Sutarki Sutisna
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

MENGEMBALIKAN MEMORI KAMPUNG TUGU MELALUI RUANG KEBUDAYAAN KAMPUNG TUGU, JAKARTA Feris Misael Trifosa; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22605

Abstract

Kampung Tugu area is a cultural heritage area. The Tugu Church, the Portuguese Village, the Rabo-Rabo Tradition, Mande-Mande as well as the Keroncong and Tugu dances are regional characters that are reflected in the Tugu Village. The area has undergone environmental changes, where village land use is currently mostly used as container and industrial parking lots which has caused the character of the Kampung Tugu area to slowly disappear, Kampung Tugu has become an intangible memory. Urban acupuncture is a strategy in placing cultural activity points as an effort to cure diseases in the area. Using everyday methods and typologies in the design can connect the needs of the area to the project to become a continuation of existence and revive the character of the Kampung Tugu area. Rabonde Toegoe is a new face for Kampung Tugu, a living tourism of Portuguese and Betawi culture that Tugu has. The design is carried out with adaptive reuse for the Tugu community in maintaining culture and opening up space to become an attraction for outsiders. Keywords:  acupuncture; architecture; character; city; degradation; region Abstrak Kawasan Kampung Tugu merupakan kawasan cagar budaya. Gereja Tugu, Kampung Portugis, Tradisi Rabo-Rabo, Mande-Mande serta Keroncong dan tarian Tugu, merupakan karakter kawasan yang tergambar dari Kampung Tugu. Kawasan mengalami perubahan secara lingkungan, dimana penggunaan lahan kampung, saat ini mayoritas digunakan sebagai lahan parkir kontainer dan industri yang menyebabkan karakter kawasan Kampung Tugu perlahan hilang, Kampung Tugu menjadi sebuah memori yang tidak berwujud. Akupunktur perkotaan menjadi sebuah strategi dalam menempatkan titik - titik aktivitas budaya sebagai upaya penyembuhan terhadap penyakit pada kawasan. Dengan menggunakan metode keseharian dan tipologi pada perancangan dapat mengkoneksikan kebutuhan kawasan terhadap proyek untuk menjadi sebuah kelanjutan dari eksistensi dan menghidupkan karakter kawasan Kampung Tugu. Rabonde Toegoe menjadi wajah baru bagi Kampung Tugu menjadi wisata hidup kebudayaan Portugis dan Betawi yang Tugu miliki. Perancangan dilakukan dengan penggunaan kembali secara adaptif bagi komunitas Tugu dalam mempertahankan kebudayaan serta membuka ruang untuk menjadi daya tarik bagi masyarakat luar.
ASRAMA MAHASISWA UNTAR DENGAN PENERAPAN RUANG KOMUNAL Hendrik Heriyanto; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24305

Abstract

Student dormitories have an important role in providing a comfortable place to live and support their social development. However, dormitories often only focus on physical aspects, such as providing sleeping space and basic facilities, without paying attention to the social needs of students. In this context, implementing empathetic communal spaces is a relevant solution. By implementing empathetic communal spaces, dormitories provide attention and respect for students as individuals in a dormitory environment. This communal space is designed to support students' social development, allowing them to share experiences, ideas and creativity. This approach is based on empathic architecture, which aims to create an environment that pays attention to and cares for the social needs of students. The application of communal space in student dormitory designs as a solution to empathic architecture makes a positive contribution in creating an environment that pays attention to students' social needs. This not only promotes healthy social interaction between students, but also enhances their experience of living during their studies in the hostel. With an empathic communal space, students can feel supported, valued and cared for as individuals, which in turn can help in their social development. In conclusion, the application of communal space in student dormitory design as a solution to empathic architecture has a positive impact on creating an environment that pays attention to the social needs of students. This creates a space for healthy social interaction and enhances their life experience during their study period at the hostel. Keywords: empathy architecture; student dormitory; communal space Abstrak Asrama mahasiswa memiliki peran penting dalam menyediakan tempat tinggal yang nyaman dan mendukung perkembangan sosial mereka. Namun, seringkali asrama hanya fokus pada aspek fisik semata, seperti menyediakan ruang tidur dan fasilitas dasar, tanpa memperhatikan kebutuhan sosial mahasiswa. Dalam konteks ini, penerapan ruang komunal yang empatik menjadi solusi yang relevan.Dengan menerapkan ruang komunal yang empatik, asrama memberikan perhatian dan penghargaan terhadap mahasiswa sebagai individu dalam lingkungan asrama. Ruang komunal ini dirancang untuk mendukung perkembangan sosial mahasiswa, memungkinkan mereka berbagi pengalaman, ide, dan kreativitas. Pendekatan ini didasarkan pada arsitektur empatik, yang bertujuan menciptakan lingkungan yang memperhatikan dan peduli terhadap kebutuhan sosial mahasiswa.Penerapan ruang komunal dalam desain dormitory mahasiswa sebagai solusi dari arsitektur empatik memberikan kontribusi positif dalam menciptakan lingkungan yang memperhatikan kebutuhan sosial mahasiswa. Ini tidak hanya mempromosikan interaksi sosial yang sehat antara mahasiswa, tetapi juga meningkatkan pengalaman hidup mereka selama masa studi di asrama. Dengan adanya ruang komunal yang empatik, mahasiswa dapat merasa didukung, dihargai, dan diperhatikan sebagai individu, yang pada gilirannya dapat membantu dalam perkembangan sosial mereka. Penerapan ruang komunal dalam desain dormitory mahasiswa sebagai solusi dari arsitektur empatik memberikan dampak positif dalam menciptakan lingkungan asrama yang memperhatikan kebutuhan sosial mahasiswa. Ini menciptakan ruang untuk interaksi sosial yang sehat dan meningkatkan pengalaman hidup mereka selama masa studi di asrama.
PERANCANGAN ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA DENGAN PENDEKATAN DESAIN BIOFILIK Jason Ngasinur; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24306

Abstract

Along with the times, character of cities and generations keeps on changing, especially students. Starting from the development of new technologies that affects their life and way of living causing students to prefer living in cities. This has led to urbanization due to the desire of students to get a better education. Tarumanagara University is one of the student learning options. However, with the increase in enrollment of students at Tarumanagara University, this has led to developments of buildings that can accommodate students needs but with limited land and population density have resulted in inefficient student housing development, so that there is still a lack of facilities that can support student needs. An empathic architectural approach is applied to fulfill the desire of a student dormitory design that can follow student preferences while studying both physically and spiritually so that it can be a form of solution in meeting student needs. Spatial perception method with a biophilic architectural approach is used as a design method that seeks to present a room that can accommodate the needs of Tarumanagara University students both from a psychological or physical perspective. These two methods are used by applying the concept of housing that is green and blends with nature based on the five senses which can affect their level of concentration, health and can be an effort in providing green open spaces for both students and the surrounding community. Keywords: biophilic architecture; empathic architecture; student dormitory; student Abstrak Seiring perkembangan zaman, menyebabkan perubahan pada karakter kota dan generasi yang terus berganti terutama mahasiswa. Dimulai dari teknologi baru yang mempengaruhi cara hidup dan tinggal mereka sehingga mahasiswa lebih memilih untuk tinggal di kota. Hal tersebut menimbulkan terjadinya urbanisasi karena keinginan mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Universitas Tarumanagara merupakan salah satu pilihan pembelajaran mahasiswa. Namun dengan peningkatan pendaftaran jumlah mahasiswa Universitas Tarumanagara menyebabkan pembangunan yang dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa tetapi dengan keterbatasan lahan dan kepadatan penduduk menyebabkan pembangunan hunian mahasiswa yang tidak efisien sehingga masih memiliki kekurangan fasilitas yang dapat menunjang kebutuhan mahasiswa. Pendekatan arsitektur empatik diterapkan untuk dapat mewujudkan suatu keinginan dari perancangan asrama yang dapat mengikuti preferensi mahasiswa saat berada dilingkup pendidikan baik secara jasmani dan rohani sehingga dapat menjadi bentuk solusi dalam memenuhi kekurangan kebutuhan mahasiswa. Metode persepsi spasial dengan pendekatan arsitektur biofilik digunakan sebagai metode perancangan yang berupaya untuk menghadirkan ruangan yang dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa Universitas Tarumanagara baik dari segi psikologi atau fisik. Kedua metode ini digunakan dengan mengaplikasikan konsep hunian yang bersifat hijau dan menyatu dengan alam berdasarkan panca indra yang dapat mempengaruhi tingkat konsentrasi mereka, kesehatan dan dapat menjadi upaya dalam penyediaan ruang terbuka hijau baik untuk mahasiswa atau masyarakat sekitar.
FASHION SEBAGAI WADAH REKREASI DI KALANGAN REMAJA BANDUNG Dennis Dennis; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24307

Abstract

The discussion begins with a focus on the transitional period of adolescence, which is a phase of transition from childhood to adulthood. During this period, teenagers search for identity, habits, and personal interests, which leads to an interest in purchasing clothing or fashion items. This is evident in teenagers aged 16-21 who spend more money on appearance-related needs, particularly in terms of fashion or style. This research focuses on the consumptive behavior of teenagers in Bandung, chosen due to the abundance and distribution of fashion stores in the area. The consumptive behavior of teenagers towards material goods has developed due to clothing no longer being seen as a necessity but rather a desire or influence stemming from the globalization of the economy in Indonesia. Additionally, consumptive behavior among teenagers is seen as a recreational outlet or source of pleasure. The aim of this research is to understand how architecture can accommodate and respond to the recreational needs of Bandung's teenagers to address their consumptive behavior. The research adopts a qualitative-descriptive approach, with a focus on collecting descriptions of relevant issues and solutions. In the context of the significant influence of fashion stores on teenagers' consumptive behavior, there is a need to develop empathy towards spaces that can fulfill their needs. The recreational spaces should remain present but incorporate education to transform or limit consumptive behavior. Therefore, a combination of commercial spaces and informative spaces that are beneficial for teenagers is essential. Keywords: bandung; consumptive behavior; fashion; recreation; teenagers Abstrak Pembahasan dimulai dengan fokus pada periode transisi remaja, yang merupakan fase peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Selama masa ini, remaja mencari identitas, kebiasaan, dan minat pribadi, sehingga muncul minat dalam membeli pakaian atau fashion. Terlihat pada remaja usia 16-21 tahun yang menghabiskan lebih banyak uang untuk kebutuhan penampilan, terutama dalam hal fashion atau mode. Penelitian ini berfokus pada perilaku konsumtif remaja di Bandung, yang dipilih karena jumlah dan penyebaran toko fashion yang cukup banyak. Perilaku konsumtif remaja terhadap benda berkembang dikarenakan pakaian yang bukan lagi dari kebutuhan melainkan hasrat atau keinginan pengaruh lainnya dari arus globalisasi ekonomi yang masuk ke Indonesia. Selain itu perilaku konsumtif dikalangan remaja dilakukan karena dianggap sebagai wadah rekreasi atau kesenangan mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana arsitektur dapat mengakomodasi dan merespons kebutuhan wadah rekreasi remaja Bandung untuk menjawab perilaku konsumtif yang dilakukan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan fokus pada pengumpulan deskripsi tentang masalah dan solusi yang berkaitan. Dalam konteks banyaknya toko fashion yang memengaruhi perilaku konsumtif remaja, ada kebutuhan untuk mengembangkan empati terhadap ruang yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Wadah rekreasi yang tetap ada namun dimasukan edukasi sehingga bisa mengubah atau membatasi perilaku konsumtif ini. Oleh karena itu, pencampuran ruang untuk adanya kegiatan perdagangan dengan adanya ruang yang berisikan informasi yang berguna bagi remaja.
RUANG GRAFITI SEBAGAI RUANG INSPIRASI ASPIRASI MASYARAKAT Daniel Christopher; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24308

Abstract

Graffiti art painted in urban areas has a negative impact on the views of the social community. Social problems that cannot be conveyed by the community are problems that are common in the current generation. However, graffiti artists dare to move to convey the inspiration and aspirations of the people with works of art in urban areas. However, some observers often misunderstand and are offended by this and are viewed badly by the public, which turns the work of art into vandalism. The anxiety of graffiti artists is illustrated when city stickers are often affixed with service posters which actually eliminates the aesthetics of cities compared to graffiti in urban areas. Therefore, this study aims to get to know more about graffiti art in order to provide an approach to society so that misunderstandings do not occur and it can be accepted and the community has the courage to channel inspiration and aspirations towards existing social problems. Apart from that, providing a space for moving graffiti where among the space programs that occur there will be graffiti as an interactive program and close to the community. The design method is taken from existing urban graffiti to be opened and analyzed as on the basis of spatial design as well as the results of collage exploration to form a new space for graffiti artists. The design was carried out in Kemang as one of the areas that needed a stopover space as an urban space and close to graffiti art. The spatial approach to graffiti in urban areas is so that it can provide new views for the community so that they can provide new inspiration and aspirations when side by side with graffiti artists in carrying out activities. Keywords: aspiration; graffiti; inspiration; social; vandalism Abstrak Seni grafiti yang dilukis di perkotaan memberikan dampak yang negatif di pandangan masyarakat sosial. Permasalahan sosial yang tidak dapat tersampaikan oleh masyarakat menjadi permasalahan yang sudah biasa terjadi di generasi sekarang. Namun, pelaku seni grafiti berani bergerak untuk menyampaikan inspirasi dan aspirasi masyarakat dengan karya seni di perkotaan. Tetapi, beberapa pandangan yang melihat sering salah menangkap dan tersinggung akan hal tersebut dan dipandang buruk oleh masyarakat yang membuat karya seni tersebut menjadi vandalisme. Keresahan seniman grafiti tergambarkan ketika perkotaan seringkali ditempelkan stiker poster-poster jasa yang justru menghilangkan estetika kota dibandingkan grafiti yang ada di perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengenal lebih jauh seni grafiti untuk memberikan pendekatan terhadap masyarakat agar tidak terjadi salah persepsi dan dapat diterima dan masyarakat berani untuk menyalurkan inspirasi dan aspirasi terhadap masalah sosial yang ada. Selain itu, memberikan sebuah ruang untuk grafiti bergerak yang dimana diantara program ruang yang terjadi disitu akan ada grafiti sebagai program interaktif dan dekat dengan masyarakat. Metode perancangan diambil dari grafiti di perkotaan yang ada untuk dibuka dan dianalisis sebagai atas dasar desain keruangan maupun hasil eksplorasi kolase untuk membentuk sebuah ruang baru untuk seniman grafiti. Perancangan dilakukan di Kemang sebagai salah satu kawasan yang memerlukan ruang singgah sebagai ruang perkotaan dan dekat dengan seni grafiti. Pendekatan keruangan grafiti di perkotaan agar dapat memberikan pandangan baru untuk masyarakat agar bisa memberikan inspirasi dan aspirasi baru apabila berdampingan dengan seniman grafiti dalam melakukan aktivitas.