Articles
Di Manakah allah Mereka? Suatu Renungan Berilhamkan Mzm 115 Untuk Zaman Berhala Teknologi
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Salah satu tantangan terbesar bagi Gereja dan orang beriman dalam zaman modern ini ialah derasnya arus berhala baru yang melanda umat manusia. Berhala memang selalu menyertai perjalanan sejarah umat manusia sudah sejak zaman purbakala, tetapi berhala zaman sekarang dapat dikatakan baru meskipun tidak terlepas dari berhala-berhala sebelumnya. Berhala baru ini adalah dampak dari kemajuan teknologi yang luar biasa. Kemajuan ini sampai ke tingkatan orang memberhalakan ciptaannya dan memberhalakan diri sendiri. Inilah yang baru.
Tidak ada seperti Engkau, Di Antara Para Ilah Ya tuhan (Mzm 86:8a) Siapakah allah Dan Siapakah Manusia itu?
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Zaman kita adalah zaman berhala- berhala baru. Hal ini terasa sangat kuat di dunia Barat, tetapi kiranya akan mudah pula masuk Indo- nesia. Salah satu berhala baru itu ialah pandangan Homo-deus. Manusia mampu menciptakan manusia yang unggul sampai digunakan istilah homo- deus. Benar-benar suatu hujatan terhadap Tuhan yang kita imani. Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakan: “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah” (Yoh 16:2). Kamu akan dikucilkan. Akan datang saatnya bahwa orang yang menyangka bahwa dia dapat menciptakan manusia unggul merasa diri menjadi dewa. Pandangan homo-deus menantang kita untuk memperdalam iman kita kepada Tuhan Yesus dan mengingat bahwa Dia sudah mengatakan semuanya itu (Yoh 16:4a). Tulisan ini mau menjawab pandangan sesat tersebut dan merenungkan keajaiban-keajaiban yang dikerjakan Allah bagi kita manusia. Tidak ada seperti Tuhan Allah kita. Di tengah dunia yang semakin canggih dan hebat ini kita tidak boleh menjadi,”orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini”, sehingga kita tidak dapat lagi “melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah” (lih. 2 Kor 4:4). Kemuliaan Kristus adalah kemuliaan kita karena kemuliaan-Nya telah dianugerahkan kepada kita yang percaya kepada- Nya. Beginilah penegasan St.Paulus: “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Kor 3:18).
Uang, Kenikmatan Dan Godaan
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perkembangan teknologi yang makin canggih membawa kemudahan dan kecepatan yang luar biasa dalam hidup bersama. Tentu saja kita harus bersyukur karena semuanya itu. Akan tetapi, di tengah kemudahan dan kecepatan itu kita perlu sadar diri. Kita adalah manusia dan sebagai manusia kita adalah insan yang lemah dan berdosa. Dewasa ini kita dibesarkan dalam kemudahan dan kecepatan. Apakah tidak ada dampaknya? Apa yang baik bisa membawa dampak yang sama sekali tidak diinginkan dan dipikirkan sebelumnya. Di sinilah kita harus waspada. Tulisan ini hanya berupa catatan- catatan tentang sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam setiap tawaran kemudahan dan kecepatan menghayati hidup.
Janganlah Kamu Melawan (Mat 5:39)
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Menurut hemat saya hari studi 2017 ini memberi kesempatan kepada kita untuk merenungkan kembali beberapa kebenaran pokok tentang panggilan kita sebagai orang kristen “yang adalah garam dan terang dunia”. Khotbah di bukit dalam Mat 5-7 tentang “Hidup baru dalam Kristus” merupakan suatu bahan yang sangat cocok. Teks yang sangat menantang ini telah sangat banyak direnungkan, tetapi harus terus menerus direnungkan kembali apabila kita mendapat persoalan dan tantangan baru. Tanpa renungan iman kita tidak akan disegarkan. Kekerasan yang terus menerus terjadi dalam masyarakat kita memanggil kita untuk merenungkan panggilan kita dalam soal cinta kasih. Tema ini dibicarakan dengan sangat mendalam dalam Mat 5:17-48. Kita akan membatasi renungan kita hanya pada antitesis ke-5 yang berbicara tentang soal pembalasan (5:38-42) dan antitesis ke-6 tentang soal kasih kepada musuh (5:43-48)1. Kedua antitesis ini berhubungan.
Jangan Takut
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pilkada DKI 2017 telah selesai, tetapi seluruh peristiwa yang mendahuluinya kiranya sulit dilupakan dan menurut hemat saya punya dampak besar bukan hanya bagi kesatuan bangsa, melainkan pula utuk penghayatan iman. Unsur SARA dalam pemilihan Gubernur DKI 2017 sangat terasa. Agama diperalat.1 Dampaknya Gubernur Ahok menjadi terdakwa, diadili dan kemudian divonis dengan hukuman 2 tahun penjara. Ada suatu kekuatan besar yang menantang kita yakni kekuatan SARA. Kita bisa menjadi takut dan ragu-ragu untuk berlangkah. Kita mengambil sikap diam karena agama (di sini Islam) ikut bermain. Lalu apa yang harus kita perbuat? Bagaimana seharusnya sikap kita?
Misteri Salib Tuhan Pasca Vonis Janggal Ahok
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kasus dugaan penistaan agama (Islam) oleh gubernur DKI Jakarta Ahok (sekarang mantan)1 menjadi berita besar dan menghebohkan karena sesudahnya digerakkan demo besar-besaran di Jakarta sampai dua kali. Menjadi berita besar karena terjadi persis sebelum Pilkada Gubernur Jakarta 2017. Dugaan adanya unsur politik di balik semuanya itu tidak dapat dielakkan. Siapa yang bersih dalam hidup ini dan siapa yang tidak akan membela diri kalau dituduh? Istilah “penistaan agama” tidak ada dalam kamus teologi Katolik. Dari sebab itu, sebelum menulis artikel ini saya memeriksa dahulu Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa untuk melihat nuansa katanya. Kata pertama yang bertalian dengan nista ialah hina. Selanjutnya kata-kata yang bertalian dengan hina (menghinakan) cukup banyak.
Surat Pakahok Dari Rumah Tahanan Depok Suatu Refleksi Iman
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini adalah suatu bentuk penghormatan terhadap Pak Ahok yang berada di Rumah Tahanan Depok. Dari tempat ini beliau telah menulis surat kepada para relawan dan pendukungnya berhubung keputusannya untuk mencabut permohonan banding atas vonis dua tahun penjara. Surat ini yang telah dibacakan sendiri oleh istrinya yang tercinta Ibu Veronica Tan pada tanggal 23 Mei 2017 selengkapnya kami lampirkan di sini. Pak Ahok lewat suratnya ini1 berterima kasih pertama-tama karena dukungan doa dan segala bentuk dukungan yang lain bahkan dengan berkumpul menyalakan lilin. Pak Ahok mengakui bahwa tidak mudah bagi mereka dan lebih-lebih lagi bagi dirinya sendiri untuk menerima kenyataan ini. Akan tetapi, atas segala perlakuan tidak adil ini Ahok “belajar mengampuni dan menerima semua ini”. Mengampuni dalam konteks ini memang sangat tidak mudah dan karena itu beliau mengatakan bahwa sekarang dia “belajar mengampuni” tentu saja seperti yang dilakukan dan diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Dia meminta para simpatisannya untuk menghentikan unjuk rasa dalam proses pada saat ini “Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara”.
Mazmur 130: Mazmur Pertobatan Yang Ke-6
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini berbicara tentang doa permohonan ampun dari Mzm 130. Teologi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Itulah teologi yang sejati dan kitab Mazmur adalah salah satu buku Kitab Suci yang memiliki ciri semacam itu secara kuat. Dia tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Mazmur digunakan oleh Gereja setiap hari dalam ibadatnya. Gereja yang dalam liturginya mendidik anak-anaknya untuk berdoa menghitung 7 mazmur pertobatan yakni Mzm 6;32;38;51;102;130 dan 143.1 Dari ketujuh mazmur pertobatan ini, yang paling banyak digunakan Gereja ialah Mzm Mazmur ini digunakan oleh Gereja dalam ibadatnya setiap hari Jumat bila tidak ada pesta dalam Ibadat Akan tetapi, Mzm 130 juga menjadi cukup dikenal karena sudah sejak zaman dahulu biasanya didoakan pada salah satu peristiwa yang paling menyentuh hidup manusia yakni pada waktu merayakan kematian atau berdoa untuk arwah. Mengapa digunakan untuk arwah? Di samping untuk arwah Mzm 130 juga digunakan Gereja pada kesempatan yang bertolak belakang dengan kematian yaitu kelahiran, pada Ibadat Sore selama oktaf Natal. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?
Tulisan ini berbicara tentang doa permohonan ampun dari Mzm 130. Teologi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga kepada Tuhan. Itulah teologi yang sejati dan kitab Mazmur adalah salah satu buku Kitab Suci yang memiliki ciri semacam itu secara kua
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
PENGAMPUNAN termasuk salah satu tema yang berat. Berat karena kita hidup dalam dunia yang sulit mengampuni. Kita sendiri mungkin sulit mengampuni kesalahan sesama kita. Sulitnya mengampuni merupakan pengalaman banyak orang dan kiranya tidak perlu diberikan data-datanya di sini. Ada pengalaman-pengalaman yang amat memedihkan seperti pengkhianatan dalam cinta dan persahabatan, kebencian dan kekerasan, pemerkosaan, penghinaan dan masih banyak lagi. Semuanya itu bisa membawa dampak yang luar biasa pada jiwa manusia. Bagaimana saya bisa mengampuni orang yang telah melakukan hal itu terhadap saya atau terhadap orang-orang yang paling saya cintai? Kitab Suci sendiri telah memberi kesaksian tentang hal sulitnya mengampuni itu. Ada dua teks dalam Perjanjian Baru yang memberi kesaksian tentang hal ini. Keduanya terdapat dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Yang pertama, dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak tahu mengampuni (Mat 18:20-35) dan kedua, dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Tujuan tulisan ini ialah merenungkan kedua perumpamaan ini dan mendalami artinya bagi Gereja dewasa ini.
Mazmur Dan Kesembuhan Rohani Dan Jasmani
Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penderitaan manusia itu banyak dan beraneka ragam. Ada derita kehilangan orang-orang yang paling kita cintai, kebencian, tidak dipahami, kesulitan untuk mengampuni dan masih banyak lagi. Pertanyaannya ialah dapatkah derita-derita ini disembuhkan? Dapatkah kesulitan untuk mengampuni itu disembuhkan? Saya sebutkan secara khusus di sini hal “kesulitan untuk mengampuni” berhubungan dengan tema hari studi kita. Jawaban yang diberikan di sini ialah bahwa semua derita itu bisa disembuhkan lewat doa. Jawaban ini adalah jawaban iman. Dalam tulisan ini kita mau melihat secara khusus soal pengampunan. Mengampuni itu sulit dan tidak jarang amat sulit sampai sepertinya tidak mungkin. Luka yang diderita begitu dalam sampai menimbulkan beraneka ragam penderitaan yang tak terbayangkan. Penyembuhan men- jadi suatu perjuangan yang amat melelahkan. Pengampunan itu suatu derita dan perlu penyembuhan. Proses penyembuhannya bisa makan waktu.