Sutarki Sutisna
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

RUMAH KACA PINGGIR KOTA DI DAAN MOGOT Valdo Helmy; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6825

Abstract

DKI Jakarta as the capitol consists of 5 regions and 1 district. Jakarta has the highest population density in Indonesia. In this modern ag, the population tends to live and work in the city thus psychological problems arise in the form of stress. In the urban lifestyle, stress is caused  due to daily routine where everybody is active between two places namely residence and work place. This routine can cause problems that begins with the feeling of boredom which can lead to a mental illness that is initially in the form of stress, anxiety disorder, and psychosis which can be worsen into depression. The step that can be made is to make a third place outside of domestic life at home and outside of professional life at work that aims to reduce psychologial symptoms that causes stress. Apart from that, it is said that a direct interaction with nature can help humans to strengthen their mental endurance to deal with symptoms that causes stress.The proposed design as a solution is in the form of an open public space, a plaza between two buildings, commercial building and a greenhouse where the commercial building has several functions such as food court, market, café, book shops, reading area, and workshop. While the greenhouse gives garden products to support the commercial functions and as a recreational spot. Apart from the functions within the buildings, in effort to encourage visitors into gardening activities and provide direct interactions to nature, community garden serves as a solution in which visitors can plant crops or plants if they wanted to in the provided area on the site. AbstrakDKI Jakarta sebagai ibukota negara terdiri dari 5 wilayah dan 1 kabupaten. Jakarta memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Di masa modern ini penduduk cenderung tinggal dan beraktivitas di daerah perkotaan dengan demikian muncul permasalahan psikologis berupa stres. Dalam kehidupan perkotaan, stres tersebut diakibatkan karena aktivitas rutinitas sehari-hari dimana semua orang beraktivitas di antara kedua tempat yaitu tempat tinggal dan tempat kerja. Rutinitas ini dapat menimbulkan permasalahan yang dimulai dari perasaan bosan dan jenuh hingga bisa mengakibatkan suatu penyakit mental yang awalnya berupa stres, gangguan kecemasan, dan psikosis yang bisa menjadi depresi. Langkah yang dapat dilakukan adalah untuk membuat suatu tempat ketiga di luar dari kehidupan rumah tangga di tempat tinggal dan di luar kehidupan profesional di tempat kerja yang bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala psikologis yang mengakibatkan stres. Selain dari itu dikatakan bahwa interaksi secara langsung dengan alam dapat membantu seorang manusia untuk memperkuat daya tahan mental mereka untuk menghadapi tekanan-tekanan yang mengakibatkan stres. Rancangan yang diajukan sebagai solusi berupa sebuah ruang publik terbuka berupa plaza diantara dua bangunan berupa bangunan komersil dan bangunan rumah kaca dimana bangunan komersil berupa pujasera, pasar modern, café, toko buku, ruang baca, serta workshop, sementara rumah kaca berfungsi untuk memproduksi hasil berupa hasil kebun kepada fungsi komersil dan sebagai fungsi rekreasi. Selain dari fungsi di dalam bangunan dalam upaya mendorong minat pengunjung tapak terhadap kegiatan berkebun serta memberikan interaksi langsung dengan alam, dibuat sebuah fungsi kebun komunitas dimana perngunjung yang mendatangi tapak dapat menanam tanaman yang mereka inginkan pada area yang disediakan di tapak.
TIPOLOGI EKSPANSI MUSEUM Arja Wendra Nityasa; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4418

Abstract

A building of architectural works was created to have a main function so that it could be called a school, office and especially a museum. However, due to the development of the times, the influence of technological advances and changes in people's lifestyles can reduce enthusiasm for the building so that the need for additional space in accordance with the needs of the community, is included in the main functions. However, to make something new it is necessary to pay attention to the context of what was already there. According to Prof. Bill Raun Oklahoma State University academics stated that contextual emphasizes that a building must have a relationship with the environment (buildings that are around it). These linkages can be formed through the process of reviving the specific breaths that exist in the environment (old buildings) into new buildings afterwards The Museum’s Extension Typology Journal wants to show a small part of the design process and rules that need to be considered when designing an expansion of the museum that accommodates new functions that are in accordance with the demands of the community and the times or accommodates the increasing number of showing objects. The analysis process was carried out through observation through sampling ten museum extensions from around the world that were analyzed with the same variables to look for certain patterns and look for relationships between new museum buildings and the old ones. AbstrakSebuah bangunan karya arsitektur diciptakan untuk memiliki sebuah fungsi utama sehingga dapat disebut sebagai sekolah, kantor dan khususnya museum. Namun, akibat perkembangan zaman, pengaruh kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat dapat mengurangi antusiasme terhadap bangunan tersebut sehingga perlu adanya kebutuhan ruang tambahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarkat, dimasukan ke dalam fungsi-fungsi utama tersebut. Namun, untuk membuat sesuatu yang baru perlu memperhatikan konteks terhadap apa yang sudah ada sebelumnya. Menurut Prof.Bill Raun akademisi Oklahoma State University menyatakan bahwa kontekstual menekankan bahwa sebuah bangunan harus mempunyai kaitan dengan lingkungan (bangunan yang berada di sekitarnya). Keterkaitan tersebut dapat dibentuk melalui proses menghidupkan kembali nafas spesifik yang ada dalam lingkungan (bangunan lama) ke dalam bangunan yang baru sesudahnya. Jurnal Tipologi Expansi Museum ingin menunjukan sebagian kecil proses desain dan kaidah yang perlu diperhatikan saat merancang perluasan museum yang mengakomodasi fungsi baru yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman atau menampung benda pamer yang semakin bertambah. Proses analisis dilakukan melalui pengamatan melalui pengambilan sampel sepuluh expansi museum dari seluruh dunia yang dianalisis dengan variabel yang sama untuk mencari pola-pola tertentu dan mencari hubungan antara bangunan museum yang baru dengan yang lama. 
KAJIAN RUANG SAKRAL BAGI MILENIAL DI DALAM KREMATORIUM Drama Permai; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4326

Abstract

A very thick culture in Indonesian society is increasingly fading away by the milenial generation over time. One culture that is taken as an example is the culture of ancestral prayer, fading due to the absence of mediators to study the culture. The learning of ancestral prayer culture can be practiced directly in one of the sacred buildings, namely the crematorium and the columbarium. The purpose of this study was to examine the typology of crematorium spaces that match the behavior of the milenial generation and how to process the spatial atmosphere elements in the crematorium building. The research method used is collecting data from direct interviews, internet data and books, comparison of precedent studies and synthesis analysis. The crematorium was designed for the milenial by emphasizing a journey that will be carried out by the milenials. Space scale, space colors, light and dark spaces, and the atmosphere inside will create a sacred journey. This Journey is expected to be a reference where milenials can save a cultural experience by directly sensing the atmosphere and activities in each of their spaces that will create a separate memory for the milenials. The design presented will separate the 2 main programs, namely the sacred mass and the non-sacred mass that is connected with a link. The role of nature is also included as a combination of the artificial world and the natural world such as the earth where the sky is superimposed. AbstrakBudaya yang sangat kental di dalam masyarakat Indonesia semakin lama semakin memudar oleh generasi milenial seiring dengan berjalannya waktu. Salah satu budaya yang diambil sebagai contoh adalah budaya sembahyang leluhur, memudar dikarenakan tidak adanya mediator untuk mempelajari budaya tersebut. Pembelajaran budaya sembahyang leluhur dapat dipraktekan langsung di salah satu bangunan sakral, yaitu krematorium dan kolumbarium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti tipologi ruang krematorium yang cocok dengan perilaku generasi milenial dan bagaimana cara mengolah unsur suasana keruangan di dalam bangunan krematorium. Metode penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data dari wawancara secara langsung, data internet dan buku, perbandingan studi preseden dan analisis sintesis. Krematorium ini dirancang untuk milenial dengan menekankan pada sebuah perjalanan yang akan dilakukan oleh para milenial. Permainan skala ruang, warna ruang, terang dan gelap ruang, dan suasana hiruk pikuk suasana di dalamnya akan menciptakan sebuah perjalanan sakral. Perjalanan ini diharapkan dapat menjadi acuan dimana para milenial dapat menyimpan sebuah pengalaman budaya dengan cara merasakan langsung suasana dan kegiatannya di setiap ruangnya yang akan menciptakan memory tersendiri bagi para milenial. Desain yang disajikan akan memisahkan 2 program utama yaitu massa sakral dan massa non-sakral yang dihubungkan dengan sebuah penghubung. Peran alam juga dimasukkan sebagai perpaduan antara dunia buatan dan dunia alam seperti bumi dimana dilapiskan oleh langit.
RUANG SENI BEBAS STRES TJIKINI Jessica Santoso; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8519

Abstract

The consequences of living in a big city with such an intense life pace putting the citizens at higher risk for stress compared to those who live in the rural areas. Jakarta ranked 132nd out of 150 in the world’s most stressfull cities ranking. The stress level of its citizens is at level five on a scale of 1-10 and the numbers of its population with mental health problem keeps increasing each year. There are several factors that contribute to stress, i.e. the high rate of urbanization, traffic congestion, the lack of green spaces availability, heavy workload and also the pace of life in cities that needs us to always be faster, dynamic and efficient. Therefore, those who live in the cities needs the third place. A comfier space between home (first place) and work (second place) for citizens to spend the time, to take  a break from the daily routine, to socialize and to interact with others, and also as a place to relieve the stress. Using the healing environment approach, the purpose of Tjikini Stress Relieve Art Space is to provide an urban public space for recreation, freedom of expression, social gathering, social interaction and to have better knowledge on the arts as one of the alternatives to relax and to relieve the stress. It also acts as an supporting facility for arts activities in Cikini area which will become art and culture center of Jakarta. Keywords: Interaction; Stress; Third Place; Urban Stress AbstrakKonsekuensi tinggal di kota besar dengan dinamika kehidupannya yang sangat intens menjadikan masyarakat perkotaan rentan mengalami stres dibandingkan mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Jakarta menduduki peringkat ke-132 dari 150 kota paling stres di dunia. Tingkat stres masyarakatnya telah memasuki tahap kritis yakni, melebihi stadium lima dari skala 1-10 dan jumlah penderita gangguan mental emosional (stres) yang terus meningkat setiap tahunnya. Banyak faktor yang menjadi penyebab stres masyarakat kota diantaranya, tingginya tingkat urbanisasi, kemacetan, kurangnya ketersediaan ruang terbuka hijau, stres akibat menghadapi beban tuntutan pekerjaan hingga stres akibat tuntutan kehidupan perkotaan yang serba cepat, dinamis, dan serba efisien. Maka dari itu, masyarakat kota membutuhkan tempat ketiga. Sebuah ruang yang menghubungkan  rumah atau tempat tinggal (tempat pertama) dan tempat kerja (tempat kedua) sebagai ruang publik yang lebih santai bagi masyarakat kota untuk dapat beristirahat, berhenti sejenak dari segala rutinitas yang dilakukan setiap hari, bersosialisasi dan  berinteraksi serta menjadi tempat untuk menyalurkan stres. Dengan menggunakan metode Healing Environment, Ruang Seni Bebas Stres Tjikini bertujuan untuk membuat sebuah ruang publik yang memberikan ruang dan waktu bagi masyarakat kota untuk berkreasi, berekspresi, berkumpul, berinteraksi, dan mengenal lebih luas mengenai seni sebagai salah satu alternatif untuk relaksasi dan menyalurkan stres mereka. Juga sebagai fasilitas pendukung kegiatan seni pada Kawasan Cikini yang akan menjadi Pusat Kesenian Dan Kebudayaan Jakarta.
TEMPAT SINGGAH DUKUH ATAS STEPOVER PLACE Marseno Sanjaya; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6736

Abstract

Based on data from PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) the number of KRL passengers throughout 2017 reached 315.8 million passengers, up 12.55% from the previous year and will experience an increase every year. With this amount it is known that commuting has also increased. Areas that have easy access to public and strategic transportation are in the center of Jakarta's business district, Dukuh Atas. Hamlet above is also an area with a large commuter population. Every day commuters in Indonesia spend 2-third of their time just waiting and there is repetition. this causes things such as the individual's lack of attention to health, social world and also a high level of stress. Therefore, with the increasing number of passengers and the appropriate area a third place can be created which is a place between the first place and second place that drives humans to build community, equality, and also routines in terms of something positive. For that, we need a place to stop in order to increase productivity and also eliminate the saturation that arises due to repetition that occurs. Then a place was built that had programs such as a bed, a place to chat and also a green room. This building also had room for ticket information that was integrated directly with the Upper Hamlet Station which facilitated access and information accordingly such as departure hours and also when trains arrived.Abstrak Berdasarkan data PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) jumlah penumpang KRL sepanjang 2017 mencapai 315,8 juta penumpang naik 12,55% dari sebelumnya dan akan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dengan jumlah ini maka diketahui bahwa komuter juga mengalami peningkatan. Daerah yang memiliki akses yang mudah untuk transportasi umum dan strategis berada di pusat bisnis Jakarta yaitu Dukuh Atas. Dukuh atas juga merupakan daerah dengan penduduk commuter yang besar. Setiap hari kaum komuter di Indonesia menghabiskan 2 per 3  dari waktunya hanya untuk menunggu dan ada pengulangan yang terjadi. hal ini menyebabkan hal seperti ketidakperhatian individu terhadap kesehatan, dunia sosial dan juga tingkat stress yang tinggi .Oleh karena itu, dengan adanya jumlah penumpang yang terus meningkat dan kawasan yang sesuai dapat diciptakannya third place yaitu suatu tempat di antara first place dan second place yang mendorong manusia untuk membangun komunitas,kesetaraan,dan juga rutinitas dalam hal yang bersifat positif.Untuk itu, diperlukan sebuah tempat untuk singgah agar dapat meningkatkan produktivitas dan juga menghilangkan rasa jenuh yang timbul akibat pengulangan yang terjadi. Maka itu dibangunlah sebuah tempat yang memiliki program seperti tempat tidur, tempat untuk bercengkrama dan juga ruang hijau.Bangunan ini juga mempunyai ruang untuk informasi tiket yang berintegrasi langsung dengan Stasiun Dukuh Atas yang mempermudah akses dan informasi yang sesuai seperti jam keberangkatan dan juga waktu kereta datang.
KAJIAN PERANCANGAN RUANG KOMUNITAS SENI SKETSA PERJALANAN JAKARTA Andrew Christian Widjaja; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4459

Abstract

Milenials, especially in the capital city of Jakarta, stories of experience and travel in one place will not forget that moment to be immortalized, become a milenial lifestyle, until unwittingly the devoted moment is only for pleasure and selfishness, to forget the existing characteristics and culture in the place that is being visited. Indonesia is one of the countries that has a growing tourism sector that is currently high with the characteristics, culture and natural resources that exist. So that the government increases the economy from the tourism sector. One example is the capital city of Jakarta, the city of Jakarta in addition to being the administrative center of the country, it also has a very strong history and background, but often it is forgotten. Travelsketch community is a sketch art community that documents an event using sketches. This community documentation activity aims to study and observe existing cultures and expressions. The purpose of this design is to form patterns of interaction space that are in accordance with the character of travelsketch and milenials and how the milenial generation can be interested in getting to know the culture and character of a place. In the process of designing the pattern of space characteristics of travelsketch and regional patterns in Kota Tua, Jakarta  become the basis for forming a concept of space, so that the design is built in harmony with Kota Tua area. The Jakarta Travel Sketch Art Community is designed to introduce culture and character to a place through a sketch art, so that this community can become a venue for performances and education that shares experiences when in a place. Through this design the introduction of characteristics and tourist visitors that exist in a place can increase. AbstrakGenerasi Milenial terutama di Ibu Kota Jakarta  cerita pengalaman dan perjalanan di suatu tempat tidak akan lupa momen tersebut untuk diabadikan, menjadi sebuah gaya hidup milenial, hingga tanpa disadari momen yang diabdikan tersebut hanya untuk kesenangan dan keegoisan diri sendiri, hingga melupakan karakteristik dan kebudayaan yang ada di tempat yang sedang dikunjungi. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pertumbuhan parwisata yang sedang tinggi saat ini dengan karakteristik, kebudayaan dan kekayaan alam yang ada. Sehingga pemerintah meningkatkan perekonomian dari sektor pariwisata. Salah satu contohnya Ibu Kota  Jakarta, kota Jakarta selain menjadi pusat adminstratif negara, juga memiliki sejarah dan latar belakang yang sangat kuat, namun seringkali hal tersebut di lupakan. Komunitas Travelsketch merupakan sebuah komunitas seni sketsa yang mendokumentasi suatu kejadian dengan menggunakan sketsa. Kegiatan dokumentasi komunitas ini bertujuan untuk mempelajari dan mengamati kebudayaan yang ada dan untuk berekspresi. Tujuan dari rancangan ini adalah untuk membentuk pola ruang interaksi yang sesuai dengan karakter travelsketch dan milenial dan bagaimana generasi milenial dapat tertarik untuk mengenal kebudayaan dan karakter suatu tempat. Dalam proses perancangan pola ruang karakteristik travelsketch dan pola kawasan di Kota Tua menjadi dasar membentuk sebuah konsep ruang, sehingga rancangan yang di bangun selaras dengan kawasan Kota Tua. Komunitas Seni Sketsa Perjalanan Jakarta ini di rancang untuk memperkenalkan kebudayaan dan karakter suatu tempat  melalui sebuah seni sketsa, sehingga komunitas ini dapat menjadi sebuah wadah pertunjukan dan edukasi yang membagikan pengalaman ketika berada di suatu tempat. Melaui rancangan ini pengenalan karakteristik dan pengunjung  wisata yang ada di suatu tempat dapat meningkat.
Taman Rekreasi Digital Kebon Jeruk (Kebon Jeruk Digital Recreation Park) Ronaldo Sebastian; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8605

Abstract

Media information continues to grow with the presence of technology that increasingly brings convenience for humans. Communication can be conveyed quickly and effectively. One of the technological developments that support information media is Virtual Reality (VR). But the effect of this technology sometimes has a negative impact on health and society. With technology, people are increasing distance and tend to enjoy technology rather than having interaction with other people. Therefore, Kebon Jeruk Digital Recreation Park project gives the idea of openness with open architecture theme . The concept given is in accordance with the trend of this VR technology. The technology program is designed so that it can provide positive social, educational and recreational aspects. This project provides recreational education to the community about technological development.VMost of all the programs are developed with VR technology and open architecture. Visitors can enjoy educational and recreative facilities provided by technology. There are also different types of VR such as AR. The method used is the transprogramming method by combining all programs around the area combined with digital concepts. The existing program around the area suck as food and drinks that are available but not quality processed well will be designed integrated with other educational recreation programs. Keywords:  open architecture; technology; transprogramming; virtual reality Abstrak Media informasi terus berkembang dengan hadirnya teknologi yang semakin membawa kemudahan bagi manusia. Komunikasi dapat tersampaikan secara cepat dan efektif. Salah satu perkembangan teknologi yang mendukung media informasi adalah Virtual Reality (VR). Namun perkembangan teknologi ini terkadang memberi dampak negatif untuk kesehatan dan sosial di masyarakat. Dengan adanya teknologi, orang-orang semakin menjauh dan cenderung menikmati teknologi dibanding harus berinteraksi dengan orang lain. Maka dari itu, proyek Taman Rekreasi Digital Kebon Jeruk memberi ide dalam hal keterbukaan yang bertemakan Arsitektur Terbuka. Konsep yang diberikan sesuai dengan trend kemajuan teknologi VR ini. Teknologi di dalamnya dirancang sehingga dapat memberikan aspek sosial, edukasi dan rekreatif yang positif. Proyek ini bertujuan untuk memberikan edukasi yang bersifat rekreatif kepada masyarakat tentang kemajuan teknologi. Program yang dibawakan dikembangkan dengan  teknologi VR yang ada sekarang dan bersifat Arsitektur Terbuka. Pengunjung dapat menikmati sarana edukasi dan rekreasi yang diberikan dari program teknologi yang ada. VR yang digunakan juga berbeda jenis dan juga ada yang menggunakan AR. Metode yang digunakan yaitu metode transprogramming dengan menggabungkan seluruh program yang disekitar kawasan dan juga dibutuhkan masyarakat digabungkan dengan konsep digital yang dirancang. Program disekitar kawasan yang ada berupa makanan dan minuman yang ada namun tidak terolah akan dirancang terintegrasi dengan program bangunan rekreasi edukatif lainnya.
RUANG REKREASI WISATA DAN BUDAYA DI PASAR LAMA Vellicia Gunawan; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10736

Abstract

Moving and stopping are the basic activities for human, the base concept of movement and living for human. When we stop, we do what is called dwelling. The hearth was the birthplace of dwelling, where human gathered for the first time and exchanged stories, interacting with each other. From the hearth then the community was borned of which it kept changing through the age until now. The form always changes, but the essence of dwelling remains the same. The Pasar Lama district is a hearth for the citizens of Kota Tangerang, the heart of a city where it is the crossing point for people to interact socially. With time, a location rich with cultural heritage will slowly lose its existence if not preserved and taken into consideration for future development. This project intends to reenergize the Pasar Lama district by bringing forth a new space for people to interact. Located in one of the most important junctions in Kota Tangerang, this project hopes to return the essence of dwelling in Pasar Lama by creating a space catering to the extension of the culinary destination and the existing market, as well as holding the annual festival being hold in the area. The project utilizes the dragon dance which is an integral local culture for the Chinese etnicity in Tangerang as a red-string to dwelling of Pasar lama, the proyek aims to be a new landmark for the citizen of Kota Tangerang that can lift the image of dwelling in Pasar Lama. Keywords:  architecture; dragon dance; hearth; heritageAbstrakBerjalan dan berhenti merupakan aktivitas dasar bagi manusia, sebuah konsep dasar dari bergerak dan hidup bagi manusia. Ketika berhenti, manusia melakukan apa yang disebut dengan berhuni. Tungku perapian merupakan tempat lahir berhuni, dimana manusia pertama kali berkumpul dan saling bertukar cerita, berinteraksi antar satu sama lain. Dari tungku perapian lahir komunitas yang terus berkembang hingga sekarang. Bentuknya terus berubah, tetapi esensi berhuni di tengah perapian tetap sama. Kawasan Pasar Lama merupakan sebuah tungku perapian bagi masyarakat Kota Tangerang, sebuah jantung kota dimana menjadi titik temu bagi masyarakat untuk berinteraksi sosial. Seiring dengan waktu, sebuah lokasi dengan beragam cagar budaya akan terkikis oleh waktu bila tidak dipertahankan dan dikembangkan untuk kemudian hari. Proyek ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kawasan Pasar Lama dengan menghadirkan sebuah ruang baru bagi masyarakat untuk bersosialisasi. Berlokasi tepat di salah satu simpul terpenting Kota Tangerang, proyek ini berharap untuk mengembalikan esensi berhuni di Pasar Lama dengan mewadahi ekstensi dari wisata kuliner serta kegiatan pasar yang sudah ada, serta mewadahi kegiatan festival yang kerap diselenggarakan di kawasan. Desain proyek mengangkat tarian liong yang merupakan sebuah bentuk kebudayaan lokal yang erat kaitannya dengan etnis Tionghoa di Tangerang sebagai benang merah dari berhuni di Pasar Lama, proyek berperan sebagai sebuah landmark baru bagi masyarakat Kota Tangerang yang dapat mengangkat citra berhuni di Pasar Lama. 
TEMPAT PENGOLAHAN KOPI DI CIKINI Christoforus Davin; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6894

Abstract

Nowadays social needs and lifestyle become a phenomenon where going to a place to take a break from routine becomes a necessity, especially in a metropolitan city like Jakarta, from that background the Menteng Area, Cikini is a place of very intense routines between one place to other places to achieve something. From this statement, Cikini Coffee Roastery is an answer that can meet the needs and activities in the Cikini area, especially for workers, students, and coffee shops in various circles in the area. Through an interactive and open form of building with a bridge across the front of the building that gives the impression of a soul bond. Nursery as an engineered coffee plant is located at the back of the building as an area of interaction between the core building and the site, and the environment. The function of the space in the building has an orientation to serve the visitors, as well as the community in the area around the site. Abstrak  Di masa sekarang kebutuhan sosial dan gaya hidup menjadi sebuah fenomena dimana pergi ke sebuah tempat untuk rehat dari rutinitas menjadi sebuah kebutuhan, khususnya di kota metropolitan seperti Jakarta, dari latar belakang tersebut maka Kawasan Menteng, Cikini adalah tempat terjadinya rutinitas yang sangat intens antara satu tempat ke tempat lain guna mencapai sesuatu. Dari pernyataan tersebut maka Cikini Coffee Roastery adalah sebuah jawaban yang dapat memenuhi kebutuhan dan kegiatan di daerah Cikini, khususnya untuk para pekerja, mahasiswa, dan kedai – kedai kopi berbagai kalangan di Kawasan tersebut. Lewat bentuk bangunan yang interaktif dan terbuka dengan jembatan yang melintang di bagian muka bangunan yang memberikan kesan ikatan jiwa. Nursery sebagai tempat rekayasa tumbuhan kopi berada di bagian belakang bangunan sebagai area interaksi antara bangunan inti dengan tapak, serta lingkungannya. Fungsi ruang di dalam bangunan memiliki orientasi untuk melayani para pengunjung, maupun komunitas yang berada di lingkungan sekitar tapak.
POLA PEMUKIMAN MASA DEPAN MASYARAKAT PENGEMBARA LAUT, SUKU BAJAU Vincent Moyola Ancung; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10759

Abstract

In the era of globalization, Nusantara have lost most of its identity and culture. The view of society that has experienced gentrification needs to be restored to raise the locality again. Our minds have been blinded to the standard of living, it's time for us to think again to save the remaining culture. This project is the reflection of the process that has happened, creating another option of a new habitual pattern in the future by taking the literature on the life of the Bajau people, the Sama tribe who partly still embrace their original identity, For centuries the Bajau have lived according to the wind. and ocean currents, but now they are considered as violating national borders until they were arrested 6 years ago, November 2014 because they are considered as foreign and illegal fishermen. They are persuaded and forced to settle on the mainland in order to have an identity, even though their true identity is sea nomads. The story of "The Nomad of the Ocean" was taken over to create a new narrative of their fate,  a story where they, the Bajau, the Same tribe succeeded in fighting against capitalism which had not respected them all this time, and decided to return to settle in the ocean. Their identity and cultural values are still thick as lessons that can be learned to be a slap about a life that really needs to be protected. Hopefully this design will help the new generation understand the spirituality projected into the design to rediscover their interpretation of the identity of the nation in the archipelago. Keywords: Capitalism; Identity; Habitual Pattern; The Bajau; The Sea Nomads Abstrak Di era globalisasi ini, Nusantara nampaknya telah kehilangan sebagian besar identitas dan budayanya. Pandangan masyarakat yang telah mengalami gentrifikasi perlu dipulihkan untuk menaikan lagi Lokalitas. Batin dan pikiran kita telah dibutakan atas standar hidup, sudah saatnya kita berfikir kembali untuk menyelamatkan kebudayaan yang tersisa. Proyek ini mencoba merefleksikan proses atas apa yang telah terjadi, menciptakan opsi lain dari pola berhuni baru di masa depan dengan mengambil literatur kehidupan Masyarakat Bajau, suku Sama yang sebagian masih memeluk identitas asli mereka,  Selama berabad-abad suku Bajau hidup mengikuti arah angin dan arus laut, namun kini dianggap melanggar batas negara hingga ditangkap pada 6 tahun lalu, November 2014 karena dianggap sebagai nelayan asing dan illegal. Mereka dibujuk dan dipaksa untuk menetap di daratan agar memiliki identitas, Padahal identitas sejatinya adalah pengembara lautan. Kisah dari “Sang Pengembara Lautan” ini diambil alih untuk membuat narasi baru atas nasib mereka, cerita dimana orang Bajau, suku Sama berhasil melawan kapitalisme yang selama ini memandang mereka hanya dengan sebelah mata dan memutuskan kembali menetap di lautan. Identitas dan nilai kebudayaan yang masih kental dari mereka dijadikan pelajaran yang dapat di petik untuk menjadi tamparan tentang sebuah kehidupan yang sesungguhnya perlu di jaga. Angan-angan akan masa depan berhuni mereka dalam perancangan ini diharapkan dapat membantu generasi baru dalam memahami spiritualitas yang diproyeksikan ke dalam perancangan untuk menemukan kembali interpretasi mereka tentang jati diri dari bangsa di Nusantara.