Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTERPOLATOR IN BATHYMETRIC MAP CONTOURING Ernawati Sengaji; Bisman Nababan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 1 No. 1 (2009): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3909.178 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v1i1.7938

Abstract

A digital bathymetric model may be produced after sounding point interpolated by using specific methods. There are three common interpolation methods used recently: inverse distance to power, kriging and minimum curvature. This study applied two scenarios of data processing to compare those three methods on producing bathymetric contours. Numeric validation was performed on the three different gridding methods. The result of this study showed that kriging method was spatially more effective in interpolating water depth than that of the other two.Keywords: interpolation, kriging, inverse distance to power, minimum curvature, bathymetry
PEMETAAN SEBARAN SUHU PERMUKAAN LAUT MENGGUNAKAN DATA MARINE COPERNICUS DI PERAIRAN NUSA TENGGARA TIMUR Parera, Guido Roberto Jerun; Sengaji, Ernawati
AQUANIPA - Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol 8 No 1 (2026): AQUANIPA - Jurnal Kelautan dan Perikanan
Publisher : Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terletak di jalur ARLINDO, memainkan peran penting dalam dinamika sirkulasi laut regional. Suhu permukaan laut (SPL) merupakan parameter kunci yang memengaruhi metabolisme dan reproduksi organisme laut serta pertumbuhan fitoplankton, tercermin dari konsentrasi klorofil-a. Penelitian ini bertujuan memetakan dan menghitung rata-rata sebaran SPL di perairan NTT menggunakan data satelit Marine Copernicus yang diolah dengan QGIS. Hasil menunjukkan rata-rata SPL berkisar 27,5–29,5°C, dengan nilai tertinggi pada bulan Maret (30°C) dan terendah pada bulan September (27,5°C), mengindikasikan fenomena upwelling. Analisis musiman memperlihatkan SPL tinggi pada Januari – April (28–31°C) akibat dominasi radiasi matahari dan angin barat lemah, menurun pada Mei – Agustus (26–30°C) karena peningkatan angin timur dan upwelling, serta meningkat kembali pada September – Desember (26–31°C) seiring transisi musim barat. Pola ini konsisten dengan mekanisme fisika oseanografis tropis yang dipengaruhi oleh angin muson, flux panas laut–atmosfer, serta fenomena iklim global seperti ENSO dan Indian Ocean Dipole. Penelitian ini menegaskan bahwa penginderaan jauh merupakan metode efektif untuk memantau SPL secara spasial dan temporal, sekaligus dapat dijadikan indikator kualitas perairan di perairan tropis Indonesia.