Rudy Surya
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

RUANG BERBUDAYA BETAWI KEMAYORAN Sylvia Sylvia; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10747

Abstract

Rapid development of technology in Indonesia has made foreign culture easier to enter and this has made local culture in Indonesia less attractive to new generations. The capital city of Jakarta is the main entrance for foreign cultures to enter, one of the most affected cultures is Betawi culture. Not only due to technological developments, there are also problems with the lack of exploration of the Betawi community space that has been provided in Jakarta. As a result, Betawi culture is increasingly eroded and forgotten with a new culture and it will end up as history, which will gradually disappear from the process of future habitation., which will gradually disappear from the process of future habitation. To fix this situation, a change in the way of living is needed. Starting from changing the daily patterns of the new generation which are usually only carried out during events and in certain areas, into an activity that can invite all generations to enjoy and re-develop Betawi culture so that it is not eroded by foreign cultures. By providing a space for the Betawi community to attract and bind the interests of human current generation, a new hybrid culture can be created. Therefore, Kemayoran Betawi cultural section was designed, this new space will use everydayness and approaching methods to the problems of the existing developments by utilizing the increasingly sophisticated developments in information technology. Apart from preserving Betawi culture, this space can also be used as a provider of new jobs, recreation and education facilities for the local community.  Keywords:  technological development; community; Betawi culture AbstrakPerkembangan teknologi yang pesat di Indonesia, membuat budaya asing lebih mudah masuk dan hal ini menyebabkan budaya lokal menjadi kurang diminati oleh generasi baru. Ibu kota Jakarta merupakan pintu masuk utama masuknya kebudayaan asing, salah satu kebudayaan yang terpengaruh besar adalah kebudayaan Betawi. Tidak hanya akibat perkembangan teknologi saja, terdapat juga permasalahan akan kurang tereksplornya ruang komunitas Betawi yang telah disediakan di Jakarta. Akibatnya kebudayaan Betawi semakin tergerus dan terlupakan yang akan berakhir menjadi sejarah yang lama kelamaan akan menghilang diproses berhuni masa depan. Untuk mengatasi permasalahan ini, dibutuhkan perubahan cara berhuni penduduk. Dimulai dari mengubah pola keseharian generasi baru yang biasanya hanya dilakukan saat acara dan pada area tertentu saja, menjadi sebuah kegiatan yang dapat mengajak semua generasi agar dapat ikut menikmati dan mengembangkan kembali kebudayaan Betawi agar tidak tergerus oleh kebudayaan asing. Dengan memberikan sebuah wadah ruang komunitas Betawi untuk menarik dan mengikat ketertarikan masyarakat generasi sekarang, dapat memunculkan sistem berhuni dengan budaya hybrid baru. Oleh sebab itu, dirancanglah sebuah ruang berbudaya Betawi Kemayoran, dimana ruang baru ini akan menggunakan metode everydayness dan approaching terhadap permasalahan perkembangan zaman yang ada dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih. Selain melestarikan kebudayaan betawi, ruang ini juga bisa digunakan sebagai penyedia sarana kerja, rekreasi, dan edukasi baru bagi masyarakat setempat.
PERANCANGAN HUNIAN SEWA UNTUK MILENIAL DI PADEMANGAN Fanuel Fang; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4452

Abstract

Urbanization has become a common phenomenon in big cities, with the exception of Jakarta. Urbanites (the name for people who are urbanizing) usually come to Jakarta to get jobs with higher wages than their home regions. Although the cost of living in Jakarta is relatively expensive, large revenues are the main focus for them. This is what has contributed to the emergence of slums in the capital, as happened in Pademangan Barat Village. The majority of migrants dominated by millennials work as shop employees in Mangga Dua and labor convection. They occupy semi-permanent buildings in narrow alleys, even to the extent that they fill along the edge of the railroad tracks that pass in Pademangan, which should be a green line. The existence of such housing makes the West Pademangan Area seem dingy, crowded with buildings, and loses its green space. This is because the rental price is cheap and sufficient to meet the needs of residents who only need a temporary resting place. The government has actually provided low-cost flats in Kemayoran, but it seems influential in reducing these slum dwellings. Vertical rental housing which simultaneously provides shared facilities also plays a role as a green space to compensate for the density of buildings in Pademangan. So that not only intended for residents, but also can be used by the surrounding residents, where analyzed by the author to be located in 10th RW (citizen association) of Pademangan Barat. AbstrakUrbanisasi telah menjadi fenomena yang umum terjadi di kota besar, tanpa terkecuali Jakarta. Kaum urban (sebutan untuk orang yang melakukan urbanisasi) biasanya datang ke Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah lebih tinggi dibandingkan daerah asal mereka. Karenanya, pengeluaran selama berada di Jakarta diminimalisir sebisa mungkin, termasuk dalam hal memilih tempat tinggal sementara. Hal inilah yang ikut mengakibatkan munculnya pemukiman kumuh di ibukota, sebagaimana yang terjadi di Kelurahan Pademangan Barat. Para pendatang yang didominasi generasi milenial ini mayoritas berprofesi sebagai karyawan toko di Mangga Dua dan buruh konveksi. Mereka menempati bangunan semi dan non-permanen di gang-gang sempit, bahkan hingga memenuhi sepanjang pinggir rel kereta api yang melintas di Pademangan, dimana semestinya merupakan jalur hijau. Keberadaan hunian seperti inilah yang membuat Kawasan Pademangan Barat terkesan kumuh, padat dengan bangunan, dan kehilangan ruang hijaunya. Meski hanya berupa bangunan berbahan triplek kayu yang menumpang di dinding pembatas rel kereta, namun kamar-kamar yang disewakan ini begitu diminati bahkan hingga kelebihan kapasitas. Hal ini dikarenakan harga sewanya yang murah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan penghuni yang hanya memerlukan tempat beristirahat sementara. Pemerintah sebenarnya telah menyediakan rumah susun murah di Kemayoran, namun tampaknya berpengaruh dalam mengurangi hunian kumuh ini. Hunian sewa vertikal yang sekaligus menyediakan fasilitas bersama, turut berperan sebagai ruang hijau untuk mengimbangi kepadatan bangunan yang ada di Pademangan. Sehingga tidak hanya diperuntukkan bagi penghuni, namun juga dapat digunakan oleh warga sekitarnya, dimana berdasarkan analisa penulis berlokasi di RW 10 Kelurahan Pademangan Barat.
REVITALISASI KAMPUNG NELAYAN CILINCING Nicholas Aries; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16900

Abstract

The issue of decreasing living quality happens in most coastal villages in Indonesia. One of them is Cilincing fishermen's village located in North Jakarta. Cilincing fishermen's village is a village that grows organically without any proper planning. This condition helps worsen the issue of living quality caused by humans and nature. The low living quality at Cilincing fishermen's village showed it is an unhabitable territory, especially in long-term conditions. It is also a form of displaying how people with low income live their life. The idea of relocating will be a new challenge to be done so that to be able to get around the new development needs to be done. The new development is a method to achieve revitalization without relocating the inhabitants henceforth, able to preserve to locality aspect of the environment.  The main idea of the revitalization program that uses a new development method is to provide a habitable living facility, especially for the native inhabitants of Cilincing fishermen's village, followed by a secondary program of facilities and infrastructure that function to help the activities of the inhabitants. The output of the revitalization program is vertical housing with adaptive characteristics without getting rid of the local aspects. In hopes of increasing the living quality of Cilincing fishermen's village inhabitants. As well as providing infrastructure and facilities which can increase the fishermen's village economic condition. Keywords: Cilincing; fishermen’s village; living quality; new development AbtrakAdanya fenomena penurunan kualitas berhuni yang terjadi di mayoritas kampung nelayan di Indonesia salah satunya merupakan Kampung Nelayan Cilincing yang terletak di Jakarta utara. Kampung Nelayan Cilincing merupakan kawasan desa pesisir yang terbentuk secara organik dan bertumbuh dengan pesat tanpa adanya proses perencanaan, hal ini menimbulkan berbagai macam masalah yang memengaruhi kualitas berhuni masyarakat di kawasan tersebut baik yang disebabkan oleh manusia maupun alam. Rendahnya kualitas berhuni menunjukkan ketidaklayakan kawasan untuk dihuni dalam jangka waktu yang panjang serta memberikan gambaran kehidupan mayoritas masyarakat dengan penghasilan rendah. Untuk itu dengan dilakukannya relokasi akan menjadi sebuah tantangan tersendiri, agar mampu menyiasati hal tersebut akan dilakukannya sebuah pengembangan baru atau new development. Pengembangan baru merupakan metode untuk melakukan revitalisasi di kawasan kampung nelayan Cilincing tanpa melakukan relokasi penduduk untuk menjaga aspek lokalitas kawasan tersebut. Dengan Ide program utama revitalisasi kawasan adalah menghadirkan fasilitas hunian yang layak huni bagi warga lokal kampung nelayan, didukung oleh program sarana dan prasarana kebutuhan aktivitas warga kampung nelayan Cilincing. Dengan program menyediakan sebuah fasilitas hunian vertikal dengan sifat adapatif tanpa menghilangkan aspek lokalitas yang sudah ada diharapkan dapat meningkatkan kondisi kualitas berhuni masyarakat kampung nelayan. Usulan berupa dukungan prasarana maupun sarana kegiatan yang juga dapat menaikkan kondisi ekonomi di kampung nelayan.
Fasilitas Penyegaran Mental Marcella Felicia; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4496

Abstract

Millennials are facing many challenges in this era. Of course, the growth spurt of technology and business brings positive changes but also negatives for physical and mental. One of the negative sides is the higher rate of stress that causes people to demand a refreshment facility, where the word ‘refreshment’ itself means to give energy physicallly and mentally. Seeing from the programs needed and the project location, produce a building design that adapt tropical style and post-modern architecture without leaving the traditional value. With highly slanted roof and having many skylights protruding the tropical style of the building. The façade uses basic materials like woods, concrete, and glass with warm tone color. Type and behavior also take important roles by co-influencing each other. Type itself is a concept that occurs in typology which determines whether the new typology will be the same as it is before or will it be a new form of typology that start a breakthrough. Instead, this project must use pattern language method of design which makes complicated design more simplified, and in the end produces a final design that answers the Milenial problems. AbstrakGenerasi milenial menghadapi banyak tantangan zaman. Tentu saja kemajuan teknologi dan bisnis dengan pesat membawa dampak positif namun juga dampak negatif bagi fisik dan mental.  Dampak negatif mental yang terjadi adalah kecenderungan stress yang tinggi sehingga diperlukan sebuah fasilitas penyegaran, dimana arti kata ‘penyegaran’ sendiri adalah memberikan energi bagi fisik dan mental. Sehingga melihat dari kebutuhan program dan lokasi proyek, menghasilkan sebuah bangunan yang bergaya tropis dan berasitektur post-modern namun tidak meninggalkan cirikhas tradisional. Dengan atap yang juga berkemiringan curam dan memiliki banyak skylight menonjolkan cirikhas tropis dari bangunan. Fasad bangunan juga banyak mengandalkan material-material dasar kayu, beton dan kaca dengan warna-warna bernuansa hangat. Tipe dan perilaku juga berperan penting dengan cara saling mempengaruhi. Tipe sendiri merupakan sebuah konsep yang kemudian ada pada tipologi yaitu apakah tipologi bangunan yang akan terbentuk akan sama dengan sebelum-sebelumnya atau malah akan terbentuk tipologi baru yang akan membuat sebuah terobosan. Selain itu, proyek ini juga harus menggunakan metode penelitian pattern language yang dapat mempermudah proses desain yang rumit sehingga menghasilkan program ruang yang beragam.
FASILITAS PENDIDIKAN KEJURUAN ANIMASI DI JAKARTA PUSAT MELALUI PROGRAM PENDIDIKAN 5.0 Mentari Amaliah Susanto; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16877

Abstract

Animation technology until now has always experienced rapid development, especially in developed countries that have technology that is considered very advanced and qualified with the quality of its human resources. Currently the animation industry in developed countries continues to progress in creating extraordinary animation works so that the whole world can experience their works, including in Indonesia. Indonesia also has its own animation industry, although in terms of quality it is not comparable to developed countries such as in America and Europe, but animation in Indonesia is currently experiencing development. In Indonesia, animation education tends to be lacking, therefore the current government wants to develop and advance the animation education sector, which is currently dominated by foreign animation on Indonesian television. For this reason, animation education facilities are needed to hone and create a young generation who has superior quality in the field of animation. This animation vocational education facility project aims to develop and hone the younger generation to achieve their goals in the industry, which is currently still relatively small by opening an educational facility that focuses on the field of animation. In designing this animation education facility project, the school's architectural typology design method was applied as a basis based on function, especially in producing the organization of space and building form in order to be able to answer rethinking about the typology of school buildings, especially Animation Vocational Education in Jakarta. In addition, it also applies the Eco Industrial design method to building design. Keywords: animation industry; technology; school typology AbstrakTeknologi animasi hingga saat ini selalu mengalami perkembangan yang pesat, terutama di negara-negara maju yang memiliki teknologi yang terbilang sangat maju dan mumpuni dengan kualitas sumber daya manusia-Nya. Saat ini industri animasi di negara maju terus mengalami kemajuan dalam menciptakan karya animasi yang luar biasa hingga seluruh dunia dapat merasakan karya-nya, termasuk di Indonesia. Indonesia juga memiliki industri animasi tersendiri, walaupun dari segi kualitas belum sebanding dengan negara maju seperti pada negara Amerika dan Eropa, namun animasi di Indonesia saat ini  mengalami perkembangan. Di Indonesia, dalam pendidikan animasi cenderung kurang, maka dari itu pemerintah saat ini ingin mengembangkan dan memajukan sektor pendidikan animasi yang saat ini di pertelevisian Indonesia didominasi oleh animasi luar. Untuk itu diperlukan sarana pendidikan animasi untuk mengasah dan menciptakan generasi muda yang memiliki kualitas unggul dalam bidang ilmu animasi. Proyek sarana pendidikan kejuruan animasi ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengasah para generasi muda untuk menggapai cita-cita dalam industri tersebut, yang saat ini masih terbilang sedikit dengan membuka suatu fasilitas pendidikan yang berfokus pada bidang animasi. Dalam mendesain proyek sarana pendidikan animasi ini menerapkan metode desain tipologi arsitektur sekolah sebagai dasar berdasarkan fungsi, khususnya dalam menghasilkan organisasi  ruang dan bentuk bangunan agar dapat menjawab berpikir ulang tentang tipologi bangunan sekolah khususnya Pendidikan Kejuruan Animasi di Jakarta. Selain itu juga menerapkan pada metode desain Eco Industrial pada desain bangunan.
SARANA PENGEMBANGAN KOMUNITAS PENGRAJIN FURNITUR KLENDER YANG BERBASIS PADA KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PENGRAJIN Jason Nathanael; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10722

Abstract

The way of a person, a group of people, and a community to dwell in certain area depends on their settlement process. The process of living is formed by experiences, events, and problem solving in the past. The accumulation of the habitual process experienced by a community in an area forms an image of the area. The image of the area formed by this way of living also occurs in Klender area, East Jakarta. The image formed is furniture industry center for Jakarta and the cities nearby. Although having an image of the furniture industry center, there are still many problems in the industry process. Starting from the problem with  the workforce, the technology, worker’s respiratory health, until how to promote the product. Seeing the existing problems and needs, we can find a solution by human development in the furniture industry. The development of furniture industry includes solutions to advance the industry towards the future. The design approach used in this project is pragmatic design method that is oriented towards the direct benefits which can be seen. Of course the direct benefits are facilities that can improve the human resource in the modern furniture industry with the knock down industry system. Also creating a healthy working environment for the craftsmen. These facilities include training education in design, production and technology. In addition, it creates a healthy working environment, in this case a healthy air circulation for the craftsmen. The healthy air circulation system mentioned before is creating dust collector system and air filter system in the production area. The purpose of these ideas are of course to improve the quality of inhabitants of the community in terms of their work in the furniture industry so that they can compete in the domestic and foreign markets during the Covid pandemic and afterwards. Keywords: Furniture industry; Klender; CarpenterAbstrakCara berhuni seseorang, sekelompok orang, dan suatu komunitas di satu kawasan bergantung pada proses berhuni mereka. Proses berhuni dibentuk dari pengalaman, kejadian, dan pemecahan masalah di masa lampau. Akumulasi dari proses berhuni yang dialami komunitas di suatu kawasan membentuk citra kawasan. Citra kawasan yang terbentuk dari cara berhuni ini juga terjadi di kawasan Klender, Jakarta Timur. Citra kawasan yang terbentuk adalah Klender sebagai pusat industri furnitur bagi Kota Jakarta dan sekitarnya. Walaupun memiliki status sebagai pusat industri furnitur, tidak juga terlepas dari berbagai masalah. Mulai dari tenaga kerja yang kurang menguasai teknologi modern, lingkungan kerja yang buruk bagi kesehatan pernafasan pengrajin, dan sektor promosi yang kurang berkembang. Melihat masalah dan kebutuhan yang ada, dapat dilakukan pengembangan industri furnitur yang ada di Kelurahan Klender. Pengembangan industri furnitur ini mencakup solusi untuk memajukan industri menatap masa depan. Pendekatan desain yang dilakukan pada penelitian ini adalah melalui metode desain pragmatis, yaitu desain yang berorientasi pada manfaat langsung yang dapat dihasilkan. Tentu manfaat yang ingin dihasilkan adalah fasilitas yang dapat meningkatkan kemampuan pengrajin furnitur dan yang memiliki lingkungan kerja yang sehat. Fasilitas ini mencakup pelatihan dan pendidikan tenaga kerja dalam hal desain, produksi, dan teknologi. Selain itu, menciptakan lingkungan kerja dalam hal ini sirkulasi udara yang sehat bagi pengrajin. Selain itu, menciptakan sistem pembuangan serbuk kayu dan filter udara untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat di area produksi. Tujuan dari pengembangan ini tentunya untuk meningkatkan kualitas berhuni masyarakat dalam hal pekerjaan mereka di bidang industri furnitur supaya dapat bersaing di pasar domestik maupun mancanegara  di masa pandemi covid ini dan sesudahnya.
FASILITAS KEGIATAN INTERAKTIF WARGA SEMANAN Inez Tjahyana; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8553

Abstract

Semanan Interactive Space Facility is the third place created with a background to improve the characteristics and daily lives of citizens as an inspiration for this project program. The livelihoods of the majority of the population are uncertain, many do not even work, while the area has socioeconomic potential such as the Flora Fauna Center and Tempe Village, many factories with workers living around the Semanan area, with high levels of stress being one of the most important needs to be concerned about. The vision of this project is to improve the skills, abilities and creativity and productivity of citizens. The programs offered in this project are education, entertainment and interaction. The method used in writing is descriptive, explanatory and quantitative by utilizing primary and secondary data collection in the selected area. From the results of data collection and literature, an analysis is carried out which results in the design concept and third place project program. From the whole process, a third place that needed by the residents, is Semanan Interactive Space Facility. Keywords:  programs; Semanan; third place AbstrakFasilitas Kegiatan Interaktif Warga Semanan merupakan sebuah third place yang dibuat dengan latar belakang mengangkat karakteristik dan keseharian warga sebagai inspirasi dari program proyek ini. Mata pencaharian warga yang kebanyakan belum menentu, bahkan banyak yang tidak bekerja, padahal kawasan memiliki potensi sosial ekonomi sebagai kawasan Sentra Flora Fauna dan Perkampungan Tempe, banyaknya pabrik-pabrik dengan pekerja yang tinggal disekitar kawasan Semanan, dengan tingkat stress yang tinggi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Visi dari proyek  adalah  meningkatkan keterampilan, kemampuan dan kreatifitas serta produktifitas warga. Program yang ditawarkan didalam proyek adalah edukasi, entertainment dan interaksi. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah diskriptif, eksplanatoris dan kuantitatif dengan memanfaatkan pengumpulan data primer dan sekunder terhadap kawasan terpilih. Dari hasil pengumpulan data dan literatur dilakukan analisis yang menghasilkan konsep desain dan program dari proyek third place. Dari seluruh proses maka didapatkanlah wadah third place yang dibutuhkan oleh warga yaitu Fasilitas Kegiatan Interaktif Warga Semanan.
SEBUAH RUANG UNTUK KOMUNITAS SAMPAH PLASTIK DI MURIA RAYA, JAKARTA SELATAN Audrey Audrey; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12432

Abstract

Sampah plastik yang pengolahannya belum maksimal menjadi masalah ekologis yang cukup berat karena unsur plastik sendiri yang lama terurai. Dari masalah tersebut, didapatkan ide untuk melakukan sebuah kolaborasi dengan komunitas sampah plastik untuk melampaui ekologi menuju arsitektur untuk kebaikan dan kehidupan. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat akan sampah plastik, sehingga dapat memotivasi gerakan daur ulang sampah plastik. Kolaborasi komunitas ini terdiri dari komunitas pengumpul, komunitas kreatif, dan komunitas penduli lingkungan, dengan bentuk pengumpulan bahan baku dalam material sampah yang siap diolah menjadi produk furniture/kerajinan oleh komunitas kreatif, serta tambahan untuk mendukung gerakan peduli lingkungan. Metode yang digunakan pada proyek ini adalah kontekstual, dengan menyelaraskan nilai-nilai karakteristik terhadap lingkungan sekitar terutama pada isu yang diangkat, yaitu sampah plastik terhadap program dan tempat; bentuk bangunan; bahan dan sistem bangunan.  Konsep yang diterapkan adalah upcycle, di mana material yang digunakan adalah material daur ulang sehingga para penggiat kreatif dapat berkumpul dan bekerja sama untuk menghasilkan produk. Proyek Ruang Kolaborasi Komunitas Sampah Plastik menjadi wadah bagi antar silang komunitas untuk dapat mengurangi jumlah sampah plastik dengan prinsip melampaui ekologi, mengubah terapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) menjadi 4R + 1U (Reduce, Reuse, Rethink, Upcycle, Replace). Kelompok kegiatan daur ulang dibagi menjadi 3 ruang berdasarkan kebutuhan bagi masing-masing penggiat kreatif (furniture, seniman, dan penjahit) serta diharapkan proyek ini mampu menyadarkan kembali masyarakat terkait pemanfaat sampah plastik yang bisa menjadi bagian kehidupan.Kata kunci: Sampah; Plastik; Komunitas; Upcycle; Recycle
FASILITAS PERTUNJUKAN SENI TARI SEBLANG DAN RUMAH SINGGAH DI DESA OLEHSARI Jehezkiel Aprilio Alietsar; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16855

Abstract

A thought of saving the nation's traditional culture that began to fade, sink, and even disappear through the media of architecture can save the nation's culture and traditions, especially the dance culture, one of which is the famous Seblang Dance in Indonesia. The project location is in Olehsari Village, Glagah, Krajan Hamlet, Bysari, Kec. Banyuwangi, Banyuwangi Regency, East Java 68432 Therefore, in making the project, it follows the rules with the typology formed from the village so that it can maintain its original culture. with several application of concepts such as smart village which is the main target of the village government of Olehsari Village, while also applying several methods in the design with the Hybrid, Phenomenon, and Parasite methods. The purpose of this final project focuses on how to solve problems against the attacks or attacks of globalization in saving traditional dances. The ritual of the Seblang dance is one of the author's thoughts to become an object of research with architectural aspects through the application of architectural Rethinking Typology to performing arts facilities and also providing accommodation facilities by providing shelter facilities. In the application of the concept of form produced by several architectural methods that refer to vernacular architecture which adapts from the culture of the Osing tribe which dominates in the Banyuwangi area which is indeed the chosen site. So it is hoped that in the end this building can meet the needs of each user and can support the vision and mission of the Banyuwangi district in advancing the tourism sector based on 3 important things in tourism, namely: Attraction, accessibility, amenities. It is also hoped that it will contribute to a tangible manifestation of the global goal, namely The Sustainable Development Goals (SDGs). Keywords: homestay; performing arts room; seblang dance; typology; traditional AbstrakProyek merupakan sebuah pemikiran penyelamatan budaya tradisi bangsa yang mulai redup, tenggelam, dan bahkan hilang dengan melalu media arsitektur; dapat menyelamatkan budaya dan tradisi bangsa khususnya budaya menari salah satunya Tari Seblang yang terkenal di Indonesia. Letak proyek terdapat di Desa Olehsari, Glagah, Dusun Krajan, Olehsari, Kec. Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dengan demikian, pada pembuatan proyek mengikuti kaidah kaidah-dengan tipologi yang terbentuk dari desa tersebut sehingga dapat mempertahankan budaya asli yang dimiliki. dengan beberapa penerapan konsep seperti smart kampung yang menjadi target utama dari Pemdes Desa Olehsari. Selain itu juga menerapkan beberapa metode dalam rancangan dengan metode hybrid, phenomenon, dan parasite. Tujuan dari tugas akhir ini menitik beratkan pada bagaimana pemecahan masalah terhadap serangan atau gempuran globalisasi dalam meyelamatkan tari tarian tradisional. Ritual Tari Seblang menjadi salah satu pemikiran penulis untuk dapat menjadi objek penelitian dengan aspek-aspek secara arsitektural lewat penerapan rethinking typology arsitektur terhadap fasilitas pertunjukan seni dan juga menyediakan fasilitas akomodasi dengan memeberikan fasilitas rumah singgah. Dalam penerapan konsep bentuk yang dihasilkan dengan beberapa metode arsitektural yang mengacu pada arsitektural vernakular yang mengadaptasi dari budaya suku osing yang sangat mendominasi di daerah Banyuwangi yang memang merupakan tapak yang dipilih. Sehingga diharapkan pada akhirnya bangunan ini dapat memenuhi kebutuhan dari setiap penggunanya serta dapat mendukung visi misi dari Kabupaten Banyuwangi dalam memajukan sektor pariwisata berdasarkan dengan 3 hal penting dalam wisata yaitu: attraction, accesibility, amenities. Yang juga di harapkan dapat memberikan kontribusi terhadap wujud nyata dalam tujuan global yaitu The Sustainable Development Goals (SDGs).
TEMPAT BEKERJA DAN TINGGAL UNTUK KAUM MILENIAL Arvian Arvian; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4449

Abstract

The problem of stress on the Generation of Milenial in Jakarta which is caused by the problems of conventional work space and also the problem of commuter has been very much. But there is no good solution to solving the problem. Therefore this study chose a Co-Living facility. This study aims to produce sensual space that can bring the atmosphere of facility users to get a feeling that is suitable for doing activities. This study uses a literature typology method on spatial psychology and architectural dimensions that affect the human senses in a space. This Co-Living facility includes Co-Living area facilities to be a solution for Commuters who live far away or want to get a cheap and affordable temporary resting place. Co-Working Space for Generations of Milenial who want to have a start-up or even become a place to do activities together. Learning Center to meet the needs of those who want to learn certain soft skills to fulfill each individual's skills. Each room also concerns other architectural elements such as material and lighting.AbstrakPermasalahan tentang stress terhadap Generasi Milenial di Jakarta yang di sebabkan oleh masalah ruang kerja yang konvensional dan juga masalah commuter sudah sangat banyak. Namun belum ada solusi yang baik terhadap penyelesaian masalah tersebut. Karena itu penelitian ini memilih sebuah fasilitas Co-Living. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan ruang sensual yang dapat membawa atmosfer pengguna fasilitas mendapatkan perasaan yang cocok untuk melakukan aktivitas. Penelitian ini menggunakan metode tipologi literatur tentang psikologi keruangan dan dimensi – dimensi arsitektural yang mempengaruhi indera manusia di dalam sebuah ruang. Fasilitas Co-Living ini meliputi fasilitas Co-Living area untuk menjadi solusi bagi para commuter yang tinggal jauh atau ingin mendapat tempat istirahat sementara yang murah dan terjangkau. Co-Working Space untuk Generasi Milenial yang ingin memiliki start-up atau sekerdar menjadi tempat untuk beraktifitas bersama. Learning Center untuk memenuhi kebutuhan mereka yang ingin mempelajari soft-skill tertentu untuk memenuhi skill masing – masing setiap individu. Pada setiap ruang juga memperhatikan elemen – elemen arsitektural lainnya seperti material dan pencahayaan.