Priscilla Epifania Ariaji
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

EKSPLORASI DESAIN TAMAN DENGAN PENDEKATAN BIOFILIK BERBASIS ETIKA LINGKUNGAN DI BSD Kezia Kartika Sari; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10906

Abstract

Ethical Biophilic Park in BSD, Tangerang Is a connected open green spaces between a green park and a deer park., which one has existing faunal element specifically deer. Located at Jakarta’s suburban area, BSD Biophilical Park is one of many parks that foster a herd of deer. Both sites were found not maximized in their function, the existing deer foster has not considered fulfilling five freedoms of animal welfare, which must looked at into more in the future. Conceiving the needs of the human-animal interaction, biophilic and rewilding design methods are expected to be sufficient for the welfare of both parties. The park allocates a variety of artificial natural elements, closeness to faunal elements, as well as space experiences in enclosed spaces. Observing on how the park treat the herd, and how it affects the human activity, creates an output of a green park, that is still connected with the deer park, and also ones which has a full-length trail to see the herd without direct interaction such as petting and. In addition to the design, it involuntarily comply environmental ethics that favor  the following welfare of the animal itself. Keywords: Biophilical Park; Deer Fostering; Environmental Ethics; Opened Green Public; Space Rewilding Abstrak Taman Biofilik Berbasis Etika Lingkungan di BSD merupakan perpaduan dua ruang terbuka hijau yang salah satunya memiliki unsur fauna berupa rusa. Terletak di daerah sub urban Jakarta, Taman Biofilik BSD merupakan satu-satunya taman yang merawat rusa. Kedua tapak ditemukan belum maksimal dalam fungsinya, pemeliharaan rusa juga dianggap belum memenuhi lima unsur kesejahteraan hewan, yang kedepannya harus lebih diperhatikan. Memahami kebutuhan adanya hubungan dan interaksi antara manusia dan hewan, metode desain biofilik dan untuk diliarkan diharapkan dapat mencukupi kesejahteraan bagi kedua pihak. Taman mengalokasikan berbagai unsur alam buatan, kedekatan dengan unsur fauna, serta pengalaman ruang yang bersifat lebih terbuka atau tidak sepenuhnya terbangun dinding empat sisi. Mengamati perlakuan taman eksisting pada hewan, dan pengaruh aktivitas manusia didalamnya, menghasilkan taman manusia yang tetap terintegrasi dengan taman rusa, yang didalamnya terdapat jalur untuk melihat-lihat rusa tanpa secara langsung memegang atau memberi makan rusa. Terapan desain secara tidak langsung menghasilkan interaksi yang mematuhi etika lingkungan yang kerap mempengaruhi kesejahteraan hewan itu sendiri.
OLAH DESAIN MODUL APUNG PADA HUNIAN APUNG TUMBUH DI MUARA ANGKE Alexander Kevin Gunarso; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12330

Abstract

Floating Housing is a house type which is an altrnative housing model in coastal areas with prone to flood and affected by land subsidence phenomenon. The purpose of floating housing design is to give safe and proper housing, with the supporting facilities and independent utilities. Floating housing concept in Muara Angke, North Jakarta is an architectural response to the land subsidence, that keep happening in North Jakarta Coast up to 18 cm / year. In doing a floating housing design, floating structure is the most important thing. It needs effective and efficient floating structure concept and has resistance to sea waves.  Besides that, floating structure must easy to maintenance, and repair, also accomodate the residential loads. Research method in this project is collecting data, material analysis and structure calculations, so as to produce a modular floating structure concept. The results of this research is hexagonal floating structure module made from 2 kind of material, that is plastic drum and b-foam (Expanded Polystyrene). Then, the floating structure design applied to the building according to its function, such as house, markets, and other needs. Material selection has follow the standard buoyancy calculation. So, the floating structure module design can use to support community activities safely and eco friendly. Keywords:  floating housing; floating modul; flood resistant house; growth floating structure; muara angke AbstrakHunian Apung merupakan jenis hunian yang menjadi alternatif hunian pada daerah pesisir yang rawan banjir dan terdampak fenomena penurunan muka tanah. Perancangan hunian apung memiliki tujuan untuk memberikan hunian yang aman dan layak, beserta dengan fasilitas penunjang dan utilitas yang mandiri.  Konsep hunian apung pada Kawasan Muara Angke, Jakarta Utara merupakan respon arsitektur terhadap fenomena penurunan muka tanah yang terus terjadi di pesisir Pantai Jakarta, hingga mencapai 18 cm / tahun. Dalam melakukan perancangan bangunan apung, struktur apung menjadi hal yang paling utama. Dibutuhkan konsep struktur apung yang efektif dan efisien serta memiliki ketahanan terhadap gelombang air laut. Selain itu, rancangan struktur apung juga memiliki kemudahan untuk perawatan dan reparasi, serta struktur yang mampu mengakomodasi beban hunian. Metode penelitian melalui pengumpulan data, analisis material, dan perhitungan kapasitas struktur, sehingga menghasilkan sebuah konsep struktur apung modular. Hasil dari penelitian ini berupa rancangan modul struktur apung berbentuk heksagonal yang terdiri dari 2 jenis material, yaitu drum plastik dan b-foam (Expanded Polystyrene).  Rancangan struktur apung kemudian diterapkan pada bangunan sesuai fungsi, seperti hunian, pasar dan kebutuhan lain. Pemilihan material juga telah memenuhi standar perhitungan daya apung. Sehingga, rancangan modul struktur apung dapat digunakan untuk menunjang kegiatan masyarakat dengan aman dan ramah lingkungan.
PENERAPAN PENDEKATAN PRAGMATIS: BENTUK MENGIKUTI FUNGSI DALAM PERANCANGAN ARSITEKTUR INDUSTRI YANG EKOLOGIS Christina Ferlenthya Puwardi; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12379

Abstract

One way to overcome plastic waste is to take advantage of technological developments, without ignoring ecological awareness, to process waste before disposal. The process can be done by recycling plastic waste as raw material for production and using plasma gasification to convert recycling leftovers into electrical energy. Along with the usage of waxworm as decomposers, these methods require a building that accomodates the process, and the building is commonly referred as industrial architecture. Eco-industrial architecture should be able to take responsible decisions in every stage of its existence (planning, construction, maintenance, demolition). This main principle is embraced by the Khanah Kufu: Plastic Waste Processing Facility in Bantar Gebang. Pragmatic approach can be used to design this plastic waste processing facility with form following its function. The success of designing eco-industrial architecture can be achieved through the following design considerations: (1) space and volume requirements; (2) space relations; (3) accessibikity and circulation. It is expected that by using this method, design results are able to achieve its goal to overcome the problem of plastic waste without producing new emissions and waste, even when the building is no longer used. Keywords:  Eco-industrial architecture; form follow function; functional; pragmatic approach; recycle, gasification, and decompositionAbstrakSalah satu cara mengatasi permasalahan sampah plastik adalah dengan kesadaran ekologis memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mengolah sampah tersebut sebelum dibuang. Pengolahan tersebut dapat dilakukan dengan mendaur ulang kembali sampah plastik yang masih baik untuk digunakan kembali sebagai bahan baku produksi atau menggunakan metode gasifikasi plasma untuk mengubah sampah plastik yang sudah tidak baik menjadi energi listrik. Disertai dengan ulat lilin sebagai representasi alam sebagai pengurai, metode-metode pengolahan ini tentunya membutuhkan suatu bangunan yang memfasilitasi berjalannya proses , dan bangunan itu biasa disebut sebagai arsitektur industri. Arsitektur industri sebaiknya ramah lingkungan dan bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang diambil, baik dalam perencanaan, pembangunan, hingga perawatan. Prinsip utama ini dianut oleh dalam proyek Khanah Kufu: Fasilitas Pengolahan Sampah Plastik di Bantar Gebang. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk perancangan arsitektur industri fasilitas pengolahan sampah plastik ini adalah pendekatan pragmatis dengan metode bentuk mengikuti fungsi. Keberhasilan perancangan arsitektur dengan metode ini dapat dicapai melalui pertimbangan perancangan berikut: (1) kebutuhan volume ruang; (2) hubungan antar ruang ; (3) aksesibilitas dan sirkulasi. Diharapkan dengan menggunakan metode ini, hasil perancangan arsitektur industri pengolah sampah plastik dapat mencapai tujuannya untuk menghentikan permasalahan sampah plastik tanpa menghasilkan emisi karbon serta sampah yang baru, bahkan saat bangunan sudah tidak lagi digunakan dan dihancurkan. 
PENERAPAN BIOFILIK ARSITEKTUR DAN GEOMETRI FRAKTAL PADA DESAIN FASILITAS KONSERVASI PEMBUDIDAYAAN TERUMBU KARANG DI LABUAN BAJO Nadya Amelia; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12389

Abstract

The Coral Reef Cultivation Conservation Facility is a project located in the Red Beach area, Labuan Bajo, East Nusa Tenggara. Architectural Biophilic Methods and Fractal Geometry are design methods used as references in this building. The principles and patterns used provide experiences and perspectives to improve coral reef cultivation and maintain the survival of coral reefs based on learning and aquaculture recreation. The principles of Nature In Space, Natural Analogoues and Natural Of The Space are applied in the project which is indicated by the existence of floating building forms, adjacent to natural habitats in the sea and building functions that prioritize coral reef ecosystems. The application of Fractal Geometry can be seen from the application of building facades that are inspired by the form of mass transformation in layers following the layers of coral reefs and coral reef pattern structures and environmentally friendly building technology and systems. The overall project design creates an element of ecological maintenance for marine ecosystems by taking into account the survival of coral reefs. Keywords: biophilic architectural; conservation facility; fractal geometry; marine ecosystemAbstrakFasilitas Konservasi Pembudidayaan Terumbu Karang adalah bangunan yang berada di wilayah Pantai Merah, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Metode Biofilik Arsitektur dan Geometri Fraktal adalah metode desain yang digunakan sebagai acuan dalam bangunan ini. Prinsip-prinsip dan pattern yang digunakan memberikan pengalaman dan pandangan untuk meningkatkan pembudidayaan terumbu karang serta menjaga keberlangsung hidup terumbu karang berbasis rekreasi pembelajaran dan budidaya. Prinsip Nature In Space, Natural Analogoues dan Natural Of The Space diterapkan dalam bangunan yang ditunjukkan dengan adanya bentuk bangunan floating, berdekatan dengan habitat alam di laut dan fungsi bangunan yang mengutamakan ekosistem terumbu karang. Penerapan Geometri Fraktal dapat dilihat dengan adanya penerapan fasad bangunan yang terinspirasi dari bentuk transformasi massa berlapis lapis mengikuti lapisan terumbu karang dan struktur pattern terumbu karang dan teknologi serta sistem bangunan yang ramah lingkungan. Keseluruhan desain bangunan menciptakan unsur pemeliharaan ekologi terhadap ekosistem laut dengan  memperhatikan keberlangsungan hidup terumbu karang.
PENERAPAN METODE DESAIN ARSITEKTUR BERDASARKAN PERILAKU PADA PROYEK RUMAH EDUKASI-BERMAIN ANAK DI PLUIT Elvia Valentine Sofyan; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10907

Abstract

Childhood is an important period in a human’s life because it is a time of rapid development and change. Therefore, early childhood education (ECE) facility is crucial in order to support children’s growth and development. Children Edu-Play House project is a vision for ECE facilities in the future. One of the methods that are applied in designing this facility is architecture based on behaviour method, especially behaviorology that focuses on children’s behaviour. This approach aims to create designs that suits the needs of children, so that the resulting design can encourage their development and growth. Through collecting data and observations of children’s behaviour through case studies, important points emerge. This points are applied in the forms of open and flexible spaces for exploration, easy access to green open spaces, spaces that suits the ergonomics of children, special corners that invoke children’s sense of place, the use of natural colours and curved spaces, and the use of soft materials and gardening to stimulate children’s sense of touch. With the designs that are implemented into the building, it is hoped that children’s development process can be conducted to its fullest inside this ECE project.    Keywords:  Earyl Childhood; Early Childhood Education (ECE); Architecture Based on Behaviour Abstrak Masa kanak-kanak merupakan masa yang penting dalam kehidupan seorang manusia karena masa ini merupakan masa terjadinya perkembangan dan perubahan secara pesat. Oleh karena itu, fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan hal yang krusial dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Proyek Rumah Edukasi-Bermain Anak merupakan sebuah visi akan fasilitas PAUD masa depan. Salah satu metode yang diterapkan untuk mendesain fasilitas ini adalah metode desain arsitektur berdasarkan perilaku, khususnya behaviorology yang befokus pada perilaku anak. Pendekatan perancangan ini bertujuan untuk menciptakan desain yang sesuai dengan kebutuhan sang anak, sehingga desain yang dihasilkan dapat mendorong perkembangan dan pertumbuhan mereka. Melalui pengumpulan data dan observasi perilaku anak melalui studi kasus, muncullah beberapa poin penting dalam proses bermain dan belajar anak. Poin-poin ini muncul dalam bentuk ruang yang terbuka dan fleksibel untuk eksplorasi, akses yang mudah menuju ruang terbuka hijau, ruang-ruang yang sesuai dengan ergonomi anak, sudut-sudut yang spesial untuk memberikan sebuah rasa kepemilikan akan ruang, penggunaan warna natural dan bentuk yang melengkung, serta penggunaan material yang lembut dan program berkebun untuk menstimulasi sentuhan anak. Melalui desain-desain yang diimplementasikan ke dalam bangunan, diharapkan proses perkembangan anak dapat berjalan secara maksimal pada proyek PAUD ini.
PENGEMBANGAN HUNIAN DAN PERTANIAN VERTIKAL DI BOGOR DENGAN PENDEKATAN DESAIN BERBASIS PERILAKU Dionisius Nathanael Arif; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10908

Abstract

Future Farmer’s Dwelling in Bogor is a new typology which is the result of unification of two main program activity. The project which is located in Bogor, is a new kind of typology in the field of agriculture. The agricultural sector in Indonesia still use the traditional methods although there have been many developments that have occurred in agriculture field, but those advancements have not been implemented yet. As designing this project, the design method used is behavior-based architecture where the method is aimed to understand the behavioral habits of building users. As for  the design strategies such as implementation of the newest  methods and technology in agriculture like the efficiency of  land area with the use of vertical farming methods, to save the amounts of water being used through hydroponic techniques which are also assisted by technology such as automatic regulation of water use which can be timed through a device. It is hoped that from the combination of all the methods can make an improvement for farmers productivity. Keywords: Farmers dwelling; Vertical Farming; Behavior; Hydroponic; Agriculture TechnologyAbstrakHunian Petani Massa Depan di Bogor merupakan sebuah bentuk tipologi baru yang berasal dari penggabungan dua buah program kegiatan utama. Proyek yang berlokasi di Bogor ini merupakan sebuah hal yang baru dalam bidang hunian dan agrikultur. Bidang agrikultur di Indonesia mayoritas masih menggunakan metode dan cara tradisional dalam prakteknya walaupun sudah banyak perkembangan-perkembangan yang sudah terjadi  dalam bidang tersebut namun kemajuan ini masih belum fasih diterapkan di seluruh Indonesia. Metode perancangan yang digunakan adalah arsitektur berdasar perilaku dimana dengan metode tersebut ditujukan untuk memahami kebiasaan perilaku dari calon pengguna bangunan. Adanya strategi desain berupa penerapan perkembangan metode dan teknologi di bidang agrikultur seperti penggunaan luas lahan yang efisien dengan metode pertanian vertikal, penggunaan jumlah air yang efisien melalui teknik hidroponik yang juga dibantu teknologi seperti pengaturan otomatis penggunaan air yang dapat diautur waktunya melalui sebuah perangkat. Diharapkan agar perpaduan tersebut dapat meningkatkan produktivitas dari para petani yang menggunakan fasilitas pada proyek ini.
PENDEKATAN DESAIN BERBASIS POLA PERILAKU DAN PANOPTIK PADA RUMAH INTERAKTIF ANAK JALANAN DAN HEWAN TERLANTAR DI CIRACAS Ruby Sutanto; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12331

Abstract

The problem of street children and abandoned animals in urban areas is still something that gets less attention. The design of this interactive house aims to accommodate and provide a more decent and secure living space as well as the intervention of the government and the community in it. This of course requires a special approach in its design and planning. Each resident has a different character and also a different ecosystem. It is necessary to observe the behavior patterns of building occupants to find out the space requirements that are in accordance with the behavior of the users and can apply them appropriately. Then the panoptic approach to the shape of the mass pattern of the building which aims to facilitate the process of monitoring the occupants and architecture plays a role in the process of monitoring the occupants of the building. The different behavior patterns of each occupant of course require different applications in each space design on it, especially as a mass dwelling which is the new ecosystem in the future. Therefore, this behavioral and panoptic pattern approach is applied to buildings to consider the design aspects needed and can be applied appropriately and in accordance with the building's occupants who have different ecosystems and living spaces. Keywords: abandoned animals; behaviour; interactive house; panoptic; street children AbstrakPermasalahan tentang anak-anak jalanan dan hewan terlantar di perkotaan masih menjadi suatu hal yang kurang mendapatkan perhatian. Perancangan rumah interaktif ini bertujuan untuk menampung dan memberikan ruang hidup yang lebih layak dan terjamin serta adanya campur tangan pemerintah dan masyarakat di dalamnya. Hal ini tentu saja membutuhkan pendekatan khusus dalam perancangan dan perencanaannya. Masing-masing penghuni memiliki karakter yang berbeda dan juga ekosistem yang berbeda. Perlu adanya pengamatan pola perilaku dari penghuni bangunan untuk mengetahui kebutuhan ruang yang sesuai dengan perilaku penggunanya serta dapat mengaplikasikannya dengan tepat. Lalu pendekatan panoptik terhadap bentuk pola massa bangunan yang bertujuan untuk memudahkan dalam proses pengawasan terhadap penghuni dan arsitektur ikut berperan dalam proses pengawasan terhadap penghuni bangunan. Pola perilaku setiap penghuni yang berbeda tentu saja membutuhkan pengaplikasian yang berbeda di setiap perancangan ruang di dalamnya, terlebih lagi sebagai hunian massal yang merupakan ekosistem barunya kelak. Oleh sebab itu, pendekatan pola perilaku dan panoptik ini diterapkan pada bangunan untuk mempertimbangkan aspek-aspek desain yang dibutuhkan dan dapat diterapkan dengan tepat serta sesuai dengan penghuni bangunan itu sendiri yang memiliki  ekosistem dan ruang hidup yang berbeda.
PENERAPAN METODE FENOMENOLOGI BIOINSPIRED PADA DESAIN FASILITAS REKREASI KASUAL MULTISENSORI ALAM INDONESIA DI JALAN JAKSA, JAKARTA PUSAT Tiffany Karin Gunawan; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22237

Abstract

Urban Strip Jalan Jaksa is located in the center of the capital city of Indonesia, a country rich in its nature, diversity and culture. However the urban environment of Jalan Jaksa doesn’t reflect Indonesia's natural wealth, but is designed as a “concrete forest” that negatively affects human psychological condition. Few of the factors causing it is the the highly polluted urban environment, the lack of green open space facilities, and the lack of psychological-emotional space that can give color to the daily lives of city residents. With this issue, the design of casual recreation was injected into Jalan Jaksa which has a shortage of recreational facilities and green open spaces in its area. Using bioinspired phenomenological method as the design approach with the theme of tropical rain forests as one of Indonesia's unique nature. The combination of these two methods aims to bring a psychological-emotional space in the middle of an urban environment to help improve the quality of life and have a good impact on the psychological state of the residents of the Jalan Jaksa area, while alse providing a unique local experience, spatial experience as if being in a tropical rainforest of Indonesia. Elements of tropical rain forest are dissected and grouped into biomimicry, biomorphism, and bioutilization which are part of bioinspired which are divided according to the 4 layers of tropical rain forest. The extracted Bioinspired characteristics are then grouped into the five senses to produce a person's multisensory experience in each layer of the tropical rainforest. Keywords:  Bioinspired Phenomenology; Casual Leisure; Indonesia Tropical Rainforest; Multisensory Nature; Urban Livability Abstrak Strip kota Jalan Jaksa berlokasi di Jakarta Pusat, ibukota negara Indonesia yang kaya akan alam, diversitas dan budayanya. Namun sayangnya lingkungan perkotaan Jalan Jaksa tidak mencerminkan kekayaan alam Indonesia, melainkan dirancang sebagai “hutan beton” yang mempengaruhi kondisi psikologi manusia secara negatif. Salah satu penyebabnya adalah kondisi lingkungan perkotaan yang berpolusi tinggi, kurangnya fasilitas ruang terbuka hijau, dan kurangnya ruang psikologis-emosional yang dapat memberi warna pada kehidupan sehari-hari warga kota. Dengan isu ini, perancangan rekreasi kasual disuntikkan ke dalam Jalan Jaksa yang memiliki kekurangan fasilitas rekreasi dan ruang terbuka hijau pada kawasannya. Metode fenomenologi bioinspired dengan tema hutan hujan tropis sebagai salah satu alam khas Indonesia digunakan sebagai pendekatan metode perancangannya. Kombinasi kedua metode ini bertujuan untuk menghadirkan ruang psikologis-emosional di tengah lingkungan perkotaan yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dan memberi dampak positif bagi keadaan psikologis warga sekitar Jalan Jaksa, sekaligus memberi pengalaman lokal yang unik, pengalaman spasial seakan berada di hutan hujan tropis Indonesia. Unsur hutan hujan tropis dibedah dan dikelompokkan ke dalam biomimicry, biomorphism, dan bioutilization yang merupakan bagian dari bioinspired yang dibagi menurut 4 lapisan hutan hujan tropis. Karakteristik Bioinspired yang telah diekstrak kemudian dikelompokkan ke dalam pancaindra untuk menghasilkan pengalaman multisensori seseorang pada setiap lapisan hutan hujan tropis.
PENDEKATAN SPACE SYNTAX DAN ARSITEKTUR KESEHARIAN SEBAGAI STRATEGI AKUPUNKTUR KOTA DI KAWASAN MUARA ANGKE Selina Sunardi; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22240

Abstract

Muara Angke has great fishery and tourism potential, however, there are still many Muara Angke residents who have a low economy and lack of empowerment. The environment of Muara Angke also seems shabby because of the large amount of unprocessed waste scattered in this area. Clean water crisis also occurs where coastal residents find it difficult to meet their daily water needs. Urban acupuncture is an approach to provide urban spatial planning solutions in order to have a significant improvement impact in a short time. This study is needed to determine the appropriate urban acupuncture points, one of which is the space syntax and everday architecture method in determining the appropriate program for the Muara Angke. So that the design can determine the right program and point to achieve an increase in regional productivity along with improving the environmental quality of the Muara Angke. The data collection method is done by descriptive analysis and the method used in the design is the space syntax and everyday architecture method. This approach aims to read the area, determine the program, and space configuration in the design. Fish processing facilities program at the main point can increase economic productivity. Aligned with the water filtration module and the waste sorting post at the secondary point, that solves the clean water crisis and improves waste management in the area. Thus, the space syntax and everyday architecture approach in design can be a regeneration point for Muara Angke. Keywords: Everyday Architecture; Muara Angke; Urban Acupuncture; Space Syntax Abstrak Muara Angke memiliki potensi perikanan dan wisata yang besar namun, masih banyak warga Muara Angke yang berekonomi rendah dan kurang pemberdayaan. Lingkungan Muara Angke pun terkesan kumuh karena banyaknya sampah tanpa pengolahan yang tersebar di kawasan ini. Krisis air bersih juga terjadi dimana warga pesisir kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Akupunktur kota merupakan sebuah pendekatan untuk memberikan solusi penataan ruang kota agar mendapat dampak perbaikan secara signifikan dalam waktu yang singkat. Studi ini menentukan titik akupunktur kota yang tepat salah satunya dengan metode space syntax dan arsitektur keseharian dalam menentukan program yang sesuai untuk Kawasan Muara Angke. Agar perancangan dapat mementukan program dan titik yang tepat guna mencapai peningkatan produktivitas kawasan sejalan dengan peningkatan kualitas lingkungan Kawasan Muara Angke. Metode pengumpulan data dilakukan dengan analisis deskriptif dan metode yang digunakan pada perancangan adalah metode space syntax dan arsitektur keseharian. Pendekatan ini bertujuan untuk membaca kawasan, menentukan program, dan konfigurasi ruang pada rancangan. Program fasilitas pengolahan hasil laut pada titik utama dapat meningkatkan produktivitas ekonomi. Selaras dengan modul filtrasi air dan pos pemilahan sampah pada titik sekunder menyelesaikan masalah krisis air bersih dan memperbaiki manajemen limbah pada kawasan. Sehingga, pendekatan space syntax dan arsitektur keseharian dalam perancangan dapat menjadi titik regenerasi bagi Kawasan Muara Angke.
ANALISIS KEBUTUHAN PENYARINGAN UDARA UNTUK MENGATASI POLUSI UDARA SEBAGAI STRATEGI AKUPUNKTUR KOTA DI KAWASAN INDUSTRI PULOGADUNG Stefanie Fedora; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22243

Abstract

Industrial area is one of the sources of air pollution in the city of Jakarta. Poor air quality has a negative impact on public health. Air filtration technology can be used as a solution to deal with air pollution problems around industrial areas. Air filtration technology Combined Flue Gas Cleaning (FGC) system is a way to overcome air pollution problems by analyzing the needs of air filtration in the Pulogadung Industrial Estate. Based on the application of air filtering technology and an analysis of the need for filtering technology, it can certainly provide a solution in the form of suppressing the amount of air pollution resulting from industrial activities, which will also have implications for improving air quality in the city of Jakarta. In addition, it also aims to inspire other industrial areas by implementing the Combined Flue Gas Cleaning (FGC) air filtration technology system. The green architectural approach in this design is carried out through the use of green materials as an instrument for reducing emissions in industrial areas. This study uses the literature method and secondary data analysis methods by zoning the Pulogadung Industrial Estate, and using the shape grammar design method. The combination of the results of the analysis produces urban acupuncture points in the Pulogadung Industrial Estate, with a radius and capacity that can be reached by the Combined Flue Gas Cleaning (FGC) air filtering technology, so that the connection between air filtration technology and urban acupuncture works in the Pulogadung Industrial Estate. Keywords: Green Architecture; Industrial Estate Pollution; Pollution Filtration; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan industri merupakan salah satu sumber polusi udara di Kota Jakarta. Buruknya kualitas udara memberikan dampak yang negatif  bagi kesehatan masyarakat. Teknologi penyaringan udara dapat dijadikan sebagai solusi untuk menangani permasalahan polusi udara di sekitar kawasan industri. Teknologi penyaringan udara Combined Flue Gas Cleaning (FGC) sistem merupakan cara untuk menanggulangi permasalahan polusi udara dengan melakukan analisis kebutuhan penyaringan udara di Kawasan Industri Pulogadung. Berdasarkan penerapan teknologi penyaringan udara tersebut serta adanya analisis kebutuhan teknologi penyaringan tentunya dapat memberikan solusi berupa penekanan jumlah polusi udara hasil aktivitas industri, yang juga akan berimplikasi pada peningkatan kualitas udara di Kota Jakarta. Selain itu, juga bertujuan untuk menginspirasi kawasan industri lainnya dengan menerapkan sistem teknologi penyaringan udara Combined Flue Gas Cleaning (FGC). Pendekatan arsitektur hijau pada perancangan ini dilakukan melalui penggunaan material hijau sebagai instrumen penekan emisi di kawasan industri. Penelitian ini menggunakan metode literatur dan metode analisis data sekunder dengan menzoning Kawasan Industri Pulogadung, serta menggunakan metode perancangan shape grammar. Penggabungan hasil analisis menghasilkan titik-titik urban akupunktur pada Kawasan Industri Pulogadung, dengan radius dan kapasitas yang dapat dijangkau oleh teknologi penyaringan udara Combined Flue Gas Cleaning (FGC) tersebut, sehingga diperoleh keterhubungan antara teknologi penyaringan udara dengan urban akupunktur bekerja dalam Kawasan Industri Pulogadung.