Sutarki Sutisna
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

KAJIAN PERANCANGAN PERANGKAP TURIS DENGAN PENGALAMAN BUDAYA BETAWI DI LENTENG AGUNG Monica Vioni Leksono; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4349

Abstract

Millennials is a generation who prefers exploring new things rather than saving for future. Millennials who were born in rapid high technology development era make the global culture affects the generation easily, this causes the local culture such as betawi culture is less demanded by millennials. Tourism area in South Jakarta which less centralized and not having strong activity connection make some of the attractions unexplored, such as Betawi Village in Setu Babakan. A connector between Ragunan attractions & Perkampungan Betawi in Setu Babakan is needed by creating facilities with informal education and entertainment program that can help tourist to explore more about betawi culture with holiday experience. This design is studied by researching the behavior of Millennials, their behavior towards betawi culture and the characteristics of attractions that will be able to make Millennials come. The design strategy of this touris trap is explorative, interactive, and telling a story about a space experience that can catch Millennials’ attention which can be adapted to their behavior. Contoured site and green area along the site and street make this tourist trap integrated well with green area. Narrative architecture method is applied to make space rich with immersive experience in order to have their one story. Visitors can do fun activities by learning with interactive digital media in the form of cullinary gallery, self learning area, workshop, and escape room based on betawi culture history and the story of Betawi folkfore. AbstrakGenerasi millenial adalah generasi yang lebih suka mengeksplor hal baru dengan berwisata dibandingkan dengan menabung untuk kebutuhan masa depan. Generasi millenial lahir di era perkembangan teknologi yang pesat, membuat budaya asing masuk lebih mudah sehingga budaya lokal seperti budaya betawi kurang diminati oleh generasi ini. Kawasan Pariwisata di Jakarta Selatan yang kurang terpusat dan tidak memiliki konektivitas aktivitas yang kuat menyebabkan objek wisata kurang tereskplor, seperti Perkampungan Betawi di Setu Babakan. Penghubung antar objek wisata Ragunan dan Perkampungan Betawi dibutuhkan dengan membuat fasilitas dengan program edukasi dan hiburan yang bersifat informal yang dapat membantu wisatawan mempelajari lebih dalam mengenai budaya Betawi dengan pengalaman berlibur berdasarkan perilaku millenial. Perancangan ini disusun dengan mengkaji perilaku dari generasi millenial, perilakunya terhadap budaya Betawi dan karakteristik dari atraksi yang dapat menarik millenial untuk datang. Perangkap turis ini dirancang dengan strategi desain yang eksploratif, interaktif, dan menceritakan sebuah cerita dari pengalaman ruang sehingga dapat menarik perhatian millenial. Tapak yang berkontur dan jalur hijau yang berada di sepanjang tapak dan jalan membuat perangkap turis ini berintegrasi dengan ruang luar lebih baik. Metode naratif arsitektur diterapkan untuk membuat ruang kaya akan pengalaman imersif sehingga memiliki satu-kesatuan cerita. Para pengunjung dapat melakukan aktivitas yang menyenangkan dengan belajar menggunakan media digital interaktif dalam bentuk galeri kuliner, area belajar mandiri, pelatihan ketrampilan dan permainan yang didasari oleh cerita sejarah budaya betawi dan cerita rakyat betawi.
EVOLUSI RUANG KERJA – PENINGKATAN KUALITAS HIDUP MERESPON LAJU PERKEMBANGAN KEHIDUPAN Jason Christhoufer Kurniawan; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17021

Abstract

Technological developments and the existence of a pandemic have caused the pace of development of life globally and daily to also experience a fairly significant acceleration. This has an impact on all sectors of life including in shaping daily habits, mindsets, and lifestyles. The work system was forced to undergo a very significant evolution because the pandemic resulted in many people being forced to work online. Lifestyle has changed significantly. From the data obtained, humans spend half of their daily 24 hours at work. So it can be concluded that the workplace has an impact on a person's quality of life. Productivity, creativity, resilience and other quality of life factors are strongly influenced by the workplace. The effectiveness provided by workplaces and residences, quality of space, atmosphere of space, communal spaces to support social activities of workers in order to provide self-satisfaction outside of work achievement and so on are things that can create a better quality workplace. So that workers become more comfortable, productive and effective at work. Keywords: Evolution ; Pandemic ; Technological Developments ; Workplace AbstrakPerkembangan teknologi dan adanya pandemi menyebabkan laju perkembangan kehidupan secara global maupun sehari-hari juga mengalami percepatan yang lumayan signifikan. Hal tersebut memberi dampak pada semua sektor kehidupan termasuk dalam membentuk kebiasaan sehari-hari, pola pikir, dan gaya hidup. Sistem kerja dipaksa mengalami evolusi yang sangat signifikan karena dengan adanya pandemi mengakibatkan orang-orang banyak yang terpaksa bekerja dengan sistem daring. Pola hidup pun berubah dengan sangat signifikan. Dari data yang didapatkan, manusia menghabiskan setengah waktu dari 24 jam kesehariannya di tempat kerja mereka. Sehingga bisa disimpulkan bahwa tempat kerja memberikan dampak terhadap kualitas hidup seseorang. Produktivitas, kreativitas, kebetahan dan faktor kualitas hidup lainnya sangat dipengaruhi tempat kerja. Keefektifan yang diberikan tempat kerja dan tempat tinggal, kualitas ruang, suasana ruang, ruang-ruang komunal guna mendukung kegiatan sosial dari para pekerja agar memberikan kepuasan diri diluar pencapaian kerja dan lain sebagainya merupakan hal-hal yang bisa menciptakan kualitas tempat kerja yang lebih baik. Sehingga para pekerja pun menjadi lebih betah, produktif dan efektif dalam bekerja.
RUANG KOMUNAL KUE TRADISIONAL DI SENEN Astrid Agustina; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8503

Abstract

The Indonesian people should be proud, because Indonesian food has been named the most delicious food in the world for several years. Other nations even recognize our ancestral heritage. Indonesian traditional foods such as rendang, satay and fried rice are already well-known and recognized by other countries, but traditional snacks and cakes are still less popular in Indonesia's young generation. Throughout culinary development, we often encounter cakes like tarts, brownies, or pies compared to traditional cakes such as bugis, apem cake, bikang cake. It is not wrong if  Indonesian wants to know about cakes from the west country, but we must also preserve culture as the identity of the Indonesian people in the eyes of the world. Do not let the traditional cakes that can still be found in the market have decreased. Therefore, Third Place as a forum that can be used to provide knowledge and preparation is needed in the midst of the younger generation. Third place as a space to support is needed by humans. Humans need social assistance between other humans. Lack of social connections can damage human health more than obesity, smoking, and high blood pressure. In addition to socializing, Third Place can also be made for education purposes, with the aim that all people particularly young people have knowledge of their own culture and traditional foods, especially traditional cakes.Keywords:  Indonesian foods, social, third place, traditional cakesAbstrakBangsa Indonesia patut berbangga, pasalnya makanan Indonesia dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia selama beberapa tahun. Bangsa lain saja bahkan mengakui kelezatan warisan nenek moyang kita. Makanan tradisional Indonesia seperti rendang, sate, dan nasi goreng memang sudah dikenal dan diakui oleh negara lain, namun camilan dan kue tradisional masih kurang populer bahkan di generasi muda Indonesia sendiri. Seiring perkembangan kuliner, lebih sering kita temui kue-kue seperti tart, brownies, atau pie dibandingkan kue tradisional seperti kue bugis, kue apem, kue bikang. Tidak salah bila masyarakat Indonesia ingin terbuka dan mempelajari kue-kue asal barat, namun kita pun harus tetap melestarikan budaya sebagai identitas bangsa Indonesia di mata dunia. Jangan sampai kue-kue tradisional yang masih bisa ditemukan di pasar semakin menurun eksistensinya. Oleh karena itu, sebuah Third Place sebagai wadah yang dapat digunakan untuk memberikan pengetahuan dan pengenalan diperlukan di tengah-tengah generasi muda. Third Place sebagai ruang untuk berkumpul sangat diperlukan bagi manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan koneksi antara manusia lain. Kurangnya koneksi sosial bahkan dapat merusak kesehatan seorang manusia lebih besar dibandingkan obesitas, rokok, dan tekanan darah tinggi. Selain untuk bersosialisasi, Third Place juga dapat dijadikan sarana untuk edukasi, dengan tujuan agar semua masyarakat terutama generasi muda memiliki pengetahuan dan mengenal budaya memasak dan makanan tradisional mereka sendiri, khususnya kue tradisional.
SISTEM HUNIAN MASA DEPAN BERBASIS TEKNOLOGI UNTUK KEBUTUHAN MANUSIA Albert Utama; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10800

Abstract

The Living Bot is a project where future residential buildings will adapt to the times. In the coming year, the human population will continue to grow, so that it will use the land as a place for various needs such as shelter, activities, and other things. Along with this increase in human population, the land will also shrink while the land itself is needed so that humans can meet their food needs either from farming (plants), or through livestock (animal). Therefore, The Living Bot created a system in which human implementation begins to adapt to the life in which they live by implementing a residential system that can produce their own food with plantings that maximize vertical land. This form of shelter can be used as a system so that its application can be carried out. Adaptations that are carried out are by changing the lifestyle of humans to the use of technology. The lifestyle that must adapt is by farming, assisted by A.I. technology. because humans in urban areas do not have a background in growing a food crop. Therefore technology is present in helping urban communities, also assisted by modern planting methods such as using hydroponics, aquaponics, aeroponics, and indoor planting techniques assisted by artificial light such as LEDs. Keywords: Adaptation; Techonology Abstrak The Living Bot merupakan sebuah proyek dimana bangunan hunian pada masa depan akan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pada tahun yang akan datang, populasi manusia akan terus bertambah, sehingga akan menggunakan lahan sebagai tempat untuk berbagai macam kebutuhan seperti tempat tinggal, aktivitas, dan hal lainnya. Seiring dengan pertambahan populasi manusia ini, lahan juga akan semakin menyempit sedangkan lahan sendiri diperlukan agar manusia dapat memenuhi kebutuhan pangannya baik dari hasil bertani (tumbuh-tumbuhan), ataupun melalui peternakan (hewani). Maka dari itu The Living Bot membuat suatu sistem yaitu dimana implementasi manusia mulai beradaptasi dengan kehidupan tempat tinggalnya dengan menerapkan sistem hunian yang dapat menghasilkan makanannya sendiri dengan penanaman-penanaman yang memaksimalkan lahan secara vertikal.Bentuk hunian seperti ini dapat dijadikan sebuah sistem sehingga penerapannya dapat dilakukan di berbagai hunian Adaptasi yang dilakukan adalah dengan mengubah gaya hidup manusia sampai kepada pengunaan teknologi. Adapun gaya hidup yang harus beradaptasi adalah dengan bercocok tanam, dengan dibantu oleh teknologi A.I. karena manusia yang ada di perkotaan tidak memiliki latar belakang dalam menanam sebuah tanaman pangan. Maka dari itu teknologi hadir dalam membantu masyarakat kota, juga dibantu oleh metode menanam yang modern seperti menggunakan hidroponik, akuaponik, aeroponik, dan teknik penanaman indoor yang dibantu oleh cahaya buatan seperti LED.
KOMUNITAS LA PIAZZA Arnold Christianto Oenang; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6711

Abstract

Humans are social creatures who need the presence of others to complete their lives and have a place to do these activities. These needs are then the background for the formation of public space. With the changing times and technology, the need for a public space to do more and more activities. The space is referred to as the Third place by sociologist Ray Oldenburg. La Piazza is one place that can be called a Third place, but the place was closed because it was not going well. The purpose of this design is to reactivate the function of La Piazza as a Third place in Kelapa Gading. La Piazza Third place has a new design that emphasizes the concept of open architecture and architecture for the Third place as well as the concept of forests. so the design of the new building in addition to having spaces that are open to the public and community space, also gives the impression of being open and inviting as well as cool and calm. In this project, some existing structures in the old building were reused, such as basements, connectors to the parking building, connectors to the ivory coconut mall, and structures from the existing northern La Piazza building. There are 3 forest elements applied to buildings, namely water, greenery and sunlight. These 3 things can relax people with a lot of thoughts and stress about work, especially those who work in offices, according to Regent's University London research. Abstrak Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain untuk melengkapi hidupnya dan memiliki tempat untuk melakukan aktifitas tersebut. Kebutuhan inilah yang kemudian yang menjadi latar belakang terbentuknya ruang publik. Dengan adanya perkembangan jaman dan teknologi, kebutuhan akan sebuah ruang publik untuk melakukan aktivitas semakin banyak. Ruang tersebut disebut sebagai tempat ketiga oleh sosiologis Ray Oldenburg. La Piazza merupakan salah satu tempat yang dapat disebut sebagai tempat ketiga, namun tempat tersebut ditutup karena kurang berjalan dengan baik. Tujuan desain ini untuk mengaktifkan kembali fungsi La Piazza sebagai tempat ketiga di Kelapa Gading. La Piazza Third place memiliki desain yang baru mengutamakan konsep open architecture dan architecture for the Third place juga konsep hutan. sehingga desain pada bangunan baru selain memiliki ruang - ruang yang terbuka untuk umum dan ruang komunitas, juga memberikan kesan terbuka dan mengundang serta sejuk dan tenang. Dalam proyek ini beberapa struktur eksisting pada bangunan lama digunakan kembali, seperti basement, konektor menuju gedung parkir, konektor menuju mall kelapa gading, dan struktur dari eksisting gedung La Piazza bagian utara.  Terdapat 3 elemen hutan yang diterapkan pada bangunan, yaitu air, tanaman hijau dan cahaya matahari. 3 hal tersebut dapat merelaksasi orang yang sedang banyak pikiran dan stress akan pekerjaan khususnya orang - orang yang bekerja di kantoran, menurut penelitian regent's university london.
PENGOLAHAN KAYU & BESI BEKAS SEBAGAI WADAH MENGURAI MANGGARAI DALAM PENYELESAIAN WAJAH KAWASAN MELALUI URBAN AKUPUNKTUR Mega Widiya; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22079

Abstract

Every district continues to move forward in response to the increasingly diverse community activities in the city’s rapid development. Manggarai is one of the old and complex districts in South Jakarta that holds various historical values and problems. Growing up with its initial face as a commercial area, the development has shifted Manggarai into a transit-oriented area as its new face. Local people complain that movement is limited to arterial roads causing some areas to stagnate and degrade due to the lack of attractors. Therefore, this project seeks to regenerate community expectations regarding the realization of potential and memory through urban acupuncture methods. With this idea, “unraveling spot” is built by dissecting the urban context using the image of the city theory, which describes various issues and potentials that can be raised as targets in answering the value of urban acupuncture itself. The analysis will lead to the design of the used goods business in the wood and iron sector that is still existing and is in demand by the public which later will have programs such as gallery, hangout space, cultural stage, market, and culinary area, as well as green open space. In conclusion, this project aims to strengthen community interaction and participation, which will lead to an even distribution of movement, the emergence of community, equality, and recreational nodes network. Keywords: Community Empowerment; Image of the City; Recreation; Scrap Wooden Metal; Urban Acupuncture Abstrak Berbagai kawasan terus bergerak maju guna merespon semakin beragamnya aktivitas masyarakat dalam pesatnya perkembangan kota. Manggarai menjadi salah satu kawasan tua dan kompleks di Jakarta Selatan yang menyimpan beragam nilai historis dan persoalan. Tumbuh dengan wajah awalnya sebagai kawasan perniagaan namun perkembangan membawanya beralih menjadi kawasan berorientasi transit sebagai wajah barunya. Masyarakat setempat mengeluhkan pergerakan yang sebatas pada jalan-jalan arteri menyebabkan beberapa area stagnan dan berdegradasi karena kurangnya atraktor pada kawasan. Oleh karena itu, proyek ini berusaha menumbuhkan kembali harapan masyarakat mengenai pengangkatan kembali potensi dan memori kawasan melalui metode akupunktur perkotaan. Dengan gagasan ini, “wadah mengurai” dibangun dengan membedah konteks perkotaan menggunakan teori citra kota yang menjabarkan berbagai isu dan potensi yang diangkat sebagai sasaran dalam penerapan akupunktur perkotaan itu sendiri. Analisis tersebut akan berujung pada perancangan bisnis barang bekas di sektor kayu dan besi yang masih memiliki eksistensi dan diminati masyarakat dimana nantinya program seperti galeri, tempat nongkrong, panggung budaya, wadah jual beli, dan area kuliner, serta ruang terbuka hijau. Kesimpulannya, proyek ini bertujuan untuk mempererat interaksi dan partisipasi masyarakat yang akan membawa penyebaran perpindahan yang merata, timbulnya komunitas, kesetaraan, dan jaringan simpul rekreasi yang utuh.
RUANG SENI SENEN SEBAGAI TITIK AKUPUNKTUR PERKOTAAN UNTUK MENGHIDUPKAN IDENTITAS KESENIAN DAN MEMORI SENEN Venny Felicia Hens; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22081

Abstract

The Senen area was formerly known as the center for arts and cultural action in Jakarta. Then it became a hangout place for artists known as Seniman Senen. In 1968, the Governor of Jakarta decided to build Taman Ismail Marzuki which was expected to become a new art center in Jakarta. But slowly the big name of Seniman Senen dimmed when political agitation among artists began to strengthen. Senen began to lose the essence of art along with the times that faded the local culture. Meanwhile, the Senen area, which has been revitalized several times, still has a point of degradation. One of them is the Grand Theater, a historic film show building that was abandoned because it was unable to compete with the currents of globalization. The Grand Theater was burned by mass demonstrations against the policy of the Onimbus Law, which finally entered a phase of stagnation for six years and damaged the image of the Senen area. It is at this point that urban acupuncture can work to revive the Grand Theater, supported by narrative and experimental methods. It is hoped that it can awaken the art of film, create an art platform, and an artistic path that can strengthen the identity and memory of the area as the center of art in Jakarta. It is also hoped that it can be input and produce the right forum for the Senen community in developing arts, culture, as well as restoring the image of the region in the midst of globalization. This project changes the concept of art into a newer one based on collective memory so that it can be relevant to people's lives today and in the future. Keywords:  Degradation; Grand Theater; Senen Art; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan Senen dahulu dikenal sebagai pusat aksi kesenian dan kebudayaan di Jakarta. Kemudian sempat menjadi tempat kongko seniman yang dikenal sebagai Seniman Senen. Pada 1968, Gubernur Jakarta memutuskan untuk membangun Taman Ismail Marzuki yang diharapkan menjadi pusat seni baru di Jakarta. Tetapi perlahan nama besar Seniman Senen meredup ketika agitasi politik di kalangan seniman mulai menguat. Senen mulai kehilangan esensi seni seiring dengan perkembangan zaman yang memudarkan budaya lokal. Sementara itu, Kawasan Senen yang sudah beberapa kali direvitalisasi ternyata masih memiliki titik degradasi. Salah satunya Grand Theater, bangunan pertunjukan film bersejarah yang terbengkalai karena kalah bersaing digerus arus globalisasi. Grand Theater sempat terbakar oleh unjuk masa yang menolak kebijakan UU Onimbus Law akhirnya memasuki fase stagnansi selama enam tahun dan merusak citra kawasan Senen. Pada titik inilah akupunktur perkotaan dapat bekerja untuk menghidupkan kembali Grand Theater, didukung dengan metode narasi dan eksperimental. Diharapkan dapat membangkitkan seni perfilman, menciptakan wadah seni, dan jalur seni yang mampu memperkuat identitas juga memori kawasan sebagai pusat kesenian di Jakarta. Diharapkan pula dapat menjadi masukan dan menghasilkan wadah yang tepat untuk masyarakat Senen dalam pengembangan kesenian, kebudayaan, juga mengembalikan citra kawasan ditengah arus globalisasi. Proyek ini mengubah konsep seni menjadi lebih baru berdasarkan memori kolektif agar dapat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini dan masa depan.
PERAN AKUPUNKTUR PERKOTAAN DALAM MENGHIDUPKAN KAWASAN KULINER PECENONGAN Shangrila Puan Charisma; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22127

Abstract

Technology development and city urbanization lead to a shift in activity and habit. Traditional value starts to change become modern value and trend. Because of the shifting, there will be disadvantageous towards certain society, which are lower middle class society. Lower-middle class society don't have the chance to follow the trend changes because lack of financial ability. Because of that case, their continuity become difficult. For example, street-culinary vendors start to find it difficult to find the comfortable typology for their activities. As a result, using the pedestrian or street illegally by this certain class can cause the discomfort. This distrubance can cause traditional value degrades, even causing identity lost. Region that maintain the continuity of traditional value will have the uniqueness and make that region interesting to be visited. This will give attraction for vibrant community and continuity. Pecenongan Area is famous for its traditional culinary which characteristic are tent shop and cadger. But as time goes by, the quantity of the seller and visitors started to decrease. This is the concrete shape of culinary identity that degrades. In case of that, urban acupuncture's role is needed to revitalize the traditional identity for Pecenongan Area that focus on culinary gradation. Keywords: degradation; street culinary vendors; traditional; urban acupuncture Abstrak Perkembangan teknologi dan urbanisasi di kota metropolitan menyebabkan pergeseran aktivitas dan kebiasaan. Perlahan sesuatu yang tradisional mulai tergantikan dengan suatu terbaru atau tren lainnya. Di dalam pergeseran, selalu ada yang dampak yang diberikan kepada masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat menengah ke bawah tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti perubahan tren yang membutuhkan lebih banyak modal. Oleh sebab itu, keberlangsungan masyarakat menengah ke bawah sangat sulit. Misalnya, pedagang kuliner jalanan yang mulai sulit menemukan tipologi ruang yang cocok untuk mereka. Alhasil, pemanfaatan ruang pedestrian atau jalanan oleh kelompok ini menyebabkan ketidaknyamanan. Hambatan ini dapat menyebabkan budaya tradisional mengalami degradasi, bahkan menimbulkan kehilangan identitas tradisional wilayah tersebut. Suatu wilayah yang masih mempertahankan nilai tradisionalnya akan memiliki keunikan yang menjadikan wilayah tersebut memiliki citra dan atraksi yang menarik untuk dikunjungi sehingga memberikan ruang komunitas yang hidup dan berkelanjutan. Kawasan Pecenongan pada masanya terkenal dengan identitas kuliner tradisional berupa kuliner jalanan dengan bentuk warung tenda atau pedagang kaki lima. Namun seiring berjalannya waktu, kuantitas pedagang dan pengunjung di Kawasan Pecenongan mulai berkurang. Hal ini merupakan bentuk degradasi identitas kuliner yang konkrit terjadi. Oleh sebab itu, dibutuhkan pergerakan akupunktur perkotaan untuk menghidupkan identitas tradisional yang mengalami degradasi di Kawasan Pecenongan dengan fokus gradasi kuliner Kawasan Pecenongan.
PENATAAN RUANG ANTARA DENGAN AKUPUNKTUR PERKOTAAN DI KAWASAN BLOK M Gisella Krista; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22129

Abstract

Kebayoran Baru is one of the urban villages in Jakarta. Blok M is one part of this kelurahan. This Blok M area has a bright prestige because of its shopping center. Many young people in the 1980s stopped by to gather, shop, or just show off their vehicles. But over time, this area experienced degradation which made the Blok M area deserted. Many factors have caused degradation to occur, such as the proliferation of similar shopping centers around the area, and the government's intervention did not involve the Blok M area as part of the intervention journey. The author wants to revive this area by using the Urban Acupuncture method. This method is used as a method for processing regional data and the data is analyzed and produces a synthesis. The results of this analysis are applied by the author using the symbiotic method and spatial perception into the intervening space in the area with the site as part of the micro-scale intervention. It is hoped that the intervention will be able to revive the prestige of the Blok M area, which is famous for its youth gathering point. Keywords:  Blok M; Degradation; In Between Space; Symbiosis; Urban Acupuncture Abstrak Kebayoran Baru merupakan salah satu kelurahan yang berada di Jakarta.  Blok M menjadi salah satu bagian dari kelurahan ini. Kawasan Blok M ini memiliki pamor yang terang karena pusat perbelanjaan nya. Banyak anak muda pada jaman 1980-an mampir untuk berkumpul, berbelanja, atau sekedar memamerkan kendaraan mereka. Tetapi seiring waktu, kawasan ini mengalami degradasi yang menjadikan kawasan Blok M dilanda sepi. Banyak faktor yang menyebabkan degradasi terjadi, seperti menjamur nya pusat perbelanjaan serupa di sekitar kawasan, dan intervensi yang dilakukan pemerintah tidak melibatkan kawasan Blok M sebagai bagian dari perjalanan intervensi. Penulis ingin menghidupkan kembali kawasan ini dengan menggunakan metode Akupunktur Perkotaan. Metode ini digunakan sebagai metode untuk mengolah data kawasan dan adanya data tersebut di analisis serta menghasilkan sintesa. Hasil analisis ini diterapkan oleh penulis menggunakan metode simbiosis dan spatial perception ke dalam intervensi ruang antara di kawasan dengan tapak sebagai bagian dari intervensi skala mikro. Diharapkan dengan adanya intervensi, mampu membangkitkan kembali pamor kawasan Blok M yang terkenal dengan titik kumpul anak muda.
PENGALAMAN RUANG REKREASI PESISIR SAMPUR DI KOJA SEBAGAI AKUPUNKTUR PERKOTAAN Reynalda Samil; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22212

Abstract

Urban acupuncture is a method to improve urban areas that have degraded. The decline or degradation has occurred in Koja, North Jakarta since 1994, when the Sampur Beach area and Koja Shops disappeared. Activities and attractions that occur experience degradation of movement. The memories are still attached to the residents, it can be seen from the residents who are still conveying their sadness through online platforms. Now, people's recreation areas in Koja are minimal, since Sampur coastal tourism has been abolished. The urban acupuncture method was used to restore the memory of the residents of Koja into a more relevant form, namely a recreational trip to the memory of the coast of Sampur. The writing method used is to find primary and secondary data in the literature and survey the daily activities of local residents. The daily activities of residents in the past such as bathing, bathing at the beach, socializing, sunbathing and so on, as well as current activities were adapted into programs in buildings. The proposed program then uses the narration method and spatial experience so that the memory of the narrative to be conveyed can be felt by visitors. The proposed intervention, which is a recreational trip, is expected to restore local recreation and the movement of local residents. Keywords:  urban acupuncture; memory; recreational site; narration Abstrak Akupunktur perkotaan adalah sebuah metode untuk memperbaiki kawasan kota yang memiliki degradasi. Penurunan atau degradasi terjadi di Koja, Jakarta Utara sejak tahun 1994, ketika kawasan Pantai Sampur dan Pertokoan Koja hilang. Aktivitas dan atraksi yang terjadi mengalami degradasi pergerakannya. Memori dan kenangan masih melekat pada warganya, terlihat dari warga yang masih menyampaikan kesedihannya melalui platform online. Kini, tempat rekreasi warga di Koja sangat minim, semenjak wisata pesisir Sampur ditiadakan. Metode akupunktur perkotaan digunakan untuk mengembalikan memori warga Koja ke dalam bentuk yang lebih relevan, yaitu sebuah perjalanan rekreasi memori pesisir Sampur. Metode penulisan yang digunakan adalah dengan mencari data primer dan sekunder secara literatur dan survei aktivitas keseharian warga sekitar. Kegiatan sehari-hari warga pada masa lampau seperti berendam, mandi di pantai, bersosialisasi, berjemur dan sebagainya, serta kegiatan masa sekarang diadaptasikan ke dalam program dalam bangunan. Program yang diusulkan kemudian menggunakan metode narasi dan pengalaman spasial agar memori narasi yang ingin disampaikan dapat dirasakan pengunjung.  Usulan intervensi yang merupakan sebuah perjalanan rekreasi ini diharapkan dapat mengembalikan rekreasi lokal dan pergerakan warga sekitar.