Priscilla Epifania Ariaji
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

STRATEGI AKUPUNKTUR KOTA DALAM UPAYA REVITALISASI STRIP URBAN DI KAWASAN STASIUN TANGERANG Subhasita Devi Dhammayanti; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22261

Abstract

Tangerang Station Area, which is located in the heart of the Old City of Tangerang, is a transportation center area that is bustling with human activities every day and various types of vehicles. However, the surrounding environment, which consists of a row of old shops, has now experienced physical and functional degradation. The area is currently at a saturation point, with the same activities repeating itself for years without any changes and a slow economy being a factor in the decline in quality of life. Urban acupuncture is an intervention that is small in nature and spreads to several points around the area, to create new activities and attractions for the local area. Using an everyday architectural approach to identify elements of physical, social, and daily activities so that they can be used in the urban revitalization process. Revitalization in historical areas is carried out through changes in form and adaptive reuse of parts of the area that have been degraded. In the design, the typology concept used is in the form of modern industrial and color games, so that there is a contrasting communication between the old and new building typologies which will later act as a new attraction for the area so as to increase the value and diversity that affects the quality of life. All aspects then formed the development of an urban strip with the shape of a line in the Tangerang Station Area. Keywords: revitalization of historical areas; Tangerang Train Station Area; urban acupuncture;  urban strip Abstrak Kawasan Stasiun Kota Tangerang yang terletak di jantung Kota Lama Tangerang, merupakan daerah pusat transportasi yang setiap harinya ramai oleh lalu lalang aktivitas manusia dan berbagai jenis kendaraan. Namun, lingkungan sekitarnya yang terdiri dari deretan pertokoan lama, sekarang ini telah mengalami degradasi fisik dan fungsi. Kawasan tersebut tengah berada pada titik jenuh, dengan kegiatan yang sama selama bertahun-tahun berulang didalamnya tanpa adanya perubahan serta perekonomian yang lambat menjadi faktor penyebab penurunan kualitas kehidupan kawasan. Akupunktur kota berupa intervensi yang sifatnya kecil dan menyebar dilakukan terhadap beberapa titik bangunan di sekitar kawasan, untuk menciptakan kegiatan dan daya tarik baru bagi kawasan yang sifatnya lokal. Menggunakan pendekatan arsitektur keseharian untuk mengidentifikasi elemen fisik, sosial, dan kegiatan sehari-hari sehingga dapat digunakan dalam proses membentuk revitalisasi perkotaan. Revitalisasi pada kawasan bersejarah, dilakukan melalui bentuk renovasi dan adaptive re- use terhadap bagian dari kawasab yang telah terdegradasi. Pada perancangannya, konsep tipologi yang digunakan berupa industrial modern dan permainan warna, sehingga terjadi komunikasi kontras antara tipologi bangunan lama dan baru yang nantinya berperan sebagai daya tarik baru bagi kawasan sehingga meningkatkan nilai dan keberagaman yang mempengaruhi kualitas kehidupan. Semua hal ini terjadi dan membentuk perkembangan strip urban dengan bentuk satu garis di Kawasan Stasiun Kota Tangerang.
DESAIN PROTOTIPE PENJARA PEREMPUAN DENGAN PENDEKATAN RETHINKING TYPOLOGY DAN ARSITEKTUR EMPATI Michael Michael; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24256

Abstract

Women Prison Architecture is the design and structure of a prison building specifically intended to hold female prisoners. Women's prisons are designed with the special needs, security and welfare of female prisoners in mind. Women's prisons in Indonesia have various problems, especially the physical environment that has not followed the standards so that the conditions of this prison become less humane for women prisoners. This phenomenon of problems occurs due to a lack of empathy and understanding of the definition of punishment towards the needs of women in Indonesia. Empathy is an integral part of architecture, because without empathy in the design process it can lead to architectural design failures that can reduce the quality of life of building users. This paper discusses the design of a prototype women's prison with a rethinking typology and empathy architecture approach. The first step of Rethinking Typology of women's prisons by dissecting each element of the typology of women's prisons based on the needs of women prisoners and the next step is completed through; programming; configuration of a new typology of women's prison architecture. The purpose of this Rethinking Typology is to produce a prototype of a women's prison that meets the standards and needs of women today. The new prototype emphasizes humanitarian standards and the needs of women. The new prototype is designed to respond to nature in order to create a healthy atmosphere for women prisoners. The surveillance system utilizes anti-authoritarian principles through the use of technology to create a non-intimidating prison environment. The design is also supported by re-empowering architectural programming so that women prisoners can be productive while in prison. This prototype can provide a balance of conducive living spaces that can help encourage women prisoners in the recovery or rehabilitation process for reintegration into the community. Keywords: empathic architecture; prison prototype; rethinking typology; women prison architecture; women prisoners Abstrak Arsitekur Penjara Perempuan merupakan sebuah desain dan struktur bangunan penjara yang ditujukan khusus untuk menahan tahanan perempuan. Penjara perempuan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan, keamanan, dan kesejahteraan khusus dari narapidana perempuan. Penjara perempuan di Indonesia memiliki berbagai permasalahan terutama permasalahan lingkungan fisik yang sudah tidak mengikuti standar sehingga kondisi penjara ini menjadi kurang manusiawi terhadap narapidana perempuan. Fenomena permasalahan ini terjadi dikarenakan oleh kurangnya empati dan pemahaman mengenai definisi hukuman terhadap kebutuhan perempuan di Indonesia. Empati merupakan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari arsitektur, karena tanpa adanya empati dalam proses perancangan dapat mengakibatkan kegagalan desain arsitektur yang dapat menurunkan kualitas kehidupan pengguna bangunannya. Tulisan ini membahas tentang desain prototipe penjara perempuan dengan pendekatan rethinking typology dan arsitektur empati. Langkah pertama dari Rethinking Typology penjara perempuan dengan cara membedah setiap elemen tipologi penjara perempuan berdasarkan kebutuhan narapidana perempuan dan langkah selanjutnya penyelesaian melalui; penyusunan program; konfigurasi tipologi arsitektur penjara perempuan baru. Tujuan dari Rethinking Typology ini untuk menghasilkan sebuah prototipe penjara perempuan yang memenuhi standar dan kebutuhan perempuan masa kini. Prototipe baru ini menekankan pada standar kemanusiaan dan kebutuhan perempuan. Prorotipe baru ini didesain agar merespon alam agar dapat menciptakan atmosfer yang sehat bagi narapidana perempuan. Sistem pengawasan yang digunakan dengan prinsip anti-otoriter melalui penggunaan teknologi sehingga dapat menciptakan suatu lingkungan penjara yang tidak mengintimidasi. Desain ini didukung juga oleh pemrograman arsitektur yang dapat memberdayakan kembali sehingga narapidana perempuan menjadi produktif ketika berada di dalam penjara. Prototipe ini dapat memberikan sebuah keseimbangan ruang hidup kondusif yang dapat membantu mendorong narapidana perempuan dalam proses pemulihan atau rehabilitasi untuk integrasi kembali ke lingkungan masyarakat.
DESAIN PROTOTIPE SEKOLAH DASAR ANTI-PERUNDUNGAN MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR EMPATI DAN PERILAKU Jordan Agnios; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24257

Abstract

Most cases of bullying occurred in schools at the elementary level. This happens because most of the child's time is spent at school. This paper is about research in finding criteria for anti-bullying school prototypes. From an architectural point of view, negative space can influence a person's negative behavior. Some of the location points that are in the spotlight are the stairs, toilets, corridors, canteens, and classrooms. The data used in this study are secondary data obtained through interviews with psychologists, literature, and case studies. The data is used to design prototypes of school spaces that can help prevent cases of bullying. With this issue, the method that will be used is the architectural method of empathy, behavior, and psychology. These three deisgn methods are used with the aim of creating a school environment that avoids the creation of negative spaces so that bullying behavior can be controlled architecturally and the environment created feels safe as well as fun for children. The result of this study is a prototype of an anti-bullying elementary school that has the characteristics of a safe and comfortable environment for students. The elementary school environment is designed in such a way as to pay attention to social interactions between students, reduce negative spaces, and all rooms get passive supervision. In addition, social spaces are also designed to facilitate activities that can reduce stress and improve students' mental health as well as provide a place for parents in the school environment. Keywords: anti-bullying space; behavioral architecture; empathy architecture; negative space; prototype elements Abstrak Kasus perundungan terbanyak terjadi pada sekolah di tingkat SD (Sekolah Dasar). Hal ini terjadi karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Tulisan ini berisi tentang riset dalam mencari kriteria desain prototipe sekolah anti-perundungan. Dari segi arsitektur, ruang negatif dapat mempengaruhi perilaku negatif dari penghuninya. Beberapa titik lokasi yang menjadi sorotan adalah tangga, toilet, koridor, kantin, dan ruang kelas. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui wawancara dengan ahli psikologi, literatur, dan studi kasus. Data tersebut digunakan untuk merancang prototipe ruang sekolah yang dapat membantu mencegah kasus perundungan. Metode yang akan dipakai adalah dengan menggunakan pendekatan arsitektur empati, perilaku, dan psikologi. Ketiga pendekatan desain ini dipakai bertujuan untuk menciptakan suatu lingkungan sekolah yang menghindari terciptanya ruang negatif sehingga perilaku perundungan dapat dikontrol secara arsitektural serta lingkungan yang diciptakan terasa aman sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah prototipe sekolah dasar anti-perundungan yang memiliki karakteristik lingkungan yang aman dan nyaman bagi para siswa. Lingkungan sekolah dasar dirancang sehingga memperhatikan interaksi sosial antar siswa, mengurangi ruang-ruang negatif, dan seluruh ruangan mendapatkan pengawasan pasif. Selain itu, ruang-ruang sosial juga dirancang untuk memfasilitasi kegiatan yang dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental para siswa serta menyediakan tempat bagi orang tua siswa di lingkungan sekolah.
KAJIAN KRITERIA DESAIN RUANG BELAJAR ANAK AUTISTIK INDONESIA DENGAN MENGUNAKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU DALAM PENERAPAN PERANCANGAN FASILITAS EDUKASI Jovian Alexander Nugroho; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24258

Abstract

This study discusses the criteria for designing educational buildings for children with autism using a behavioral architectural approach. Autistic children need a safe, comfortable and nurturing environment to support the development and refinement of their social skills. The right educational building design can provide an optimal learning environment for autistic children. The behavioral architectural approach was chosen because it focuses on the needs and behavior of individuals in the physical environment. In this study, research was conducted on the characteristics of autistic children and how they affect the design of educational buildings. Some of the factors analyzed include sensory, social, and physical environment factors. Sensory factors include sound, light, texture, and color, while social factors include social interaction and the need for privacy. Physical environmental factors include accessibility, security, and flexibility. The research method used was literature study, field observations, and interviews with parents of autistic children and teaching staff. Design criteria analyzed include the use of color, light, sound, texture, layout and shape of the building. The results of the analysis show that a good autism education building design must pay attention to these factors. Good lighting and sound, a clear room layout, and soothing and soothing colors and textures are important in creating a supportive environment for a child with autism. In addition, the shape of the building must also pay attention to the needs of autistic children for a safe and comfortable space. Keywords: autistic; behavior architecture; criteria; education facility Abstrak Penelitian ini membahas kriteria perancangan bangunan pendidikan bagi anak ASD dengan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku. Anak ASD membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman, dan asuh untuk mendukung perkembangan dan penyempurnaan keterampilan sosialnya. Desain fasilitas edukasi yang tepat dapat memberikan lingkungan belajar yang optimal bagi anak ASD. Pendekatan arsitektur perilaku dipilih karena berfokus pada kebutuhan dan perilaku individu dalam lingkungan fisik. Pada penelitian ini dilakukan penelitian mengenai karakteristik anak ASD dan bagaimana pengaruhnya terhadap desain bangunan edukasi. Beberapa faktor yang dianalisis meliputi faktor sensori, sosial, dan lingkungan fisik. Faktor sensori meliputi suara, cahaya, tekstur, dan warna, sedangkan faktor sosial meliputi interaksi sosial dan kebutuhan akan privasi. Faktor lingkungan fisik meliputi aksesibilitas, keamanan, dan fleksibilitas. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan orang tua anak ASD dan staf pengajar. Kriteria desain yang dianalisis meliputi penggunaan warna, cahaya, suara, tekstur, tata letak dan bentuk bangunan. Hasil analisis menunjukkan bahwa desain bangunan pendidikan ASD yang baik harus memperhatikan faktor-faktor tersebut. Pencahayaan dan suara yang baik, tata letak ruangan yang jelas, serta warna dan tekstur yang dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak ASD.