Alvin Hadiwono
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

RUANG KESADARAN DIALEKTIK, MAMPANG PRAPATAN, JAKARTA SELATAN Angelita Permatasari Angkola; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10730

Abstract

Living in the middle of the hustle and bustle of urban modernization, a high city lifestyle, dense environmental conditions, and the demands of work make people feel psychological pressure, so that the risk of stress in urban areas increases. In addition, rapid technological advances make it easier for metropolitan citizen to get stressors (stressful situations). This makes it more difficult for individuals to deal with stress due to social, economic and environmental demands that continue to affect our surroundings. When the citizen often under prolonged stress, it can cause mild mental disorders such as depression and anxiety disorders. Urban stress is not only caused by a person's personal condition but can also be caused by cities that are not supported by facilities and infrastructure for psychological comfort in urban areas.Therefore, the project "Dialectic Healing Space – Ruang Kesadaran Dialektik" seeks to create a space that becomes a place for therapy to various urban fatigue and busyness. A space that can be an emotional expression for those who experience stress. This design proposes is as a recreational space in the form of a spatial experience that can influence the senses and emotions of visitors through various dialectical media dedicated to achieving the healing process as a form of positive response to help reduce stress levels in the metropolitan by approaching the five senses, physical and psychological interactions of visitors. Keyword: dense city activity; metropolitan; psychological; recreational space; stress ABSTRAKHidup ditengah hiruk piruknya modernisasi perkotaan, gaya hidup yang tinggi, kondisi lingkungan yang padat, dan tuntutan pekerjaan membuat orang merasakan tekanan secara psikologis hingga semakin bertambahnya risiko stres terhadap masyarakat perkotaan. Selain itu, kemajuan teknologi yang pesat menyebabkan masyarakat metropolitan lebih mudah mendapatkan stressor (situasi penuh tekanan). Hal ini menyebabkan semakin sulitnya individu untuk menghadapi stres karena tuntutan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terus mempengaruhi di sekitar kita. Apabila mengalami stres berkepanjangan dapat mengakibatkan gangguan jiwa ringan seperti depresi dan gangguan kecemasan. Stres perkotaan tidak hanya disebabkan oleh kondisi personal seseorang namun juga dapat disebabkan oleh perkotaan yang tidak didukung dengan sarana dan prasarana untuk kenyamanan psikologis di perkotaan. Oleh sebab itu, proyek “Dialectic Healing Space – Ruang Kesadaran Dialektik” ini berusaha untuk mewujudkan ruang yang menjadi tempat untuk “terapi” dari berbagai kepenatan dan kesibukan perkotaan. Ruang yang dapat menjadi pengekspresian emosi bagi mereka yang mengalami stres. Desain ini mengusulkan wadah rekreasi berupa pengalaman ruang yang dapat mempengaruhi panca indera dan emosi pengunjung melalui berbagai media dialektik yang didedikasikan untuk mencapai proses healing sebagai bentuk dari respon positif membantu mengurangi tingkat stres pada masyarakat metropolitan dengan melakukan pendekatan melalui panca indera, interaksi fisik dan psikologis pengunjung. Rancangan menggunakan pendekatan melalui metode biophilic design.
TEMPAT PENGEMBANGAN GRIT Hans Jonathan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8591

Abstract

One of the problems in human life is individualism. This is because humans spend too much time at work and at home, so they rarely do social activities, along with the existence of social media that causes people to socialize with each other. This particular problem will be discussed in "Open Architecture as Third Place" project, which discusses how to create a third place as a place for people to socialize with each other and also as a public information space. The issue raised in this project is about "Grit" where people can learn how to grow grits within themselves to achieve the goals they want to achieve in the future. The project location is on Jalan Tanjung Duren Utara. This site is quite strategic for this third place project because it is close to First Place and Second Place where this project can become a permeability. This third place project is wished for people to be able to grow grits in themselves so that they can achieve their goals in their lives and can achieve their life goals that they have set. The method used in research is Field Survey, Literature Study, and Precedent Study. The results obtained are the design of the building as a "Grit Improvement Space". The main program in this project is the Experimental Room, Workshop, and Exhibition along with the supporting programs namely Co-Working Space, Library, and Late Night Street Food. Keywords: grit; human; permeability; social  AbstrakPermasalahan dalam kehidupan manusia salah satunya individualisme. Hal ini disebabkan karena manusia terlalu banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja dan di rumah, maka orang akan jarang sekali melakukan kegiatan sosial. Dengan adanya media sosial juga menyebabkan manusia bersosialisasi satu sama lain. Permasalahan utama yang akan dibahas di proyek ini adalah "Open Architecture sebagai Third Place" yang membahas bagaimana cara menciptakan tempat ketiga sebagai tempat untuk manusia saling bersosialisasi satu sama lain dan juga sebagai tempat publik informasi. Isu yang diangkat dalam proyek ini adalah mengenai "Grit" dimana orang dapat belajar cara menumbuhkan grit di dalam dirinya untuk mencapai goals yang mereka ingin capai di masa depan. Lokasi proyek berada di Jalan Tanjung Duren Utara. Tapak ini cukup strategis untuk proyek third place ini karena berdekatan dengan First Place dan Second Place sehingga proyek ini dapat menjadi rembesan (permeabilitas). Di proyek third place ini diharapkan orang bisa menumbuhkan grit dalam dirinya sehingga mereka bisa mencapai targetnya dalam hidup mereka dan dapat mencapai tujuan hidupnya yang telah mereka tentukan.  Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Survey Lapangan, Studi Literatur, dan Studi Preseden. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perancangan bangunan sebagai "Tempat Pengembangan Grit". Program utama dalam proyek ini adalah Experimental Room, Workshop, dan Pameran. Lalu juga ada program pendukung yaitu Co - Working Space, Library, dan Late Night Street Food.
FLYING FOX TECHNOSPHERE: WISATA DAN PENANGKARAN KELELAWAR DI TAPANGO, SULAWESI BARAT Julius Julius; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12315

Abstract

Humans with all the advancements in science and technology, facilitate all kinds of processes in various kinds of activities. The comfort provided has had a profound impact since the days of the industrial revolution. But with all the damage, there are also many impacts caused by this development. Environmental pollution and unpredictable climate change are global problems facing the world. Some of the main causes are pollution generated from various industries and transportation. This causes disruption of environmental ecosystems and other living things. Indonesia consists of many islands with various uniqueness in it, ranging from language, culture, and living things in it. One of the living things that are threatened with extinction due to environmental changes and the actions of liar hunters are bats. Fruit bats or Flying Fox are endemic animals to Sulawesi that have various important roles in the environment behind the bad perception of humans towards these creatures. The presence of bats in plantation and forest areas can improve fruit quality because of its role as cross-pollinating agents. This bat with the Latin name Acerodon Celebensysis is only found in the Sulawesi archipelago and lives side by side with the community and has a relationship with local culture. However, the bad perception of bats that have a bad impact on health and also the hunting of liars by the community to be used as food has caused the population to decline. An approach is needed to help this endemic animal population and also increase people's insight to get to know Kalong and rectify bad perceptions about this endemic animal of Sulawesi. Keywords:  acerodon celebensys; bad perception; fruit bats; pollution; population. AbstrakManusia dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, memudahkan segala macam proses dalam berbagai macam kegiatan. Kemudahan yang diberikan ini memiliki dampak yang sangat besar sejak zaman revolusi industri. Namun dengan segala kemudahannya, banyak juga dampak negatif yang dihasilkan dari perkembangan ini hingga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang mempengaruhi keseimbangan dalam lingkungan. Salah satu makhluk hidup yang terancam punah akibat perubahan lingkungan, dan tindakan perburuan liar adalah Kalong yang merupakan hewan endemik kepulauan Sulawesi. Untuk mengurangi dan meminimalisir tindakan manusia yang merusak alam, perlu pendekatan dalam penyampaian informasi mengenai pentingnya kehidupan sesama makhluk hidup. Metode yang digunakan adalah pendekatan persepsi yang menggunakan media spasial sebagai bentuk pennyampain informasi. Metode ini diterapkan dalam elemen-elemen pembentuk ruang untuk mencirikan kehidupan Kalong seperti material yang digunakan dalam penyusunan ruang dan tata ruang yang digunakan. Tujuan dari metode ini adalah untuk membuka pemikiran manusia dalam memandang kehidupan makhluk hidup lain serta menyampaikan informasi mengenai peranan makhluk hidup lain dalam ekosistem. Kalong sendiri dipandang oleh masyarakat sebagai hewan pembawa penyakit, sedangkan perannan dari kalong sendiri adalah membantu pelestarian kehidupan hutan. Hasil dari metode ini adalah pembentukan massa bangunan yang mengambil pola dasar pergerakan kelelawar dalam satu ruang sebagai bentuk dari massa bangunan, kemudian menggunakan material penyusun ruang dengan bahan-bahan yang berasal dari habitat kelelawar serta program wisata penangkaran yang bertujuan untuk membantu Kalong sulawesi agar tidak punah dengan cara memelihara dan mengembangbiakannya.
RUANG REFLEKSI DIRI Jeremy Marshall; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6873

Abstract

One common problem today is the lack of a Third Place gathering place that is a place other than home (First Place) and an office (Second Place), so that Third Place is made as a place for people to gather, feel calm, and avoid the saturation of daily habits, namely first place and second place issues that exist today in daily activities that cause people to become unproductive, namely the problem of stress, without us knowing, now the problem of stress has been experienced by anyone, not affected by age, because there are many stressors , so that it is a problem that is experienced by everyone, and can be one of the targets that must be overcome to create people who have good lifestyles and productive in doing something, the design goals of this project itself are also made to address current global issues , starting from the region that is most affected by the issue of stress, because it has many things becoming a trigger for someone to become stressed, this can create a project that can be a place for people to gather and overcome the issues of stress that affect this life together, this stress issue can also be overcome by changing the stressed population to join the Wellbeing or welfare program individuals, according to the CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Wellbeing can improve physical and spiritual health based on the results of positive activities carried out by an individual or group that is continuously carried out, so that it can have a big impact such as, the habits of someone who will do good activities, application of 5 ways to wellbeing is a theory used to improve one's life habits for the better, and this can be maximized with programs related to activities in nature based on the book The Tao of Architecture, the method used is also based on typology methods, by applying design based on common formations that can be fun, and soothing to relieve the stress of visitors, and the Spatial Relations method used to provide a unique design that does not yet exist from combining the formation of healing patterns, with a pleasant pattern formation. Therefore the Retreat can have a pleasant and interesting impact on the community to carry out positive activities to make the population have a better life. A place that has many natural elements has a function to calm a person, so that person can become calm. Abstrak Salah satu masalah yang umum saat ini adalah kurangnya tempat berkumpul Third Place yaitu tempat selain rumah (First Place) dan kantor (Second Place), sehingga Third Place dibuat sebagai tempat orang berkumpul, merasa tenang, dan terhindar dari kejenuhan kebiasaan sehari hari, yaitu first place dan second place isu yang ada saat ini dalam kegiatan sehari hari yang menyebabkan orang menjadi tidak produktif, yaitu masalah stress, tanpa kita sadari, saat ini masalah stress sudah dialami oleh siapa saja, tidak terpengaruh oleh umur, karena terdapat banyaknya faktor faktor pemicu stress, sehingga hal itu merupakan masalah yang dialami oleh semua orang, dan dapat menjadi salah satu target yang harus diatasi untuk menciptakan manusia yang memiliki pola hidup baik dan produktif dalam mengerjakan sesuatu, tujuan desain proyek ini sendiri juga dibuat untuk mengatasi isu global yang ada saat ini, dimulai dari kawasan yang paling merasakan pengaruh isu stress ini, karena memiliki banyak hal yang menjadi pemicu seseorang menjadi stress, hal ini dapat menciptakan proyek yang dapat menjadi tempat orang untuk berkumpul dan mengatasi isu stress yang mempengaruhi kehidupan ini secara bersama sama, isu stress ini juga dapat diatasi dengan cara mengubah penduduk yang mengalami stress untuk mengikuti program Well being atau kesejahteraan individu, menurut CDC (Centers for Disease Control And Prevention), Well being dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani berdasarkan hasil dari kegiatan positif yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok yang terus menerus dilakukan, sehingga dapat memberikan dampak besar seperti kebiasaan seseorang yang akan melakukan kegiatan kegiatan yang baik, penerapan 5 ways to well being merupakan teori yang digunakan untuk memperbaiki kebiasaan hidup seseorang menjadi lebih baik, dan hal ini dapat dimaksimalkan dengan program yang berhubungan dengan aktivitas di alam berdasarkan buku The Tao of Architecture, metode yang digunakan juga berdasarkan metode tipologi, dengan cara menerapkan desain berdasarkan bentukan bentukan umum yang dapat menyenangkan, dan menenangkan untuk meredakan stress pengunjungnya, dan metode Spatial Relation yang digunakan untuk memberikan desain unik yang belum ada dari penggabungan bentukan bentukan pola healing, dengan pola bentukan yang menyenangkan. Oleh karena itu tempat Retreat dapat memberikan dampak kesan menyenangkan dan menarik masyarakat untuk melakukan kegiatan kegiatan positif untuk menjadikan penduduk menjadi memiliki hidup yang lebih baik. Tempat yang memiliki banyak unsur alam memiliki fungsi untuk menenangkan pikiran seseorang, sehingga pikiran seseorang dapat menjadi tenang. 
CHROMA TRANS-PUAN : RUANG KOMUNITAS DAN REFLEKSI DIRI Khalik Arif Thahara; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16934

Abstract

Transwomen or what we usually hear as transgender, becong or sissy are humans who are born with male sex but they choose a different way of life from men in general. These different choices of way of life often get discriminatory actions against trans women, acts of discrimination against trans women continue to increase every year. This shows that it is difficult for them to find a safe place for them, by rethinking the typology to build a safe space and community center for them. By combining the typology of safe space, post-traumatic design & phenomenology taken from the lifestyle of transwomen who live communally, it is an effort to build a community place for them to develop and feel safe through architectural media. Chroma is an embodiment of a user's perspective on trans women where they can reflect on themselves that trans women are just like them, humans. Keywords:  Trans woman; Discrimination; Safe Space; Chroma; Self Reflection AbstrakTranspuan atau yang biasa kita dengar dengan sebutan waria, bencong atau banci merupakan manusia yang terlahir dengan jeis kelamin laki-laki namun mereka memilih jalan hidup yang berdeda dengan laki-laki pada umumnya. Pilihan jalan hidup yang berbedea ini kerap mendapatkan tindakan diskriminatif terhadap kaum transpuan, tindakan diskriminasi terhadap kaum transpuan terus meningkat setiap tahunya. Hal ini menunjukan bahawa mereka sulit menemukan tempat aman bagi mereka, dengan berfikir ulang tentang tipologi untuk membangun sebuah safe space dan community centre untuk mereka.  Dengan menggabungkan tipologi dari safe space, post traumatic design & fenomenologi yang diambil dari pola hidup transpuan yang hidup secara communal merupakan sebuah upaya untuk membangun sebuah tempat komunitas untuk mereka berkembang dan merasakan aman melalui media arsitektur. Chroma merupakan sebuah perwujudan dari sebuah perspektif pengguna terhadap transpuan dimana mereka dapat merefleksikan diri bahwa transpuan juga sama sperti mereka, manusia. 
PUSAT PENANGANAN OBESITAS BERBASIS KARAKTER INDIVIDUAL Chessa Chrysantha; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4434

Abstract

Obesity is one of the world's pandemic problems for which it's cure is still underestimated. With the increasing amount of people with obesity, and the evolving of time, a facility to handle obesity problems according to the behaviour and attitude of present generations is needed. According to the American Psychological Association, a person's behaviour and character could have an influence on their weight. Nowadays, treatment of obesity is mostly about physical treatment only. It causes a patient's treatment to not be effective for long-term weight loss. Because of that, a facility that focuses on both physical and psychological treatment for patients is needed, so that the result can be maximal and lasts longer. The intended facility design prioritize patients psychological condition without putting physical condition aside. The design use Lewis Goldberg’s Five Factor Model mostly for the main programs, especially the personalities that has been verified as a cause of obesity. Each personalities would be translated as treatment rooms. Public facilities was also included in the design process for patient’s interaction and social therapy. Other main goal of the project is to raising people’s concern about obesity and the dangerous effects of it. AbstrakObesitas merupakan salah satu problem pandemik dalam dunia yang pengobatannya masih dipandang sebelah mata. Dengan jumlah penderita yang terus bertambah, dan jaman yang semakin berkembang, untuk itu diperlukan sebuah fasilitas untuk menangani masalah obesitas seiring dengan perilaku dan sikap generasi sekarang. Menurut American Psychological Association, sikap dan karakter seseorang dapat mempengaruhi berat badannya. Saat ini, penanganan obesitas hanya terpaku pada penanganan fisik saja. Hal itu menyebabkan pengobatan yang dilakukan pasien akan menjadi tidak efektif untuk penurunan berat badan jangka panjang. Karena itu, dibutuhkan sebuah fasilitas yang memfokuskan kepada pengobatan fisik dan psikologis pasien, sehingga hasil pengobatan dapat menjadi lebih maksimal dan berjangka panjang. Fasilitas penanganan obesitas yang dimaksud berupa perancangan sebuah fasilitas yang memprioritaskan hanya kepada para penderita obesitas dan berfokus kepada psikologis pasien tanpa mengesampingkan kondisi fisik pasien. Rancangan fasilitas ini menggunakan metode pengelompokkan kepribadian manusia menurut Lewis Goldberg, kemudian masing-masing kepribadian yang cocok dengan penyebab meningkatnya jaringan adiposa tubuh akan diterjemahkan menjadi ruang-ruang pengobatan dan kebutuhan pasien. Ruang-ruang publik juga ditambahkan dalam proses desain dengan harapan agar para penderita dan publik dapat berinteraksi sekaligus sebagai salah satu sarana terapi sosial. Dengan adanya pusat pengobatan yang berfokus kepada obesitas, diharapkan tingkat kewaspadaan masyarakat meningkat terhadap bahaya obesitas dan para penderita obesitas tidak merasa tersingkirkan.
RUANG TRANSIT PENGEMBARA DIGITAL DI DAERAH BLOK M, JAKARTA Brandon Chandra; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10767

Abstract

Human life in the future, not far from technology, technology encourages humans to adapt to their life patterns. Technology affects the working system, where the term Digital Nomad, or what can be called digital nomads, appears, those who work by moving places, by utilizing technology so that everything can be done only with an internet connection and electronic devices. The term Digital Nomad is not far from inhabited, because it talks about lifestyle, the problem of moving life patterns like this, creating empty spaces which must be filled according to the seasons, and according to the needs of workers, who must be able to answer places to live in, work, run hobbies, and playing, therefore, the focus of this project is to answer the problem of living in, as well as indirectly making a public place for local people to know the term Digital Nomad. By being located in Blok M which is a creative location with a TOD (Transit Oriented Development) system that focuses on being the best environment for pedestrians who maximize walking territory, thus supporting projects to be useful and can be enjoyed by Digital Nomads and local people who want to know and learn, and still  paying attention to the contextual value of Blok M, in the year 2035. By determining the pattern of life, so the goals of this project will be achieved.Keywords: Blok M; Dwelling; Digital Nomad; TOD AbstrakKehidupan manusia dimasa yang akan datang, tidak jauh dari teknologi, teknologi mendorong manusia untuk beradaptasi dengan pola hidupnya. Teknologi mempengaruhi sistem dalam bekerja, dimana muncul istilah Digital Nomad, atau bisa disebut pengembara digital, mereka yang bekerja dengan berpindah tempat, dengan memanfaatkan teknologi sehingga semua bisa dilakukan hanya dengan bermodalkan koneksi internet dan alat elektronik. Istilah Digital Nomad tidak jauh dari berhuni, karena berbicara tentang pola hidup, permasalahan dari pola hidup berpindah ini, menciptakan ruang ruang kosong dimana harus diisi sesuai dengan musim, dan sesuai dengan kebutuhan para pekerja, yang harus bisa menjawab tempat berhuni, bekerja, menjalankan hobi, dan bermain, maka dari itu, fokus dari proyek ini menjawab permasalahan berhuni , juga secara tidak langsung menjadikan tempat untuk masyarakat lokal mengetahui istilah Digital Nomad. Dengan berlokasi di Blok M yang merupakan lokasi kreatif dengan sistem TOD (Transit Oriented Development) berfokus untuk menjadi tempat yang tepat bagi pejalan kaki yang memaksimalkan pedestrian, sehingga mendukung proyek agar menjadi bermanfaat dan bisa dinikmati oleh Digital Nomad dan masyarakat lokal yang ingin belajar dengan tetap memperhatikan nilai kontekstual dari Blok M, di tahun 2035. Dengan merumuskan pola hidup para pengembara maka dapat tercapai tujuan akhir proyek ini.
RUMAH SENI RUANG TERAPI Herman Suyudhi; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8592

Abstract

Stress and Depression are problems that often occur in people's lives. One of the causes is one’s habit in spending most of their time working and resting at home and without social activities that can be done every day with other individual, furthermore with the existence of social media that makes humans able to communicate with electronic devices and not meeting directly. The main issue is "Open Architecture as a Third Place" which discusses how to create a place that can become a Third Place as a gathering place for communities to socialize and as an informal public place. Another issue raised is the Art of Therapy as an Access to mental changes in society which increases stress levels differently by using images in form, combining thoughts with one another, struggling alone through an object, movements that can be united with images can be made into an art performance space. The project location is on Jalan RS. Fatmawati Raya in South Jakarta, West Cilandak, which is known as one of the areas that are dominated by offices with high levels of stress and depression. The aim of this project is to create a Third Place that can be a gathering place for the community to provide comments and interaction space using seniors. The research methods used in this research are Field Survey, Literature Study and Precedent Study. The research results obtained are the design of the building as "House of Art Space Theraphy". The main programs in this project are Planting, Lounge, Drawing Art in Sand, FoodCourt, 3D Installation, Chalkzone Wall, Free Drawing Workshop, Acrylic Art Exploration, Floor Drawing and Art Gallery, Listening Pictures and Self-Recognition Reflections that want to be shown to seniors who are all what humans do arising from feelings of life and moving beautifully so as to divert human feelings to improve themselves. Keywords: art; community; mental; stress; third placeAbstrakStress dan Depresi merupakan permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh salah satunya kebiasaan manusia dalam menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja dan beristirahat di rumah dan tanpa adanya kegiatan sosial yang dapat rutin dilakukan setiap hari dengan sesamanya, apalagi dengan adanya media sosial yang membuat manusia dapat berkomunikasi hanya dengan perangkat elektronik dan tidak bertemu secara langsung. Isu utama yang diangkat adalah “Open Architecture sebagai Third Place” yang membahas tentang bagaimana menciptakan sebuah tempat yang dapat menjadi Third Place sebagai tempat berkumpulnya komunitas masyarakat untuk bersosialisasi dan sebagai tempat publik informal. Isu lain yang di angkat adalah Seni Terapi sebagai Akses perubahan mental masyarakat yang mengalami tingkat stress berbeda dengan menggunakan seni dalam bentuk gambar, membagikan pikiran satu sama lain, menyadari diri melalui suatu objek, gerakan yang dapat disatukan dengan gambar dapat di jadikan ruang pentas seni. Lokasi proyek berada di Jalan RS. Fatmawati Raya di Jakarta Selatan, Cilandak Barat, yang dikenal sebagai salah satu kawasan yang di dominasi dengan perkantoran dengan tingkat stress dan depresi yang tinggi. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan sebuah Third Place yang dapat menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berkomunitas dan ruang interaksi dengan menggunakan seni secara primer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survey Lapangan, Studi Literatur dan Studi Preseden. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perancangan bangunan sebagai “Rumah Seni Ruang Terapi”. Program utama dalam proyek ini yaitu Planting, Relaxing Space, Drawingin Sand, FoodCourt, Instalation 3D, Chalkzone Wall, Free Drawing Workshop, Exploration Art Acrylic, Floor Drawing dan Art Gallery, Listening Drawing and Reflection Get to Know Self yang bertujuan untuk menghadirkan seni yang merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia untuk memperbaiki diri.
HOUSE OF BLACK SOLDIER FLIES PETERNAKAN DAN GALERI EKOSISTEM LALAT TENTARA HITAM Mikael Morgan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12311

Abstract

The Bantar Gebang Integrated Waste Disposal Site (Bantar Gebang Landfill) is the largest landfill in Asia. This unique ecosystem is born from millions of garbage which include mountains of inorganic and organic waste, thousands of scavengers, and millions of flies. However, the ecosystem in this landfill has not worked well, the components in the ecosystem still work independently and do not work in mutualism way. The program is present with the aim of maximizing the existing ecosystem in this landfill, by making the components as one unit. Such as the Black Soldier flies breeding program which is made from organic waste, a waste workshop for the scavengers, and an information gallery about flies and garbage for the outside people. Processing organic waste naturally (using Black Soldier flies), make this program is very environmentally and ecologically friendly. Design methods such as sustainability and biomimicry are used to produce projects that care about the environment, and target the psychological level of the people. By doing so, the project is expected to be able to help overcome the problem of organic waste in the Bantar Gebang Landfill, as well as open up public knowledge about waste management. Keywords: Bantar Gebang Landfill; disposal; flies, scavengers; waste.AbstrakTempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang merupakan TPST terbesar se-Asia. Ekosistem yang unik lahir dari jutaan sampah yang meliputi gunungan sampah organik anorganik, ribuan pemulung, serta jutaan lalat. Akan tetapi, ekosistem di TPST ini belum bekerja dengan baik, antar komponen dalam ekosistem masih bekerja sendiri-sendiri dan tidak bekerja secara mutualisme. Program hadir dalam tujuan memaksimalkan ekosistem yang ada di TPST ini, dengan menjadikan antar komponen sebagai satu kesatuan. Seperti program peternakan lalat BSF yang berbahan dasar sampah organik, workshop sampah bagi para pemulung, dan galeri informasi mengenai lalat dan sampah bagi masyarakat luar. Mengolah sampah organik secara alami (menggunakan lalat BSF), maka program ini menjadi sangat ramah lingkungan dan ekologis. Metode perancangan seperti keberlanjutan dan biomimikri dipakai untuk menghasilkan proyek yang peduli terhadap lingkungan, serta menargetkan pada tingkat psikologis masyarakat. Dengan begitu, proyek diharapkan dapat membantu mengatasi masalah sampah organik di TPST Bantar Gebang, serta membuka wawasan masyarakat luas tentang pengolahan sampah.
RUANG ASIMILASI BUDAYA JEPANG TRADISIONAL DAN MODERN Meinius Erwin; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6875

Abstract

Japanese culture is a Indonesian colonizer’s culture that most stand out and preffered than other Indonesian colonizer’s culture like Netherlands, England, Spanish, and Portuguese. In the other hand, the local value of Indonesia preffered to be left out because Indonesian preffered the foreign culture. The Japanese that followed modern western culture without leaving their original culture can be an example for Indonesian not to lose their local values so that this project designed for Indonesian still can consume and learn Japanese Culture without forget their local culture. The space for make that happen starts from the daily life of people related to third place. The design method for this design based on the site existing as a basic for building mass with the purpose of using the existing one like as thought by Louis Isadore Kahn. Edutown BSD is the right location to design a proposed project entitled Japan Cultural Hybrid Space because there are various buildings with different functions like shopping centers, entertainment, and education, and culturally there are Japan and Indonesia; Edutown BSD is planned to be an education and research center that is integrated with shopping centers, recreation, and other needs so that it supports the project design in the form of assimilation space. The design results in the form of buildings with material and physical form follow Japan / modern while non-physical is more on Indonesian culture because locality is not merely displaying physical form, so that the meaning of design title does not reflect Japanese culture exclusively.  AbstrakKebudayaan Jepang adalah kebudayaan negara penjajah Indonesia yang paling menonjol dan cukup diminati dibanding dengan negara penjajah Indonesia lainnya seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis sementara nilai-nilai lokal Indonesia cenderung ditinggalkan karena orang Indonesia lebih cenderung memilih budaya luar dibanding budaya lokal. Sikap Jepang yang mengikuti budaya modern dari barat tanpa meninggalkan budaya asal mereka menjadi contoh untuk Indonesia agar tidak kehilangan nilai-nilai lokalnya sehingga proyek ini bertujuan agar Indonesia tetap dapat menikmati dan mempelajari kebudayaan Jepang tanpa melupakan kebudayaan lokal. Wadah untuk mewujudkan hal tersebut dimulai dari keseharian orang-orang terkait third place. Metode perancangan yang digunakan adalah dengan memanfaatkan kondisi eksisting tapak perancangan sebagai dasar pembentukkan massa bangunan dengan maksud memanfaatkan yang sudah ada seperti yang dipikirkan oleh Louis Isadore Kahn. Edutown BSD menjadi lokasi yang tepat untuk dirancang sebuah proyek yang diusulkan yang berjudul Ruang Asimilasi Budaya Jepang Tradisional dan Modern karena terdapat berbagai bangunan dengan fungsi berbeda-beda seperti pusat perbelanjaan, hiburan, dan pendidikan serta secara kebudayaan terdapat Jepang dan Indonesia; Edutown BSD direncanakan untuk menjadi pusat pendidikan dan riset yang diintegrasikan dengan pusat perbelanjaan, rekreasi, dan kebutuhan lainnya sehingga ikut mendukung perancangan proyek berupa ruang asimilasi. Hasil perancangan berupa bangunan dengan material dan bentuk fisik mengikuti Jepang / modern sementara non fisik lebih kepada budaya Indonesia karena lokalitas tidak hanya sekedar menampilkan wujud fisik saja, sehingga pengertian judul perancangan bukan mencerminkan kebudayaan Jepang secara eksklusif.