Rudy Surya
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

RANCANGAN RUMAH BELAJAR DALAM KONSEP KESEHARIAN DI KAWASAN PADEMANGAN BARAT Yessica Fransisca; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10739

Abstract

Every human wants to pursue their goal of life that is reflected in their daily activities. How humans can survive with their existence is called dwelling. An architect plays some roles in building and designing places or buildings for accommodating human activities as the term of dwelling. As the economics and employment getting worse and the high standard of living being added in Jakarta, also the increasing values of necessities causing the number of mendicant people in Jakarta getting more in numbers. Education development is a priority because the development of the nation can be seen from the development of education. Everydayness is used as a design approach method. This direction is to produce a work in a more humane architecture. Where an architect designs an architectural work by analyzing how everyday life is and what human needs are needed. As an area that lacks educational facilities, especially educational facilities for underprivileged children. The provision of Rumah Belajar in non-formal education programs is intended for underprivileged children who are experiencing poverty conditions in the West Pademangan area. Rumah Belajar becomes a second home for children, where they spend their daily time and also as a place to serve some purposes in a child's life. In this place, children have the opportunity to find a place for their world through the attainments of living things related to dwelling. The concept of the Rumah Belajar is to establish a sustainable life as a system. So that users in this Rumah Belajar can carry out the purpose of dwelling, in the form of building in the architecture context. The architecture will determine as a sustainable system and materials, which can help the future of life. Keywords:  dwelling; future; life; rumah belajar AbstrakManusia tidak terlepas dari kegiatan ataupun aktivitas kesehariannya untuk mencapai suatu tujuan dalam kehidupannya. Bagaimana manusia dapat bertahan hidup dengan eksistensinya yang disebut berhuni. Dalam hal berhuni, arsitek berperan dalam membangun dan merancang suatu tempat atau bangunan untuk mewadahi kegiatan manusia tersebut. Semakin sulitnya perekonomian dan lapangan kerja ditambah lagi dengan tingginya taraf hidup di Jakarta, serta naiknya harga berbagai kebutuhan pokok mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin di Jakarta. Pembangunan pendidikan seharusnya diutamakan karena suatu kemajuan bangsa dapat dilihat dari kemajuan pendidikan. Metode perancangan arahan yang digunakan adalah everydayness. Arahan ini adalah menghasilkan sebuah karya dalam arsitektur yang lebih manusiawi. Di mana seorang arsitek mendesain sebuah karya arsitektur dengan menganalisa bagaimana kehidupan keseharian dan juga kebutuhan apa yang diperlukan bagi manusia tersebut. Pademangan Barat merupakan salah satu kawasan yang masih kurangnya fasilitas pendidikan khususnya bagi anak-anak yang kurang mampu. Penyediaan Rumah Belajar dalam cangkupan pendidikan non-formal ini diperuntukkan untuk anak-anak yang kurang mampu yang mengalami kondisi kemiskinan di kawasan Pademangan Barat. Rumah Belajar menjadi rumah kedua bagi anak-anak, di mana mereka menghabiskan keseharian waktunya dan juga sebagai tempat untuk melayani sejumlah tujuan dalam kehidupan seorang anak. Dalam Rumah Belajar ini anak-anak berpeluang untuk menemukan tempat mereka di dunia ini melalui pencapain makhluk hidup terkait dengan berhuni. Konsep dari Rumah Belajar ini adalah menetapkan kehidupan dan sistem yang berkelanjutan, sehingga pengguna dalam Rumah Belajar ini dengan menjalankan tujuan dalam berhuni, namun pada bangunan dalam konteks arsitektur menetapkan sistem dan penggunaan material yang berkelanjutan, yang nantinya dapat membantu untuk kehidupan di masa depan.
FASILITAS INTERAKSI LANSIA DAN MILENIAL Aiko Putri Marui; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8575

Abstract

Third Place is an additional requirement needed by the people of South Meruya. Millennial and elderly population in South Meruya is the highest population there. Therefore this project is prioritized for them. And there are also problems with the relationship between the elderly and tenancy that are tenuous, due to differences in mindset and habits. Therefore the project which is located on Jalan Meruya Utara aims to provide various facilities that they can use together and can re-create a close relationship between them but this project also not only accepts millennials and the elderly but also all people from various social and age. In addition to being a gathering place, this project also provides various workshops or classes so that they can carry out activities together and communication can be formed because of the activity of chatting or exchanging ideas. It also provided a place for them to exercise for the benefit of elderly and millennial health. The method used in this paper is to study the Regions, Library. Based on the results of field surveys and literature, the similarities in the activities of the elderly and millennials are expected to be their joint activities. The results of the study were analyzed and synthesized in the form of designing an elderly and millennial interaction facility in South Meruya. Keywords:  elderly; millennials; third place Abstrak Third Place merupakan sebuah kebutuhan tambahan yang dibutuhkan masyarakat Meruya Selatan. Penduduk milenial dan lansia di Meruya Selatan merupakan jumlah penduduk yang tertinggi disana. Maka dari itu proyek ini diutamakan untuk mereka. Dan juga terdapat permasalahan hubungan antara lansia dan milenial yang renggang, karena perbedaan pola pikir dan kebiasaan. Maka dari itu proyek yang berada di Jalan Meruya Utara ini bertujuan untuk menyediakan berbagai fasilitas yang dapat mereka gunakan bersama-sama dan dapat menciptakan kembali hubungan yang erat antara mereka selain itu juga proyek ini tidak hanya menerima kaum milenial dan lansia tapi juga semua orang dari berbagai golongan sosial dan umur. Selain menjadi tempat berkumpul juga proyek ini menyediakan berbagai workshop atau kelas-kelas agar mereka dapat melakukan aktivitas-aktivitas bersama-sama dan dapat terbentuk komunikasi karena terjadinya aktivitas mengobrol ataupun bertukar pikiran. Selain itu juga disediakan tempat untuk mereka dapat berolahraga untuk kepentingan Kesehatan lansia maupun milenial. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan melakukan studi Kawasan, Pustaka. Berdasarkan hasil survei lapangan dan literatur dihasilkan kesamaan-kesamaan aktivitas kaum lansia dan milenial yang diharapkan dapat menjadi aktivitas bersama mereka. Hasil kajian tersebut dianalisis dan disintesiskan dalam wujud perancangan fasilitas interaksi kaum lansia dan milenial di Meruya Selatan.
PENDEKATAN PRAGMATIS DALAM PERANCANGAN PERUMAHAN TERPADU DI BINTARO Maria Reza Desita; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10781

Abstract

The future is a predictable yet uncertain period of time. Every human being in this world will always try any possible things to survive and try to make their existence real, this behavior is called dwelling. Architecture comes in form of buildings and space as a place for human to dwell. The way human dwell will always change following their environment and follow the development of technology. Technology has become the biggest driver in the change of human evolution, every sector of human life keeps revolving and try to adapt to the development of technology for hope of a better life. A city is one of the product of this evolution, a place considered modern and high-technology, but with the imbalance between the technology development, infrastructure, and human needs, a city also generate some problems. A city as an area also has an effective number of population density for it to work effectively. The more densely populated a city is, the bigger the need of a housing buildings. Because of the incapability to provide a proper and affordable housing in the city, the irregular housing development plan around the periphery of the city is spreading, causing a phenomenon called urban sprawl. The project Integrated Housing has a goal to transform the existing urban sprawl area to be more compact and effective. Through pragmatic approach, this project will be focusing on users’ needs, effective space used, and integrated programs which wil be achieved by analysing people’s needs and way of life today and tomorrow. Another goal is to also pay attention and to lessen the negative impact of urban sprawl to the environment to achieve a sustainable future. Keywords: Dwelling; Environment; Future; Technology; Urban sprawl.Abstrak Masa depan adalah bingkai waktu yang tidak pasti, namun dapat diprediksi. Setiap manusia yang hidup di dunia ini mencoba melakukan segala hal untuk dapat bertahan hidup dan mencoba membuat eksistensinya nyata, sikap ini juga disebut berhuni. Arsitektur hadir dalam bentuk bangunan atau ruang yang dirancang untuk mewadahi kegiatan berhuni manusia. Cara manusia berhuni selalu berubah mengikuti lingkungannya dan mengikuti perkembangan penemuan teknologi. Teknologi telah menjadi pendorong terbesar dalam perubahan evolusi manusia, segala sektor kehidupan terus berputar dan beradaptasi dengan teknologi demi mendapatkan kehidupan yang lebih mudah. Sebuah kota adalah hasil dari perkembangan evolusi manusia ini, sebuah tempat yang dianggap canggih dan modern, namun karena ketidakseimbangan antara perkembangan teknologi, infrastruktur, dan kebutuhan manusia, kota juga menimbulkan beberapa permasalahan. Kota sebagai sebuah area dengan batasan pengembangan memiliki sebuah batas kepadatan yang efektif untuk dihuni. Semakin padat, kebutuhan bangunan untuk tempat tinggal pun meningkat. Kota yang tidak mampu menyediakan tempat tinggal yang terjangkau dan layak pun mendorong terjadinya penyebaran pembangunan yang tidak tersusun ke daerah sekitar kota. Fenomena ini disebut juga sebagai urban sprawl. Perumahan Terpadu ini adalah proyek yang memiliki tujuan untuk mentransformasi area urban sprawl yang sudah ada menjadi area yang lebih kompak dan efektif guna. Dengan pendekatan pragmatis, proyek ini berfokus pada kebutuhan pengguna, efektivitas ruang dan integrasi antar fungsi yang akan dikembangkan dari hasil analisis kebutuhan dan cara hidup masyarakat saat ini dan prediksi kedepannya. Proyek ini juga mengedepankan keberlanjutan lingkungan dengan memperhatikan dampak yang dihasilkan terhadap lingkungan supaya tidak memperburuk kondisi saat ini.
FASILITAS KREATIVITAS DAUR ULANG KAYU Sonia Fernanda; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4454

Abstract

At present, the use of wood in Indonesia faces quite a challenge because of the imbalance between existing raw materials and the raw materials needed. Thus, with the creative and active Characteristics of the Millennial Generation can help in maximizing the use of wood and waste which leads to zero waste. This project aims to accommodate wood craftsmen and millennial to be able to use wood waste to become a useful new product and can invite new entrepreneurs to start entrepreneurship in the wood recycling sector. By taking the Creative hub concept where wood craftsmen and new entrepreneurs can gather and work together to produce a product that is needed today. The existing activity groups are based on zoning and also the needs of each room. Recycled products are made in two different types of rooms based on the size of the items made. It is hoped that this building can revive the surrounding area and also invite the public to want to know more about wood recycling. AbstrakPada dewasa ini pemanfaatan kayu di Indonesia mengalami tantangan yang cukup berat karena adanya ketimbangan antara bahan baku yang ada dengan bahan baku yang dibutuhkan. Oleh karena itu, dengan Karakteristik Generasi Milenial yang kreatif dan aktif dapat membantu dalam memaksimalkan pemanfaatan kayu dan limbah yang mengarah kepada zero limbah. Proyek ini memiliki tujuan untuk mewadahi para pengrajin kayu dan juga generasi milenial untuk dapat memanfaatkan limbah kayu menjadi suatu produk baru yang bermanfaat dan dapat mengundang para pelaku wirausaha baru untuk mulai berwirausaha dalam sektor daur ulang kayu. Dengan mengambil konsep Creative hub dimana para ahli pengrajin kayu dan juga para pelaku wirausaha baru dapat berkumpul dan bekerja sama dalam menghasilkan suatu produk yang dibutuhkan sekarang ini. Kelompok kegiatan yangg ada dibuat berdasarkan zoning dan juga kebutuhan dari setiap ruangan yang ada. Produk daur Ulang yang dibuat dibedakan dalam 2 tipe ruangan yang berbeda berdasakan ukuran barang yang dibuat. Diharapkan bangunan ini dapat menghidupkan kembali kawasan sekitar dan juga mengundang masyarakat untuk mau lebih mengenal lagi mengenai daur ulang kayu.
FASILITAS KREATIVITAS SENI MERUYA UTARA Anthea Anthea; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8576

Abstract

The Creative Art Facility is a third place project that accommodate various activities which is related to art creativity specially fine arst. The background of the project is residents are not provided a place to do some activities that related to arts especially among teenagers and housewives so that they often do their creativity in a wrong place. This project is located in North Meruya. This project as third place aims to facilitate Meruya Utara residents with lots of facilities that related to arts so that they can develop their creativity and become a place for residents to gather around also free to express theirselves and be creative so that they can improve personality become better . In order to create a sense of togetherness also reduce social disparity and a conducive level of security that can reduce the potential of juvenile delinquency in the region. Descriptive explanatory method is used in this writing by doing the literature studies, surveys and field observations, and conducting analyzes. Several programs that being generated are art studio, gallery, display area, library, cafetaria, garden, and artshop. Keywords:  art, creative, third place Abstrak Fasilitas Kreativitas Seni merupakan proyek third place yang mewadahi beragam kegiatan berhubungan dengan kreativitas seni khususnya dalam bidang seni rupa. Proyek ini, dilatarbelakangi oleh tidak tertampungnya warga yang gemar melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan seni rupa terutama di kalangan remaja dan ibu rumah tangga sehingga sering menuangkan kreativitas di tempat yang tidak seharusnya. Proyek ini berlokasi di kelurahan Meruya Utara. Tujuan proyek adalah untuk memfasilitasi warga Meruya Utara sebagai third place dengan berbagai macam fasilitas yang berhubungan dengan seni agar kreativitas yang mereka miliki berkembang dan menjadikan tempat bagi warga untuk berkumpul serta bebas dalam berekspresi dan berkreasi sehingga dapat meningkatkan pribadi menjadi lebih baik. Guna menciptakan rasa kebersamaan serta mengurangi kesenjangan sosial dan tingkat keamanan yang kondusif sehingga memungkinkan berkurangnya potensi kenakalan remaja di kawasan. Metode deskriptif eksplanatoris digunakan dalam penulisan ini dengan melakukan rangkaian studi literatur, survei dan observasi lapangan dan melakukan analisis. Beberapa program yang dihasilkan diantaranya adalah  art studio, galeri, display area, perpustakaan, kafetaria, taman dan distro.
RUMAH PESTA RIA HARMONI - MENGEMBALIKAN MEMORI KOLEKTIF DI HARMONI MELALUI TEMPAT KETIGA Joan Valerie Lohia; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22041

Abstract

Harmoni is an area that is always crowded everyday with a commercial area as the main activity. Unfortunately Harmoni has a lot of historical memories that not all generations can exprecience, especially harmony at night when all shops and offices are closed, and the harmoni area becomes dark with no light in the pedestrian area. The Harmoni area has an interesting point that this area should be able to become an old nostalgic place as a new creative space for the community. The bad impact if this area is not being treated well is this area will slowly drown by the repeated activity and the history slowly faded away. The research method used is a design by research method which is carried out by collecting data and analyzing data. The conclusion of this research is expected to be able to provide an answer on how to preserve historical areas by regenerating areas that must be sustainable with technology to be balanced with current generations so that they can be accepted by all kinds of people. Some things can be done with adapting old activities in the area such as public space, gathering rooms, and party rooms. It is hoped that in the future the area will become a pioneer point of slowly recovering in the surrounding area. Keywords: collective memory; Harmoni; history; third place Abstrak Harmoni menjadi kawasan yang ramai setiap hari, merupakan kawasan komersial yang aktif. Sayang kawasan banyak menyimpan sejarah yang tidak setiap generasi dapat merasakannya terlebih kawasan harmoni yang gelap dan rawan pada malam saat semua pertokoan dan kantor tutup. Hal ini menarik untuk diangkat dimana kawasan ini seharusnya dapat menjadi kawasan kota lama yang memberikan perasaan ruang nostalgia baru bagi setiap generasinya serta dapat menjadi kawasan hiburan masyarakat sekitar kawasan maupun dari luar kawasan. Dampak buruknya jika kawasan ini tidak dibenahi adalah semakin tergerusnya  nilai sejarah yang tinggi yang terdapat pada kawasan dimana seharusnya dapat dinikmati dan menjadi edukasi bagaimana kota Jakarta sendiri bisa sampai di titik ini. Metode penelitian yang digunakan adalah design by research method yang dilakukan dengan mengumpulkan data dan menganalisis data. Kesimpulan dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan jawaban dari bagaimana melestarikan kawasan sejarah dengan regenerasi kawasan yang harus berkesinambungan dengan kemajuan teknologi untuk dimbangi dengan generasi sekarang sehingga dapat diterima. Beberapa yang dapat dilakukan adalah mengadaptasi aktivitas-aktivitas pada kawasan yang dilakukan dulu seperti ruang publik, ruang berkumpul, ruang berpesta nantinya adaptasi dari aktivitas yang pernah terjadi dulu ini di aplikasikan dengan penyesuaian perkembangan zaman. Diharapkan kawasan menjadi titik pelopor pemulihan pada kawasan sekitar secara perlahan.
SAMPAH DALAM INDUSTRI BANGUNAN ARSITEKTUR SEBAGAI WUJUD REVITALISASI DI KAMPUNG BENGEK JAKARTA Etnan Audrian; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22044

Abstract

The growth of an area does not always have a good impact on all areas in the region. One example is the Muara Baru industrial area, where this growing area has several problem spots that have not been resolved and are left unattended. Kampung Bengek is one of the villages in the Muara Baru area where this village seems to live among garbage and is isolated from the surrounding environment. This study is a follow-up to modify and rearrange these settlements in order to improve the quality of life of the community and solve the problem of existing waste accumulation. With program and daily methods as the initial design method for village recovery, it needs to be supported by an adequate program, namely an industrial plastic waste processing center that can produce a new material from processed plastic waste. In the future, the processed plastic waste can be the main material for a new residential module in Kampung Bengek. It is hoped that the existence of a waste processing center and revitalization in Kampung Bengek can be a solution to clean up the Kampung Bengek area and provide a new, more appropriate space for residents who previously lived among piles of garbage. With this project, it can provide a separate identity for Bengek Village which previously did not have an identity and make the village which was previously a slum playground into a new place to grow. Keywords: Industry; Residential; Revitalization; Waste Abstrak Pertumbuhan sebuah kawasan tidak selalu berdampak baik bagi seluruh area di kawasan tersebut. Salah satu contohnya adalah kawasan industri Muara Baru, dimana kawasan yang terus bertumbuh ini memiliki beberapa titik masalah yang tidak juga diselesaikan dan dibiarkan begitu saja. Kampung Bengek merupakan salah satu perkampungan yang berada di kawasan Muara Baru dimana kampung ini seperti hidup di antara sampah dan terisolasi dari lingkungan disekitarnya. Studi ini merupakan tindak lanjut untuk memodifikasi serta penataan kembali terhadap permukiman ini agar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menyelesaikan masalah penumpukan sampah yang ada. Dengan metode metode program dan keseharian sebagai metode awal perancangan untuk pemulihan kampung perlu didukung dengan program yang memadai yaitu sebuah industri pusat pengolahan sampah plastik yang dapat menghasilkan sebuah material baru dari hasil olahan sampah plastik. Kedepannya sampah plastik yang telah diolah tersebut dapat menjadi bahan utama modul hunian baru di Kampung Bengek. Diharapkan dengan adanya pusat pengolahan sampah dan dilakukannya revitalisasi di Kampung Bengek ini dapat  menjadi solusi membersihkan wilayah Kampung Bengek dan menyediakan sebuah ruang baru yang lebih layak untuk warga yang sebelumnya tinggal di antara tumpukan sampah. Dengan adanya proyek ini dapat memberikan identitas tersendiri bagi Kampung Bengek yang sebelumnya tidak memiliki identitas dan menjadikan kampung yang sebelumnya  merupakan tempat bermain yang kumuh menjadi tempat baru untuk bertumbuh.
RUANG REKREASI, WISATA DAN EDUKASI BARU SEBAGAI EKSTENSI MUSEUM MEMORIAL EX-CAMP VIETNAM PULAU GALANG BATAM Mellinia Vannesa; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22133

Abstract

Tourism is one of the country's foreign exchange source sectors that helps increase economic growth. In addition to increasing economic growth, the existence of a tourist attractions provide employment that gives positive impact on its community. The rapid development of new areas in the city of Batam, joined with technological advances and ever-changing habits of human activity, is an aspect that affects the decreased number of visitors in a tourist area, including the historical tourist area of Camp Vietnam. With its historical value and diversity of potential possessed by this cultural heritage site, Camp Vietnam is considered not to have received maximum preservation management. Through Urban Acupuncture method and Heritage Future strategy in analyzing the potential, shortcomings, and characteristics of Camp Vietnam. The planning of the educational, tourism and recreation space as an extension of space for Camp Vietnam museum is a form of intervention that aims to revive activities in the area. Revitalization of buildings along with reprogramming methods were carried out on developing the existing potentials in bridging edutainment activities with the fast developing modern era. Through small-scale interventions, edutainment programs in recreational facilities was created so the community could have positive interactions. The designed project is expected to be a landmark for the area and a catalyst in terms of physique, historical value and distinctive characteristics contained in the area and the city. Keywords: Cultural Heritage; Edutainment; Memorial Museum Extension; Urban Acupuncture Abstrak Pariwisata merupakan sektor sumber devisa negara yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, keberadaan suatu objek wisata dapat menyerap tenaga kerja sehingga memberikan dampak positif kepada masyarakatnya. Pesatnya pembangunan baru di kawasan kota Batam, ditambah dengan kemajuan teknologi dan kebiasaan aktivitas manusia yang selalu berubah, menjadi aspek-aspek yang mempengaruhi penurunan angka pengunjung di suatu kawasan wisata, tidak terkecuali pada kawasan wisata sejarah Camp Vietnam. Dengan nilai historis dan keberagaman potensi yang dimiliki situs cagar budaya ini, kawasan wisata sejarah Camp Vietnam dinilai belum mendapatkan pengelolaan yang maksimal. Melalui metode Urban Acupuncture dan strategi Heritage Future untuk menganalisis potensi, kekurangan, dan ciri khas dari kawasan Camp Vietnam. Perencanaan ekstensi bangunan yang baru berupa ruang rekreasi, wisata dan edukasi pada eksisting museum memorial Camp Vietnam sebagai satu bentuk intervensi bertujuan untuk menghidupkan kembali aktivitas di kawasan Camp Vietnam. Tindakan revitalisasi terhadap bangunan eksisting beserta pemograman ulang yang dilakukan terhadap potensi kawasan juga dilakukan dalam menjembatani aktivitas eduwisata sejarah dengan perkembangan zaman yang semakin moderen ini. Melalui Intervensi- intervensi berskala kecil, program eduwisata pada ruang rekreasi ini diciptakan agar dapat menjadi wadah interaksi dan sosialisasi masyarakat yang bermanfaat. Proyek yang dirancang diharapkan dapat mempresentasikan wajah kawasan dan menjadi katalis baik dari segi fisik, nilai historis dan ciri khas yang terkandung didalam kawasan maupun tatanan kota.
MENGEMBALIKAN POPULARITAS BLOK M SEBAGAI AREA BERKUMPUL PEMUDA JAKARTA MELALUI MENGGUNAKAN METODE PENYUNTIKAN URBAN ACUPUNCTURE Michelle Gavriel; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22134

Abstract

Kebayoran Baru is a sub-district in the south of Jakarta with a bit of history that has colored the journey of the capital city of Jakarta. In the 80s and 90s, the Kebayoran Baru area, which was centered on Blok M, was filled with Japanese expatriates, which made the Blok M area, especially Melawai, popular among young people as a gathering area to create the term 'Lintas Melawai'. Visualization of the Blok M area as an elite area where 'Lintas Melawai' is a place to show off vehicles, gradually decreasing or degrading, which is quite influenced by MRT infrastructure development. Locations that are increasingly difficult to reach and the presence of other magnets in other areas that are more attractive have made the economic condition of the community decline along with the social and physical conditions of the area. One of the efforts that can be done to save the area is by injecting Urban Acupuncture and applying the spatial narrative method so that the area no longer experiences a decline but returns to the image of an area full of Jakarta's youth, where this will have a positive impact on the economy and regional potential. even to human resources in the region. The revitalization and re-programming actions taken are expected to be able to bring the area to grow in tandem with the acceleration of the growth of existing infrastructure, so that the area is no longer left behind but adapts according to the times without forgetting the historical values ​​that have been attached to the community's memory. Keywords: Blok M Recreation; Education; Hangout Place; Urban Acupuncture Abstrak Kebayoran Baru merupakan sebuah kecamatan yang berada di selatan Jakarta dengan sekelumit sejarah yang mewarnai perjalanan Ibukota Kota Jakarta. Di era 80 hingga 90an, kawasan Kebayoran Baru yang berpusat pada Blok M di penuhi oleh eskpatriat Jepang dimana hal ini menjadikan kawasan Blok M khususnya Melawai popular di kalangan anak muda sebagai area berkumpul hingga tercipta sebutan ‘Lintas Melawai’. Visualisasi Kawasan Blok M sebagai kawasan elit dimana ‘Lintas Melawai’ merupakan tempat untuk memamerkan kendaraan, lambat laun mengalami penurunan atau degradasi, yang cukup di pengaruhi oleh pembangunan infrastruktur MRT. Lokasi yang semakin sulit di capai serta adanya magnet kawasan lain yang lebih menarik, membuat kondisi perekonomian masyarakat menurun bersamaan dengan kondisi sosial juga fisik kawasan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan kawasan yakni dengan melakukan penyuntikan Urban Acupuncture serta penerapan metode spatial narative sehingga kawasan tidak lagi mengalami penurunan tetapi kembali menjadi citra kawasan yang penuh dengan pemuda Jakarta, dimana hal ini akan memberikan dampak yang positif terhadap perekonomian serta potensi daerah bahkan sampai sumber daya manusia di kawasan tersebut. Tindakan revitalisasi dan re-programming yang dilakukan diharapkan dapat membawa kawasan untuk bertumbuh beriringan dengan percepatan pertumbuhan infrastruktur yang ada, sehingga kawasan tidak lagi tertinggal tetapi beradaptasi sesuai dengan perkembangan zaman tanpa melupakan nilai sejarah yang sudah melekat pada memori masyarakat.
MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN KOTA TUA CIREBON DENGAN EKOWISATA Bregas Setyawan Putra Atmadi; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22135

Abstract

Cirebon is a city located in West Java Province, Indonesia. Cirebon connects Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya which is often called the Pantura route. Cirebon has many old buildings, each of which has its own history. However, along with the times and the influence of globalization, the Old City area of ​​Cirebon is increasingly being degraded. Therefore, the Cirebon City Government has prepared the Cirebon Old City Area in Lemahwungkuk District to be revitalized so that this area becomes a new destination in the Cirebon area and improves the economy in the area. With the existence of an Ecotourism Art Gallery, which focuses on how to solve problems against the onslaught of globalization in saving art from Cirebon itself, so that the people around Cirebon Old Town can chat together and revive the Cirebon Old City area. One of the efforts that can save this area is by using urban acupuncture by applying several concepts such as Ecotourism which is the main target of the Cirebon City Government to revitalize this area, while also applying several methods in the design, namely Phenomenon, Typology and Hybrid. It is hoped that by using the following method for this research, the Ecotourism Art Gallery can raise the economic, social, cultural and tourist centers of the area, so that the area can grow with infrastructure that will also grow in the future. Keywords:  Ecotourism Art Gallery; Revitalize; The Cirebon Old City; Urban Acupuncture Abstrak Cirebon merupakan kota yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Cirebon menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya yang mana sering disebut jalur Pantura. Cirebon memiliki banyak bangunan-bangunan tua, yang mana masing-masing dari bangunan tua tersebut punya historis nya sendiri. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi Kawasan Kota Tua Cirebon ini semakin terdegradasi. Maka dari itu, Pemkot Cirebon menyiapkan Kawasan Kota Tua Cirebon yang berada di Kecamatan Lemahwungkuk ingin di revitalisasi agar kawasan ini menjadi tujuan destinasi baru yang ada di daerah Cirebon dan meningkatkan roda perekonomian di kawasan tersebut. Dengan adanya sebuah Galeri Seni Ekowisata ini yang mana menitikberatkan pada bagaimana pemecahan masalah terhadap gempuran globalisasi dalam menyelamatkan seni dari Cirebon sendiri, agar masyarakat sekitar Kota Tua Cirebon bisa bercengkrama bersama-sama dan menghidupkan kembali kawasan Kota Tua Cirebon. Salah satu upaya yang bisa menyelamatkan kawasan ini dengan menggunakan akupunktur perkotaan dengan beberapa penerapan konsep seperti Ekowisata yang mana menjadi target utama dari Pemkot Cirebon untuk me revitalisasi kawasan ini, selain itu juga menerapkan beberapa metode dalam rancangan yaitu Fenomenon, Tipologi dan Hybrid. Harapannya dengan menggunakan metode berikut untuk penelitian ini Galeri Seni Ekowisata ini bisa mengangkat ekonomi, sosial, budaya dan pusat wisata pada kawasan tersebut, sehingga kawasan tersebut bisa tumbuh dengan infrastruktur yang akan bertumbuh juga dimasa yang akan datang.