Suwardana Winata
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENDEKATAN TIPOLOGI PADA DESAIN RUANG SOSIAL MASYARAKAT TIONGHOA DALAM UPAYA MENGEMBALIKAN CITRA KAWASAN GLODOK Shinta Angelita; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21816

Abstract

Social space is rooted to the identity of the community, which also becomes the image of a region. However, a shift in social structure in a region is inevitable due to demands of modern economy and urban development. When the identity-forming agent of this region shifts, the identity of the region will slowly fade and change. In this study, the author chose Glodok as the region that experienced a similar case. The strong social behavior, meaning, and identity of the Chinese community in Glodok resulted in a typology and character of social space that is unique compared to other regions. The recently-build-social spaces in Glodok only appear to reflect the regional image physically, but do not really reflect the spirit and values ​​of the Chinese community in Glodok. This happens due to the large number of new entrants and rebranding efforts for the sake of modern market demand. Therefore, it is necessary to have an architectural strategy in the form of a socio-cultural space that can record the local soul of the Glodok area and instill it slowly in the long term as part of the lives of new residents in the future. To avoid a similar case in Glodok today, a typological approach is used to understand the reasons behind the program, form, and spatial arrangement of the socio-cultural space in Glodok. This typological approach must be able to rebuild the value and familiarity of Glodok as well as produce a new modification to meet the demands of the modern market. The basic typological approach used is by extracting the spatial patterns of Glodok and the daily life of the Glodok people, superimposing the spatial layers, and reinterpreting traditional Chinese architectural elements which are then transformed into a mass. Keywords:  Glodok; Identity; Image of Region; Social space; Typology Abstrak Ruang sosial dalam suatu kawasan mengakar pada identitas komunitasnya, yang  menjadi citra dari kawasan tersebut. Namun, pergeseran struktur sosial dalam suatu kawasan tak terelakan karena tuntutan ekonomi modern dan perkembangan kota. Lantas, ketika agen pembentuk citra kawasan ini hilang, maka identitas dari kawasan pun turut memudar dan berubah jika berbicara dalam kurun waktu lama. Dalam penelitian ini, penulis memilih Glodok sebagai kawasan yang mengalami kasus serupa. Perilaku sosial, makna, dan identitas komunitas Tionghoa yang kuat di Glodok menghasilkan tipologi dan karakter ruang sosial yang berbeda dengan kawasan lain. Ruang-ruang sosial di Glodok yang baru hanya secara fisik luarnya seakan mencerminkan citra kawasan, tetapi tidak benar-benar mencerminkan jiwa dan nilai dari masyarakat Tionghoa di Glodok. Hal ini terjadi karena banyaknya pendatang baru dan upaya rebranding demi permintaan pasar modern. Oleh sebab itu, perlu adanya sebuah strategi arsitektur berupa ruang sosial budaya yang dapat merekam jiwa lokal kawasan Glodok dan menanamkannya secara perlahan dalam jangka panjang sebagai bagian dari kehidupan penghuni baru di masa mendatang. Untuk menghindari kasus serupa di Glodok sekarang, maka pendekatan tipologi digunakan untuk memahami alasan dibalik program, bentuk, dan tatanan spasial pada ruang sosial budaya di Glodok. Pendekatan tipologi ini harus dapat membangun kembali nilai dan familiaritas kawasan Glodok sekaligus menghasilkan sebuah modifikasi baru agar turut memenuhi permintaan pasar modern. Dasar pendekatan tipologi yang digunakan adalah mengekstraksi pola spasial Glodok serta keseharian masyarakat Glodok, meng-superimpose lapisan spasial tersebut, dan melakukan reinterpretasi terhadap elemen arsitektur tradisional Cina yang selanjutnya ditransformasi ke dalam gubahan.
REVITALISASI BANGUNAN EX-CHARTERED BANK DI KAWASAN KOTA TUA JAKARTA MELALUI PENYUNTIKAN INTERIORITAS Ilma Badryah Hidayah Jamaludin; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21817

Abstract

Starting with the many buildings that were built during the Dutch period, then underwent a change of function, renewal and abandoned so that it became a building that was not maintained or maintained. The Old Town area is an area known for its many historical relics in the form of buildings, art and much more. However, the many changes in function that have made the Old Town Area lose its original function. One of them is the heritage building of the Ex-Chartered Bank of India, Australia & China which is located on a road hook which had its initial function as a bank and then underwent changes which ended with the abandonment of the building. Through the Revitalization Project of Ex-Chartered Bank Heritage Buildings in the Old City Area as an Art Center, Gallery and Performance Place by injecting interiority as an effort to revive the building, it is hoped that it can restore relics, works and can become a place or container for art activities that are starting to be abandoned. So that it can restore the image of the area to be Old Batavia with the existing art. Keywords: acupuncture architecture; injection of interiority; interior architecture; revitalization;  social and culture Abstrak Diawali dengan banyaknya bangunan yang dibangun pada masa Belanda, lalu mengalami pergantian fungsi, pembaharuan serta ditinggalkan sehingga menjadi bangunan yang tidak terjaga maupun terawat. Kawasan Kota Tua merupakan kawasan yang dikenal dengan banyaknya peninggalan sejarah berupa bangunan, seni dan masih banyak lagi. Namun banyaknya pergantian fungsi yang dialami menjadikan Kawasan Kota Tua kehilangan fungsi awalnya. Salah satunya bangunan peninggalan Ex-Chartered Bank of India, Australia & China yang berada dihook jalan yang memiliki fungsi awal sebagai bank lalu mengalami perubahan yang diakhiri dengan terbengkalainya bangunan. Melalui proyek Revitalisasi Bangunan Warisan Ex-Chartered Bank Di Kawasan Kota Tua Sebagai Pusat Seni, Galeri dan Tempat Pertunjukan dengan penyuntikan interioritas sebagai upaya menghidupkan bangunan diharapkan dapat mengembalikan peninggalan, karya dan dapat menjadi tempat atau wadah dalam aktivitas seni yang mulai ditinggalkan. Sehingga dapat mengembalikan citra kawasan menjadi Old Batavia dengan seni yang ada.
PERANCANGAN RUANG SOSIAL BERBASIS BUDAYA CINA BENTENG SEBAGAI GENERATOR BARU PECINAN PASAR LAMA TANGERANG Helen Rosabella Arianto; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21818

Abstract

Tangerang Old Market Chinatown is known as the forerunner to the birth of Chinatown in the Tangerang area whose descendants are now better known as Cina Benteng. Chinatown which has existed since 3 decades ago, of course, has a deep historical background, but over time and the development of the era, Tangerang Old Market Chinatown is forced to continue to follow the rapid development of Tangerang City. Without realizing it, Tangerang Old Market Chinatown is gradually began to experience changes in form, function, a decrease in environmental quality that had an impact on the social life of the people in the Chinatown of Pasar Lama Tangerang. Through the acupuncture system by piercing the deep parts that require improving the quality of life in the community, as well as by observing the daily activities of the people in Chinatown. The collected data, observation and analysis will be used as the basis for the development of social space in Tangerang Old Market Chinatown, with the main focus on developing Cilame Street. The formation of social space from the culture and daily life of the Chinese Benteng community in Tangerang's Old Market Chinatown can support the creation of increased social interactions that occur in Chinatown communities, as well as the injection of culinary functions in the building can restore the characteristics of Chinatown through cultural culinary, and also this development will be act as a new generator for Chinatown Tangerang Old Market to introduce the culture of the Chinese Benteng community and indirectly can become an attraction for the surrounding community and newcomers to come to Tangerang Old Market Chinatown. Keywords: Attractor; Cultural Culinary; Local Identity; Social Space Abstrak Pecinan Pasar Lama Tangerang dikenal sebagai cikal bakal lahirnya pecinan di daerah Tangerang yang keturunannya saat ini lebih dikenal sebagai Cina Benteng. Pecinan yang telah ada sejak 3 dekade lalu tentunya telah memiliki latar belakang sejarah yang dalam, namun seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan jaman maka Pecinan Pasar Lama Tangerang terpaksa harus terus mengikuti arus perkembangan Kota Tangerang yang begitu pesat, sehingga tanpa disadari Pecinan Pasar Lama Tangerang lambat laun mulai mengalami perubahan bentuk, fungsi, penurunan kualitas lingkungan yang berdampak kepada kehidupan sosial masyarakat di Pecinan Pasar Lama Tangerang. Melalui sistem akupunktur dengan menusuk pada bagian yang dalam membutuhkan peningkatan kualitas hidup dalam masyarakat, serta dengan observasi kegiatan keseharian masyarakat dalam pecinan, dapat menjadi dasar pengembangan ruang sosial pada Pecinan Pasar Lama Tangerang dengan focus utama pengembangan pada Jalan Cilame. Pembentukan ruang sosial dari budaya dan keseharian masyarakat Cina Benteng dalam Pecinan Pasar Lama Tangerang dapat mendukung terciptanya peningkatan interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat pecinan, serta dengan adanya injeksi fungsi kuliner dalam bangunan dapat mengembalikan karakteristik pecinan melalui kuliner budaya, juga dapat menjadi generator baru bagi Pecinan Pasar Lama Tangerang untuk mengenalkan budaya masyarakat Cina Benteng dan secara tidak langsung dapat menjadi atraktor bagi masyarakat sekitar dan pendatang untuk datang ke Pecinan Pasar Lama Tangerang.
MENGHIDUPKAN KEMBALI LOKASARI SESUAI DENGAN KESEJAMANAN MELALUI METODE AKUPUNKTUR URBAN DAN PERSEPSI SPASIAL Devita Garcia; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22603

Abstract

Taman Hiburan Rakyat (THR) or Folk Entertainment Park Lokasari, a commercial complex located in Mangga Besar, West Jakarta, is one of the most popular entertainment places in the past. Starting from its past as Prinsen Park, an amusement and theater center, consequently became Lokasari Square with its various nightclubs that make it active 24 hours, this place was infamous for its entertainment and bad image from society. As time went by, a degradation in its functions and spaces happened at THR Lokasari. The spaces that were used to accommodate social activities have gone, and slowly this complex became dull and left out. Therefore, THR Lokasari will receive an intervention through urban acupuncture approach to accomplish a 24-hour social and economic place as a rejuvenation to the area. With a view to minimalizing the intervention, the former structures will remain, yet some additions and improvements will be applied to the space functions. The implementation will be an addition of a green park and culinary street as green and social open spaces, which will also improve Lokasari Square as a shopping and entertainment center. The intervention will be focused on the most active area in the complex which is divided into three zones, namely Prinsen “Park”, Old Lokasari, and Neo Lokasari, each with a different spatial experience to achieve visitors’ positive spatial perception. This intervention is expected to make THR Lokasari a place that provides society’s needs, thus receiving a new positive image.    Keywords:  entertainment; identity; social Abstrak Taman Hiburan Rakyat (THR) Lokasari, sebuah kompleks perniagaan yang berlokasi di Mangga Besar, Jakarta Barat, merupakan salah satu tempat hiburan yang populer di masa lalu. Berangkat dari masa lalunya sebagai Prinsen Park, pusat seni sandiwara dan teater, kemudian Lokasari Square dengan ragam klub malam yang membuatnya aktif 24 jam, tempat ini menjadi terkenal akan hiburannya dan menuai citra buruk dari masyarakat. Seiring berjalannya waktu, THR Lokasari mengalami degradasi fungsi dan fisik. Ruang-ruang untuk menaungi kegiatan sosial masyarakat telah hilang, dan perlahan-lahan kompleks ini menjadi kian sepi dan ditinggalkan. Untuk itu, THR Lokasari akan menerima intervensi melalui pendekatan akupunktur urban untuk menjadi tempat sosial dan ekonomi yang aktif selama 24 jam sebagai upaya membarui kembali kawasan. Dengan tujuan untuk meminimalkan intervensi, struktur yang sudah ada tetap dipertahankan, namun dilakukan penambahan maupun perbaikan fungsi ruang. Penerapannya dilakukan dengan menambahkan taman hijau dan jalan kuliner khusus pejalan kaki sebagai ruang terbuka hijau dan sosial, yang juga akan turut memperbaiki Lokasari Square sebagai sebuah pusat perbelanjaan dan hiburan. Intervensi difokuskan pada area teraktif kompleks yang dibagi menjadi tiga zona, yaitu Prinsen “Park”, Old Lokasari, dan Neo Lokasari, masing-masing dengan pengalaman ruang yang berbeda untuk membentuk persepsi spasial pengunjung yang positif. Intervensi ini diharapkan dapat menjadikan THR Lokasari sebagai tempat yang mampu menyediakan kebutuhan masyarakat sekitar dan memiliki citra baru yang positif.
PENGARUH PERANCANGAN WARNA INTERIOR RUMAH SAKIT HEWAN TERHADAP PEMULIHAN KONDISI PSIKOLOGIS HEWAN PELIHARAAN Mohammad Iqbal; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24265

Abstract

Pet ownership has become a new trend in Indonesia in recent years, including married couples choosing to own pets. Most couples want a pet because it can provide emotional warmth and a loyal friend. Pets such as dogs or cats can provide unconditional love and become beloved members of the family. Raising a pet requires attention and responsibility. Couples who decide to have a pet must be responsible for the care and basic needs of their pet. The availability of information about the benefits and needs of pets on online platforms has sparked the interest of many married couples in pets. However, raising pets for married couples in Indonesia also has several challenges, such as: Maintenance costs and lack of adequate animal healthcare services and facilities. Therefore, it is important for couples to think carefully before getting a pet and make sure they are prepared to give their pet the care and responsibility it needs. Pet abandonment can be caused by several factors such as; the pet owner's ignorance of the pet owner's obligations, difficulties in care and costs, or problems related to the animal's health or inappropriate behavior. The vulnerable conditions to which pets are exposed can be extremely hazardous to the health and welfare of the animals themselves and threaten the health and safety of humans and the environment. Abandoned pets can transmit various diseases to other animals and humans. Abandoned animals are also more susceptible to disease due to a lack of vaccinations and proper healthcare. Abandoned pets can damage the environment, such as plants and buildings. Basic needs not met: Abandoned pets may not have enough food, water, safe shelter or medical attention. Keywords: abandoned; animal healthcare; pets; welfare Abstrak   Kepemilikan hewan peliharaan menjadi tren baru di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pasangan suami istri yang memilih untuk memiliki hewan peliharaan. Kebanyakan pasangan menginginkan hewan peliharaan karena dapat memberikan kehangatan emosional dan sahabat yang setia. Hewan peliharaan seperti anjing atau kucing dapat memberikan cinta tanpa syarat dan menjadi anggota keluarga tercinta. Membesarkan hewan peliharaan membutuhkan perhatian dan tanggung jawab. Pasangan yang memutuskan untuk memiliki hewan peliharaan harus bertanggung jawab atas perawatan dan kebutuhan dasar hewan peliharaannya. Ketersediaan informasi tentang manfaat dan kebutuhan hewan peliharaan di platform online memicu minat banyak pasangan suami istri terhadap hewan peliharaan. Namun memelihara hewan peliharaan untuk pasangan suami istri di Indonesia juga memiliki beberapa tantangan, seperti: Biaya pemeliharaan dan kurangnya pelayanan dan fasilitas kesehatan hewan yang memadai. Oleh karena itu, penting bagi pasangan untuk berpikir dengan hati-hati sebelum memelihara hewan peliharaan dan memastikan mereka siap memberikan perawatan dan tanggung jawab yang dibutuhkan hewan peliharaan mereka. Pengabaian hewan peliharaan dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti; ketidaktahuan pemilik hewan peliharaan tentang kewajiban pemilik hewan peliharaan, kesulitan dalam perawatan dan biaya, atau masalah yang berkaitan dengan kesehatan atau perilaku hewan yang tidak sesuai. Kondisi rentan dimana hewan peliharaan terpapar bisa sangat berbahaya bagi kesehatan dan kesejahteraan hewan itu sendiri serta mengancam kesehatan dan keselamatan manusia dan lingkungan. Hewan peliharaan yang terbengkalai dapat menularkan berbagai penyakit ke hewan lain dan manusia. Hewan terlantar juga lebih rentan terhadap penyakit karena kurangnya vaksinasi dan perawatan kesehatan yang tepat. Hewan peliharaan yang terbengkalai dapat merusak lingkungan, seperti tanaman dan bangunan. Kebutuhan dasar tidak terpenuhi: Hewan peliharaan terlantar mungkin tidak memiliki cukup makanan, air, tempat berlindung yang aman, atau perhatian medis.  
PERAN DESAIN BIOFILIK TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS HIDUP LANSIA Carissa Bella Levaldrik; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24268

Abstract

Globally, there has been a demographic change in which the elderly population is increasing. Indonesia itself has entered the old population structure since 2021. So that the health and welfare of the elderly is one of the important things in current social problems. One way to help the elderly achieve Healthy Aging is to provide opportunities for the elderly to be able to stay active and have interactions with other people. Research shows that having contact with nature can be beneficial for improving human mood, cognition and health to improve human quality of life. However, not all elderly people have easy access to nature, so assistance is needed, such as using the concept of biophilic design in design. Biophilic design is a form of architectural design that considers humans as organisms and focuses on efforts to achieve happiness and well-being through the mental and physical aspects of the body. The purpose of this research is to find out the relationship between nature and humans and the impact of biophilic design in improving the quality of life of the elderly and how to apply the principles of biophilic design in design so that it can benefit the elderly. The method used is the case study method which analyzes 2 case studies using the principles of biophilic design by Stephen Kellert in the book Nature by Design: The Practice of Biophilic Design. Data collection was carried out through literature studies in the form of data and reports that can support this research topic. The results showed that biophilic design can create different experiences and spatial atmospheres according to the application of attributes in the principles of biophilic design. In addition, biophilic design can present the presence of nature which can improve the quality of life of the elderly. Keywords:  biophilic; biophilic design; elderly; nature Abstrak   Secara global, telah terjadi perubahan demografi dimana penduduk lanjut usia semakin meningkat. Indonesia sendiri telah memasuki struktur penduduk tua sejak tahun 2021. Sehingga kesehatan dan kesejahteraan hidup lansia menjadi salah satu hal penting dalam masalah sosial saat ini. Salah satu cara untuk membantu lansia mencapai Healthy Ageing adalah dengan memberikan kesempatan bagi lansia untuk bisa tetap aktif dan memiliki interaksi dengan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa memiliki kontak dengan alam dapat bermanfaat untuk memperbaiki suasana hati, kognisi dan kesehatan manusia sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun, tidak semua lansia memiliki akses yang mudah terhadap alam, sehingga diperlukan adanya bantuan seperti menggunakan konsep desain biofilik dalam perancangan. Desain biofilik merupakan suatu bentuk desain arsitektur yang menganggap manusia sebagai organisme dan berfokus pada upaya mencapai kebahagiaan serta kesejahteraan melalui aspek mental dan fisik tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara alam dan manusia serta dampak dari desain biofilik dalam meningkatkan kualitas hidup lansia dan cara mengaplikasikan prinsip-prinsip desain biofilik dalam perancangan sehingga bisa bermanfaat bagi lansia. Untuk metode yang digunakan adalah metode studi kasus yang menganalisis 2 studi kasus menggunakan prinsip-prinsip desain biofilik oleh Stephen Kellert dalam buku Nature by Design: The Practice of Biophilic Design. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur berupa data dan laporan yang dapat mendukung topik penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan desain biofilik dapat menciptakan pengalaman dan suasana ruang yang berbeda sesuai dengan pengaplikasian atribut dalam prinsip desain biofilik. Selain itu, desain biofilik dapat menghadirkan keberadaan alam yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
PERUBAHAN RUANG-RUANG KELAS TERKAIT PERKEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN PADA ERA DIGITAL Ione Susanto; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24269

Abstract

Currently, Indonesia is in a relatively low position in the field of education. Indonesian students have lagged far behind other countries in the quality of education. This lag has been increasingly felt since we entered the digital era. The government's efforts to improve the quality of education in Indonesia start with improving the education curriculum to adapt to the digital era. However, not only the education system has changed but also the students and teachers. Changes in learning character and student needs are the main factors. When combining places, activities, and actors, current school facilities are still unable to support learning with changes that occur in actors and curriculum. Schools as an important aspect of learning continue to be built to embrace the increasing number of students. Currently, changes that are occurring to students and the curriculum also make school effectiveness questionable, because schools are currently unable to accommodate the needs of students with a new learning system. The purpose of this study is to determine the design of classrooms that are by the development of the learning system in the digital era. The method used in this research is a case study in classrooms in the digital era. Data collection is done through literature studies such as databases, reports, or articles that are relevant to the research topic. Keywords:  classroom; digital age; learning system Abstrak   Saat ini Indonesia sedang berada pada posisi yang relatif rendah dalam bidang pendidikan. Siswa Indonesia telah tertinggal jauh dengan negara lain dalam kuliatas pendidikan. Ketertinggalan tersebut semakin terasa sejak kita memasuki era digital. Upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dimulai dari membenahi kurikulum pendidikan menyesuaikan dengan era digital. Namun, tidak hanya sistem pendidikan saja yang berubah tapi juga dengan siswa dan gurunya. Perubahan karakter belajar dan kebutuhan siswa menjadi faktor utama. Ketika menggabungkan tempat, kegiatan, dan pelaku, fasilitas sekolah saat ini masih belum dapat mendukung pembelajaran dengan perubahan yang terjadi pada pelaku dan kurikulum. Sekolah sebagai aspek penting dalam pembelajaran terus dibangun guna merangkul jumlah siswa yang kian meningkat, saat ini perubahan yang terjadi pada siswa dan kurikulum juga membuat efektivitas sekolah dipertanyakan, karena nyatanya sekolah saat ini belum mampu mewadahi kebutuhan siswa dengan sistem pembelajaran baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perancangan ruang kelas yang sesuai perkembangan sistem pembelajaran pada era digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus pada ruang kelas pada era digital. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur seperti basis data, laporan, atau artikel yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara perubahan sistem pembelajaran dengan kebutuhan ruang pembelajaran.