Suwardana Winata
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

SARANA-OLAHRAGA VERTIKAL JAKARTA Tian Tian; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4538

Abstract

The Millennials, also known as Generation Y (Gen-Y) refer to a generation with people who were born in between 1981-1994, in which they have become dominant in the society and are in their productive phase. The millennials are certainly inevitable from the existence of automation resulting in an easier and faster way in doing various activities and fulfilling needs, moreover, many activities can be carried out simultaneously with the existence of this automation. This habit is increasingly becoming the lifestyle of these millennials in which they are heavily dependent on current and future technological advancements. For that matter, human beings are living things that have limits in terms of developing meanwhile, technologies currently are rapidly advancing. This means that these millennials will gradually lose their ability to keep track of the development of these technologies. Health is one of the keys for these millennials to be able to carry out activities and keep up with current technological developments. By creating a sports facility that functions as a means of recreation and health in the midst of the dense activities in Central Jakarta, precisely in Jl. H. Agus Salim, a design approach that focuses on providing space that can be used for sports and can be placed in the middle of the city, is given out to satisfy the necessity of having this kind of facility, in the hope of balancing the needs of these millennials for recreation in the middle of their crowded activities in the city. AbstrakGenerasi Millennial (Gen-Y) merupakan generasi yang lahir antara tahun 1981-1994, yang menjadi masyarakat dominan dan sedang dalam masa produktif mereka. Generasi millennial yang tidak terhindarkan dari otomatisasi, yang membuat segala kegiatan dan kebutuhan menjadi lebih mudah dan cepat, terlebih lagi banyak kegiatan yang dapat dilakukan secara bersamaan dengan adanya otomatisasi ini. Kebiasaan ini kian menjadi gaya hidup generasi millennial yang bahkan sangat bergantung kepada kemajuan teknologi yang ada sekarang dan yang akan datang. Selayaknya manusia sebagai makhluk hidup yang punya keterbatasan untuk berkembang yang bertolak belakang dengan teknologi sekarang yang terus meningkat, yang berarti generasi millennial ini sedikit demi sedikit akan kehilangan kemampuan mereka untuk mengikuti laju perkembangan teknologi tersebut. Kesehatan menjadi kunci generasi millennial untuk tetap dapat beraktivitas dan mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Dengan menciptakan sebuah sarana olahraga yang berfungsi sebagai sarana rekreasi dan kesehatan dari padatnya aktivitas di daerah Jakarta Pusat, tepatnya pada Jl. H. Agus Salim, pendekatan desain yang memfokuskan kepada penyediaan ruang yang dapat digunakan untuk berolahraga yang dapat di tempatkan di tengah kota untuk menjawab keterjangkauan sarana olahraga ini, dengan harapan dapat menyeimbangkan kebutuhan generasi millennial akan sarana rekreasi dari padatnya aktivitas di tengah kota.
FASILITAS PELATIHAN DAN KOMUNITAS DESAIN GRAFIS Filbert Uriel Sulaiman; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6811

Abstract

Bungur subdistrict, located in Senen district, Central Jakarta, is famous as a printing area. Bungur has various types of printing services starting from digital printing, offset printing, and finishing services (emboss, binding, cutting, etc). There are many skilled workers are hired to work in the printing services. Skilled or unskilled workers in printing services are people who rely on physical labour and tend to work longer than educated workers. The lack of interaction and tension in the workplace after a long period can cause stress which leads to other diseases. However, the stress can be solved by having an informal interaction apart from their workplace and home. In the other hand, long working hours have reduced opportunities for these workers to have an informal social interaction. As a respond to the problem, this training facility design as a place for skilled and unskilled workers to have social interaction apart from their workplace and home. This project also aims to be a place for residents of Bungur Subdistrict to develop their skills in graphic design. To reach the goals, the design has a wide-open space for anyone on the basement floor which is open and becomes into one virtually with the ground floor. Above the open space there are training facility and gallery which have separated circulation. The separation between the training facilities, gallery, and the open space under it aims to fulfil the needs of each program. AbstrakKecamatan Bungur, yang terletak di distrik Senen, Jakarta Pusat, terkenal sebagai daerah percetakan. Bungur memiliki berbagai jenis layanan pencetakan, mulai dari pencetakan digital, cetak offset, dan layanan finishing (emboss, binding, cutting, dll). Oleh karena itu banyak pekerja terampil dipekerjakan untuk bekerja di bidang percetakan. Pekerja yang terampil atau tidak terampil dalam layanan pencetakan adalah orang-orang yang mengandalkan tenaga fisik dan cenderung bekerja lebih lama daripada pekerja yang berpendidikan. Kurangnya interaksi dan ketegangan di tempat kerja setelah waktu yang lama dapat menyebabkan stres yang mengarah pada penyakit lain. Namun, masalah ini dapat diselesaikan dengan interaksi informal yang terpisah dari tempat kerja mereka dan rumah dapat mengurangi stres tersebut. Tetapi, jam kerja yang panjang menghasilkan kesempatan minimal bagi para pekerja ini untuk melakukan interaksi sosial di luar tempat kerja atau rumah mereka. Akibatnya, fasilitas pelatihan ini dirancang untuk menjadi tempat bagi pekerja terampil dan tidak terampil untuk berinteraksi sosial antara tempat kerja dan rumah mereka. Bukan hanya tempat untuk melakukan interaksi sosial, tetapi proyek ini juga bertujuan untuk menjadi tempat bagi warga Kecamatan Bungur untuk mengembangkan keterampilan mereka dalam desain grafis. Sebagai tempat interaksi, bangunan dirancang memiliki ruang terbuka lebar bagi siapa saja di lantai dasar yang terbuka dan menjadi satu dengan lantai dasar. Kemudian fasilitas pelatihan dan galeri melayang di atasnya dengan dukungan kolom. Pemisahan antara fasilitas pelatihan, galeri, dan ruang terbuka di bawahnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing program.
PROSES GUBAH MASSA DAN SISTEM BANGUNAN PADA FLOATING HAVEN Jeremy Theodorus; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10882

Abstract

Sinking Jakarta caused by land subsidence and rising seawater level become an international concern that was discussed for the last few years. It happens because of climate change that causes north pole ice melts and groundwater extraction. If we take a look whole of Jakarta, North Jakarta is the worst part affected by this issue. It happens because there is a 25cm land subsidence per year in North Jakarta. Within 50 years ahead, Jakarta will be an ocean, water will fill the entire dryland becoming wetland as predicted by research from the ITB geodesy expert team. This phenomenon becomes a huge problem as we know that Jakarta is the center of Indonesia's economy and will be the 4th biggest mega-city by 2030. Floating Haven presents as a proposed solution for Jakarta society's future dwelling. All of the design methods and strategies considering that this project will be located in the middle of the sea. LIVING, PRODUCING, and SUSTAIN, is an important key to this architectural project. This architectural project will be served for the smallest neighborhood unit that consists of 50 families or 250 peoples. Each point is planned to be modular, connected, and can adapt to a specific different function. Because of its modularity, this architecture can be duplicate gradually until it serves all of the sinking parts of Jakarta. Keywords:  dwelling; floating; living; producing; sustainAbstrakPenurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut akan mengakibatkan Jakarta terendam di masa yang akan datang. Hal ini menjadi isu yang dibahas dan menarik perhatian internasional beberapa tahun belakangan ini. Fenomena ini diakibatkan karena adanya perubahan iklim yang mengakibatkan es di kutub mencair dan ekstraksi air tanah secara berlebih. Jakarta terutama bagian utara menjadi kasus studi yang memerlukan perhatian khusus lebih dini. Hal ini dikarenakan adanya penurunan permukaan tanah Jakarta Utara 20-25cm / tahun (2050, 95% Jakarta Utara berada di bawah permukaan air laut) berdasarkan data Riset Tim Ahli Geodesi ITB, Heri Andreas. Melihat isu ini akan berpengaruh terhadap eksistensi Jakarta dan penduduknya, maka proyek ini akan menjadi usulan cara baru agar masyarakat dapat berhuni di atas air di masa depan. Di samping itu, hal ini tentu menjadi suatu permasalahan tersendiri dimana Jakarta merupakan kota padat penduduk dan sebagai pusat perekonomian di Indonesia ini. Floating Haven menjadi solusi bagi masyarakat Jakarta di masa depan untuk ber-dwelling. Berbagai perencanaan dan pertimbangan akan ‘sustainability’ di tengah ‘air’ memegang peran penting dalam proyek ini. Maka dari itu; hidup, produktif, berkelanjutan, menjadi kata kunci penting dalam perancangan proyek ini. Proyek ini nantinya pun akan melayani satuan unit lingkungan terkecil dari sebuah kota, yaitu RT / Rukun Tetangga yang terdiri dari 50KK / 250 jiwa. Setiap titik nantinya akan dirancang secara modular dan saling terkoneksi sambil menyesuaikan dengan kebutuhan akan fungsi yang ada. Modular ditujukan agar nantinya arsitektur ini dapat diduplikasi secara bertahap sampai pada akhirnya dapat melayani seluruh wilayah yang menjadi ‘lautan’ di Jakarta.
PEMBAHARUAN DAN PEREMAJAAN RUMAH SAKIT JIWA BERINTEGRASI DENGAN METODE PENYEMBUHAN MODERN Kriselina Julistia Lawira; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16870

Abstract

Nowadays, a person's health is not only seen physically but also mentally and awareness of mental health continues to increase. Therefore, facilities that can support mental health are needed. One of the places that serve and as a place of reference for people with mental problems is a psychiatric hospital. When compared with the factors to support the healing of patients in modern healing, the buildings and rooms of psychiatric hospitals in Indonesia do not support the healing and well-being of patients and their staff. Plus, the existing psychiatric hospital is an old building so it has a design orientation that is not relevant for today. Also, there is a negative stigma that people think psychiatric hospitals are facilities that only treat severe mental disorders. Psychiatric hospitals need to design a new typology that can renew and rejuvenate buildings as an innovation effort that can support patient recovery and help change people's views of psychiatric hospitals. The result of the design is a building that has a triangular shape mass with a radial and centered pattern. Where the building will have a deinstitutionalization orientation which is applied with a biophilic design with the addition of new programs and adjusting the state of the psychiatric hospital program with the psychology of people with mental disorders. Keywords: Triangle Shape; Deinstitutional; Supervision; Healing AbstrakSekarang ini, kesehatan seseorang tidak hanya dilihat secara fisik tetapi juga jiwa dan kesadaran akan kesehatan jiwa pun terus meningkat. Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitas- fasilitas yang mampu menunjang kesehatan jiwa. Salah satu tempat yang melayani dan sebagai tempat rujukan orang dengan masalah kejiwaan atau gangguan mental adalah rumah sakit jiwa. Bila dibandingkan dengan faktor-faktor untuk mendukung kesembuhan pasien dalam penyembuhan modern ini, bangunan dan keruangan rumah sakit jiwa di Indonesia kurang mendukung kesembuhan dan kesejahteraan pasien maupun petugasnya. Ditambah, rumah sakit jiwa yang ada saat ini merupakan bangunan tua sehingga memiliki orientasi rancangan yang tidak relevant untuk masa sekarang. Serta, adanya stigma negatif masyarakat yang beranggapan rumah sakit jiwa merupakan fasilitas yang hanya menangani gangguan jiwa yang berat. Rumah sakit jiwa memerlukan perancangan tipologi baru yang dapat memperbaharui dan meremajakan bangunan sebagai upaya inovasi yang mampu mendukung kesembuhan pasien dan membantu mengubah pandangan masyarakat terhadap rumah sakit jiwa. Hasil dari perancangan merupakan bangunan yang memiliki massa dasar berbentuk segitiga degan pola radial dan memusat. Dimana bangunan akan memiliki orientasi deintitusionalisasi yang diterapkan dengan biofilik desain dengan penambahan program baru dan menyesuaikan 
FASILITAS PEMULIHAN ENERGI PLASTIK DENGAN KONTEKS PERKOTAAN DAN KOMUNITAS Marcellus Lucky Tanong; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12433

Abstract

The plastic energy recovery facility is an industrial facility that has a function in processing plastic waste into energy in the form of fuel oil. The word energy recovery itself initially did not only discuss material waste, but also an operating system that minimizes the amount of energy wasted in a process. This system is often used in the form of technology to reduce the amount of wasted energy waste and the waste can be in the form of plastic as well. However, in the process of processing plastic waste into energy, it is important to know that energy is needed which will eventually be wasted. The wasted energy can be in the form of heat, light, electricity, water, and air. This wasted energy creates a problem where the plastic waste treatment facility itself also ends up generating too much energy waste in its system. If left unchecked, this energy waste will make plastic processing facilities useless because how much energies are wasted in processing plastic waste. Therefore, in the design, a design method in the form of energy recovery is applied in the building system. This energy recovery is broadly implemented in three ways, namely applying a recycle system to the energy used, energy conservation, and through energy harvesting from nature by harvesting energy from nature and conserving energy, it means that energy consumption in buildings can be done more sustainably and efficiently. Energy use in buildings can not only depend on the energy supply system from the management sector but can also utilize the energy that exists in nature. Thus, the design of the plastic energy recovery facility can work in a more sustainable and environmentally sensitive system. Keywords:  energy conservation; energy harvesting; energy recovery; plastic energy recovery; recycle energy; waste  AbstrakFasilitas pemulihan energi plastik merupakan sebuah fasilitas industri yang memiliki fungsi dalam mengolah limbah plastik menjadi energi berupa minyak bahan bakar. Kata pemulihan energi sendiri awalnya tidak hanya membahas mengenai limbah material saja, tapi juga sebuah sistem operasi yang meminimalisir jumlah energi yang terbuang dalam suatu proses. Sistem ini seringkali digunakan dalam bentuk teknologi untuk mengurangi jumlah limbah energi yang terbuang dan limbah tersebut dapat berupa plastik juga. Namun di dalam proses fasilitas pengolahan limbah plastik menjadi energi, perlu diketahui bahwa diperlukan energi yang akhirnya akan terbuang. Energi yang terbuang itu bisa berupa panas, cahaya, listrik, air, dan udara. Terbuangnya energi tersebut memunculkan masalah dimana fasilitas pengolahan limbah plastik sendiri akhirnya juga menghasilkan limbah energi dalam sistemnya. Jika dibiarkan, limbah energi ini akan membuat fasilitas pengolahan plastik menjadi hal yang sia-sia dikarenakan banyaknya jumlah energi yang dibuang untuk memproses limbah plastik. Oleh karena itu dalam perancangan, diterapkan metode perancangan berupa pemulihan energi yang diterapkan dalam sistem bangunan. Pemulihan energi ini secara garis besar diterapkan dalam tiga cara, yaitu menerapkan sistem daur ulang pada energi yang dipakai, konservasi energi, dan melalui pemanenan energi dari alam. Dengan pemanenan energi dari alam dan konservasi energi, berarti konsumsi energi pada bangunan bisa dilakukan dengan lebih berkelanjutan dan efisien. Penggunaan energi pada bangunan bisa tidak hanya bergantung dari sistem pasokan energi dari sektor pengelola tapi juga bisa memanfaatkan energi yang ada di alam. Dengan demikian, rancangan fasilitas pemulihan energi plastik dapat bekerja dalam sistem yang lebih berkelanjutan dan peka terhadap lingkungan.
RUANG KOMUNITAS IBU DAN PASAR DI KRENDANG Thao Phing; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6755

Abstract

The city has traces of human civilization from time to time with various phenomena that occur. As time goes by, the existence of Third Place in Jakarta remains limited. The activities among those Third Places tend to be less interactive. Most of Third Places aim to address the concept of green and open space, but it fails to communicate its crucial purposes as platfrom activities for the community. In this modern era, the concept is change necessary where it accomodates public needs and no longer be depicted a mere open space. Krendang needs a facility to accommodate motherhood and children activities as the third place. As the people become more individualistic and don't want to socialize, it is more difficult to find leisure and creativity facilities. Motherhood Community and Social Market in Krendang was designed to facilitate the activities of mother and children in the middle of densely population in Krendang, Tambora, West Jakarta.  Abstrak Kota memiliki rekam jejak peradaban manusia dari waktu ke waktu dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Seiring berjalanya waktu, Third Place di kota Jakarta masih terbatas. Kegiatan yang ditawarkan didalamnya cenderung tidak interaktif. Kebanyakan Third Place di Jakarta mencoba menampilkan sisi ruang terbuka dan penghijauan saja namun tidak berbicara mengenai kegiatan atau wadah bagi masyarakat itu sendiri. Dalam perjalanannya menuju era yang lebih modern, perlu adanya sebuah perubahan terhadap konsep Third Place dimana konsep ini tidak hanya sebagai ruang terbuka saja atau mall melainkan harus dapat mewadahi kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat disekitarnya. Fasilitas bagi kaum ibu yakni memasak dan bagi anak – anak yakni bermain dan berkreativitas harus menjadi perhatian utama Third Place pada kawasan Krendang. Pada era modern ini masyarakat mulai cenderung menjadi kaum yang individualistis dan terkesan tidak ingin bersosialisasi. Motherhood Community and Social Market in Krendang diciptakan karena adanya fenomena kepadatan yang terjadi dan menyebabkan manusia tidak lagi memiliki wadah untuk mereka beraktivitas dengan baik pada kehidupa sehari – hari mereka. Selain itu hal ini juga terjadi karena sering adanya masalah seperti kebakaran di kawasan Krendang. Maka dari itu Motherhood Community and Social Market in Krendang di harapkan dapat menghadirkan fasilitas bagi kaum ibu dan anak yang layak dan juga agar terciptanya suatu kondisi sosial yang baik pada Third Place. 
PENERAPAN METODE PARAMETRIK PADA PERANCANGAN TAMAN ICHARIBA CHODE UNTUK MENGHADIRKAN DWELLING BAGI LANSIA Bellinda Juniaty Halomoan; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10705

Abstract

The aging population is a phenomenon that will occur in 2020-2060 due to a decrease in the number of births and an increase in life expectancy. Jakarta as the capital city of Indonesia is predicted to have an increase in the elderly population from 8.47% (2015) to 21.79% (2045). This leads to speculation that senior- friendly housing complexes will emerge in the next 20-30 years. Ichariba Chode Park is designed to keep Elderly active and productive, so they can enjoy retirement with Independence. Because upon entering senior years, people experience a decrease in physical abilities. It may lead to isolation, even loneliness from the surrounding communities. The data collection method is both Qualitative & Quantitative Observation of Longevity-related Documentaries and Journal. Data Procession Method based on Problem Seeking: An Architectural Programming Primer then designed into form With Parametric Design Method; As a result, Ichariba Chode Park emerges as a Leisure Park designed with the following stages: 1. Floor plan designed to accommodate Movement for Elderly, 2. Zoning designed to be Intergeneration Friendly, 3. Solid Void of the massing is designed to incorporate Light, Water, and Nature, 4. The facade is designed regarding color, mass composition, and material. In conclusion, within an urban scale Ichariba Chode Park serves as a Leisure Park that promotes dwelling for elderly. Using Data Procession Method, the designer seek Building Function, Site Location, and Program. While using Parametric Design Method helps the designer to apply design parameters into Floor plan, Section Plan, and Facade. Keywords:  Dwellingl Elderly; Intergeneration; Leisure Park; Parametrik AbstrakAging Population merupakan sebuah fenomena yang akan terjadi pada tahun 2020-2060 karena penurunan jumlah kelahiran serta peningkatan angka harapan hidup. Jakarta sebagai Ibukota Indonesia diprediksi mengalami peningkatan jumlah Lansia dari 8.47% (2015) ke 21.79% (2045). Sehingga akan muncul kompleks-kompleks perumahan ramah lansia dalam kurun waktu 20 sampai 30 tahun ke depan. Proyek Taman Ichariba Chode ini dirancang untuk menjaga lansia tetap aktif, produktif, dan menjalani masa pensiunnya dengan independen. Ini dikarenakan Lansia kerap mengalami penurunan kemampuan fisik, yang kerap menimbulkan rasa terisolasi dan kesepian pada komunitasnya. Metode pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif terhadap Dokumentasi dan Jurnal Ilmiah tentang Lanjut Usia. Metode Pengolahan Data didasari literatur Problem Seeking: An Architectural Programming Primer dan Perancangan menggunakan Parametrik, yaitu membedah data kepada beberapa parameter desain. Hasil akhir yaitu Leisure Park yang di desain dengan tahapan sebagai berikut: 1. Perancangan Denah dengan parameter Movement for Elderly, 2. Perancangan zoning dengan parameter Intergeneration, 3. Perancangan solid void potongan dengan parameter Light, Water, and Nature, dan 4. Perancangan fasad dengan parameter color, mass composition, and material. Kesimpulannya, Taman Ichariba chode berfungsi sebagai Leisure Park yang menghadirkan dwelling bagi para lansia. Menggunakan pengolahan data Perancang mendapatkan Fungsi bangunan, Lokasi Tapak, dan Program. Lalu menggunakan Metode Perancangan Parametrik, Kriteria yang mendukung fisiologi lansia diaplikasikan dalam Denah, Tampak, dan Potongan.
FASILITAS PENELITIAN MULTIDISIPLIN UNTUK INOVASI LANJUT UNIVERSITAS TARUMANAGARA Rene Matthew Sabian Djaya; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4558

Abstract

The generation that is playing a big role in the future, namely Generation Y, also called "Millennials" is a critical generation that likes to learn new things. It is also often associated and also highly appreciates technology and social interactions. This generation has been shaped by the influences of unique technological cultures, which are very important to think about in every aspects, especially in terms of innovation. To achieve this, motivation for development and research for the sake of research must have been carried out frequently. Architecture plays an influential role in interactions between researchers and users, to multidisciplinary interference. In order for a study to succeed, it requires understanding and appreciation of the needs, background, interests, and approaches of the researchers, which in the current research setting, for example in Indonesia, most of the disciplines only move from one to two experiences and development just discipline. This is what causes the development of innovation and technology to be difficult as it is today, plus the lack of government support and institutions that facilitates it. In this modern era, the old ways will certainly no longer be able to continue due to the changes that have occurred, while not forgetting the standards of architecture in Indonesia, which must be able to adapt and innovate in this modern era. AbstrakGenerasi yang sedang peran besar di masa depan, yaitu Generasi Y, juga dipanggil dengan “Millennials” adalah generasi kritis yang gemar mempelajari hal baru. Sering pula dikaitkan dan juga sangat mengapresiasi teknologi dan hubungan sosial. Generasi ini telah dibentuk oleh pengaruh-pengaruh budaya teknologi yang unik, yang sangat penting untuk dipikirkan dalam segala aspek khususnya dalam hal ber inovasi. Untuk mencapai hal tersebut, motivasi terhadap pengembangan dan penelitian demi penelitian harus sudah sering dilakukan, dari interaksi antara peneliti dan penggunanya, sampai campur tangan antar disiplin yang dalam hal ini, arsitektur memegang peranan yang cukup berpengaruh. Supaya sebuah penelitian dapat berhasil, dibutuhkan pengertian dan apresiasi dari kebutuhan, latar belakang, ketertarikan, dan pendekatan dari penelitinya, yang dalam setting penelitian seperti sekarang ini, seperti contohnya di Indonesia, sebagian besar sebuah disiplin ilmu hanya bergerak dari pengalaman dan pengembangan satu sampai dua disiplin saja. Hal itu yang menyebabkan sulit berkembangnya Inovasi dan teknologi seperti sekarang ini, ditambah kurangnya dukungan pemerintah dan institusi-institusi yang memfasilitasinya. Di era modern ini, cara-cara lama tentu tidak akan dapat lagi dapat dilanjutkan akibat perubahan yang telah terjadi, tentunya tidak melupakan standard dalam arsitektur di Indonesia, yang sudah harus mampu beradaptasi dan berinovasi terhadap berkembangnya zaman.
Pengolahan Mikroalga Berorientasi Masa Depan untuk Industri Kosmetik di Ancol Andrea Murdiono; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12457

Abstract

Nowadays buildings are required to support sustainability for the defense of the quality of life for the environment and humans, both in the present and in the future in a sustainable manner. Architecture that seeks to reduce the negative impact of the environment and increase efficiency and support the future as well as positive impact to the ecosystem. With an energy conservation approach as well as creating a healthy environment and ecological design. Microalgae are aquatic plants that play an important role in the environment, namely as primary producers. Their habitat is in water areas and is able to photosynthesize and produce oxygen. The oxygen capacity that is formed exceeds the tree, which is 150 times greater than the tree. Microalgae also produce electrical energy in the process of photosynthesis that will use for productivity either for buildings and also for surrounding area. In the design of the future-oriented microalgae processing building located in Ancol, apart from being a microalgae farming area to be processed into cosmetics, the building can also produce oxygen and electrical energy that is friendly to the environment. With a microalgae growth process that uses carbon dioxide which can help reduce the effects of global warming. Then with the electrons produced in the growth process of microalgae that can be processed into electrical energy. Then the waste from microalgae processing can also be reused by 70% for the microalgae harvesting process. Then the rest of the waste can also be directly disposed of without further processing or processing because the level of dirtiness is the same as rainwater. The absence of chemicals used in this processing also makes the design environmentally friendly. Thus, the design of the future-oriented microalgae processing building located in Ancol, apart from its function as a place for the development and processing of microalgae, is intended as a substitute for palm oil. This design also supports sustainability by using microalgae as the basic source. Keywords:  cosmetics; microalgae; sustainable; renewable energyAbstrakSekarang ini bangunan dituntut untuk menunjang keberlanjutan untuk pertahanan kualitas hidup bagi lingkungan dan manusia ,baik di masa sekarang maupun di masa depan secara berkelanjutan. Arsitektur yang berusaha untuk mengurangi dampak negatif dari lingkungan dan meningkatkan efisiensi dan menunjang masa depan serta positif bagi ekosistem lingkungan. Dengan pendekatan konservasi energi maupun menciptakan lingkungan yang sehat dan desain ekologis. Mikroalga merupakan tumbuhan air yang berperan penting bagi lingkungan, yaitu sebagai produsen primer. Habitat hidupnya yang berada di area perairan dan mampu berfotosintesis dan menghasilkan oksigen. Kapasitas oksigen yang terbentuk melebihi pohon, yaitu 150 kali lipat lebih besar dari pohon. Mikroalga juga menghasilkan energi listrik dalam proses fotosintesisnya. Pada rancangan bangunan pengolahan mikroalga  berorientasi masa depan yang terletak di Ancol ini, selain sebagai area pertanian mikroalga untuk diolah menjadi kosmetik, bangunan juga dapat memproduksi oksigen maupun energi listrik yang ramah bagi lingkungan. Dengan proses pertumbuhan mikroalga yang menggunakan karbon dioksida yang dapat membantu mengurangi efek pemanasan global. Kemudian dengan adanya elektron yang dihasilkan dalam proses pertumbuhan mikroalga yang dapat diolah menjadi energi listrik. Kemudian hasil limbah dari pengolahan mikroalga juga dapat digunakan kembali sebesar 70% untuk proses panen mikroalga. Kemudian sisa llimbah juga dapat langsung dibuang tanpa proses maupun pengolahan lanjut karena tingkat kekotoran sama dengan air hujan. Tidak adanya zat kimia yang digunakan dalam proses pengolahan ini juga menjadikan rancangan ramah lingkungan. Dengan demikian, rancangan bangunan pengolahan mikroalga berorientasi masa depan yang terletak di Ancol ini selain sebagai fungsinya untuk menjadi tempat perkembangan dan pengolahan mikroalga yang tujuannya sebagai materi dasar pengganti kelapa sawit. Rancangan ini juga menunjang keberlanjutan dengan menggunakan mikroalga sebagai sumber dasarnya. 
PENERAPAN SISTEM MODULAR PADA GEROBAK PEDAGANG KAKI LIMA Victor Tandra; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10794

Abstract

Modular Street Vendor is a redesign of the street vendors’ carts that focus on microsystems and implementations on street. This project is based on observations of 50 street vendors in West Jakarta and Central Jakarta for its basis. From the observations, some parameters used as modifiers of adaptation and updated into a new system for street vendors’ carts. The parameters indicates some problems in the street vendors’ carts components that must be redesign or changed. The new system is designed by effectiveness in type and weight of material usage, with various activities created by this system. The main points in this project are its portability and modularity so it can be used gradually, increasing its storage quota, switching commodities, even being used by many commodities. The redesign will be made to achieve effectiveness, healthier, cheaper, easier to use and  highly efficient that will brings a positive impact on the surroundings. Keywords:  street vendor; cart; modularity; portabilityAbstrakPedagang Kaki Lima Modular merupakan proyek redesain gerobak PKL yang berfokus pada sistem mikro dan implementasinya di jalanan. Proyek ini didasari dari observasi terhadap 50 PKL yang tersebar di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat sebagai dasar.  Dari observasi ini, terdapat parameter yang digunakan untuk mengubah sebagai adaptasi dan diperbaharui menjadi sistem baru bagi gerobak pedagang kaki lima. Parameter tersebut mengindikasi beberapa permasalahan pada komponen gerobak PKL yang harus diubah dan redesain. Sistem baru ini dirancang dengan keefektifannya pada jenis dan bobot material, serta berbagai aktivitas yang bisa diciptakan sistem ini. Poin utama dalam proyek ini adalah portabilitas dan modularitas agar dapat digunakan secara bertahap, dari menambah kuota penyimpanan, beralih komoditas, bahkan dapat digunakan banyak komoditas. Redesain dilakukan agar media penjualan dapat lebih efektif, sehat, murah, mudah, dan kehadirannya dapat memberi dampak positif bagi sekitar.