Alvin Hadiwono
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

RUANG AKSELERATOR KESADARAN TERHADAP PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL DI KAWASAN PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT Prawuasvini Zata Hendarjana; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16937

Abstract

Recently, cases of sexual harassment are increasingly visible and exposed in Indonesia. The factors that cause this incident are social, educational, and economic factors. The main problem is that people still do not understand about sex education and it has become very taboo. Although sex education lessons have been implemented in schools, there needs to be an architectural space that can provide knowledge to all people about this. Sexual harassment is a social practice. Social practice has an institutional life and a semiotic life. And social practices like sexual harassment have a history. Considering sexual harassment from a historical perspective allows us to ask some fundamental questions about the nature of the practice, the terms it opposes, and the rules and rhetoric by which laws limit or allow the behavior. This is a debate why it is called sexual harassment but not sex discrimination, but harassment is something that is included in sex discrimination itself. Because the theme of this final project is Rethinking Typology, the author makes a building containing thematic rooms that can provide information and educate the public, and the author's background on sexual harassment results in the author's building containing an accelerator room as a trigger for awareness or public awareness. With the project location in the Pasar Senen area, Central Jakarta. The purpose of this building can be achieved by targeting users from all walks of life to enter this project because the area includes areas that have public and private facilities and meet project parameters related to sexual harassment incidents. Keywords: Accelerator; Education; Information Space; Sexual Harassment AbstrakBelakangan ini kasus pelecehan seksual semakin terlihat dan terekspos di Indonesia. Faktor yang menyebabkan terjadinya kejadian tersebut adalah faktor sosial, pendidikan, hingga ekonomi. Permasalahan utamanya adalah bahwa masyarakat masih kurang memahami mengenai edukasi seks dan hal itu menjadi sangat tabu. Meskipun pelajaran edukasi seksual sudah diterapkan di sekolah-sekolah, tetapi perlu adanya ruang arsitektur yang bisa memberi ilmu kepada semua masyarakat mengenai hal tersebut. Pelecehan seksual adalah praktik sosial. Praktik sosial memiliki kehidupan institusional dan kehidupan semiotik. Dan praktik sosial seperti pelecehan seksual memiliki sejarah. Mempertimbangkan pelecehan seksual dalam perspektif sejarah memungkinkan kita untuk mengajukan beberapa pertanyaan mendasar tentang sifat praktik tersebut, istilah-istilah yang ditentangnya, dan aturan serta retorika yang dengannya undang-undang membatasi atau memungkinkan perilaku tersebut. Hal ini menjadi perdebatan kenapa dinamakan pelecehan seksual tetapi bukan diskriminasi seks, tetapi pelecehan itu merupakan hal yang termasuk dalam diskriminasi seks itu sendiri. Dikarenakan tema dari tugas akhir ini adalah Rethinking Typology, penulis membuat sebuah bangunan berisikan ruang-ruangan tematik yang dapat memberikan informasi maupun mengedukasi masyarakat, dan latar belakang penulis mengenai pelecehan seksual alhasil bangunan penulis berisikan ruangan akselerator sebagai pemicu awareness atau kesadaran masyarakat. Dengan lokasi proyek yang berada di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Tujuan bangunan ini bisa tercapai dengan target user semua kalangan dapat masuk ke proyek ini dikarenakan kawasan tersebut termasuk kawasan yang memiliki fasilitas public dan private dan memenuhi parameter proyek yang terkait dengan kejadian pelecehan seksual.
SWALLOW HABI-TECH : PENANGKARAN DAN GALERI WALET DI KARST CIAMPEA, BOGOR, INDONESIA Maria Stefani; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12353

Abstract

Global warming is a common problem that occurs in all parts of the world that triggers significant climate changes such as temperature increases, humidity changes, natural disasters, and can cause the extinction of flora and fauna, one of which is the swallow in Ciampea Karst, which has been damaged so that uninhabitable. In addition, the exploitation of limestone caves by humans causes swallows to feel uncomfortable and the need for artificial habitats. The goal is that the swallow's need for replacement habitat is fulfilled so that the Ciampea Karst ecosystem is not disturbed. The resulting architectural form is a technology-based captivity that takes swallows as the main subject of the project. The method used begins with the phenomenon and urgency of swallows that occur in Ciampea Karst area. Then analyzed and generated ideas in the form of captivity. However, it is not only limited to captivity, there is also an interaction space for humans in the form of swallow galleries, so that visitors can see the swallow's life. The overall shape of the building is based on an analysis study of the shape of the swallow's flying movement, so that the building adapts many forms of arches that are flexible in accordance with the swallow's daily activities. For the breeding method, it begins by using adaptation techniques first, namely by breeding the seriti bird that takes care of swallow eggs taken from the limestone caves of the Ciampea Karst. In addition to methods in design, the use of technology in building materials, especially in captivity and galleries, also uses natural materials such as natural exposed wood and brick walls. So, to show the side 'beyond ecology', it is not only limited to ecology in the use of materials, but there is an indirect interaction space between humans and swallows that functions to fight against human anthropocentric attitudes, while helping humans to feel the swallow's life in an architectural building. Keywords:  captivity; gallery; habitat; technology; white swallow. AbstrakPemanasan global merupakan permasalahan umum yang terjadi di seluruh belahan dunia yang memicu terjadinya perubahan iklim yang cukup signifikan seperti kenaikan suhu, perubahan kelembaban, bencana alam, dan dapat menyebabkan kepunahan flora dan fauna, salah satunya burung walet di Karst Ciampea, yang sudah mengalami kerusakan sehingga tidak layak huni. Selain itu, eksploitasi gua kapur oleh manusia menyebabkan walet merasa tidak nyaman dan diperlukannya habitat buatan. Tujuannya agar kebutuhan walet akan habitat pengganti terpenuhi sehingga ekosistem Karst Ciampea tidak terganggu. Bentuk arsitektur yang dihasilkan berupa penangkaran berbasis teknologi yang mengambil walet sebagai subjek utama proyek. Metode yang digunakan berawal dari fenomena dan urgensi walet yang terjadi di kawasan Karst Ciampea. Kemudian dianalisa dan dihasilkan ide berupa penangkaran. Tetapi, tidak hanya berbatas pada penangkaran, tersedia juga ruang interaksi untuk menusia yang berupa galeri-galeri walet, sehingga pengunjung dapat memandang kehidupan walet. Bentuk bangunan keseluruhan didasarkan pada studi analisa bentuk gerakan terbang walet, sehingga bangunan mengadaptasi banyak bentuk lengkungan yang leluasa sesuai dengan aktivitas keseharian walet. Untuk metode penangkaran, diawali dengan menggunakan teknik adaptasi terlebih dahulu, yaitu dengan menangkarkan burung seriti yang mengasuh telur walet yang diambil dari gua-gua kapur Karst Ciampea. Selain metode dalam perancangan, penggunaan teknologi pada material bangunan terutama penangkaran dan galeri juga banyak menggunakan bahan alami seperti kayu dan dinding bata ekspos yang bersifat alami. Sehingga, untuk menampilkan sisi ‘melampaui ekologi’, tidak hanya terbatas pada ekologi dalam penggunaan material, tetapi terdapat ruang interaksi yang tidak langsung antara manusia dengan walet berfungsi untuk melawan sikap antroposentris manusia, sekaligus membantu manusia untuk turut merasakan kehidupan walet dalam suatu bangunan arsitektur.
WADAH KREATIVITAS-BERBASIS-PLASTIK Putri Odelia; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6879

Abstract

Jakarta ranks as the highest as the city that produces the most waste after China. Jakarta produces around seven thousand tons of waste every day. However, only six thousand tons of garbage can be transported to the Bantar Gebang Final Disposal Site per day. Some of the waste that is not transported then piles up on empty land and waterways, such as rivers and streams. Plus the habits of people who are still less concerned about the environment by littering, including in rivers or streams, make this plastic waste pollution increasing. Waste that is not transported then flows to the sea. At the sea, neglected plastic rubbish will not be decomposed in a short time. This accumulation of garbage then disrupts the life of marine life. In the process of environmental improvement and maintenance, the role of the surrounding community is an important factor. The community must take part in living their daily lives, such as: reducing the use of disposable plastics, sorting out trash before disposal, recycling waste into new valuable objects, and so on. Therefore this building design aims as a means for the community to learn and participate in handling issues that occur in this region. Architectural building, as a place that accommodates community activities, uses the principles of plasticity as the basis for forming mass and space. Abstrak Jakarta menduduki peringkat tertinggi kedua sebagai kota yang menghasilkan sampah paling banyak. Kota Jakarta menghasilkan sekitar tujuh ribu ton sampah setiap harinya. Namun, hanya sebanyak enam ribu ton sampah yang dapat diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang per hari. Sebagian sisa sampah yang tidak terangkut ini kemudian menumpuk pada lahan kosong dan jalur air, seperti sungai dan kali. Ditambah lagi kebiasaan masyarakat yang masih kurang peduli terhadap lingkungan dengan membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai atau kali, membuat pencemaran sampah plastik ini semakin meningkat. Sampah yang tidak terangkut ini kemudian mengalir sampai ke laut. Di laut, sampah plastik yang diabaikan, tidak akan teurai dalam waktu singkat. Penumpukan sampah ini kemudian mengganggu kehidupan biota laut. Dalam proses perbaikan dan pemeliharaan lingkungan, peran masyarakat di sekitarnya merupakan faktor penting. Masyarakat harus ambil bagian dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seperti: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah sebelum dibuang, mendaur ulang sampah menjadi benda baru yang bernilai, dan sebagainya. Oleh karena itu desain bangunan ini bertujuan sebagai sarana masyarakat untuk belajar dan ikut serta dalam penanganan isu yang terjadi di kawasan ini. Bangunan arsitektural, sebagai tempat yang mewadahi kegiatan masyarakat ini menggunakan prinsip-prinsip plastisitas sebagai dasar membentuk massa dan ruang.
TEMPAT RETRET KOTA Vincent Tan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4407

Abstract

This world has created major changes, this is considered as the impact of the current globalization that cannot be stopped anymore. This stream of globalization has caused stress for the millennial generation. Millennials are those that are affected by this current, the largest - with their birth in 1981-2000. They are also people of productive age. Research from the Mental Health Foundation (MHF, 2018) found millennials were more stressed than other older age groups such as generation X. This attracted attention to mental and physical health, especially spiritual issues to overcome this. The purpose of this project is to introduce a new type of place of spirituality in the millennial generation, to open new understandings and thoughts about spirituality in architecture, to produce architectural works that support new changes in the millennial generation, and to increase awareness in the millennial pre-post architectural direction future spirituality. Theoretical study that underlies this design project is taken from Suzan Caroll's book entitled Seven Steps to Soul and the method used is Thematic Narrative Architecture. Thematic Approach Narrative Architecture is a design approach by telling a process that considers the application of themes as elements in a building. This approach is supported by other sub-methods, namely Spatial Gestalts, Experiential Archetypes and Reference. This design project brings users into a spiritual experience that aims to become a place of self-release for all people, especially millennials.   Abstrak Dunia ini telah menciptakan perubahan besar, hal ini dianggap sebagai dampak dari arus globalisasi yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Arus globalisasi ini mengakibatkan stress bagi generasi milennial. Milennial adalah mereka yang terkena dampak arus ini terbesar -dengan kelahirannya pada tahun 1981-2000. Mereka juga adalah orang-orang dengan usia produktif. Penelitian dari Mental Health Foundation (MHF, 2018) menemukan generasi milenial lebih stres dibandingkan kelompok usia lain yang lebih tua seperti generasi X. Hal ini menarik perhatian akan hal kesehatan mental serta fisik khususnya spiritual untuk menanggulangi ini. Adapun tujuan dari proyek ini yaitu  mengenalkan tipe baru tempat spiritualitas pada jaman generasi milennial, membuka pengertian dan pemikiran baru tentang spiritualitas dalam arsitektur, menghasilkan karya arsitektur yang mendukung perubahan baru pada jaman generasi milennial, dan meningkatkan awareness pada generasi sebelum-sesudah millennial akan arahan arsitektur spiritualitas kedepan. Kajian Teori yang mendasari proyek desain ini diambil dari buku Suzan Caroll yang berjudul Seven Steps to Soul dan metode yang digunakan adalah Thematic Narrative Architecture.Pendekatan Thematic Narrative Architecture adalah pendekatan desain dengan menceritakan sebuah proses yang memperhatikan penerapan tema sebagai unsur-unsur pada bangunan. Pendekatan ini didukung oleh sub-metode lainnya yaitu Spatial Gestalts, Experiential Archetypes dan Reference. Proyek rancangan ini membawa pengguna kedalam sebuah pengalaman spiritual yang bertujuan untuk menjadi tempat pelepasan diri bagi semua orang khususnya millennial. 
TEMPAT KESEHATAN HOLISTIK DI PURI KEMBANGAN Laurencia Barnessa; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8568

Abstract

This project is located in Puri Kembangan’s region which known as a Central Business District,, entertainment and residential area .In life, healthiness is one of the most important thing in life that sometime still poorly understood by the society. In the modern era today, society have a different point of view and attitude towards healthiness. In order to maintain the balance of modernization, there are health treatment called holistic healing that had been popular recently. Holistic healing space is a healthiness comprehensive that not only focus on one aspect only, but to a lot of aspect such as body, mind and soul. The growth of diseases have increasingly diverse from time to time and possess a deadly impact that affect the complexity of the urban society lives. Therefore, it is very important to notice holistic healthiness, not only physicall aspect but mind and soul as well. In everyday life, espicially work routine tend to cause a high level of stress in the society that drive the urge to be free from daily routine or be refreshed to fulfill psychological needs. As for social needs, human needed the time to socialize with friends and communicate with other people. The Holistic Healing Space project is expected to be a vessel for the society to fulfill the condition of their Holistic Healthiness and manage a healthier urban life pattern, because maintaining healthiness is not an ordinary thing but had already become the lifestyle of urban society. Keywords: healthy; holistic; urban Abstrak Proyek ini terletak di kawasan masyarakat menengah keatas daerah Puri Kembangan yang merupakan kawasan perkantoran, hiburan dan hunian. Dalam kehidupan, kesehatan merupakan salah satu hal utama yang terkadang masih kurang dipahami oleh masyarakat. Di era modernisasi saat ini, masyarakat memiliki cara pandang dan sikap yang berbeda terhadap kesehatan. Untuk mengimbangi modernisasi, ada pelayanan kesehatan yaitu kesehatan holistik, yang belakangan ini mulai populer. Kesehatan Holistik ini merupakan kesehatan menyeluruh tidak hanya pada satu aspek saja, tetapi pada banyak aspek seperti tubuh, pikiran dan jiwa. Perkembangan penyakit dari waktu ke waktu semakin beraneka ragam yang memiliki dampak mematikan, sehingga mempengaruhi kompleksitas kehidupan masyarakat urban. Maka dari itu, pentingnya memperhatikan kesehatan secara holistik, tidak hanya pada fisik saja tapi juga kesehatan pikiran dan jiwa.  Selain itu dalam kehidupan sehari-hari, terutama rutinitas pada pekerjaan menyebabkan tingkat stres yang cukup tinggi di kalangan masyarakat, sehingga menimbulkan keinginan untuk keluar dari rutinitas atau refresing untuk memenuhi kebutuhan psikologis. Sehingga proyek Holistic Healing Space ini berharap bisa menjadi wadah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kondisi kesehatan holistik serta mengusahakan pola hidup urban yang lebih sehat, karena menjaga kesehatan bukan sesuatu hal yang biasa tetapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat urban.
PUSAT EDUKASI SAINS TUBUH DAN TEKNOLOGI Yohanes Terzagi; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4475

Abstract

Millennial generation born in the era of technological revival is very influential on the attitude and nature of society. These influences make basic human needs also change functionally. One human need is learning, a way of learning that is different from the previous generation. Learning in this millennial era has used sophisticated and not monotonous technology. The system of delivering knowledge is starting to be more interesting and easier to understand by the millennial generation. The method used in this project is the metaphor of the concept of artificial body manufacture, which replaces the human body with technology or robots that are applied in the design of project buildings. One interesting science for the use of this technology is life & sciences, about the body and human technology. Creating a fun education based on sophisticated systems and technology and introducing people to new and modern science. Edutainment is a place that is sophisticatedly designed, and provides an atmosphere like learning for the future. AbstrakGenerasi millenial yang lahir pada era kebangkitan teknologi ini sangat berpengaruh sekali terhadap sikap dan sifat dari masyarakat. Pengaruh tersebut membuat kebutuhan dasar manusia juga berubah secara fungsional. Salah satu kebutuhan manusia adalah belajar, cara belajar yang sudah berbeda dengan dengan generasi yang sebelumnya. Belajar pada era millenial ini sudah menggunakan teknologi yang canggih dan tidak monoton. Sistem penyampaian ilmu yang diberikan mulai lebih menarik dan lebih mudah untuk dipahami oleh generasi milenial. Metode yang digunakan dalam proyek ini adalah metafora konsep artificial body manufacture, dimana mengantikan body manusia dengan teknologi atau robot yang di aplikasikan di dalam perancangan bangunan proyek. Salah satu ilmu pengetahuan yang menarik untuk penggunaan teknologi ini adalah life & sciences, tentang tubuh dan teknologi manusia. Menciptakan sebuah edukasi yang menyenangkan yang berbasiskan sistem dan teknologi yang canggih serta mengenalkan kepada masyarakan tentang ilmu pengetahuan sains yang baru dan modern. Edutainment merupakan tempat yang di desain secara canggih, serta memberikan suasana seperti belajar untuk masa depan.
THE DYNAMIC OF ADAPTIVE SHELTER: SEBUAH WADAH ADAPTIF-DINAMIS DI KAMPUNG NELAYAN, KAMAL MUARA Fransisca Handayani; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10752

Abstract

"Dwelling" basically means living in a place. However, Dwelling itself has a broader meaning when we understand how humans decided to inhabit. In the book The Nature of Order, Christopher Alexander says "Dwelling is Living-Structure" which means to live is a life participating in a living-structure. This quote directly describes a relationship between nature and humans in the process of living. Seeing the conditions that exist in the world today, there are many aspects that can affect the way humans will live in the future. One of the problems that humans have to face is climate change which causes sea level rise. Realizing that humans must face these events and know that in reality, humans cannot be separated from their natural surroundings, "The Dynamic of Adaptive Shelter" was designed with the aim of wanting to unite aspects of habitation (especially nature and humans) as well as provide solutions for buildings that are adaptive to sea level rise. Located in Kamal Muara, North Jakarta, this project begins by studying the selected site, community activities, the shape of the buildings around the site, as well as the natural characteristics around the site, as a method that refers to a quote from Martin Heidegger's book about "the thing It-self". Referring to the results of the selected site, this project is complemented with programs that are suitable for the activities of the residents of the area and have been developed with systems which can adapt to the issue of sea level rise. Keywords:  Adaptive-Dynamic; Coastal; Dwelling; Fishermen ; Sea Level Rise Abstrak“Dwelling” atau Berhuni pada dasarnya memiliki arti hidup pada suatu tempat. Namun Dwelling sendiri memiliki arti yang lebih luas saat kita memahami awal mula manusia memutuskan untuk berhuni. Dalam buku The Nature of Order Christohper Alexander mengatakan “Dwelling is Living- Structure” yang berarti berhuni adalah hidup berpartisipasi dalam Struktur-kehidupan (Living- structure). Kutipan tersebut secara langsung menggambarkan sebuah keterkaitan antara alam dan manusia dalam menuju proses berhuni. Melihat kondisi yang ada didunia saat ini banyak aspek yang dapat mempengaruhi cara manusia berhuni dimasa depan. Salah satu permasalahan yang harus dihadapi manusia adalah perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Menyadari bahwa manusia harus menghadapi peristiwa tersebut dan mengetahuni bahwa pada dasarnya dalam proses berhuni manusia tidak terlepas dari alam sekitarnya, “Wadah Adaptif- Dinamis” dirancang dengan tujuan ingin mempersatukan aspek-aspek berhuni (khususnya alam dan manusia) dan juga memberikan solusi akan bangunan yang adaptif akan kenaikan permukaan air laut. Berlokasi di Kamal Muara, Jakarta Utara proyek ini diawali dengan mempelajari site terpilih, aktivitas masyarakat, bentuk bangunan sekitar tapak, dan juga karakteristik alam sekitar tapak, sebagaimana metode yang mengacu pada kutipan buku Martin Heidegger tentang “the thing It-self”. Mengacu pada hasil analisis tapak terpilih, proyek ini dilengkapi dengan program-program yang sesuai dengan aktifitas penduduk daerahnya dan telah dikembangkan dengan sistem-sistem yang mana dapat beradaptasi dengan kondisi alam sekitar dan menjawa isu akan kenaikan permukaan air laut.
FASILITAS KREATIF DIGITAL TEKNOLOGI Samuel Sukamto; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8471

Abstract

The task of Open Architecture aims to know and design a building that can accept all groups of  people, do not see the position or status of the community, conversation was  created  in  it  , and make it the most important thing. This building also has to be visited by local people and can be accessed by anyone and anytime. The most important thing in this Open Architecture is that the building should also make people happy, joyful, not feeling depressed or stressed when being in the design of the building. As we know, digital technology provides a positive and negative impact, access of information easily, learn something useful, play and many more becomes the positive side of digital technology, while the negative side is to make people forget about their surroundings, and able them to connect with the distant, as reported by  Sherry  Turkle  TED. Therefore,  the  purpose  of  this  project  is  to  allow people to develop their  identity  through  their talents/ interests/ potentials  of users, through digital technology, and it certainly creates conversations between users in discussing their respective interests. While the benefits gained from this project is that people can cultivate and analyze sufficient knowledge in gaining equality and in the workplace. This project will have a big impact on the community, because the programs and functions designed or determined can make people interested to come and develop their potential and gain sufficient knowledge. Keywords:  Open Architecture; Sherry Turkle TED AbstrakTugas Open Architecture ini bertujuan untuk mengetahui dan mendesain bangunan yang bisa menerima semua golongan masyarakat, tidak melihat jabatan ataupun status dari masyarakat, percakapan/ konversasi tercipta didalamnya, dan menjadikan nya hal terpenting. Bangunan ini pun juga harus didatangi oleh masyarakat lokal dan dapat diakses oleh siapapun dan kapanpun itu. Yang terpenting dalam hal Open Architecture ini adalah bangunan tersebut harus juga membuat orang bahagia, sukacita, tidak merasa tertekan ataupun stress ketika berada didalam rancangan bangunan tersebut. Seperti yang kita ketahui, digital teknologi memberikan dampak positif serta negatif, mencari informasi, belajar, bermain, dll sebagai sisi positif sedangkan sisi negatif yaitu membuat orang melupakan sekitar nya, dan bisa terkoneksi dengan yang jauh, seperti yang dilansir oleh Sherry Turkle TED. Maka dari itu, tujuan dari proyek ini adalah agar masyarakat: Dapat mengembangkan identitas diri melalui bakat/ minat/ potensi atau  interest  pengguna,  melalui digital teknologi, dan pastinya terciptalah percakapan antara pengguna dalam membahas interest mereka masing-masing. Sedangkan manfaat yang didapat dari proyek ini adalah masyarakat dapat mengolah dan menganalisis pengetahuan yang cukup dalam memperoleh kesetaraan dan kesepadanan didalam dunia kerja. Proyek ini akan berdampak besar bagi masyarakat kota, karena program dan fungsi yang dirancang ataupun ditentukan bisa membuat masyarakat tertarik untuk datang dan mengembangkan potensi mereka serta mendapatkan pengetahuan yang cukup.
SEAWEED CHRONICLE: SEBUAH PROYEK HIBRIDA ESTETIKA & INDUSTRI RUMPUT LAUT DI PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU, INDONESIA Gabrielle Nadine Cahya Mulya; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12382

Abstract

As an area close to Indonesia’s capital city, Thousand Island have both nature and human ecosystem problems. From a nature perspective, the high levels of carbon produced by human activities in the capital cause marine pollution and imbalance of the Java Sea ecosystem. Meanwhile, from a human perspective, the high dependence of the people of the Thousand Islands on the capital city to meet their daily needs has made it difficult for the quality of life and the local economy to develop. In addition, the Thousand Islands has potential to grow seaweed, but didn’t catch local people’s interest because of the low selling value due to a lack of knowledge on how to process seaweed properly. The author designed the ‘Seaweed Chronicle : An Industrial and Aesthetic Hybrid Project’ which aims to solve the problems of the Thousand Islands, especially Pari Island, with the principles of ecological architecture. The industrial program utilizes an abundance of seaweed commodities to be processed into daily necessities for the community to improve the quality of life. The application of the theme 'beyond ecology' in the form of a program to appreciate the aesthetics of seaweed, which aims to change the human perspective to appreciate and appreciate the existence of other creatures (not just objects that are enslaved, but as subjects that are equal to humans) so as to increase awareness of nature. The program details for the project are industrial workshops (processing seaweed into paper, plastics, fertilizers, building materials, and furniture), seaweed development galleries (consisting of painting galleries, aquariums, seaweed appreciation with light, sea waves, time travel, and reflection), restaurants, educational stages, and stalls selling seaweed products. The project can be enjoyed by the people of Pari Island as well as attracting tourists. Keywords: aesthetic; ecology architecture; industry; seaweedAbstrakSebagai daerah yang berdekatan dengan ibukota Jakarta, Kepulauan Seribu memiliki permasalahan ekosistem alam dan manusia. Dari segi alam, tingginya kadar karbon akibat aktivitas manusia di ibukota menyebabkan pencemaran laut dan rusaknya keseimbangan ekosistem Laut Jawa. Sedangkan dari segi manusia, tingginya ketergantungan masyarakat Kepulauan Seribu terhadap ibukota Jakarta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menyebabkan kualitas kehidupan dan ekonomi setempat sulit berkembang. Selain itu, Kepulauan Seribu memiliki potensi budidaya rumput laut, namun kurang diminati masyarakat karena nilai jual rendah akibat kurangnya pengetahuan cara mengolah rumput laut. Penulis merancang proyek ‘Seaweed Chronicle : Sebuah Proyek Hibrida Estetika & Industri Rumput Laut’ yang bertujuan menyelesaikan permasalahan Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Pari, dengan prinsip arsitektur ekologi dan menyatukan fungsi estetika dan industri. Program industri memanfaatkan komoditas rumput laut yang melimpah untuk diolah menjadi barang kebutuhan sehari-hari masyarakat guna meningkatkan kualitas hidup. Penerapan tema ‘beyond ecology’ berupa program penghayatan estetika rumput laut yang bertujuan mengganti cara pandang manusia agar lebih menghayati dan  menghargai keberadaan makhluk lain (bukan hanya sekedar objek yang diperbudak, namun sebagai subjek yang setara dengan manusia) sehingga meningkatkan kepedulian terhadap alam. Rincian program pada proyek adalah workshop industri (pengolahan rumput laut menjadi kertas, plastik, pupuk, material bangunan, dan furniture), galeri penghayatan rumput laut (terdiri dari galeri lukisan, aquarium, penghayatan rumput laut dengan cahaya, gelombang laut, perjalanan waktu, dan refleksi), restoran, panggung edukasi, dan kios penjualan hasil rumput laut. Proyek dapat dinikmati oleh masyarakat Pulau Pari sekaligus menarik wisatawan.
AIR-CHITECTURE: SEBUAH DESAIN BANGUNAN DENGAN PURIFIKASI UDARA SECARA TEKNIS DAN PUITIS DALAM KONTEKS BERHUNI Nicholas Andreas Wibowo; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10748

Abstract

The world has evolved rapidly since the time of the industrial revolution, this progress has also been followed by destruction of nature. Jakarta has the worst air quality compared to other cities. Most of Jakartans are continuously exposed to air pollution because of its mobile lifestyle. Air pollution has claimed lives all over the world, not excluding Jakarta, where people will be faced with deteriorating health, respiratory diseases, and unsecured survival. This makes air pollution an unavoidable threat, which will only grow worse in the future. A question of survival arises, can architecture help humans dwells the city with air pollution? The answer to this question is the main goal of this project;  Creating dwelling vessels for city dwellers to be purified from air pollution. Perceptions and the environment needs to be purified from pollution in order to achieve the ideal dwelling. The purification must be able to reach humans from its basic essence, the physical aspect (body) and the non-physical aspect (mind); which means that purification in architecture needs to be carried out in two ways; technically and poetically, where technical purification means creating air free from pollution, and poetic purification means creating experiences that frees the mind from 'pollution'. Through this experience, it is hoped that humans can re-interpret the crucial role of the environment and clean air in the process of dwelling, as well as respecting and protecting the environment. Because when a man thinks of the mortality of mankind, therefore he’ll nurture the sacred mortality of lifes. Keywords:  Architecture; Air; Dwelling; Pollution; PurificationAbstrakDunia tempat tinggal manusia telah berkembang pesat sejak masa revolusi industri, namun kemajuan ini juga diikuti oleh kerusakan alam yang mematikan. Jakarta adalah titik polusi udara terparah di Indonesia dimana sebagian besar penduduknya selalu terpapar polusi udara karena gaya hidupnya yang bermobilitas tinggi. Polusi udara telah merenggut banyak jiwa di seluruh dunia, tidak terkecuali Jakarta, dimana di masa depan penduduknya akan dihadapi oleh kesehatan yang memburuk, penyakit pernafasan, hingga kelangsungan hidup yang tidak terjamin. Hal ini menjadikan polusi udara sebagai ancaman yang tidak dapat dihindari yang hanya akan memburuk kedepannya. Timbul sebuah pertanyaan tentang kelangsungan hidup, dapatkah arsitektur membantu manusia berhuni di tengah kota dengan polusi udara? Jawaban dari pertanyaan inilah yang menjadi tujuan dari tulisan ini; Menciptakan wadah berhuni bagi penduduk kota untuk dimurnikan dari polusi udara. Persepsi dan Lingkungan manusia perlu dimurnikan dari polusi untuk dapat mencapai proses berhuni yang ideal.  Proses purifikasi harus dapat menjangkau manusia dari esensi dasarnya, yaitu aspek fisik (tubuh), dan aspek non-fisik (pikiran); yang berarti purifikasi dalam arsitektur perlu dilakukan dalam 2 cara, yaitu secara teknis dan secara puitis, dimana purifikasi teknis berarti menciptakan udara bersih bebas dari polusi, dan purifikasi puitis berarti menciptakan pengalaman yang menjernihkan pikiran dari ‘polusi’. Melalui pengalaman purifikasi ini, diharapkan manusia dapat kembali memaknai peran krusial dari lingkungan dan udara bersih dalam proses berhuni, juga menghormati dan menjaga lingkungan. Karena ketika manusia sadar akan kefanaan bumi dan dirinya, niscaya ia akan menjaga kelangsungan hidup dalam kefanaannya.