Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGHADIRAN BALAI DAN REKREASI KAMPUNG NELAYAN CILINCING SEBAGAI TEMPAT KETIGA ATAS SOLUSI MASALAH SOSIAL Ciputra Tri Sutomi; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8649

Abstract

North Jakarta is one of the administrative city from Special Capital Region of Jakarta with all its northern parts limited by the waters of the Java Sea, has great maritime economic potential which certainly does not escape the destination of rapid urbanization. The rich potential of the marine economy which is mostly in the form of ports, warehousing, fisheries, and tourism invites migrants to quickly fill the regions in North Jakarta. Urbanization that is not followed with settlement support facilities results in slums and unorganized areas of community settlements. This phenomenon also occurs in the Cilincing Fishermen Village. This situation contributes to the community's inability to cope with poverty and social conflict. Therefore, Cilincing Fisherman Village Hall and Recreation is presented as a third place that can accommodate various activities of the surrounding community with the aim of helping in solving economic and social problems in the Cilincing Fisherman Village. Provision of the third place as a public space is carried out by the analysis-synthesis method so that the resulting problems and solutions are suitable with the needs of the local community in the hope that it can improve the image of the region and the quality of life of the community through design programs that involve interaction between the local people and outside visitors. a more ideal community is created. Keywords: poverty; public space; social conflict; village hallAbstrakKota Jakarta Utara yang merupakan kota administrasi DKI Jakarta dengan seluruh bagian utaranya dibatasi oleh perairan Laut Jawa, mempunyai potensi ekonomi secara kemaritiman yang besar tentu tidak luput dari tujuan urbanisasi yang pesat. Kekayaan potensi ekonomi kelautan yang sebagian besar berupa pelabuhan, pergudangan, perikanan, dan pariwisata mengundang para migran untuk dengan cepat memenuhi daerah-daerah di Jakarta Utara. Urbanisasi yang tidak diimbangi dengan fasilitas pendukung permukiman menghasilkan daerah-daerah permukiman masyarakat yang kumuh dan tidak teratur. Fenomena ini juga yang terjadi di Kampung Nelayan Cilincing. Keadaan ini menyumbang peran dalam ketidakmampuan masyarakat dari himpitan kemiskinan dan konflik sosial. Maka dari itu, dihadirkan Balai dan Rekreasi Kampung Nelayan Cilincing sebagai sebuah tempat ketiga yang dapat mewadahi berbagai kegiatan masyarakat sekitar dengan tujuan membantu dalam menyelesaikan masalah ekonomi dan sosial di Kampung Nelayan Cilincing. Penyediaan tempat ketiga sebagai ruang publik ini dilakukan dengan metode analisis-sintesis sehingga permasalahan dan solusi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal dengan harapan dapat meningkatkan citra kawasan dan kualitas hidup masyarakat melalui program-program rancangan yang melibatkan interaksi antara orang sekitar dan pengunjung dari luar agar tercipta suatu komunitas masyarakat yang lebih ideal.
WADAH PENCAK SILAT DI JAKARTA Felicia Kawi; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3811

Abstract

Dewasa ini banyak cabang olahraga yang sudah masuk dalam program-program pendidikan di sekolah-sekolah, sehingga mempunyai wadah yang cukup untuk pengembangannya. Kebutuhan masyarakat akan sebuah sarana olahraga merupakan suatu kendala sosial yang dewasa ini banyak mendapat perhatian, khususnya bagi golongan masyarakat pecinta olahraga yang merasakan secara langsung kurangnya fasilitas-fasilitas olahraga tersebut. Perkembangan olahraga di indonesia dapat dikatakan sedang pada puncaknya, tetapi wadah yang menampung pelatihan pencak silat tidak seimbang dengan tingginya minat belajar masyarakat terhadap pencak silat. Maksud dari perancangan proyek ini adalah menyediakan sebuah wadah pertunjukan kesenian pencak silat maupun wadah aktivitas pelatihan olahraga pencak silat ; pelatihan berupa workshop ; dan pameran kebudayaan pencak silat. Menciptakan suatu cultural venue pencak silat yang dominan dengan unsur alam, konteks dengan lingkungan, dan mampu memperlihatkan ciri khas Nusantara agar bisa digunakan juga sebagai destinasi wisatawan pariwisata yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang pencak silat, sebagai wadah aktivitas bela diri pencak silat dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang sebagai jawaban tuntutan perkembangan informasi dan komunikasi sekarang ini.Metode yang digunakan adalah deskriptif dan kualitatif. Metode deskriptif dilakukan dengan memberikan definisi mengenai pencak silat dan minat masyarakat terhadap pencak silat. Metode kualitatif dilakukan dengan survey keadaan eksisting serta analisa kawasan.
PENDEKATAN PERILAKU TRENGGILING SUNDA DALAM PERANCANGAN PUSAT KONSERVASI Nur Afifah Khairunnisa; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12449

Abstract

Indonesia is a country with the second highest mega-biodiversity in the world. However, it is also known as the country that has the largest list of critically endangered-protected animals based on the International Union for Conservation of Nature (IUCN) category. This is due to the lack of protection and lack of public knowledge and awareness. The relationship between living organisms is, as a matter of fact very important in the ecosystem. Thus, principles or ways of thinking are needed in the attempts of preserving natural resources to ensure a sustainable life, which are called Beyond Ecology. At the time being, several animals in Indonesia have reached the brink of extinction, one of them being the Sunda pangolin (Manis Javanica), whose population has decreased up to 80% in the last 21 years due to poaching and illegal trading. One of the efforts of preservation is to design a conservation center combined with educational and recreational programs, with the aim of protecting, restoring, and maintaining the safety of the Sunda Pangolin as well as increasing the sense of care, public awareness and knowledge of the community on the importance of biodiversity in life. By using the analogy method, it is necessary to analyze the behavior and characteristics of the Sunda pangolin in the design concept of the conservation center to produce a design that is well-suited to the needs of the Sunda pangolin and the Indonesian people. Keywords:  conservation; education; ecology; recreation; sunda pangolinAbstrakIndonesia merupakan negara megabiodiversitas peringkat kedua paling tinggi di dunia. Namun, dikenal juga sebagai negara yang memiliki daftar terbanyak mengenai satwa lindung yang terancam punah berdasarkan kategori International Union for Conservation of Nature (IUCN). Hal ini dikarenakan kurangnya perlindungan, lemahnya peraturan, dan minimnya wawasan serta kesadaran masyarakat. Padahal, relasi antar organisme hidup sangat penting dalam ekosistem. Sehingga, diperlukannya prinsip atau pemikiran dalam mengupayakan terpeliharanya sumber daya alam yang disebut Beyond Ecology untuk menjamin kehidupan yang berkelanjutan. Kini, beberapa hewan di Indonesia telah mencapai ambang kepunahan, salah satunya adalah trenggiling sunda (Manis Javanica) yang populasinya menurun hingga 80% dalam kurun waktu 21 tahun terakhir dikarenakan perburuan liar dan perdagangan ilegal. Salah satu upaya pelestariannya adalah melakukan perancangan konservasi yang digabung dengan program edukasi dan rekreasi, dengan tujuan melindungi, memulihkan, dan melestarikan keberadaan trenggiling sunda sekaligus meningkatkan rasa kepedulian, kesadaran dan wawasan masyarakat akan pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati dalam kehidupan. Dengan menggunakan metode analogi, diperlukannya analisis pendekatan perilaku dan karakteristik trenggiling sunda dalam konsep perancangan pusat konservasi sehingga menghasilkan perancangan yang sesuai dengan kebutuhan trenggiling sunda dan masyarakat Indonesia.
RUANG AKTIVITAS MASYARAKAT PULOMAS William Adiputra Dharmawan; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7044

Abstract

Modern people have a demanding and busy life. Jakarta is not an exception. Whose people is growing rapidly in terms of socio economic standing into middle class.This class requires different types and patterns of usage of space. They prefer to live in suburubia, spends time in malls instead of local places, and usually have 9-5 jobs.The mall’s role as a public space is problematic as it can siphon away public life that could’ve happen in local place which can shape a strong sense of place and character. Other than that, malls also requires a significant energy commitment to get to it, doesn’t create community around it, exclusive to lower class people, etc. A local third place is proposed as a solution. To pull back public life into the suburbia. Something smaller in scale, making the visitors into people not mere consumer. A personal place, A place that forms communities, a palce that is local so people don’t have to spend a lot of energy going to the place. A place that is open to all. A Third place. In this final project, the chosen site is right in the middle of a housing complex in Pulomas. Local residents would only have to walk no more than 5 minutes to visit the place. It provides public spaces that are in demand by local residents, such as food hall, gym, study space, archery hall, eventspace, etc in smaller scale. Public life that is stolen from the mall is taken back into the local place, creating a sense of place and community. AbstrakMasyarakat modern memiliki tuntutan kehidupan yang sibuk dan padat. Tidak terkecuali penduduk Jakarta. Yang strata sosio-ekonominya bertumbuh secara cepat menjadi kalangan menengah ke atas. Kalangan ini memiliki kebutuhan ruang dan pola penggunaan ruang yang berbeda. Mereka memilih untuk tinggal di perumahan, menghabiskan waktu di mall dibanding di tempat yang lokal, dan umumnya memiliki pekerjaan 9-5. Penggunaan mall sebagai tempat publik berpotensi menjadi masalah, ketika kehidupan publik yang bisa menjadi karakter suatu tempat di alihkan ke tempat yang anonim seperti  mall. Kurangnya kehidupan publik mengikis sense of place dan social capital yang dimiliki sebuah tempat. Selain itu mall juga membutuhkan komitmen energi yang besar untuk mencapai mall, pengunjung yang tidak menjalin komunitas, ekslusifitas terhadap kalangan menengah kebawah, dlsb. Third place yang lokal di usulkan sebagai solusi, untuk menarik kembali kehidupan publik di perumahan. Sebuah tempat yang mempunyai skala lebih kecil, menjadikan pengunjungnya sesama manusia, personal, membentuk komunitas, lokal sehingga kita tidak perlu banyak energi untuk mengunjungi tempat itu, dan terbuka bagi semua, sebuah third place. Di proyek tugas akhir ini, dipilih site tepat di tengah perumahan, di Pulomas. Warga lokal hanya tinggal jalan kaki tidak lebih dari 5 menit untuk mencapai site. Menyediakan tempat publik skala kecil yang dibutuhkan oleh warga lokal seperti food hall, gym, ruang studi, lapangan panahan, eventspace, lounge, dll. Kehidupan publik yang sebelumnya dicuri oleh mall dan tempat lain dilokalisasikan, menciptakan sebuah sense of place, dan sense of community.
BANGUNAN CAMPURAN DENGAN RUANG HIJAU SEBAGAI ASPEK DOMINAN PERANCANGAN Novalentina Novalentina; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10889

Abstract

Dwelling (also a residence, a residence) is a self-contained accommodation unit used by one or more households as a home; such as a house, apartment, mobile home, household, vehicle, other "substantial" structure. The concept of residence has significance in relation to search and seizure, transport of real property, theft, offenses, and land use planning. In a city like Jakarta, with dense infrastructure, wide economic disparities and a tense social composition, increasing green space should be a top priority. However, residents of the capital Jakarta can reiterate that this is not the case. That in fact lacks a conspicuous park, playground and public park in the capital. The urban design concept deals with the integration of land use, movement and traffic management and the form of the built environment.Its aim is to provide urban high-quality places that are efficient, functional and attractive, and can respond to changing societal, environmental and economic needs over time. In designing it also contributes to, and bridges between planning and design. It deals with the surrounding environment by paying attention to the context of the building and space rather than the object itself. Then it requires access to green infrastructure, open space areas and green spaces, which will contribute to a greener, healthier, smarter, safer, livelier, richer and fairer. This guide will assist in assessing and demonstrating progress in improving green infrastructure to create a place that is useful, sustainable and well used. It creates a wider community, natural environment and supports a healthy economy. Keywords:  Dwelling; Green space; Private space; Public space ; Sustainable. AbstrakDwelling (juga tempat tinggal) adalah sebuah unit akomodasi mandiri yang digunakan oleh satu atau lebih dari satu rumah tangga sebagai; rumah, apartemen, rumah bergerak, rumah tangga, kendaraan, atau struktur "substansial" lainnya. Konsep tempat tinggal memiliki signifikansi dalam kaitannya dengan pencarian, pengangkutan properti nyata, dan perencanaan penggunaan lahan. Di kota seperti Jakarta, dengan infrastruktur yang sangat padat, kesenjangan ekonomi yang luas dan kehidupan sosial yang tegang, peningkatan ruang hijau seharusnya menjadi prioritas utama. Namun, penduduk ibukota Jakarta dapat menegaskan kembali bahwa hal ini tidak terjadi. Bahwa pada nyatanya kekurangan Taman, tempat Bermain dan taman umum yang mencolok di ibukota. Konsep desain perkotaan berkaitan dengan integrasi penggunaan lahan, pergerakan dan lalu lintas manajemen dan bentuk lingkungan binaan. Tujuannya adalah untuk menyediakan perkotaan berkualitas tinggi tempat-tempat yang efisien, fungsional dan menarik, dan dapat menanggapi kebutuhan perubahan masyarakat, lingkungan dan ekonomi dari waktu ke waktu. Dalam mendisain juga berkontribusi, dan menjembatani antara perencanaan dan perancangan. Ini berhubungan dengan lingkungan sekitar dengan memperhatikan konteks bangunan dan ruang daripada objeknya sendiri. Maka diperlukan akses ke infrastruktur hijau, area ruang terbuka dan ruang hijau, yang akan berkontribusi lebih hijau, lebih sehat, lebih cerdas, lebih aman, lebih hidup, lebih kaya dan lebih adil. Panduan ini akan membantu dalam menilai dan mendemonstrasikan perkembangan dalam meningkatkan infrastruktur hijau untuk menciptakan tempat yang berguna, berkelanjutan dan digunakan dengan baik. Ini membuat masyarakat yang lebih luas, lingkungan alam dan mendukung perekonomian yang sehat.
PUSAT PENCEGAHAN CYBERBULLYING: PENCEGAHAN CYBERBULLYING MELALUI KARYA ARSITEKTUR Brian James; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4450

Abstract

The rapid development of technology created a huge gap in the previous generation. Marked by the existence of the internet that facilitates users to communicate with each other without limits. While communicating on the internet, someone who is more open to express himself without having to hit social norms is commonly found indirect interaction. This has a huge influence on the millennial generation which is characterized by the phenomenon of online disinhibition effects / online disinhibited effects, disinhibition is an absence of boundaries in conversations, where online users can access and use their emotions personally with newly recognized online users. According to Suler (2004), activities such as these are called benign or disinhibited disinhibitions that are harmless, making Millennials easily use harsh words, cruel, challenging, hateful, even opposing criticism. In addition, they are also added to those released from dangerous internet sites such as pornographic sites, crime or violence are activities that contain toxic or disinhibition that is dangerous (Suler, 2004). Increasing cyberbullying in the city has become a major factor for designers to progressively cyberbullying, as a new educational forum using Virtual Reality, as a form of simulation to counter cyberbullying in the hope of creating public interest and participation for teenagers and cyberbullying people, exchange ideas in the form of a Community Center. AbstrakPesatnya perkembangan teknologi, menciptakan gap yang sangat besar pada generasi sebelumnya. Ditandai dengan adanya internet yang memudahkan para pengguna dapat saling berinteraksi tanpa batas. Selama berinteraksi di internet, seseorang cenderung lebih terbuka untuk mengespresikan dirinya tanpa harus terbentur norma-norma sosial yang biasa ditemukan pada interaksi langsung. Hal ini membawa pengaruh yang sangat besar pada generasi milenial yang ditandai dengan munculnya fenomena  efek disinhibisi online/online disinhibition effects, disinhibisi merupakan suatu ketiadaan batas dalam berkomunikasi, dimana online user dapat lebih terbuka dan mengekspresikan emosinya secara personal dengan sesama online user yang baru dikenal. Menurut Suler (2004), aktivitas seperti ini disebut dengan benign disinhibition atau disinhibisi yang tidak berbahaya, membuat Generasi Millennial mudah menggunakan kata-kata kasar, kritik yang kejam, kemarahan, kebencian, bahkan ancaman terhadap orang lain. Selain itu ditambah juga mereka yang mengunjungi sisi gelap internet seperti website pornografi, kriminal atau kekerasan yaitu aktivitas yang merupakan sebagai toxic disinhibition atau disinhibisi yang berbahaya ( Suler, 2004). Meningkatnya tindakan cyberbullying di kota, menjadi faktor utama bagi perancang untuk merancang pusat pencegahan cyberbullying, sebagai wadah edukasi baru dengan penggunaan Virtual Reality, sebagai bentuk simulasi dampak cyberbullying dengan harapan terciptanya kesadaran dan partisipasi publik bagi para remaja dan orang dewasa atas bahaya Cyberbullying, untuk saling bertukar pikiran dalam bentuk Community Center.
ARENA OLAHRAGA BULUTANGKIS CENGKARENG Ratna Chandra; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3813

Abstract

Olahraga bulutangkis Indonesia kini sedang menjadi sorotan berbagai pihak.Prestasinya yang menurun membuat peminat bulutangkis tanah air berkurang. Padahal olahraga bulutangkis merupakan olahraga andalan Indonesia. Dengan menurunnya peminat bulutangkis ini menyebabkan regenerasi atlet menjadi lambat sehingga menambah keterpurukan bulutangkis Indonesia. Proyek ini memiliiki tujuan agar dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas di kemudian hari.Berikut tujuan pembangunan proyek Arena pertandingan bulutangkis adalah Memberikan fasilitas pertandingan dan latihan bulutangkis ,Sebagai wadah klub klub bulutangkis yang tidak mempunyai fasilitas,Membantu mengajak anak anak usia ideal untuk lebih mengenal olahraga bulutangkis. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang menjelaskan dan memaparkan data – data yang telah dikumpulkan,berdasarkan fakta fakta yang ada kemudian dianalisis dan menghasilkan kesimpulan.Data yang diperlukan dalam perencanaan arena bulutangkis adalah data primer dan data sekunder.Konsep saling menindih diterapkan pada bentuk bangunan yang di ambil dari bentuk shuttercock, Stadium terbagi dalam 3 area , yaitu area asrama,area publik dan area pertandingan sehingga tidak mengganggu antar aktifitas. Adanya pengklasifikasian pengunjung dan atlet juga membawa kenyamanan bagi masing masing pihak.Proyek ini menampung 3500 penonton , dengan area pertandingan dengan standart nasional. Untukmemacu dan membangkitkan antusiasme masyarakat terhadap olahraga bulutangkis.
PERANCANGAN TEMPAT BELAJAR DI TANJUNG DUREN DENGAN PENDEKATAN OPEN ARCHITECTURE SEBAGAI RUANG KETIGA Harisno Coandy Wibowo; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6769

Abstract

Jakarta's monotonous life between home/ first place and workplace/ second place needs a place for us to get out of this routine. Therefore the third place comes as an alternative to eliminate the boredom caused by Jakarta. A good third place is a third place that can have a positive impact on users. The need for limited learning tools in schools results in students feeling bored and looking for other places to learn. Therefore the project taken is a social forum in the form of a place of learning for students an the community. This place of learning will certainly be a place for students to learn and space for the community to relax or conduct dialogues until training. The approach of this project is sharing where people from various groups can share knowledge, so that people gain knowledge not by reading, but by dialogue. In designing this project the designer re-examines what is meant by “learning”. This project brings all kinds of learning methods that we know into a single unit. Learning does not have to be by reading book, learning can be done by dialogue while eating relaxed. Learning does not have to sit in front of a desk, learning can be done by walking. Learning does not have to be “safe”, learning can be done by giving a sense of danger. The presence of this building is expected to improve the quality of life of the community, especially in terms of education in the Tanjung Duren and surrounding areas. Thus creating a better state life than before. AbstrakKehidupan Jakarta yang monoton antara rumah/ tempat pertama dan tempat kerja/ tempat kedua membutuhkan wadah untuk kita keluar dari rutinitas tersebut. Maka dari itu tempat ketiga (third place) hadir menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kejenuhan yang ditimbulkan Jakarta. Third place yang baik adalah third place yang dapat memberikan dampak positif bagi penggunanya. Kebutuhan akan sarana belajar yang terbatas pada sekolah-sekolah mengakibatkan siswa merasa jenuh dan mencari tempat belajar lain. Oleh karena itu proyek yang diambil adalah sebuah wadah sosial berupa tempat belajar bagi siswa dan masyarakat. Tempat belajar ini tentunya akan menjadi wadah bagi siswa untuk belajar dan ruang bagi masyarakat untuk bersantai ataupun melakukan dialog sampai pelatihan. Pendekatan proyek ini ialah sharing dimana masyarakat dari berbagai kalangan dapat saling berbagi pengetahuan, sehingga masyarakat memperoleh ilmu bukan dengan cara membaca, tetapi dengan cara berdialog. Dalam perancangannya proyek ini  perancang menelisik kembali apa yang dimaksudkan dengan “belajar”. Proyek ini membawa segala macam metode belajar yang kita kenal menjadi satu kesatuan. Belajar tidak harus dengan membaca buku, belajar dapat dilakukan dengan berdialog sambil makan santai. Belajar tidak harus duduk di depan meja, belajar dapat dilakukan dengan berjalan. Belajar tidak harus dengan “aman”, belajar dapat dilakukan dengan memberikan rasa bahaya. Dengan hadirnya bangunan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat terutama dalam hal pendidikan di wilayah Tanjung Duren dan sekitarnya. Sehingga menciptakan kehidupan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.
PENDEKATAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI DALAM PERANCANGAN PUSAT INOVASI MOBIL MASA DEPAN Steven Giovanni; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4477

Abstract

Millennials are born where the world is modern and sophisticated technology has been introduced to the public where the entertainment industry has increased and is influenced by the internet. Diverse about the nature or characteristics of this generation and most of all this generation has an increase in the use of technology and digital media and prefers to learn something with the use of visuals. Rapid technological developments are very influential in millennial life. One of the things that has a connection with improving technology in this era is in the automotive sector. Manufacturers of car vehicle brands began to compete in issuing the concept of a future car where car vehicles prioritize system technology features and connectivity features. Therefore, the development of car vehicles continues to grow to date from the types of conventional car vehicles to future cars. By creating a car vehicle of the future, this generation can feel satisfaction in driving and can feel the performance or quality of the vehicle and the most important thing is to be able to feel the comfort and pleasure in driving with increasingly sophisticated technological features. With the existing viewpoint, the project for this millennial generation is the "Future Car Innovation Center" by providing program facilities in the form of knowledge of the design and advantages of future cars by delivering a technology system that is attractive and innovative. AbstrakGenerasi milenial terlahir dimana dunia sudah modern dan teknologi yang sudah canggih mulai diperkenalkan ke publik dimana industri hiburan sudah meningkat dan dipengaruhi oleh internet. Beragam tentang sifat atau karakteristik dari generasi ini dan yang paling utama generasi ini memiliki peningkatan dalam penggunaan teknologi serta media digital dan lebih menyukai mempelajari sesuatu dengan penggunaan hal visual. Perkembangan teknologi yang pesat sangat berpengaruh dalam kehidupan milenial. Salah satu hal yang terdapat hubungan dengan peningkatan teknologi pada zaman ini adalah di bidang otomotif. Produsen merek kendaraan mobil mulai bersaing dalam mengeluarkan konsep mobil masa depan dimana kendaraan mobil yang mengedepankan sistem fitur teknologi dan fitur konektivitas. Oleh sebab itu, perkembangan kendaraan mobil terus berkembang hingga saat ini dari jenis kendaraan mobil konvensional hingga kendaraan mobil masa depan (future cars). Dengan menciptakan kendaraan mobil masa depan, generasi ini dapat merasakan kepuasan dalam berkendara dan dapat merasakan performa atau kualitas dari kendaraan mobil tersebut dan yang paling penting adalah dapat merasakan kenyamanan dan kenikmatan dalam berkendara dengan fitur teknologi yang semakin canggih. Dengan adanya sudut pandang yang ada, proyek untuk generasi milenial ini adalah “Pusat Inovasi Mobil Masa Depan” dengan memberikan fasilitas program berupa pengetahuan akan desain dan kelebihan dari mobil masa depan dengan cara penyampaian yang mendepankan sistem teknologi dengan sifat yang atraktif dan inovatif. 
RUANG INTERAKTIF-KREATIF DI KEMANG Sudarmaya Fauzi; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8604

Abstract

Over time, the growth of the city increasingly triggers a diversity of activities that take place. One tendency of urban community activities is the need to exchange experiences and obtain a comfortable place to socialize and exchange experiences. These activities are no longer carried out at home or in the office, but in a place called Third place. Kemang is an area that was once a settlement now a commercial center called the "modern village". Over time kemang became a commercial area dominated by creative industries. The many types of creative activities lead to the behavior of people who tend to be in groups. This is very regrettable for the community because this creative activity is very important for people who want to learn or know it by exchanging experiences between art practitioners and the public. But in Kemang there is no place or place for the community to exchange experiences. The presence of Interactive-Creative Spaces in Kemang to meet the needs of community of Kemang related to art activities. With the hypothesis testing method and carried out by conducting surveys in the field, conducting interviews with relevant parties then making observations, collecting data, comparing field results with existing standards and determining the results. This program presents a program space that connected each other making it easier for visitors to access and also helps with the purpose of displaying and inviting visiting visitors to provide forums and facilities for people who want to develop their creativity. ThisInteractive-Creative Space is expected to provide a Third Place for people who want to exchange experiences with a comfortable and facilitated one. Keywords: Art container; Creative Industries; Public Space; Third Place AbstrakBerjalannya waktu, pertumbuhan kota semakin memicu keragaman kegiatan.. Salah satu kecenderungan kegiatan masyarakat kota adalah kebutuhan untuk bertukar pengalaman dan memperoleh tempat yang nyaman untuk saling bersosialisasi dan bertukar pengalaman. Kegiatan‐kegiatan tersebut bukan lagi dilakukan di rumah ataupun di kantor, melainkan pada suatu tempat yang disebut ruang ketiga (Third place). Kemang merupakan Kawasan yang dahulunya pemukiman kini menjadi pusat komersil yang disebut “kampung modern”. Seiring berjalannya waktu kemang menjadi daerah komersil yang di di dominasi dengan industri kreatif. Banyaknya macam aktifitas kreatif ini menimbulkan prilaku masyarakat yang cenderung berkelompok. Hal ini sangat di sayangkan bagi masyarakat karna aktifitas kreatif ini sangat berperan bagi masyarakat yang ingin belajar dengan bertukar pengalaman antar pelaku seni dan masyarakat. Hadirnya Ruang Interaktif-Kreatif di Kemang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan atau tuntutan masyarakat Kemang terkait aktivitas berkesenian. Metode Pengujian terhadap hipotesis‐hipotesis dan dilakukan dengan melakukan survei ke lapangan, melakukan wawancara baik kepada pihak terkait kemudian melakukan observasi, mengumpulkan data, membandingkan antara hasil lapangan dengan standar yang ada dan menentukan hasil. proyek ini menyajikan program ruang yang berkaitan satu sama lain sehingga memudahkan pengunjung untuk mengakses dan juga berinteraksi dengan objek yang di pamerkan dan mengajak pengunjung yang berkunjung memberikan wadah dan fasilitas bagi masyarakat yang ingin mengembangkan kreatifitasnya. Ruang Interaktif-Kreatif ini diharapkan dapat memberi wadah atau tempat ketiga bagi seluruh kalangan masyarakat yang ingin bertukar pengalaman dengan suasana yang nyaman dan terfasilitasi.