Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENDEKATAN KARAKTERISTIK TANAMAN DALAM PERANCANGAN ARBORETUM Michael Vincent; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12337

Abstract

Indonesia is rich in various types of diverse flora. However, due to the fact that most of the land that becomes the media and source of livelihood for plants is decreasing due to the interests of humans to build buildings, it threatens the sustainability of plants, especially in big cities and their surroundings (Fabian and Malte 2011). Even though the existence of vegetation has an important role in the balance of nature in its environment. So that damage or loss of a number of vegetation varieties is a threat to organisms in the environment. In today shows that the plant varieties already experiencing scarcity of rare status with low risk (least concern) to extinction (extinct) (IUCN). Conservation efforts are needed for the existence of flora varieties with conservation. Ex-situ conservation facilities in urban areas for plant conservation include preservation, protection, and controlled use resulting in new ecosystems. Botanical preservation also requires awareness from a human point of view. Humans are creatures that have the most influence on natural life. Everyday humans interact with the natural environment, one of which is with plants. From this interaction, humans can have a negative or positive impact on the plant environment. Which means, as a part that has an impact on the plant environment, humans have an important role in determining attitudes to preserve plants according to their capacity in life. By stimulating and understanding the preservation of plants, humans take part in a role that has a big influence on the preservation of botany. Keywords:  Arboretum; Botany; Edutainment; ConservationAbstrakIndonesia kaya akan berbagai jenis flora yang beraneka ragam. Tetapi akibat sebagian besar lahan yang menjadi media dan sumber penghidupan tumbuhan semakin sedikit akibat kepentingan manusia membangun bangunan, sehingga mengancam kelestarian tumbuhan terutama di kota besar dan sekitarnya (Fabian dan Malte 2011). Padahal eksistensi vegetasi memiliki peran penting dalam keseimbangan alam di lingkungannya. Sehingga rusak atau hilangnya sejumlah varietas vegetasi merupakan ancaman bagi organisme di lingkungannya. Di jaman sekarang terlihat bahwa varietas tumbuhan sudah mengalami status kelangkaan dari langka dengan resiko rendah (least concern) sampai punah (extinct) (IUCN). Diperlukannya upaya pelestarian terhadap eksistensi varietas flora dengan adanya konservasi. Fasilitas pelestarian tanaman secara ex-situ mencakup perawatan, perlindungan, dan pemanfaatan yang terkontrol sehingga terjadi ekosistem baru. Pelestarian botani juga membutuhkan kesadaran dari segi manusia. Manusia merupakan makhluk yang paling berpengaruh terhadap kehidupan alam. Sehari-harinya manusia berinteraksi dengan lingkungan alam, salah satunya dengan tumbuhan. Dari interaksi tersebut, manusia dapat memberikan dampak negatif maupun positif terhadap lingkungan tumbuhan. Yang artinya, sebagai bagian yang memiliki dampak terhadap lingkungan tumbuhan, manusia memiliki peranan penting dalam menentukan sikap untuk melestarikan tumbuhan sesuai kapasitasnya di kehidupan. Dengan stimulasi dan pemahaman mengenai pelestarian tumbuhan, manusia ikut mengambil peran yang memberikan pengaruh besar terhadap kelestarian botani. 
DIGITASI BAHAN PUSTAKA NON-BUKU LEKSI PERPUSTAKAAN REKSO PUSTOKO ANGKUNEGARAN SURAKARTA, JAWA TENGAH Naniek Widayati Priyomarsono; Doddy Yuono; Harsiti Harsiti
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.035 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.7994

Abstract

Pura Mangkunegaran in Surakarta, holds many unique cultures, classics, and amazing architecture. In addition it has a library that holds 13,871 book titles, more than 15,000 titles of written documents / ancient manuscripts, and 40,000 pictures / photos with rare information worth of historical relics of the nation. The problem that arises is the financial factor so that it cannot use professional staff both in quantity and quality. Storage of documents has not been organized and is well maintained, so that the search for information is very difficult and physically the document becomes faded, the paper is getting worn, damaged, so that its preservation is not maintained. On the other hand, the existence of Puro Mangkunegaran as a tourist location is open to the public, and every day the Rekso Pustoko Library is visited by students, students, teachers, and researchers looking for information. The reason is encouraging Tarumanagara University through its Research and Community Engagement Institute (LPPM), to do the Digitizing of Non-Book Library Material Collection of Rekso Pustoko Library. The aim of digitizing is to preserve the libraries of royal events with valuable information, efficient use of space, practical, easy management, optimizing information utilization through on-line, widely publicized, facilitating information dissemination, and promoting Mangkunegaran Temple. The method uses observation techniques, survey techniques, literature studies, interviews, and digitization to shoot non-book documents (pictures / photos), using a camera. The results of digitization activities were 2000 pictures / portraits in digital form. Expected output: the realization of digitization helps manage digital library materials, facilitates retrieval, optimizes information utilization, facilitates dissemination, preserves scarce information, and promotes Mangkunegaran Temple. The results are published in posters, and proceedingsABSTRAK:Pura Mangkunegaran di Surakarta, menyimpan banyak budaya unik, klasik, dan karya arsitektur yang mengagumkan. Selain itu mempunyai perpustakaan menyimpan 13.871 judul buku, lebih dari 15.000 judul dokumen tertulis/naskah kuno, dan 40.000 gambar/foto bernilai  informasi langka sejarah peninggalan bangsa. Masalah yang timbul adalah faktor finansial sehingga belum bisa menggunakan tenaga professional baik kuantitas maupun kualitas. Penyimpanan dokumen belum tertata dan terawat baik, sehingga pencarian informasi sangat sulit dan secara fisik dokumen menjadi pudar, kertasnya mulai usang, rusak, sehingga kelestariannya belum terjaga. Di lain fihak, eksistensi Puro Mangkunegaran sebagai lokasi wisata dibuka untuk umum, setiap harinya Perpustakaan Rekso Pustoko banyak dikunjungi para siswa, mahasiswa, pengajar, dan peneliti mencari informasi. Alasan tersebut mendorong Universitas Tarumanagara melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM), melakukan Digitasi Bahan Pustaka Non-Buku Koleksi Perpustakaan Rekso Pustoko. Tujuan digitasi untuk melestarikan bahan pustaka peristiwa kerajaan bernilai informasi langka, efisiensi penggunaan ruangan, praktis, memudahkan pengelolaan, mengoptimalkan pemanfaatan informasi melalui on-line, terpublikasi secara luas, memudahkan desiminasi informasi, dan mempromosikan Pura Mangkunegaran. Metode menggunakan teknik observasi, teknik survei, studi literatur, wawancara, dan digitasi melakukan pemotretan dokumen non buku (gambar/foto), menggunakan kamera. Hasil kegiatan digitasi sebanyak 2000 gambar/potret dalam bentuk digital. Luaran yang diharapkan: terealisasinya digitasi membantu pengelolaan bahan pustaka digital, memudahkan pencarian kembali, mengoptimalkan pemanfaatan informasi, memudahkan desiminasi, melestarikan informasi langka, dan mempromosikan Pura Mangkunegaran. Hasilnya dipublikasikan dalam poster, dan prosiding.
REDESAIN PASAR CINDE PALEMBANG DENGAN PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE Muhammad Farish Arrahman; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22195

Abstract

Cinde area is a place that is identical as a commercial area with the Cinde Market Building as a regional landmark and the city of Palembang. This market is one of the destinations for local people and tourists who sell various types of souvenirs such as food, songket, and handicrafts that can be obtained in this market. However, in 2017 this market was dismantled because this building has experienced physical degradation which can be seen from the loss of the building structure. Thus this area has lost one of its main attractors and made this area experience a decline. So there is an urgency to rebuild the market building. Therefore, the author proposes to redesign the Palembang cinde market with an open market concept that combines market and community functions. Its application can be applied to all buildings both inside and outside. This design concept can be applied with an open space method that can maximize negative spaces by turning them into public open areas. The implementation of the public open space strategy in the Cinde Market aims to give a new impression on the existing market in the city of Palembang by not destroying the function of the market.This building can meet the needs of the community and at the same time become a community forum in the city of Palembang with the hope that in the next 20 years this project can restore lost regional image.  Keywords : Attractor; Cinde Market; Landmark; Regional Image; Urgency Abstrak Kawasan Cinde merupakan sebuah tempat yang identik sebagai kawasan komersil dengan Bangunan Pasar Cinde sebagai Landmark kawasan dan kota Palembang. Pasar ini menjadi salah satu tujuan masyarakat lokal dan turis yang menjual berbagai jenis buah tangan seperti makanan, songket, dan kerajinan tangan dapat diperoleh di pasar ini. Namun Pada tahun 2017 pasar ini dibongkar dikarenakan bangunan ini telah mengalami degradasi fisik yang dapat terlihat dari mengeroposnya struktur bangunan. Dengan demikian kawasan ini mengalami kehilangan salah satu attractor utamanya dan membuat kawasan ini mengalami penurunan. Sehingga timbulah urgensi untuk membangun kembali bangunan pasar. Maka dari itu, penulis mengusulkan untuk meredesain kembali pasar cinde Palembang dengan konsep bangunan terbuka yang menggabungkan fungsi pasar dan berkomunitas. Penerapannya dapat diaplikasikan kedalam seluruh bangunan baik bagian dalam mauapun luar. Konsep perancangan ini dapat diterapkan dengan metode ruang terbuka yang dapat memaksimalkan ruang-ruang negatif dengan merubahnya menjadi area terbuka publik. Penerapan strategi ruang terbuka publik dalam Pasar Cinde ini bertujuan untuk  memberikan kesan baru terhadap pasar yang ada di kota Palembang dengan tidak merusak fungsi berupa pasar. Bangunan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekaligus menjadi wadah komunitas yang ada di kota Palembang dengan harapan dalam 20 tahun kedepan proyek ini dapat mengembalikan citra kawasan yang telah hilang.
RUANG INTERAKTIF KAMPUNG BEKELIR TANGERANG Careen Leo; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22199

Abstract

Kampung Bekelir, which was originally a tourism village, succeeded in attracting newcomers with several interesting and educational attractions. The village is very focused on the tourism aspect and in the end ignores the needs of its residents. The imbalance between communal space and tourism sites in Kampung Bekelir has resulted in the programs losing their value and attractiveness. It is caused by many activities that have not been accommodated and the lack of space for the community. This issue is quite crucial because Kampung Bekelir, which is initially a tourism village, slowly being degraded and losing its function and identity. Therefore, it is necessary to apply urban acupuncture which aims to touch the collective soul of the city. The collective soul is reflected through the collective consciousness of the community which can eventually become a reality. By using the guidelines in the 11th points of Sustainable Development Goals, environtmental-focused design is carried out using the in-fill method and the application of typology with programs that focus on aspects of education, economy, people's welfare to achieve an area with sustainable settlements. Keywords:  Degradation in an environtment; Urban Acupuncture; In fill methods Abstrak Kampung Bekelir yang pada awalnya merupakan kampung pariwisata berhasil memikat pendatang baru dengan beberapa atraksi yang menarik dan edukatif. Kampung tersebut sangat berfokus pada aspek pariwisatanya dan pada akhirnya mengabaikan kebutuhan warganya. Ketidakseimbangan antara ruang komunal dan situs pariwisata di Kampung Bekelir Tangerang karena banyaknya kegiatan belum terakomodasi dan kurangnya ruang untuk komunitas mengakibatkan objek pariwisata di kawasan Kampung Bekelir kehilangan nilai dan daya tarik. Isu ini menjadi cukup krusial karena kampung Bekelir yang merupakan kampung pariwisata perlahan-lahan mengalami degradasi dan kehilangan fungsi serta identitasnya sebagai sebuah kampung wisata. Maka itu diperlukannya penerapan akupunktur perkotaan yang bertujuan untuk menyentuh jiwa kolektif kota. Jiwa kolektif direfleksikan melalui kesadaran kolektif dari masyarakat yang pada akhirnya dapat menjadi kenyataan. Dengan menggunakan panduan dalam tujuan ke-11 dari pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), perancangan kawasan dilakukan dengan metode in fill dan penerapan tipologi dengan program yang berfokus pada aspek edukasi, ekonomi, kesejahteraan warga untuk mencapai sebuah kawasan dengan pemukiman berkelanjutan.
PENDEKATAN URBAN AKUPUNTUR PADA RUANG REKREASI OCARINA BATAM SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN KOTA Jessica Yassmin; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22201

Abstract

Ocarina Batam located at Jalan Gajah Mada, Bengkong Sadai, Batam City, is a recreational destination  which has not been developed and is degradated in a long time so as this region is needed to be revitalize as an effort to an urban development that has potential in terms of social, economic, and existing concepts to attracts local and international citizen. This project is made to establish Entertainment Hub that compiles various amusement designed with the use of technology. Programs in this project provide public spaces in the outdoor-indoor part of the entertainment center as a place to gather and interact with each other through the available space. Through the urban acupuncture method by analyzing the potential, demographics, needs and shortcomings that characterize the area. Design approch is using contextual contrast approach, where as the approach attain new form that align with urban acupuncture (known as Contrast). Building development plan in this project will be design with new appearance, however still supports current surroundings. Keywords: Contextual Contrast; Entertainment Hub; Recreational Destination; Urban Acupuncture; Urban Development Abstrak Ocarina Batam berada di Jalan Gajah Mada, Bengkong Sadai Kota Batam, merupakan destinasi rekreasi yang sudah lama tidak dikembangkan dan terdegradasi sehingga kawasan ini diperlukan  untuk di hidupkan kembali sebagai upaya pengembangan kota dengan potensi dari segi sosial, ekonomi, serta konsep agar menarik orang lokal maupun luar Batam. Proyek ini bertujuan untuk  menciptakan Entertainment Hub guna mengumpulkan hiburan yang dirancang dengan penggunaan teknologi.  Program dalam proyek ini menyediakan ruang publik bagian outdoor-indoor dari pusat hiburan sebagai tempat berkumpul dan saling berinteraksi melalui ruang yang tersedia. Melalui metode urban akupuntur dengan meganalisis potensi, demografi, kebutuhan dan kekurangan yang menjadi ciri khas kawasan Ocarina Batam. Pendekatan desain menggunakan pendekatan Kontekstual Kontras, dimana bentuk pendekatannya dapat mengenalkan bentuk baru yang selaras dengan urban akuputur (dikenal dengan istilah kontras) dari desain bangunan yang sudah ada sebelumnya. Perencanaan bangunan dalam proyek ini akan dirancang dengan gaya baru namun tetap mendukung lingkungan sekitar.
PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE MELALUI PROYEK PADEPOKAN SENI SRENGSENG Juan Felix Harly Helga; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22619

Abstract

In Jakarta there are zones that have their respective land use functions, such as economic zones, government zones, cultural zones, green zones, etc. However, many people do not know about these zones, such as Jalan Merdeka Gambir as the government zone, and the Cikini area as one of the "cultural" zones. Apart from Cikini, there are many other areas which are cultural zones, but these "cultural" zones have been forgotten by the community due to the times. As a result, public interest in the cultures owned by the Indonesian state is reduced. The loss of public interest in culture will gradually make the culture that is owned disappear being consumed by the progress of time. Even though a country or region can be known by the public both at home and abroad because it has a unique culture. Therefore, this project aims to revive a culture that has faded, so that it can be remembered by the community and can continue to maintain cultural preservation. The method that the author uses is to collect information that can support the design title, such as collecting data on schools around the site that still maintain culture so that it can support the author's theme. The goal that the author wants to achieve is that the culture of the nation does not disappear, and also provides a place for people who are still interested in culture, so that culture does not disappear with time. Keywords:  culture; culture zone; progress of times Abstrak Di Jakarta terdapat zona-zona yang memiliki fungsi tata guna lahan masing-masing, seperti zona perekonomian, zona pemerintahan, zona budaya, zona hijau, dll. Namun, banyak masyarakat yang tidak mengetahui zona-zona tersebut, seperti jalan Merdeka Gambir sebagai zona pemerintahan, dan daerah Cikini sebagai salah satu zona “budaya”. Selain Cikini, masih terdapat banyak daerah lain yang merupakan zona budaya, tetapi zona “budaya” tersebut sudah dilupakan oleh masyarakat karena perkembangan zaman. Akibatnya, ketertarikan masyarakat terhadap kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki oleh negara Indonesia berkurang. Hilangnya ketertarikan masyarakat terhadap kebudayaan lambat laun akan membuat budaya yang dimiliki hilang termakan oleh kemajuan zaman. Padahal suatu negara atau daerah dapat dikenal oleh masyarakat baik dalam maupun luar negeri karena memiliki kebudayaan yang unik. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk mengangkat kembali budaya yang sudah pudar, agar dapat diingat kembali oleh masyarakat dan dapat terus menjaga kelestarian budaya. Metode yang penulis gunakan dalah mengumpulkan informasi-informasi yang dapat mendukung judul perancangan seperti, mengumpulkan data sekolah-sekolah disekitar tapak yang masih melestarikan kebudayaan sehingga dapat mendukung tema penulis. Tujuan yang ingin diraih penulis adalah agar kebudayaan yang dimiliki bangsa tidak menghilang, dan juga memberikan wadah kepada para masyarakat yang masih tertarik terhadap budaya, sehingga budaya tidak menghilang termakan zaman.
EMPATI ARSITEKTUR : ASRAMA MULTIFUNGSI BERBASIS EMPATI ARSITEKTUR Kevin Hadi; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24309

Abstract

Empathy in architecture is an important concept that focuses on the emotional experience and understanding of users and the environment. Empathic architecture creates spaces that are responsive to the physical and psychological needs of humans, prioritizing safety, comfort, and environmental sustainability. In this approach, architects consider cultural diversity, design spaces with sensitivity, pay attention to sensory experiences, and create harmonious relationships between humans and nature. With a focus on human well-being and the environment, empathic architecture creates inspiring spaces that have a positive impact on all occupants. Dormitories or residences that employ the concept of empathic architecture usually consider the target market or residents who will live in the dormitory, such as activities that will be carried out by the residents, what kind of spaces will make the residents feel comfortable, and how many dormitory units are needed to ensure comfortable living for the students. By using this method, we can design a dwelling that is perfectly suited to the design target, as we have studied the needs of the target occupants of our building. Keywords: architecture; balance; dormitory;  empath; emotional experience Abstrak Empati dalam arsitektur adalah konsep penting yang menitik beratkan pada pengalaman emosional dan pemahaman terhadap pengguna dan lingkungan. Arsitektur yang empati menciptakan ruang yang responsif terhadap kebutuhan fisik dan psikologis manusia, mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan lingkungan. Dalam pendekatan ini, arsitek mempertimbangkan keberagaman budaya, merancang ruang dengan sensitif, memperhatikan pengalaman sensorik, dan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dengan fokus pada kesejahteraan manusia dan lingkungan, arsitektur empati menciptakan ruang yang menginspirasi dan berdampak positif bagi semua penghuninya, asrama atau hunian yang menggunakan konsep empati arsitektur biasanya memikirkan target pasar atau penghuni yang akan tinggal di dalam asrama tersebut, seperti kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh para penghuni, ruang seperti apa yang akan membuat para penghuni merasa nyaman, dan juga seberapa banyak unit asrama yang diperlukan agar asrama tersebut dapat ditinggalkan secara nyaman oleh para mahasiswa. Dengan menggunakan metode ini, kita dapat merancang suatu hunian yang sangat tepat dikarenakan kita sudah mempelajari kebutuhan daripada target penghuni bangunan kita.
INTERAKSI MANUSIA DAN AI SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN RUANG KREATIF Melita Kristianto; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24310

Abstract

Human interaction and artificial intelligence (AI) in the creative industries have progressed rapidly, with AI becoming a digital tool that supports human creativity and creates creative engagement to meet the needs of original creativity. The integration of AI into the creative process influences the way creators create more innovative and complex creative content, even pushing the boundaries of their own creativity and creating works that were previously unimaginable. However, several efforts to introduce the integration of AI and humans have so far focused on museums or exhibitions as AI educational locations. Creative expression between humans and AI will require creative space that can facilitate individuals to critically evaluate AI technology; communicate and collaborate effectively with AI. So this article discusses how the trend of human and AI collaboration has brought about significant changes in creative studio design. From augmented intelligence that expands human capabilities to the use of chatbots and virtual assistants that facilitate communication. Keywords: AI; design; human interaction; creative space Abstrak Interaksi manusia dan kecerdasan buatan (AI) dalam industri kreatif telah berkembang pesat, dengan AI menjadi alat digital yang mendukung kreativitas manusia dan menciptakan keterlibatan kreatif untuk memenuhi kebutuhan kreativitas orisinil. Integrasi AI ke dalam proses kreatif mempengaruhi cara kreator membuat konten kreatif yang lebih inovatif serta kompleks, bahkan mendorong batas kreativitas mereka sendiri dan menciptakan karya yang dulunya tidak terbayangkan. Namun, beberapa upaya pengenalan integrasi AI dan manusia sampai saat ini masih berfokus di museum ataupun eksibisi sebagai lokasi edukasi AI. Ekspresi kreatif antara manusia dan AI akan membutuhkan ruang gerak kreatif yang dapat memfasilitasi individu untuk mengevaluasi secara kritis teknologi AI; berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan AI. Maka artikel ini membahas bagaimana tren kolaborasi manusia dan AI telah membawa perubahan signifikan dalam desain studio kreatif. Dari augmented intelligence yang memperluas kemampuan manusia hingga penggunaan chatbot dan asisten virtual yang memudahkan komunikasi.
PERANCANGAN RUANG UNTUK PENYENDIRI Nicson Bunawidjaya; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24311

Abstract

Busy lives and high productivity demands make individuals feel the need to take a moment for themselves. However, public spaces in cities, such as parks and other public places, are often crowded with people, making it difficult for individuals to find peace in solitude. Loners are alone for various reasons such as some individuals choose to be alone because it suits their personality or lifestyle, this can be associated with introverted personalities. Some are also alone because they don't like other people, there are also loners who are forced to be alone. Some people also stay away from other people only temporarily, either for a break or simply because they enjoy being alone. Individuals often find it difficult to find a safe and comfortable place to spend time alone. By paying attention to the needs of different individuals, designing spaces that are friendly to loners can broaden access for individuals who need space to be alone. This is important to create an inclusive and welcoming environment for everyone. The Design Method is the result of studies and theories regarding the spatial needs of a loner. The design was carried out in the Infill area in the Senayan area, South Jakarta because this area is an area with high level of activity in Jakarta. Infill building is a method of constructing buildings by filling empty areas in the surrounding areas where there are existing buildings and emphasizing harmony between the design results and the surrounding environment. Infill design is needed to utilize land that has not been fully developed in this strategic area. Keywords:  infill; solitude; loner Abstrak Kehidupan yang sibuk dan tuntutan produktivitas yang tinggi membuat individu merasa perlu untuk mengambil waktu sejenak untuk sendiri. Namun, ruang publik yang ada di kota, seperti taman dan tempat umum lainnya, sering kali ramai dikunjungi oleh masyarakat sehingga sulit bagi individu untuk menemukan ketenangan dalam kesendirian. Penyendiri menyendiri dengan berbagai alasan seperti beberapa individu memilih untuk sendiri karena sesuai dengan kepribadian atau gaya hidup mereka, hal ini bisa dikaitkan dengan kepribadian introvert. Beberapa juga menyendiri karena tidak menyukai orang lain, ada juga penyendiri yang dipaksa untuk menyendiri. Beberapa orang juga menjauh dari orang lain hanya untuk sementara waktu, baik untuk istirahat atau hanya karena mereka menikmati kesendirian. Para penyendiri seringkali merasa sulit untuk menemukan tempat yang aman dan nyaman untuk menghabiskan waktu sendiri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ruang seperti apa yang cocok untuk penyendiri. Dengan memperhatikan kebutuhan individu yang berbeda-beda, perancangan ruang yang ramah bagi para penyendiri dapat memperluas akses bagi individu yang membutuhkan ruang untuk sendiri. Ini penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua orang. Metode Perancangan merupakan hasil dari kajian dan teori mengenai kebutuhan spasial seorang penyendiri. Perancangan dilakukan di area Infill di Kawasan Senayan, Jakarta Selatan dikarenakan area tersebut merupakan area yang tinggi aktivitas di Jakarta. Bangunan infill merupakan metode mendirikan bangunan dengan mengisi area kosong pada wilayah yang sekelilingnya terdapat bangunan eksisting dan menitikberatkan pada keselarasan antara hasil rancangan dan lingkungan sekitar.  Peracangan infill diperlukan untuk memanfaatkan lahan yang belum sepenuhnya dibangun di kawasan yang strategis.
EMPATI PERCAYA DIRI BAGI PEMUDA PAPUA DI JAKARTA DALAM PENDEKATAN PERANCANGAN PARA-PARA CENDRAWASIH Erikson Otniel Indouw; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24312

Abstract

Responding to current developments, every community is required to be able to interact and cooperate with others to achieve the ideals of national progress as a whole on the basis of "Unity in Diversity". However, discrimination is still common in society against certain identities and ethnicities. So there is social inequality and barriers by society. Lack of empathy in society. Research on Papuan students and students who study in Jakarta, but they are often treated with discrimination and racism, which causes them to feel inferior and lack the confidence to actively interact in their social life freely and feel uncomfortable. In this case, there needs to be an approach and solution. Through sources of knowledge and information from Papuan children, what are the obstacles and problems that affect the limited space for movement and activities. Among them is the acceptance of their identity (Empathy for oneself), the uniqueness that is felt as an obstacle. How can they interact within the scope of diversity, of course, requires a space and program that can accommodate, through the approach and character of the Papuan children's activities themselves, the meeting point of Papuan children (homogeneous) but open to the public in the same space, With the existence of a transsis, forum for mental development (Mental Revolution), acceptance of self-identity, for Papuan children who start their education in Jakarta, In order to adapt to a heterogeneous urban environment. debriefing, the beginning is needed in order to be able to adapt and space for assembly and expression that can expose the characteristics of Papua.  Keywords: activity, adapt, interaction, diversity, meeting Abstrak Menyikapi perkembangan saat ini, setiap masyarakat dituntut untuk bisa keluar berinteraksi dan bekerja sama dengan sesama untuk mencapai cita-cita kemajuan bangsa secara menyeluruh dengan dasar “Bhineka Tunggal Ika”. Namun masih sering dijumpai diskriminasi yang terjadi didalam masyarakat terhadap identitas, etnis tertentu. Sehingga terjadi kesenjangan sosial dan sekat-sekat oleh masyarakat. Kurangnya rasa Empati dalam kalangan masyarakat. Penelitian terhadap Pelajar dan Mahasiswa/Mahasiswi Papua yang menuntut ilmu di Jakarta, namun mereka sering mendapat perlakuan diskriminasi dan rasisme, yang mengakibatkan mereka jadi minder dan kurang percaya diri untuk aktif berinteraksi dalam kehidupan sosialnya secara leluasa dan tidak merasa nyaman. Dalam hal tersebut perlu adanya pendekatan dan solusi, Melalui sumber pengetahuan dan informasi dari anak-anak Papua, apa kendala dan permasalahan yang mempengaruhi ruang gerak dan aktivitasnya terbatas. Diantaranya apakah penerimaan terhadap identitasnya (Empati terhadap diri Sendiri), keunikan yang dimiliki dirasa sebagai penghambat. Bagaimana caranya agar mereka bisa berinteraksi dalam lingkup keberagaman, tentunya membutuhkan sebuah ruang dan program yang bisa mewadahi, melalui pendekatan dan karakter Aktivitas anak-anak Papua itu sendiri, titik temu Anak-anak Papua (homogen) namun terbuka bagi umum dalam satu ruang yang sama. Dengan adanya suatu wadah stransis pembinaan mental (Revolusi Mental), penerimaan identitas diri, bagi anak-anak Papua yang mengawali pendidikan di Jakarta. Agar dapat beradaptasi dengan lingkungan perkotaan yang heterogen. pembekalan, awal dibutuhkan agar bisa beradaptasi dan ruang berkumpul dan berekspresi yang bisa mengekspos Karakteristik Papua.