B. Irwan Wipranata
Program Studi S1 PWK, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENATAAN KAWASAN WISATA DENGAN PENDEKATAN ADAPTASI BENCANA TSUNAMI STUDI KASUS KAWASAN PANTAI PAAL, KABUPATEN MINAHASA UTARA Judah Yosia Wanjoyo; Suryono Herlambang; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22349

Abstract

The Paal Beach area is one of the tourist areas that has great natural potential seen from the coastal landscape with white sand, underwater beauty, and the surrounding hills which add to the increasingly diverse tourist experience. However, it does not yet have adequate infrastructure, facilities and infrastructure. In addition, the great potential for tourism development on a national scale also needs to pay attention to the risk factors for disasters which are quite large, especially on the Paal coast which reaches a wave height of up to 8 meters so that it has vulnerability to tsunamis. Therefore, the main objective in this study is to identify the existing conditions in the Paal Beach Tourism Area at the macro, mezzo, and micro scope in various aspects to be a reference in the analysis process and make a proposal for a planning master plan concept with a tsunami disaster adaptation approach in the Coastal Tourism Area. However, Paal is still able to integrate the main characters on the beach and hills through accessibility, space utilization, infrastructure, and supporting facilities for tourism activities. This research is a qualitative and quantitative research. Qualitative data was obtained by conducting field surveys to locations and conducting interviews with related parties, while quantitative data was obtained by distributing questionnaires to visitors. The results of this study are in the form of a planning master plan concept with a tsunami disaster adaptation approach in the Paal Beach Tourism Area by integrating the main characters on the beach and hills through accessibility, space utilization, infrastructure, and supporting facilities for tourism activities. Keywords: Tourism Spatial Planning; Paal Beach; Tsunami Disaster Adaptation Approach Abstrak Kawasan Pantai Paal menjadi salah satu area wisata yang memilki potensi alami yang besar dilihat dari lansekap pesisir pantai dengan pasir yang putih, keindahan bawah laut, dan bukit – bukit di sekitarnya yang menambah pengalaman wisatawan yang semakin beragam. Akan tetapi kawasan ini belum memiliki infrastruktur, sarana dan prasarana yang memadai. Selain itu, potensi besar terhadap pengembangan wisata skala nasional juga perlu memperhatikan faktor resiko bencana yang cukup besar terutama pada pada pesisir Pantai Paal yang mencapai ketinggian gelombang hingga 8 meter sehingga memilki kerawanan terhadap tsunami. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi eksisting pada Kawasan Wisata Pantai Paal pada lingkup makro, mezzo, dan mikro di berbagai aspek untuk menjadi acuan dalam proses analisis dan membuat usulan konsep masterplan perencanaan dengan pendekatan adaptasi bencana tsunami pada Kawasan Wisata Pantai Paal namun tetap dapat mengintegrasikan karakter utama pada pantai dan bukit melalui aksesbilitas, pemanfaatan ruang, infrastruktur, dan fasilitas pendukung untuk kegiatan wisata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh dengan melakukan survey lapangan ke lokasi dan melakukan wawancara dengan pihak terkait, sedangkan untuk data kuantitatif diperoleh dengan penyebaran kuesioner ke pengunjung. Hasil dari penelitian ini berupa konsep masterplan perencanaan dengan pendekatan adaptasi bencana tsunami pada Kawasan Wisata Pantai Paal dengan mengintegrasikan karakter utama pada pantai dan bukit melalui aksesbilitas, pemanfaatan ruang, infrastruktur, dan fasilitas pendukung untuk kegiatan wisata.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN PADA DESA WISATA BERBASIS MASYARAKAT (OBJEK STUDI : DESA WISATA BATULAYANG, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR) Putri Adira; Suryono Herlambang; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22368

Abstract

Batulayang Tourism Village is a tourist village area whose management is community-based which involves the local or local community actively in making a decision. This village is located in Cisarua District, Bogor Regency. With good relations and cooperation between the community, village government and district government. Batulayang Tourism Village was certified by the Ministry of Tourism and Creative Economy (Kemenparekraf) as a sustainable tourism village in realizing sustainable and prosperous tourism. The management and development of Batu Layang Tourism Village is supported by the strength of community participation, as well as village and government institutions, academics and the community. In realizing the sustainability, sustainability and culture of the environment, this village has an Ecovillage community that can preserve the natural environment in Batu Layang Tourism Village. Thus, the authors are interested in conducting a study on the success of community-based Batulayang Tourism Village management. This study aims to determine the role of Community Groups in Cooperation and Communication to support the success of Batulayang Tourism Village Management, determine the factors that influence the success of tourism villages in realizing a sustainable tourism village, and assess success in terms of visitor perceptions and preferences. This research is a descriptive research that combines qualitative and quantitative approaches. The qualitative research approach was collected through a survey to the location of the Tourism Village study object by conducting in-depth interviews with related parties, while the quantitative research approach was carried out by filling out questionnaires by tourists. The results of this study will obtain the factors that influence the success in managing community-based Batulayang Tourism Village in realizing a Sustainable Tourism Village. Keywords:  Batulayang Tourism Village;  Community Based Tourism Management ;   Success; Stakeholders Partnership Abstrak Desa Wisata Batulayang merupakan kawasan desa wisata yang pengelolaannya berbasis masyarakat yang melibatkan masyarakat lokal atau setempat secara aktif dalam pengambilan sebuah keputusan.  Desa ini terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Dengan adanya hubungan serta kerja sama yang baik antara masyarakat, pemerintah desa dan pemerintah kabupaten. Desa Wisata Batulayang mendapatkan sertifikasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai desa wisata berkelanjutan dalam mewujudkan pariwisata yang lestari dan sejahtera.  Pengelolaan serta pengembangan Desa Wisata Batu Layang selain didukung kekuatan partisipasi masyarakat adapun Lembaga desa & pemerintah, Akademisi serta komunitas. Dalam mewujudkan kelestarian, keberlanjutan serta berbudaya lingkungan Desa ini terdapat komunitas Ecovillage yang dapat menjaga kelestarian lingkungan alam di Desa Wisata Batu Layang. Dengan demikian, penulis tertarik guna  melakukan studi terhadap keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Batulayang berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran serta kelompok masyarakat dalam Kerja sama dan Komunikasi untuk menunjang keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Batulayang, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan desa wisata dalam mewujudkan desa wisata yang berkelanjutan, dan menilai keberhasilan dari sisi persepsi dan preferensi pengunjung. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang mengombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan penelitian kualitatif dikumpulkan melalui survey ke lokasi objek studi Desa Wisata dengan melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pihak terkait, sedangkan untuk penedekatan penelitian kuantitatif dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh wisatawan. Hasil dari penelitian ini akan memperoleh faktor–faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pengelolaan Desa Wisata Batulayang berbasis masyarakat dalam mewujudkan Desa Wisata Berkelanjutan.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) (STUDI KASUS: DESA WISATA PANDANSARI, KECAMATAN PAGUYANGAN, KABUPATEN BREBES, JAWA TENGAH) Dimas Rizky Aprianto; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22369

Abstract

Indonesia is famous for being a country rich in infinite natural beauty and has great potential to advance Indonesia's tourism sector. Currently, the tourism sector plays an important role in increasing the economic income of the country and regions. The development of the tourism sector, namely tourism villages in the regions, is expected to advance the economy of the surrounding community due to the participation of the surrounding community in managing their own tourism villages. Pandansari Tourism Village located in Brebes Regency is one of the tourist villages managed by the local community by adhering to the concept of Community Based Tourism (CBT) by forming a tourism awareness group or what is often called Pokdarwis. The concept of CBT is a community-based tourism management concept characterized by community participation in terms of planning, implementing, supervising and utilizing the results obtained. In the management of Pandansari Tourism Village, it is not yet known the suitability of the criteria used in the success of this village referring to the ASEAN CBT Performance Principles Standard. Therefore, the purpose of this study is firstly to assess the suitability of the award criteria obtained by Pandansari Tourism Village, secondly to find out whether there are criteria that can be increased in the management of Pandansari Tourism Village which refers to the ASEAN CBT Performance Standards, thirdly assess the success of pandansari tourism village management with visitor perceptions. This research is based on descriptive research through qualitative and quantitative approaches. Qualitative data collection was obtained by direct survey in Pandansari Tourism Village and conducting interviews with authorized parties, for qualitative data collection was carried out by filling out questionnaires by direct visitors, where the questionnaire compilation refers to the ASEAN CBT performance standards. The results of the study found that in terms of criteria, it was in accordance with applicable standards and confirmed by visitors' perceptions of the successful management of Pandansari Tourism Village. Keywords: Community Based Tourism (CBT); Pandansari Tourism Village Management; Pandansari Tourism Village; Success Abstrak Indonesia terkenal dengan negara yang kaya akan keindahan alam yang tak terhingga dan memiliki potensi besar untuk memajukan sektor pariwisata Indonesia. Saat ini, sektor pariwisata berperan penting dalam meningkatkan pendapatan ekonomi negara maupun daerah. Perkembangan sektor pariwisata yaitu desa wisata di daerah diharapkan dapat memajukan perekonomian masyarakat sekitar dikarenakan keikutsertaan masyarakat sekitar dalam mengelola desa wisata mereka sendiri. Desa Wisata Pandansari yang berlokasi di Kabupaten Brebes merupakan salah satu desa wisata yang dikelola oleh masyarakat setempat dengan menganut konsep Community Based Tourism (CBT) dengan membentuk kelompok sadar wisata atau yang kerap disebut Pokdarwis. Konsep CBT merupakan konsep pengelolaan wisata berbasis masyarakat yang ditandai dengan partisipasi masyarakat dalam hal perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemanfaatan hasil yang diperoleh. Dalam pengelolaan Desa Wisata Pandansari belum diketahui kesesuaian kriteria yang digunakan dalam keberhasilan desa ini mengacu pada Standard Prinsip Kinerja CBT ASEAN. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini pertama adalah untuk menilai kesesuaian kriteria penghargaan yang didapat oleh Desa Wisata Pandansari, kedua untuk mengetahui apakah ada kriteria yang bisa ditigkatkan dalam pengelolaan Desa Wisata Pandansari yang mengacu pada Standard Kinerja CBT ASEAN, ketiga menilai keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Pandansari dengan persepsi pengunjung. Penelitian ini berbasis penelitian deskriptif melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data kualitatif didapatkan dengan cara survey langsung di Desa Wisata Pandansari dan melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang berwenang, untuk pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan pengisian kuisioner oleh pengunjung langsung, dimana penyususnan Kuisioner mengacu pada Standard kinerja CBT ASEAN. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari segi kriteria sudah sesuai dengan standard yang berlaku dan terkonfirmasi dengan persepsi pengunjung mengenai keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Pandansari.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN DESA WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (OBJEK STUDI: DESA WISATA CIBUNTU, KECAMATAN PASAWAHAN, KABUPATEN KUNINGAN PROVINSI JAWA BARAT) Alyaa Syabrina Nabiila; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22436

Abstract

Tourism has the potential for both national and regional income sources, because it causes economic growth rates by creating demand for consumption or investment. Therefore, it needs to be developed better in order to have optimal results for the government and society. One of the management of community-based tourism or Community Based Tourism (CBT). CBT is a tourism activity in which the community has a role in managing at the community level which aims for welfare. One of the villages that implements CBT is the Cibuntu Tourism Village, which is located in Pasawahan District, Kuningan Regency, West Java Province. Cibuntu Tourism Village in its management involves BUMDes and Pokdarwis. Cibuntu Tourism Village has received several awards both at the national and international levels. Therefore, the main objective in this study is to identify the suitability of the award criteria obtained by referring to the standard ASEAN CBT performance criteria, secondly to know the criteria that can be improved on the management that is owned by referring to the ASEAN CBT performance criteria standards and thirdly to assess the success of tourism village management through visitor perceptions and preferences. This research uses qualitative and quantitative methods. The qualitative method was obtained by conducting a survey to the location and conducting interviews with related parties, while the quantitative method was obtained by distributing questionnaires to visitors to the Cibuntu Tourism Village. The results of this study are expected to obtain conformity of the award criteria with the ASEAN CBT performance criteria standards, knowing the criteria from the ASEAN CBT performance criteria standards that can be improved on their management, the existence of a questionnaire design that refers to the ASEAN CBT performance criteria standards used to determine perceptions and preferences visitors to the successful management of Cibuntu Tourism Village. Keywords: Tourism Village Management; Cibuntu Tourism Village; Community Based Tourism; Success Abstrak Pariwisata memiliki potensi baik bagi sumber pendapatan nasional maupun daerah, karena menyebabkan timbulnya laju pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan permintaan baik itu dikonsumsi atau investasi. Oleh karenanya, perlu dikembangkan lebih baik agar memiliki hasil yang optimal untuk pemerintah maupun masyarakat. Salah satu pengelolaan wisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT). CBT merupakan aktivitas pariwisata yang mana masyarakat memiliki peran dalam mengelola pada tingkat komunitas yang bertujuan untuk kesejahteraan. Salah satu desa yang mengimplementasikan CBT adalah Desa Wisata Cibuntu yang berlokasi di Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Desa Wisata Cibuntu dalam pengelolaannya melibatkan BUMDes dan Pokdarwis. Desa Wisata Cibuntu telah mendapat beberapa penghargaan baik itu ditingkat nasional maupun internasional. Maka dari itu, tujuan utama dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi kesesuaian kriteria penghargaan yang didapatkan dengan mengacu kepada standard kriteria kinerja CBT ASEAN, kedua mengetahui kriteria yang dapat ditingkatkan terhadap pengelolaan yang dimiliki mengacu pada standard kriteria kinerja CBT ASEAN dan ketiga menilai keberhasilan pengelolaan desa wisata melalui persepsi dan preferensi pengunjung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif diperoleh dengan melakukan survey ke lokasi dan melakukan wawancara dengan pihak terkait, sedangkan metode kuantitatif diperoleh dengan penyebaran kuesioner ke pengunjung Desa Wisata Cibuntu. Hasil dari penelitian ini diharapkan mendapatkan kesesuaian kriteria penghargaan yang dengan standard kriteria kinerja CBT ASEAN, mengetahui kriteria dari standard kriteria kinerja CBT ASEAN yang dapat ditingkatkan terhadap pengelolaan yang dimiliki, adanya desain kuesioner yang mengacu kepada standard kriteria kinerja CBT ASEAN digunakan untuk mengetahui persepsi dan preferensi pengunjung terhadap keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Cibuntu.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN DESA WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (OBJEK STUDI: DESA WISATA TINALAH, KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULON PROGO, PROVINSI D.I YOGYAKARTA) Cahyo Satrio Pinilih Bagus Prabowo; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22439

Abstract

Tourism Village is a form of integration of accommodation, attractions, and other supporting facilities that are in an order of social life that blends with existing traditions and procedures. According to the 2016 ASEAN Community Based Tourism Standard, Community Based Tourism means a tourism activity that is managed directly by the community. One of the tourism management systems is the Community Based Tourism (CBT) system, which is located in the Tinalah Tourism Village in Purwoharjo Village (Village), Samigaluh District, Kulon Progo Regency, Yogyakarta D.I Province. There is a good synergy between the managers of the Tourism Village, Pokdarwis and the local government, making the Tinalah Tourism Village receive several awards. The main objective of this research is the first to identify the suitability of the award criteria obtained by referring to the ASEAN CBT performance criteria standards, then the second to determine the criteria that can be improved on the management of the Tinalah Tourism Village which refers to the ASEAN CBT performance criteria standards and the third is to assessing the success of tourism village management through visitor perceptions and preferences. This research uses qualitative and quantitative methods. Qualitative data was obtained from conducting field surveys to locations and conducting interviews with related parties, while quantitative data was obtained from the results of distributing questionnaires to visitors. The results of this study are expected to determine the suitability of the award criteria obtained with the ASEAN CBT performance criteria standards, to find out the criteria that can be improved on the management owned by the Tinalah Tourism Village referring to the ASEAN CBT performance criteria standards, and to know the perceptions and preferences of visitors to the success of the management. Tinalah Tourism Village through a questionnaire design that refers to the standard performance criteria of ASEAN CBT. Keywords: Community-Based Tourism; Management Tourism Village; Success; Tinalah Tourism Village Abstrak Desa Wisata merupakan bentuk integrasi dari akomodasi, atraksi, serta fasilitas pendukung lainnya yang berada dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat yang menyatu dengan tradisi dan tata cara yang ada. Menurut Buku ASEAN Community Based Tourism Standard tahun 2016, Community Based Tourism berarti suatu kegiatan pariwisata yang dikelola langsung oleh masyarakat. Salah satu pengelolaan wisata dengan sistem Commnunity Based Tourism (CBT), yaitu terdapat pada Desa Wisata Tinalah di Kalurahan (Desa) Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi D.I Yogyakarta. Adanya sinergi yang baik antara pengelola Desa Wisata, Pokdarwis dan pemerintah setempat, menjadikan Desa Wisata Tinalah mendapatkan beberapa penghargaan. Tujuan utama dalam penelitian ini yang pertama adalah untuk mengidentifikasi kesesuaian kriteria penghargaan yang didapatkan dengan mengacu kepada standard kriteria kinerja CBT ASEAN, lalu yang kedua untuk mengetahui kriteria yang dapat ditingkatkan terhadap pengelolaan Desa Wisata Tinalah yang mengacu pada standard kriteria kinerja CBT ASEAN serta yang ketiga untuk menilai keberhasilan pengelolaan desa wisata melalui persepsi dan preferensi pengunjung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif didapat dari melakukan survei lapangan ke lokasi serta melakukan wawancara dengan pihak terkait, sedangkan data kuantitatif didapat dari hasil penyebaran kuesioner ke pengunjung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui kesesuaian kriteria penghargaan yang didapatkan dengan standard kriteria kinerja CBT ASEAN, dapat mengetahui kriteria yang dapat ditingkatkan terhadap pengelolaan yang dimiliki oleh Desa Wisata Tinalah mengacu pada standard kriteria kinerja CBT ASEAN, serta dapat mengetahui persepsi dan preferensi pengunjung terhadap keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Tinalah melalui adanya desain kuisioner yang mengacu kepada standard kriteria kinerja CBT ASEAN.
STUDI PERENCANAAN JALAN WAHID HASYIM SEBAGAI COMMERCIAL URBAN CORRIDOR Miracle Tjiabrata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24322

Abstract

Jalan Wahid Hasyim corridor in Central Jakarta is a road corridor that is famous for its commercial area and is one of the centers of commercial activities in Central Jakarta. The Jalan Wahid Hasyim corridor has easy access. Jalan Wahid Hasyim corridor is traversed by Jalan M.H. Thamrin which is a regional and national economic center, and connects other economic centers in Central Jakarta and South Jakarta. Economic activities that occur on Jalan M.H. Thamrin are supported by commercial activities along Jalan Wahid Hasyim. Jalan Wahid Hasyim is dominated by commercial hotels that become accommodation places for visitors both on vacation and on work assignments in Jakarta. The strategic location of the Jalan Wahid Hasyim corridor makes this road corridor crowded with people, coupled with activities carried out around the road corridor such as culinary tourism on Jalan Haji Agus Salim or often called Jalan Sabang. However, from the observations made in the road corridor, there are still several problems found in the Jalan Wahid Hasyim corridor. The problems found are in the form of commercial building conditions, access in and out of buildings, and parking circulation. Seeing these problems, research was conducted to find the main problems that occurred in the Jalan Wahid Hasyim corridor, Central Jakarta.  The research was carried out by making direct observations of the Jalan Wahid Hasyim corridor and comparing it with the theory used as a reference for good and correct road corridor planning. So that from the theory used, the problem points can be found and concluded to then be planned into a good road corridor as described by the theory. In this case, the theory used is the Oakland Design Guideline and Commercial Areas theory. Based on the theory of Design Guideline and Commercial Areas, there are several elements that need to be considered in shaping road corridors, especially commercial buildings in order to facilitate commercial activities that take place in the Jalan Wahid Hasyim corridor. The necessary elements concern the placement of buildings, parking lots, building design, to the presence of facilities on the pedestrian path in order to improve the condition of the road corridor on Jalan Wahid Hasyim, Central Jakarta. Keywords:  Commercial; Corridor; Design Guidelines; Wahid Hasyim Street Abstrak Koridor Jalan Wahid Hasyim di Jakarta Pusat merupakan koridor jalan yang terkenal dengan area komersialnya dan merupakan salah satu pusat kegiatan komersial di Jakarta Pusat. Koridor Jalan Wahid Hasyim memiliki akses yang mudah dijangkau. Koridor Jalan Wahid Hasyim dilalui oleh Jalan M.H. Thamrin yang merupakan sentra perekonomian daerah dan nasional, dan menghubungkan pusat-pusat perekonomian lainnya di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Kegiatan ekonomi yang terjadi di Jalan M.H. Thamrin didukung dengan aktivitas komersial di sepanjang Jalan Wahid Hasyim. Jalan Wahid Hasyim didominasi oleh komersial hotel yang menjadi tempat akomodasi bagi pengunjung baik yang sedang berlibur maupun yang sedang tugas kerja di Jakarta. Lokasi koridor Jalan Wahid Hasyim yang strategis menjadikan koridor jalan ini ramai dikunjungi masyarakat, ditambah dengan aktivitas-aktivitas yang dilakukan di sekitar koridor jalan seperti adanya wisata kuliner di ruas Jalan Haji Agus Salim atau sering disebut Jalan Sabang. Namun, dari hasil pengamatan yang dilakukan di koridor jalan, masih terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan di koridor Jalan Wahid Hasyim. Permasalahan yang ditemukan berupa kondisi bangunan komersial, akses keluar masuk ke bangunan, hingga sirkulasi parkir. Melihat permasalahan tersebut, dilakukan penelitian untuk mencari permasalahan utama yang terjadi di koridor Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.  Penelitian tersebut dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap koridor Jalan Wahid Hasyim dan membandingkannya dengan teori yang digunakan sebagai acuan sebagai perencanaan koridor jalan yang baik dan benar. Sehingga dari teori yang digunakan tersebut, titik permasalahan dapat ditemukan dan disimpulkan untuk kemudian direncanakan menjadi koridor jalan yang baik sebagaimana dijelaskan oleh teori tersebut. Dalam hal ini, teori yang digunakan adalah teori Oakland Design Guideline and Commercial Areas. Berdasarkan teori ini ditemukan beberapa elemen yang perlu menjadi perhatian dalam membentuk koridor jalan khususnya bangunan untuk komersial agar dapat memfasilitasi kegiatan komersial yang berlangsung di koridor Jalan Wahid Hasyim. Elemen yang diperlukan menyangkut penempatan bangunan, lahan parkir, desain bangunan, sampai keberadaan fasilitas di jalur pedestrian agar dapat meningkatkan kondisi koridor jalan di Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat.
IMPLEMENTASI NILAI NASIONALISME PADA MONUMEN PEMBEBASAN IRIAN BARAT Dominika Eufran Paseli; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24335

Abstract

Banteng Field Park is one of the city parks in Jakarta that has historical value, this park has existed since the Dutch colonial era. Until when the Republic of Indonesia was released from Japanese colonization, the name was changed to Banteng Field by President Soekarno to become Banteng Field. In this park there is a monument, namely the West Irian Liberation Monument. This monument was built in 1962 and inaugurated on August 17, 1963, where the idea of this monument was a proposal from President Soekarno. This monument is a symbolization as a sign to commemorate the return of West Irian in the territory of the Republic of Indonesia and the beginning that the territory of the Republic of Indonesia became intact for the first time. Banteng Field Park has been revitalized in 2018, with three zones in it, namely the Urban Forest zone, Monument zone and Sports Zone, with the main zone being the Monument Zone. This research has the aim of assessing whether the revitalization that has been carried out can strengthen the historical value of the Banteng Field Park or actually eliminate the historical value. In collecting data, researchers conducted primary and secondary data collection, namely conducting interviews, field surveys and literature reviews. To achieve the research objectives, this research uses descriptive qualitative research methods. The result of the research is to know that the revitalization that has been carried out has strengthened the historical value, as well as its implementation on the West Irian Liberation Monument. Keywords:  Nationalism; Revitalization; West Irian Liberation Monument Abstrak Taman Lapangan Banteng merupakan salah satu taman kota di Jakarta yang memiliki nilai sejarah, taman ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Hingga pada saat NKRI terlepas dari penjajahan Jepang, digantilah nama menjadi Lapangan Banteng oleh Presidden Soekarno menjadi lapangan Banteng. Di taman ini terdapat sebuah monumen, yakni Monumen Pembebasan Irian Barat. Monumen ini dibangun pada tahun 1962 dan diresmikan pada 17 Agustus 1963, yang mana gagasan monument ini merupakan usulan dari Presiden Soekarno. Monumen ini merupakan simbolisasi sebagai tanda untuk memeperingati kembalinya Irian Barat dalam wilayah NKRI dan menjadi awal bahwa wilayah NKRI menjadi utuh untuk pertama kalinya. Taman Lapangan Banteng telah selesai direvitalisasi pada tahun 2018, dengan tiga zona di dalamnya yaitu zona Hutan Kota,  zona Monumen dan Zona Oalahraga, dengan zona utama yakni Zona Monumen. Penelitian ini memiliki tujuan yakni menilai revitalisasi yang telah dilakukan dapat menguatkan nilai sejarah dari Taman Lapangan Banteng atau justru menghilangkan nilai sejarah tersebut. Dalam mengumpulkan data peneliti  melakukan pengumpulan data primer dan sekunder yakni melakukan wawancara, survei lapangan dan kajian pustaka. Untuk mencapai tujuan penilitian, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dalam penelitian adalah mengetahui  ini bahwa dengan revitalisasi yang telah dilakukan sudah menguatkan nilai sejarah, serta implementasinya pada Monumen Pembebasan Irian Barat.
STUDI INTEGRASI SERTA KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI UMUM DI KAWASAN STASIUN TENJO, KABUPATEN BOGOR Alivia Putri Winata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24338

Abstract

Tenjo Station is the main public transportation mode in Tenjo District which is one of the mobillity centers in the area. Tenjo Station is a stopping place for the Commuter Line which requires support from other modes of transportation to reach it hence a high quality transportation infrastructure is needed to be able to create interdependent integration. In addition, regional development can be a benchmark that requires integration between modes in forming an area. Therefore, to find out the conditions of integration and the availability of transportation facilities and infrastructure, it is carried out through network and movement analysis and analysis of transportation facilities and infrastructure using a descriptive-qualitative methods such as observational data, interviews and secondary data obtained from Google Maps and the Moovit application. Network and movement analysis is carried out by processing road network data that can be accessed to reach Tenjo Station. While the analysis of transportation facilities and infrastructure is carried out by processing data on stop points and routes from transportation modes with assessment tools standardization of bus stop making. In order to find out these conditions that are supported by the results of the two analyzes, development recommendations can be carried out by adding transportation infrastructure in the form of bus stop as a place to switch modes in order to create integration. As well as recommendations for the improvement of Tenjo Station as the main station so that it is more adequate in its use. Keywords:  Tenjo Station; Integration of Transportation Mode; Availability of Transportation Facilities and Infrastructure Abstrak Stasiun Tenjo merupakan moda transportasi umum utama di Kecamatan Tenjo yang merupakan salah satu pusat mobilitas pada kawasan tersebut. Stasiun Tenjo adalah tempat pemberhentian Kereta Rel Listrik (KRL) yang memerlukan dukungan dari moda tranportasi lain untuk dapat mencapai Stasiun Tenjo sehingga dibutuhkan prasarana transportasi yang baik untuk dapat menciptakan integrasi yang saling bergantung. Selain itu, pengembangan kawasan dapat menjadi tolak ukur bahwa diperlukan integrasi antar moda dalam membentuk suatu kawasan. Dengan demikian, untuk mengetahui kondisi integrasi dan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi dilakukan melalui analisis jaringan dan pergerakan dan analisis sarana dan prasarana transportasi dengan metode deskriptif - kualitatif seperti data hasil observasi, wawancara serta data sekunder yang diperoleh dari Google Maps dan Aplikasi Moovit. Analisis jaringan dan pergerakan dilakukan dengan mengolah data jaringan jalan yang dapat diakses untuk mencapai             Stasiun Tenjo. Sedangkan analisis sarana dan prasarana transportasi dilakukan dengan mengolah data titik pemberhentian dan rute dari moda transportasi dengan alat penilaian standarisasi pembuatan bus stop. Dalam rangka mengetahui kondisi tersebut yang didukung dari hasil kedua analisis, rekomendasi pengembangan dapat dilakukan dengan penambahan prasarana transportasi berupa bus stop sebagai tempat peralihan moda agar terciptanya integrasi. Serta rekomendasi untuk dilakukan peningkatan Stasiun Tenjo sebagai stasiun utama agar semakin memadai dalam penggunaannya.  
PENERAPAN KONSEP WATER SENSITIVE URBAN DESIGN TERHADAP PERENCANAAN PERUMAHAN PADA KAWASAN RAWAN BANJIR KECAMATAN PERIUK Priska Stefani; B. Irwan Wipranata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24341

Abstract

Flooding in Periuk Sub-district has been a priority issue for the local government for a long time. Until now, flood control is still an annual work program of several related parties. Meanwhile, the population growth rate of Tangerang City is increasing, so the need for residential land is also increasing over time. As an area planned as an integrated residential area, Periuk Sub-district, which borders directly with Tangerang Regency (Pasarkemis Sub-district), has experienced good progress in the development of residential areas dominated by private developers. However, flood vulnerability is an important consideration in the development of new residential areas, as is the case with the vacant land of the study object between Situ Bulakan and Situ Gelam. With the land designation as housing based on spatial plan (RTRW) Tangerang City 2023, the vacant land has not been optimally utilized because it is included in the flood-prone area. By applying the concept of water sensitive urban design (WSUD), the spatial arrangement of the residential area will focus on water cycle management (Drainage) and public open space as water catchment areas. In addition, adjustments are also made to the requirements for residential development in flood-prone areas to produce recommendations for components that are most suitable for the characteristics of the study object. Keywords: housing planning; water sensitive urban design (WSUD); and flood-prone area Abstrak Kerawanan bencana banjir di Kecamatan Periuk sudah menjadi permasalahan prioritas pemerintah daerah dahulu. Hingga kini, pengendalian banjir masih  menjadi program kerja tahunan dari beberapa instansi atau pihak terkait. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk Kota Tangerang semakin meningkat, sehingga kebutuhan akan lahan hunian juga semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Sebagai wilayah yang direncanakan sebagai kawasan permukiman terpadu, Kecamatan Periuk yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Tangerang (Kecamatan Pasarkemis) mengalami perkembangan dalam pengembangan kawasan hunian yang cukup baik dan didominasi oleh pengembang swasta. Namun kerawanan bencana banjir menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan kawasan perumahan baru, seperti yang terjadi pada lahan kosong objek studi di antara Situ Bulakan dan Situ Gelam. Dengan peruntukan lahan sebagai perumahan berdasarkan RTRW Kota Tangerang tahun 2030, lahan kosong belum dimanfaatkan dengan optimal karena termasuk ke dalam kawasan rawan banjir. Dengan menerapkan konsep water sensitive urban design (WSUD), penataan ruang kawasan perumahan akan difokuskan pada pengelolaan siklus air (Drainase) dan ruang terbuka publik sebagai daerah resapan air. Selain itu juga dilakukan penyesuaian terhadap syarat pengembangan hunian pada kawasan rawan banjir untuk menghasilkan rekomendasi komponen yang paling sesuai dengan karakteristik objek studi.
STUDI POSITIONING POTENSI WISATA DESA KENDERAN TERHADAP DESA WISATA DI KABUPATEN GIANYAR Joshua Marcell Iglecia Putralim; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24348

Abstract

Kenderan Tourism Village, a traditional settlement, is still developing today. The word kendran stands for the word sense, which is a pengater (prefix) ke and pangiring (suffix) an, so it actually becomes the word kendran, kasutr which becomes kendran. Tourism development has now become a major part of Indonesia's national development and also a source of national income. Indonesia is a country rich in diversity of art, culture and natural beauty. This wealth has the potential to be empowered through the development of tourism, including tourist villages. Tourism development is related to the role of local communities in a tourist destination. However, in Gianyar regency, there are many tourist villages that can be said to be competing with each other, therefore the authors conducted a positional study of the existence of Kenderan village against other tourist villages because Kenderan village has a lot of potential. Keywords: traditional settlements; positioning; Traditional Villages; Tourism Villages; Tri Hita Karana Abstrak Desa Wisata Kenderan sebuah permukiman tradisional masih terus berkembang sampai saat ini, Kata nama Kendran berdiri dari kata indra, yang merupakan pengater (awalan) ke dan pangiring (akhiran) an, sehingga sebenarnya menjadi kata keindraan, kasutryang menjadi kendran. Pengembangan pariwisata kini sudah menjadi bagian utama dari adanya pembangunan nasional Indonesia dan juga sumber dari pendapatan nasional. Indonesia adalah negara yang kaya dengan keanekaragaman seni, budaya dan keindahan alam. Kekayaan tersebut memiliki potensi untuk  diberdayakan melalui pengembangan pariwisata, termasuk desa wisata. Pembangunan kepariwisataan berkaitan dengan peranan masyarakat lokal di suatu destinasi wisata. Namun di dalam kabupaten Gianyar terdapat banyak desa Wisata yang bisa dikatakan saling bersaing, oleh karena itu penulis melakukan studi positioning keberadaan desa Kenderan terhadap desa Wisata yang lain karena banyak potensi yang dimiliki oleh desa Kenderan.