grew below five percent during January - June 2017. Chairman of Aprindo Roy Mandey, the factors that influenced were the high inflation rate, people's behavior change in shopping and people also refrained from shop. Minister of Trade Agus Suparmanto considered that the retail industry has an important role to support national economic growth in terms of trade and consumption. Therefore, the retail industry should be maintained. Since the COVID-19 pandemic, people's behavior also changed a lot. The government's policy about social distancing cause offline shopping avoided and shopping centers lost their visitors. Chairman of Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja said that retail businesses must make innovations to attract visitors. But unfortunately, there are those who are unlucky. Some are forced to close their shops because there were only few buyers or even shopping centers are forced to close the building because there were only few visitors. One of them is Puri Agung building which is located in the Cengkareng trading area. Through urban acupuncture with everyday architecture methods that study the daily lives and collect data from various sources, the idea is to maintain the identity of the area as a trading center and develop it. The development through programs that can liven up the atmosphere to keep it busy the whole day. Additional programs will increase the quality of this area so visitors will have more activity. Keywords:  cengkareng; shopping center; trading area Abstrak Sejumlah pedagang mulai mengeluhkan penjualan mereka yang menurun dalam 5 tahun terakhir. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melansir bahwa industri ritel pertumbuhannya di bawah lima persen sepanjang Januari - Juni 2017. Ketua Umum Aprindo Roy Mandey faktor yang mempengaruhi penurunan adalah tingkat inflasi yang tinggi, adanya perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja dan masyarakat juga menahan diri untuk tidak berbelanja. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menilai bahwa industri ritel memiliki peran penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dari sisi perdagangan dan konsumsi. Maka dari itu, perlu diusahakan agar industri ritel tetap bisa dipertahankan. Sejak adanya Pandemi COVID-19, perilaku masyarakat juga banyak yang berubah. Kebijakan pemerintah untuk menjaga jarak menyebabkan warga menghindari berbelanja secara offline dan mengakibatkan banyaknya pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan bahwa pelaku usaha ritel harus melakukan sejumlah inovasi untuk menarik pengunjung. Namun sayangnya, ada saja yang kurang beruntung. Ada yang terpaksa harus menutup toko karena sepi pembeli atau bahkan pusat perbelanjaan yang terpaksa menutup gedung karena semakin hari semakin sedikit yang berjualan sehingga pengunjungnya juga semakin sedikit. Salah satunya adalah Gedung Puri Agung yang berada di kawasan perdagangan Cengkareng. Melalui urban acupuncture dengan metode keseharian yang mempelajari keseharian kawasan dan mengumpulkan data dari berbagai sumber, muncullah ide untuk mempertahankan identitas kawasan sebagai pusat perdagangan dan mengembangkannya. Pengembangannya melalui program-program yang dapat menghidupkan suasana agar tetap ramai dari pagi sampai malam hari. Program tambahan juga perlu menambah kualitas dari kawasan ini sehingga pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja.
EDUWISATA LINGKUNGAN SEBAGAI SOLUSI DARI PERMASALAHAN SAMPAH RUANG PERKOTAAN Jeremy Mahaputra Duta Pamungkas; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22147

Abstract

from the Tangerang district which is bordered by the Cisadane River. South Tangerang City was built with the main function designation, namely settlement because of its strategic location with the capital city area so that many urbanists who come from other areas can live in the South Tangerang area with a more affordable cost of living. With the increase in population, the level of production and consumption is definitely higher which results in the amount of waste production increasing in South Tangerang. If it is not accompanied by a good lifestyle, waste production will be excessive to the point of polluting the environment and this has happened in this city until South Tangerang City is given the nickname as one of the cities with the highest pollution in Southeast Asia. The phenomenon that occurs is due to excessive loading, the TPA in South Tangerang, namely the Cipeucang TPA, has overcapacity so that the sheet pile on the TPA is broken and the waste enters the Cisadane river which causes severe pollution. There are many solutions, but the solution after the accumulation of waste is that the population is growing if it is not corrected from the mindset of each individual, the problem of accumulation will still occur. So using the Urban Acupuncture method, to turn off some illegal TPS points in South Tangerang is to build an Eduwsiata facility that can provide socialization to the community in an interesting way so that people want to come and learn about the environment. Keywords: Education; Environmental Pollution; Garbage; Residential Abstrak Tangerang selatan merupakan salah satu daerah otonom baru pada tahun 2008 yang memisahkan diri dari kabupaten Tangerang yang dibatasi dengan sungai Cisadane. Kota Tangerang Selatan dibangun dengan peruntukan fungsi utama yaitu pemukiman karena letaknya yang strategis dengan daerah ibu kota sehingga banyak urbanis yang datang dari daerah lain dapat tinggal di daerah Tangerang Selatan dengan biaya hidup yang lebih terjangkau. Dengan bertambahnya penduduk, tingkat produksi dan konsumsi pun sudah pasti semakin tinggi yang mengakibatkan jumlah produksi sampah semakin banyak di Tangerang Selatan. Jika tidak disertai dengan pola hidup yang baik, produksi sampah akan berlebih hingga mencemari lingkungan dan hal tersebut terjadi di Kota ini hingga Kota Tangerang Selatan diberi julukan salah satu kota dengan polusi tertinggi di Asia Tenggara. Fenomena yang terjadi adalah karna muatan yang berlebih, TPA di Tangerang Selatan yaitu TPA Cipeucang mengalami over kapasitas sehingga turap pada TPA jebol dan sampah masuk ke sungai Cisadane yang menyebabkan pencemaran cukup parah. Dilakukan banyak solusi namun solusi pasca penumpukan sampah yang semakin bertumbuhnya penduduk jika tidak diperbaiki dari pola pikir masing-masing individu, masalah penumpukan tetap akan terjadi. Dengan menggunakan metode Urban Acupuncture, untuk mematikan beberapa titik TPS ilegal yang ada di Tangerang Selatan adalah dengan membangun sebuah fasilitas Eduwsiata yang dapat memberi sosialisasi kepada masyarakat dengan cara yang menarik sehingga masyarakat mau datang dan belajar mengenai lingkungan.
PENERAPAN MIXED USE SEBAGAI PEMECAHAN PERMASALAHAN GHOST TOWN DI KAWASAN PERDAGANGAN DAN JASA TANJUNG DUREN UTARA Cinthia Adila; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22149

Abstract

Grogol is one of the areas that has always been crowded even since the colonial era because it is one of the largest nodes in Jakarta. But over time, there are points in the area that are now experiencing degradation / decline in function that can be seen physically and are now starting to be occupied. One of them is a trade & service district in North Tanjung Duren. Where the existing shopping area, which was originally successful, is now starting to be abandoned by its owners or used as a warehouse, hostel-class accommodation. In the end, these programs causes the death to the area due to the absence of people activities. The abandonment of this area eventually caused a new problem, namely crime, especially at night, and it is not uncommon for this area to be known as the 'dark area'. Therefore, this research is intended to help solve problems and rejuvenate the ‘ghost town’ in this area by using urban acupuncture intervention assistance. From this study, it was found that one of the interventions to solve this problem is to implement a mixed use program to revive this area. Starting from residences, offices, commercial areas for the local community that can be packaged in the form of open spaces for the public to bring back mass to the area and make the area safer and more comfortable. Keywords: Mixed-use ; North Tanjung Duren; Rejuvenation; Urban Acupuncture Abstrak Kecamatan Grogol merupakan salah satu kawasan yang selalu ramai bahkan sejak zaman penjajahan karena merupakan salah satu simpul terbesar di Jakarta. Namun seiring berjalannya waktu, terdapat titik pada kawasan yang kini mengalami degradasi / penurunan fungsi yang dapat dilihat secara fisik dan kini mulai ditinggali. Salah satunya merupakan kawasan perdagangan & jasa di Tanjung Duren Utara. Dimana kawasan eksisting pertokoan yang semula berjaya ini, kini mulai ditinggali oleh para penggunanya atau dijadikan gudang, atau penginapan sekelas hostel. Program program eksisting ini menyebabkan matinya kawasan karena tidak adanya aktivitas masyarakat. Matinya kawasan ini akhirnya menimbulkan masalah baru yaitu tindak kejahatan terutama pada malam hari, bahkan tak jarang bila kawasan ini dikenal dengan istilah ‘kawasan gelap’. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk membantu memecahkan permasalahan dan meremajakan ‘ghost town’ pada kawasan ini dengan menggunakan bantuan intervensi akupunktur perkotaan (urban acupuncture). Dari penelitian ini, didapat bahwa salah satu intervensi untuk dapat memecahkan masalah tersebut adalah dengan menerapkan program mixed use untuk menghidupkan kembali kawasan ini. Mulai dari hunian, perkantoran, area komersial bagi masyarakat setempat yang dapat dikemas dalam bentuk ruang ruang terbuka bagi publik untuk kembali mendatangkan massa kepada kawasan dan menjadikan kawasan lebih aman dan nyaman.
PENATAAN KEMBALI PERMUKIMAN KUMUH SERTA PEMANFAATAN BUDIDAYA MANGROVE PADA KAWASANA MUARA ANGKE Richard Christian; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22151

Abstract

Muara Angke is an area in North Jakarta which is directly adjacent to the Java Sea. The Muara Angke area is declared a slum area along with all the unique architecture, spatial formations and the environment. This condition of slum settlements occurs because many low-income urbanists are looking for a place to live in more affordable suburban areas. In the end, unplanned settlements emerged and did not have infrastructure facilities which were growing naturally and uncontrollably into slums. The rearrangement of the Muara Angke area is the best way to overcome these slums to create a clean, hygienic, orderly and safe environment. In addition, the realignment of this area can also be followed by the development of the potential that exists in the Muara Angke area. On the west side of the Muara Angke area, there is a mangrove cultivation area that has the potential to be used as a new tourist attraction. Utilization of the mangrove cultivation area as a new tourist attraction does not mean changing the function of cultivation and replacing it with other functions, but rather inviting the community to learn and participate in conserving mangrove cultivation while traveling. Therefore, the realignment of the Muara Angke area will eventually solve the problem of existing slum settlements and improve the economy of this region with the addition of functions that can accommodate the community's needs for tourism. Keywords:  Mangrove Cultivation; New Recreational; Rearrangement; Slum Areas Abstrak Muara Angke merupakan suatu kawasan di Jakarta Utara yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Kawasan Muara Angke ini dinyatakan sebagai kawasan permukiman kumuh bersamaan dengan segala keunikan arsitektur, bentukan tata ruang dan lingkungannya. Kondisi permukiman kumuh ini terjadi karena banyaknya kaum urbanis berpenghasilan rendah yang mencari tempat tinggal pada kawasan pinggir kota yang lebih terjangkau. Pada akhirnya, muncul permukiman tidak terencana dan tidak memiliki fasilitas infrastruktur yang semakin lama berkembang secara alami dan tidak terkendali menjadi permukiman kumuh. Penataan kembali kawasan Muara Angke ini merupakan jalan terbaik untuk mengatasi permukiman kumuh ini untuk menciptakan lingkungan yang bersih, higienis, tertib, dan aman. Selain itu, penataan kembali kawasan ini juga dapat diikuti dengan pengembangan potensi yang ada pada kawasan Muara Angke. Pada sisi barat kawasan Muara Angke ini terdapat kawasan budidaya mangrove yang berpotensi sekaligus dapat dimanfaatkan untuk menjadi objek wisata baru. Pemanfaatan kawasan budidaya mangrove sebagai objek wisata baru ini bukan berarti mengubah fungsi budidaya dan menggantikannya dengan fungsi lain, melainkan mengajak masyarakat untuk belajar dan ikut serta dalam melestarikan budidaya mangrove sembari berwisata. Oleh karena itu, penataan kembali kawasan Muara Angke ini pada akhirnya akan menyelesaikan permasalahan permukiman kumuh yang ada dan meningkatkan perekonomian wilayah ini dengan adanya penambahan fungsi yang dapat mewadahi kebutuhan masyarakat untuk berwisata.
REVITALISASI PECINAN GLODOK Atiqah Nabilah; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22624

Abstract

Glodok Chinatown area is one of the oldest Chinatowns in Jakarta. Glodok Chinatown is an area known for its distinctive image which is thick with Chinese cultural elements. Glodok Chinatown used to be a popular tourist area to visit. However, due to the transition of generations, the aging of the area and its conventional system and lack of novelty or uniqueness, the vitality of this area has decreased. This in the long-term scenario will have an impact on the economy of the surrounding community. Using qualitative research methods using urban acupuncture and contextual theory is expected to help increase the vitality of the area. Keywords: area; contextual; Chinatown; revitalization  Abstrak Kawasan Pecinan Glodok merupakan salah satu Pecinan tertua di Jakarta. Pecinan Glodok merupakan kawasan yang terkenal akan citra khas yang kental dengan unsur budaya. Pecinan Glodok dulu merupakan salah satu kawasan wisata yang populer untuk dikunjungi. Namun akibat peralihan generasi, aging kawasan serta sistemnya yang konvensional dan kurang memiliki kebaruan atau keunikan membuat vitalitas kawasan ini semakin menurun. Hal ini pada skenario jangka panjang akan berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar. Dengan menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan menggunakan teori urban acupuncture dan kontekstual diharapkan dapat membantu meningkatkan vitalitas kawasan.
REGENERASI LINGKUNGAN CINA BENTENG DI JALAN CILAME Valeria Kristi; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22628

Abstract

The district area of Tangerang Lama Town is a Chinese suburban area that became the root of Tangerang City. It is a historical site for the Cina Benteng culture. Tangerang Lama itself is a cultural destination but some of the area is abandoned and left degraded. The "Regeneration of Cina Benteng Neighborhood in Cilame Street" aims to regenerate the buildings and the streets in the Cilame area. Using the Urban Acupuncture Method, creating a linkage to connect the more crowded areas and the less crowded one to create a symbiosis. Supported by the "man and nature" concept, the building design aims to harmonize with nature, projecting the concept of Yin from Cina Benteng culture in hope of creating a new role of this building as a Culture Hub. Breathing a new life to the Chinese culture of Pasar Lama area and to attract communities to re-learn the Cina Benteng culture. Keywords: Cina Benteng; culture HUB; regeneration Abstrak Area kawasan Kota Tangerang Lama merupakan perkampungan Tionghoa yang menjadi awal mula terbangunnya Kota Tangerang dan menjadi sejarah dari kebudayaan Cina Benteng berdiri. Area Kota Tangerang Lama ini menjadi destinasi wisata namun masi ada area kawasan wisata yang sepi dan terdegradasi. Sehingga proyek “Regenerasi Lingkungan Cina Benteng di Jalan Cilame” ini bertujuan untuk meregenerasi area bangunan dan jalanan yang terdegradasi yang berada di area Jalan Cilame. Proyek ini menggunakan metode Urban Acupuncture, metode Linkage untuk menghubungkan node area Kawasan yang ramai dan tidak ramai agar dapat saling terhubung dan metode simbiosis. Didukung dengan konsep “men and nature” dari metode simbiosis, desain bangunan diarahkan untuk berdamai dengan alam dengan menyisipkan makna yin dan yang dari kebudayaan Cina Benteng diharapkan dapat memunculkan peranan baru di tengah masyarakat sebagai bangunan dengan program Culture HUB yang bertujuan untuk menghidupkan kembali lagam tionghoa di daerah Kawasan pasar lama dan dapat mengajak masyarakat untuk mengenal kembali kebudayaan Cina Benteng.
PUSAT KUCING JATINEGARA DENGAN PENDEKATAN URBAN AKUPUNKTUR Putri Nurandini; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22632

Abstract

Physical degradation in the Jatinegara animal market area can be seen from the stalls that occupy the sidewalks. As a result, the sidewalks become dirty, smelly, and damp because animal waste is also jammed, causing pedestrians and motorists to suffer. Acupuncture urban planning is carried out to produce impact and quality for large scale urban areas by producing a chain reaction, where one project or design made at one point can have an impact or positive effect on other areas. Macro, meso, micro analyzes were carried out to understand more about the Jatinegara Animal Market. Data collection was taken from print media, interviews and observations. The design method uses an urban acupuncture approach. In the Jatinegara Animal Market area, several issues were found in the animal market area, namely the stalls of traders who eat the pedestrian street, so that it becomes dirty and slippery and causes traffic jams. The concept of "Architecture for Animals and Humans", Jatinegara Cat Center is a forum for the pet trade, requiring comfortable buildings that can bring out the original characters of the pets being sold. Keywords:  Degradation; urban acupuncture; architecture for animal and human Abstrak Degradasi fisik pada kawasan pasar hewan Jatinegara dapat dilihat dari kios-kios yang menempati trotoar akibatnya trotoar menjadi kotor, bau, lembab karena kotoran hewan dan juga macet sehingga pejalan kaki dan pengendara terganggu. Penataan urban Akupunktur dilakukan untuk menghasilkan dampak dan kualitas bagi lingkup skala kota yang besar dengan menghasilkan reaksi berantai (chain react), dimana dari satu proyek atau rancangan yang dibuat di satu titik dapat memberikan pengaruh atau efek positif bagi area lainnya. Analisis makro, meso, mikro dilakukan untuk memahami lebih lanjut mengenai Pasar Hewan Jatinegara. Pengumpulan data diambil dari media cetak, wawancara dan observasi. Metode perancangan menggunakan pendekatan urban akupuntur. Kawasan Pasar Hewan Jatinegara, ditemukan beberapa isu di kawasan pasar hewan yaitu kios-kios pedagang yang memakan jalan pedestrian, sehingga menjadi kumuh dan licin dan menimbulkan kemacetan. Konsep "Architecture for Animal and Human", Jatinegara Cat Center merupakan sebuah wadah untuk perdagangan hewan peliharaan, membutuhkan kenyamanan bangunan yang dapat memunculkan karakter asli dari hewan peliharaan yang dijual.
FASILITAS REHABILITASI DAN PENGEMBANGAN BAKAT BAGI PECANDU INTERNET Victor Gunawan; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24295

Abstract

As time goes by, the development of science and technology is quite rapid causing teenager to easily obtain information and learn it, one example is online games. Online games are a way of learning by analyzing with a group/individual using strategies that can be done by connecting devices via an internet connection. The ease of accessing online games such as internet cafes, cellphones and computers causes teenager to play without supervision and lack of care from parents so they forget time. In this process, teenager can step into addiction stage because they like to playing games, the time that should be used to study and mingle with friends has been reduced or even not a priority in order to be able to sit for a long time to play online games Online game addiction will be the topic raised, the author will design a rehabilitation and talent development center with an approach to the interests of psychological and physical mental health of teenager and adolescent development. Humanitarian and psychological architecture focuses on development and health as the main factor. In addition, the Rehabilitation and talent development center will provide a place where teenager and young adult can rehabilitate, as a center for teenager development, and can also be a place to socialize in order to reduce the impact of people who are already addicted to online games. Keywords: online games, science and technology, addiction, rehabilitation Abstrak   Seiring berkembangnya zaman, perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Komunikasi) yang cukup pesat menyebabkan anak-anak mudah memperoleh informasi dan mempelajarinya, contohnya adalah internet khususnya game online. Game online merupakan suatu cara belajar dengan menganalisa bersama sekelompok/individu menggunakan strategi yang dapat dilakukan dengan menyambungkan perangkat melalui koneksi internet. Kemudahan dalam mengakses game online seperti warnet, ponsel dan komputer menyebabkan remaja dapat bermain tanpa adanya pengawasan dan penjagaan dari orang tua sehingga lupa waktu. Dalam proses ini remaja dapat memasuki tahap kecanduan karena merasa sudah asik bermain game, waktu yang seharusnya dipergunakan untuk belajar dan berbaur dengan teman telah berkurang atau bahkan tidak menjadi prioritas demi bisa duduk berlama-lama untuk bermain game online. Kecanduan game online akan menjadi topik yang diangkat, penulis akan melakukan perancangan pusat rehabilitasi dan pengembangan bakat dengan pendekatan kepentingan kesehatan mental psikis maupun fisik terhadap remaja dan juga perkembangan remaja. Arsitektur kemanusiaan dan psikologis memfokuskan perkembangan dan kesehatan menjadi faktor utama. Selain itu, perancangan pusat rehabilitasi dan pengembangan bakat akan memberikan wadah sebagai tempat remaja-dewasa muda dapat rehabilitasi, sebagai pusat perkembangan remaja, dan juga dapat menjadi wadah bersosialisasi agar dapat mengurangi dampak orang yang sudah kecanduan game online.
PENERAPAN ARSITEKTUR DIGITAL KONTEMPORER TERHADAP FASILITAS PELATIHAN TIM NASIONAL ESPORT & HUB CIKINI Angellita Larrya Putri Kadewa; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24296

Abstract

Most esports athletes retire at the age of 22-24 years, and the average professional player will last for 2-3 years. Esports in Indonesia is often seen as just a hobby and lacks financial support and adequate infrastructure. The negative stigma about professional gamers and game fans also makes it difficult for esports to be accepted by the wider community. Some people still think that games are just a hobby that cannot be equated with physical sports that require athletic skills and physical activity. While professional athletes also need a lot of concentration, dedication, practice, preparation, mentality and stamina. Therefore, it is necessary to have a supportive space, through the design shown to the athletes of the Indonesian national esports team. This research will focus on integrating the training facilities of the Indonesian national esport team with public areas to encourage tolerance and openness. Contemporary digital concepts will be implemented, through renewed innovations towards digital sports. In an effort to improve the health performance and productivity of athletes, the latest technology is used to develop solutions and programs that can help athletes achieve their best performance. As well as the development of tech hub facilities that are developed for the public, can provide opportunities for technology developers and the esports industry to innovate and develop new solutions to improve the quality of digital sports, so that athletes are accustomed to facing several new challenges, gaining recognition and popularity. Keywords: architecture, digital, esport, empathy, contemporary Abstrak Kebanyakan atlet esport pensiun di usia 22-24 tahun, dan rata-rata pemain profesional akan bertahan selama 2-3 tahun. Esports di Indonesia sering dianggap hanya sebagai hobi dan kurang mendapat dukungan finansial serta infrastruktur yang memadai. Stigma negatif tentang gamer Profesional  dan penggemar game juga membuat esports sulit diterima oleh masyarakat secara luas. Beberapa orang masih beranggapan bahwa game hanyalah hobi yang  tidak dapat disamakan dengan olahraga fisik yang memerlukan keterampilan atletik dan aktivitas fisik. Sementara atlet profesional juga butuh banyak konsentrasi, dedikasi, praktik, persiapan, mental dan stamina. Oleh karena itu, perlu adanya keruangan yang mendukung, melalui perancangan yang ditunjukan kepada atlet tim nasional esport Indonesia. Penelitian ini akan berfokus pada mengintegrasikan fasilitas latihan tim nasional esport Indonesia dengan area publik untuk dapat mendorong toleransi, dan keterbukaan. Konsep digital kontemporer akan diterapkan, melalui perbaruan inovasi terhadap olahraga digital. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja kesehatan dan produktivitas para atlet, teknologi terbaru digunakan untuk mengembangkan solusi dan program yang dapat membantu para atlet mencapai performa terbaik mereka. Serta pengembangan fasilitas tech hub yang dikembangkan untuk publik, dapat memberikan kesempatan bagi pengembang teknologi dan industri esports untuk berinovasi dan mengembangkan solusi baru untuk meningkatkan kualitas olahraga digital, sehingga para atlet terbiasa menghadapi beberapa tantangan baru, mendapatkan pengakuan, dan popularitas.
PERANCANGAN DESAIN PUSAT PELATIHAN TIM NASIONAL SEPAKBOLA INDONESIA Rasyad Firzatila; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24297

Abstract

As one of the countries with the most fans and connoisseurs of football, Indonesia is still lacking in terms of facilities that can support the continuation of the game, this is very unfortunate becauce the Indonesian national team does not have qualified training facilities to train in preparation for international competitions such as AFC Asian Cup. Football training center have an important role in the development of national teams in every country. The training center is used as a place for national team players to practice developing their technical, physical, mentality, and tactical abilities. The Garuda project tries to contribute as a platform and foundation for Indonesian football to continue to grow to reach the goals of all football fans in Indonesia. This project is a specially designed and exclusive football training center for the Indonesian National Football Team. In it, players and coaches can practice preparing technically, physically and mentally in preparation for friendly matches, domestic matches, to international matches. Assisted by the existence of an official office that takes care of all administrative interests of the Indonesian Football National Team. There are 2 football pitches with natural turf and synthetic turf in the football training centre, which comply with FIFA standards. Coupled with other facilities such as a gym area, hydrotherapy pool, physiotherapy area, strategy tactics education class, locker room, indoor court, and dormitory rooms as a complement to all training activities for the Indonesian National Football Team. Keywords:  football; indonesia national team; national training center Abstrak Sebagai salah satu negara dengan jumlah penikmat sepakbola terbanyak, sepakbola di Indonesia masih kurang mumpuni dalam segi fasilitas yang dapat menunjang keberlangsungan permainan, hal ini sangat disayangkan dikarenakan tim nasional Indonesia tidak memiliki fasilitas latihan yang mumpuni untuk berlatih guna persiapan kompetisi internasional seperti AFC Asian Cup. Pusat pelatihan sepakbola memiliki peran yang penting dalam perkembangan tim nasional di setiap negara. Pusat pelatihan dijadikan sebagai wadah untuk para pemain tim nasional untuk berlatih mengembangkan kemampuan teknik, fisik, mental, dan taktik. Proyek The Garuda mencoba berkontribusi sebagai wadah dan pondasi sepakbola Indonesia untuk terus berkembang menggapai cita-cita seluruh penggemar sepakbola di Indonesia. Proyek ini merupakan pusat pelatihan sepakbola yang dirancang khusus dan eksklusif untuk Tim Nasional Sepakbola Indonesia. Di dalamnya dapat digunakan pemain dan pelatih berlatih mempersiapkan teknik, fisik, dan mental untuk persiapan pertandingan persahabatan, pertandingan domestik, hingga pertandingan internasional. Dibantu dengan adanya kantor official yang mengurus segala kepentingan administratif Tim Nasional Sepakbola Indonesia. Terdapat 2 lapangan sepakbola dengan rumput alami dan rumput sintetis di pusat pelatihan sepakbola, yang sesuai dengan standar FIFA. Ditambah dengan fasilitas lain seperti area gym, kolam hidroterapi, area fisioterapi, kelas edukasi taktik strategi, ruang ganti, lapangan indoor, dan kamar asrama sebagai pelengkap segala kegiatan pelatihan Tim Nasional Sepakbola Indonesia.