B. Irwan Wipranata
Program Studi S1 PWK, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

KAJIAN KARAKTERISTIK KORIDOR JALAN BOULEVARD KELAPA GADING SEBAGAI KORIDOR KOMERSIAL Hanneke Vianda Sari; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24349

Abstract

Boulevard Kelapa Gading Street Corridor located in Kelapa Gading District, North Jakarta, is one of the main corridors that supports activities in Kelapa Gading area. This street corridor is one of the connecting accesses between areas around North Jakarta and East Jakarta, and the land use around this corridor is also supported by the presence of upper middle class housing, thus helping the ongoing commercial activities along this road corridor. Land use and business activities on the right and left of this corridor have various types and are dominated by well-known retailers and restaurants, so that commercial activities in this corridor can grow rapidly and are crowded with people visiting for work or just sightseeing and enjoying culinary. However, based on observations, there are still some problems and lack of physical corridor conditions that should be improve to be a better conditions to facilitate the continuity of commercial activities in this corridor, including pedestrian paths, public transportation facilities, building conditions, parking, public open spaces. and greenery. According to the Commercial Corridor Strategy guidelines, there are a number of characteristics of Commercial Corridors that can be applied to facilitate the maximum continuity of commercial activities, and based on these guidelines aspects of building conditions, mobility of pedestrian paths, public transportation, parking, local scale economy, and open public spaces in Boulevard Kelapa Gading Street corridor that needs to be improved to support commercial activities in this corridor. Keywords:  Boulevard Kelapa Gading Street; street corridor; commercial; physical condition Abstrak Koridor Jalan Boulevard Kelapa Gading yang berlokasi di Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, merupakan salah satu koridor utama yang menopang kegiatan di kawasan Kelapa Gading. Koridor jalan ini menjadi salah satu akses penghubung antar kawasan di sekitar Jakarta Utara dan Jakarta Timur, serta penggunaan di sekitar koridor ini juga didukung dengan adanya hunian kelas menengah atas, sehingga membantu berlangsungnya aktivitas komersial yang berada di sepanjang koridor jalan ini. Penggunaan lahan dan kegiatan usaha yang berada di kanan dan kiri koridor ini memiliki jenis yang beragam dan didominasi oleh retail dan restoran yang terkenal, sehingga kegiatan komersial di koridor ini dapat bertumbuh dengan pesat dan ramai didatangi masyarakat untuk keperluan bekerja maupun sekedar jalan-jalan dan menikmati kuliner. Namun, berdasarkan hasil observasi, masih terdapat beberapa permasalahan dan kekurangan dari segi kondisi fisik koridor yang seharusnya dapat ditingkatkan untuk kondisi yang lebih baik untuk memfasilitas keberlangsungan aktivitas komersial di koridor ini, diantaranya yaitu jalur pedestrian, fasilitas transportasi umum, kondisi bangunan, parkir, ruang terbuka publik dan penghijauan. Menurut panduan Commercial Corridor Strategy, terdapat sejumlah karakteristik Commercial Corridor yang dapat diterapkan untuk memfasilitasi keberlangsungan kegiatan komersial secara maksimal, dan berdasarkan panduan tersebut aspek kondisi bangunan, mobilitas (jalur pedestrian, transportasi umum), parkir, perekonomian skala lokal, dan ruang terbuka publik di koridor Jalan Bouelavrd Kelapa Gading perlu ditingkatkan untuk menunjang kegiatan komersial di koridor ini.
KAJIAN PENERAPAN KONSEP DAN PRINSIP EKOLOGI TAMAN KOTA (STUDI KASUS : TEBET ECO PARK, JAKARTA SELATAN) Nurhalizah Pratiwi Putri; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24350

Abstract

Provision of green open space is one of the efforts in environmental development which aims to maintain balance in a densely populated urban area. One type of green open space in meeting these needs is a city park that has an ecological function. Tebet Eco Park is one of the city parks in Jakarta that implements this function. Tebet Eco Park is located on Jalan Tebet Barat and has a land area of 73,000 m². Tebet Eco Park was inaugurated on April 23, 2022 by Anies Baswedan. This park is the result of the revitalization of Taman Tebet and Taman Bibit by carrying out the concept of connecting people with nature, meaning connecting humans with nature. The revitalization aims to restore the function of the park ecologically and can be used as a means of recreation, education and interaction. The main function of an ecological park is to reduce the potential for flooding, play a role in the hydrological function in absorbing and balancing water resources, plants as noise and pollution dampers, as shade and a place for biological conservation of flora and fauna. In the existing condition there are several ecological functions that have been implemented. However, this application has not been carried out optimally, so this study aims to identify and analyze the application of ecological concepts and principles in Tebet Eco Park. The research method used is descriptive qualitative method. The results of this study are the need to add various types of flora to maximize ecological functions as well as the availability of information boards as educational facilities as well as the vacant land that is still available can be used as sports fields and to increase the number of MSMEs originating from the surrounding community and the role of the community in managing, announcing and develop gardens. Keywords:  city park; eco park; urban park Abstrak Penyediaan ruang terbuka hijau menjadi salah satu upaya dalam pembangunan lingkungan yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan di suatu daerah perkotaan yang padat penduduk. Salah satu jenis RTH dalam memenuhi kebutuhan tersebut ialah taman kota yang memiliki fungsi ekologis. Tebet Eco Park merupakan salah satu taman kota di Jakarta yang menerapkan fungsi tersebut. Tebet Eco Park terletak di Jalan Tebet Barat dan memiliki luas lahan sebesar 73.000 m². Tebet Eco Park diresmikan pada tanggal 23 April 2022 oleh Anies Baswedan. Taman ini merupakan hasil revitalisasi dari Taman Tebet dan Taman Bibit dengan mengusung konsep connecting people with nature artinya menghubungkan manusia dengan alam. Revitalisasi tersebut bertujuan untuk mengembalikan fungsi taman secara ekologis dan dapat dijadikan sebagai sarana rekreasi, edukasi dan interaksi. Fungsi utama dari taman ekologis ialah sebagai pereduksi potensi banjir, berperan dalam fungsi hidrologi dalam penyerapan dan keseimbangan sumber daya air, tanaman sebagai peredam kebisingan serta polusi, sebagai peneduh dan tempat konservasi hayati flora serta fauna. Pada kondisi eksistingnya terdapat beberapa fungsi ekologis yang sudah diterapkan. Namun, penerapan tersebut belum dilakukan secara maksimal sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penerapan konsep dan prinsip ekologis di Tebet Eco Park. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini ialah perlu ditambahkan berbagai jenis flora guna memaksimalkan fungsi ekologis serta tersedianya papan informasi sebagai sarana edukasi serta lahan kosong yang masih tersedia dapat dimanfaatkan menjadi lapangan olahraga dan memperbanyak jenis UMKM yang berasal dari masyarakat sekitar dan adanya peran dari masyarakat dalam mengelola, merencanakan serta mengembangkan taman.
RENCANA PENATAAN ZONA SEMPADAN SUNGAI STUDI KASUS ZONA SEMPADAN SUNGAI CISADANE KOTA TANGERANG Robby Alghi Fary; Regina Suryadjaja; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24352

Abstract

The Tangerang City Block on the Cisadane River is one of the areas of Tangerang City with great development potential and one of the areas of Tangerang City with inherent potential for urban beauty. It is separated by the Cisadane River. But not all riverside blocks in Tangerang city are well maintained and not all riversides have good infrastructure and banks. When constructing the river bank block attention should be paid to the disaster factors of the river bank block. The flood affected areas of the Cisadane River Block in Tangerang City are still affected by the flood disaster. . Floods are occurring in areas that have not yet been managed. The main objective of this study is to find out the current situation of Tangerang City West Cisadane Riverside area from several aspects at macro meso and micro levels to provide context for the analysis process and make recommendations for compromise. The western plains border the inland riverine area but still manage to identify the coastal city by integrating the main features of the urban area through the use of infrastructural space and support facilities. The study obtained data through field surveys and stakeholder interviews. The results of this study came in the form of a planning master plan concept which includes flood risk adaptation mechanisms and infrastructure locations and utilization of ancillary facilities for urban activities in the West Cisadane River Block of Tangerang City. Keywords: zone planning; riverfront; disaster adaptation; waterfront development Abstrak Zona Sempadan sungai Cisadane Kota Tangerang merupakan salah satu area pada Kota Tangerang yang memiliki potensi yang besar untuk pembangunan Kota Tangerang, serta potensi pada keindahan kota yang dimana pada dasarnya Kota Tangerang Sendiri yang letaknya terbelah oleh Sungai Cisadane. Tetapi tidak semua Zona Sempadan Sungai pada Kota Tangerang sudah tertata dan belum semua zona sempadan memiliki infrastruktur dan tepian sungai yang baik. Pada penataan zona sempadan sungai jua harus memperhatikan faktor bencana yang ada pada zona sempadan sungai, yang dimana pada zona sempadan Sungai Cisadane Kota Tangerang masih ada yang terdampak bencana banjir, dan kebanykan yang masih terdampak banjir yaitu pada area yang belum tertata. Tujuan utama dari penelitian yang penulis lakukan yaitu untuk dapat mengidentifikasi pada kondisi  eksisting kawasan zona sempadan Sungai Cisadane di Kota Tangerang dalam wilayah makro, mezzo, serta mikro dalam beberapa aspek yang menjadi suatu acuan dalam melakukan analisis, serta membuat suatu usulan dari konsep penataan kawasan sempadan Sungai Cisadane namun tetap mengaplikasikan karakter utama yang sudah ada pada daerah perkotaan dari memanfaatkan tata ruang yang ada, ketersediaan infrastruktur, serta adanya fasilitas pendukung untuk merealisasikan waterfront city. Data yang diperoleh pada penelitian yag dilakukan oleh penulis yaitu dengan melakukan survey lapangan ke lokasi objek studi dan melakukan wawancara dengan stakeholder yang memang wewenang dari kawasan zona sempadan Sungai Cisadane Kota Tangerang. Dari penelitian yang dilakukan oleh penulis terdapat output berupa suatu konsep dari masterplan perencanaan dengan pendekatan adaptasi bencana banjir pada Zona Sempadan Sungai Cisadane Kota Tangerang.
PEMANFAATAN SEMPADAN SUNGAI SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU DENGAN KONSEP WATERFRONT DEVELOPMENT Fergia Wisudha; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24353

Abstract

Mookervart is a canal that crosses the capital city of DKI Jakarta and Tangerang. Mookervart itself was made by the Dutch colonial Vincent Van Mookin 1681 and completed in 1687. Initially, this canal was made with the aim of being a river toll road connecting Batavia to Tangerang to facilitate the delivery of accommodation in the form of food and handicraft materials such as wood and bamboo. The construction of this river toll road can shorten shipping travel time and be safer.  This river toll quotes a levy fee for each boat that crosses. In addition, the canal has a function as a link between the Angke River and the Cisadane River. However, today the function of Mookervart as a water toll has disappeared only to separate the historical side. The existing condition is fairly disorganized and messy with many piles of garbage on the boundaries of the channel and landslides and poor water quality that causes silting of the water surface. With that, a good arrangement is needed to create the river and the river border in accordance with its basic function. For this reason, researchers aim to make a proposal for the arrangement and utilization of the Mookervart canal boundary as a green open space with the concept of waterfront development. In addition, the author uses a qualitative approach as well as a descriptive method that uses description in the arrangement of the boundaries of the Mookervart channel as a green open space. And the arrangement of Mookervart is analyzed based on applicable policies, the availability of green open space around, and population. Where the analysis aims to get a concept that will be planned on the edge of Mookervart. Keywords:  regional planning; riverfront; prehistory; waterfront development; green open space Abstrak Mookervart merupakan sebuah saluran atau terusan yang melintasi wilayah Ibu Kota DKI Jakarta dan Kota Tangerang. Mookervart sendiri dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1681 oleh Vincent Van Mook dan selesai dibangun pada tahun 1687. Pada awalnya saluran ini dibuat dengan tujuan sebagai tol sungai yang menghubungkan Batavia menuju ke Tangerang guna memudahkan pengiriman akomodasi berupa bahan makanan maupun bahan-bahan kerajinan seperti kayu maupun bambu. Pembangunan tol sungai ini dapat memperpendek waktu tempuh pelayaran dan lebih aman.  Tol sungai ini mengutip biaya retribusi bagi setiap kapal atau perahu yang melintasi. Selain itu, saluran tersebut memiliki fungsi sebagai penghubung antara Kali Angke dengan Sungai Cisadane. Namun, saat ini fungsi Mookervart sebagai tol air sudah hilang hanya menyisahkan sisi sejarah. Kondisi eksistingnya pun terbilang tidak tertata dan berantakan dengan terdapatnya banyak tumpukan sampah pada sempadan saluran tersebut dan tepian yang longsor serta kualitas air yang buruk hingga menyebabkan pendangkalan permukaan air. Dengan itu maka perlu sebuah penataan yang baik guna menciptakan sungai maupun sempadan sungai tersebut sesuai dengan fungsi dasarnya. Untuk itu peneliti bertujuan untuk membuat usulan rencana penataan dan pemanfaatan sempadan saluran Mookervart sebagai ruang terbuka hijau dengan konsep waterfront development. Selain itu penulis menggunakan pendekatan kualitatif serta metode deskriptif yang menggunakan pendeskripsian dalam penataan sempadan saluran Mookervart sebagai ruang terbuka hijau. Serta penataan Mookervart ini dianalisis berdasarkan kebijakan yang berlaku, ketersediaan ruang terbuka hijau yang ada disekitar, dan kependudukan. Dimana analisis tersebut bertujuan untuk mendapatkan konsep yang akan direncanakan pada tepian Mookervart.
STUDI KONEKTIVITAS ANTAR MODA ANGKUTAN UMUM DI KAWASAN INTERMODA BSD CITY, KABUPATEN TANGERANG Sonia Azmy; Regina Suryadjaja; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24354

Abstract

Cities continue to experience unavoidable developments, both from an economic, social and cultural perspective as reflected in an increase in population and activity in urban areas. One example of activities in urban areas is people who want to do mobility from one place to another in order to fulfill their activity objectives. It's the same with the people in Tangerang Regency who live in Cisauk District and Pagedangan District. To meet this need, an area called "Intermoda BSD City" was built, where in the area there are two modes of transportation that are integrated with each other, namely trains and shuttle buses. Based on the guidelines of the Institute for Transportation and Development, intermodal integration has connectivity aspects where each mode must be integrated efficiently with each other and be able to reach the surrounding area. In the Intermodal BSD City case, Cisauk Station is integrated with the BSD Link shuttle bus terminal mode of transportation which only serves the BSD City Area route, even in its existing conditions there are still very few users of the Shuttle Bus and people prefer to use private transportation as a secondary mode. This is certainly not in accordance with the concept of good intermodal integration. Therefore, this study aims to determine the condition of the regional transportation system, especially in the intermodal connectivity of public transportation served by Intermodal BSD City. The results of this study are to provide suggestions and recommendations regarding the problems that have been identified. Keywords:  facilities and infrastructure; integration; intermodal; public transport Abstrak Kota terus mengalami perkembangan yang tidak dapat dihindari, baik dari segi ekonomi, sosial dan juga budaya yang tercermin dari peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pada perkotaan. Salah satu contoh kegiatan aktivitas pada perkotaan adalah masyarakat yang ingin melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya guna memenuhi tujuan aktivitasnya. Sama halnya dengan masyarakat pada Kabupaten Tangerang yang bertempat tinggal di Kecamatan Cisauk dan Kecamatan Pagedangan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibangunlah sebuah kawasan bernama “Intermoda BSD City”, dimana dalam kawasan tersebut terdapat dua moda transportasi yang saling terintegrasi, yaitu kereta api dan shuttle bus. Berdasarkan panduan Insitute for Transportation and Development, integrasi antar moda memiliki aspek konektivitas dimana setiap antar moda harus saling terintegrasi dengan efisien dan mampu menjangkau daerah sekitarnya. Pada kasus Intermoda BSD City, Stasiun Cisauk terintegrasi dengan moda transportasi terminal shuttle bus BSD Link yang hanya melayani rute Kawasan BSD City saja, pada kondisi eksistingnya pun pengguna dari shuttle bus tersebut masih sangat sedikit dan pengguna lebih memilih menggunakan transportasi pribadi sebagai moda lanjutan. Hal tersebut tentunya tidak sesuai dengan konsep dari integrasi antar moda yang baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sistem transportasi kawasan khususnya pada konektivitas antar moda transportasi umum yang dilayani oleh Intermoda BSD City. Hasil dari studi ini ialah memberikan saran serta rekomendasi mengenai permasalahan yang telah diidentifikasi.
STRATEGI REPOSISI PASARAYA BLOK M DALAM RANGKA MENINGKATKAN DAYA TARIK Ghaby Sava Aulanda; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24355

Abstract

Repositioning a shopping mall is a strategic approach aimed at revitalizing and defining its image and tenant offerings to adapt to market dynamics. The competitive retail industry, particularly shopping malls, faces various challenges, including changing consumer behavior or lifestyles and the emergence of online shopping systems, all of which have been impacted by the global COVID-19 pandemic. To remain relevant and attract customers, shopping malls need to undergo a repositioning process, which involves realigning target market segmentation, brand identity, tenant mix, and overall positioning in the market. In more detail, the repositioning process generally involves several key steps, including market research, brand evaluation, and the implementation of new marketing concepts. This includes introducing new retail concepts, enhancing the ambiance and design of the shopping mall, integrating entertainment elements and unique experiences, and creating a diverse mix of tenants that appeal to the target market. By understanding the changing demands, shopping malls can adjust their offerings and shopping experiences to better cater to the target audience.This study utilizes a descriptive method to describe the market conditions and the physical environment surrounding Pasaraya Blok M. The research results in the identification of Pasaraya Blok M's position and the development of repositioning strategies considering various factors such as supply-demand, trade area, catchment area, and potential competitors. Keywords: market analyze; reposition; shopping mall; ; trade area; STP Abstrak Reposisi pusat perbelanjaan adalah pendekatan strategis yang bertujuan untuk menghidupkan kembali dan mendefinisikan citra dan penawaran penyewanya agar dapat beradaptasi dengan dinamika pasar.  Sektor industri ritel yang kompetitif saat ini, khususnya pusat perbelanjaan menghadapi berbagai tantangan, termasuk perilaku konsumen atau gaya hidup yang berubah, sistem atau cara belanja online yang muncul, itu semua merupakan salah satu dari dampak peristiwa global pandemi COVID-19. Untuk tetap relevan dan menarik pelanggan, pusat perbelanjaan perlu menjalani proses reposisi, dimana proses reposisi pusat perbelanjaan melibatkan pengaturan ulang segmentasi target pasar, identitas merek, bauran penyewa, dan reposisi secara keseluruhan di pasar. Untuk lebih rinci reposisi umumnya melibatkan beberapa langkah kunci, termasuk riset pasar, evaluasi merek, dengan demikian diperlukan implementasi konsep pemasaran baru. Hal ini mencakup pengenalan konsep ritel baru, peningkatan suasana dan desain pusat perbelanjaan, integrasi elemen hiburan dan pengalaman yang unik serta kombinasi penyewa yang beragam yang menarik bagi target pasar. Dengan memahami perubahan permintaan pusat perbelanjaan dapat menyesuaikan penawarannya dan pengalaman berbelanja agar lebih sesuai dengan audiens target.  Penelitian ini memakai metode deskriptif untuk menjelaskan kondisi pasar dan kondisi fisik lingkungan sekitar Pasaraya Blok M. Dalam penelitian ini menghasilkan identifikasi dari posisi Pasaraya Blok M, serta menghasilkan strategi reposisi dengan mempertimbangkan banyak faktor seperti supply-demand, trade area and catchment area, dan potential competitor.