Berthold Anton Pareira
Unknown Affiliation

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Otobiografi Teresia Dari Yesus: Kisah Kerahiman Allah Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

St. Teresia dari Yesus (1515-1582), pujangga Gereja, adalah seorang mistikus besar. Anugerah demi anugerah besar diterimanya dari Tuhan. Dia hidup dalam persatuan mesra dengan Tuhan. Dia menyadari bahwa Tuhan hidup di dalam dia dan dia di dalam Tuhan. Berulang-ulang ditekankannya bahwa kesempurnaan hidup kristen yang sejati terletak dalam kasih kepada Allah dan kepada sesama. Itulah inti hidupnya. Peringatan atau pestanya dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 15 Oktober. Teresia juga terkenal dalam Gereja karena meninggalkan kepada kita tiga karya terkenal tentang hidup doa yakni Vida (=Otobiografi), Camino de perfeccion (Jalan Kesempurnaan) dan Moradas del Castillo interior (Tempat tinggal-tempat tinggal puri jiwa). Ketiga buku ini biasanya disebut trilogi Teresia. Buku-bukunya ini telah dibaca pula oleh banyak orang ternama. Beliau termasuk salah satu perempuan yang paling berpengaruh dalam sejarah. Pada kesempatan hari studi yang berbicara tentang dosa dan pengampunan ini, saya ingin memperkenalkan secara singkat buku otobiografinya. Buku ini oleh St. Teresia sendiri disebut “buku besar”. Beliau menyebutnya demikian mungkin karena buku ini di tempat lain disebutnya buku tentang kerahiman-kerahiman Allah. Tema dosa dan pengampunan tidak dapat dipisahkan dari tema tentang kerahiman Allah. Dalam buku ini dia tidak berbicara tentang kerahiman Allah sebagai suatu teologi “tentang”, tetapi secara praktis artinya sebagai suatu teologi berdasarkan pengalaman hidupnya yang mendalam bersama Tuhan. Kerahiman yang dibicarakan Teresia ialah kerahiman Tuhan kepadanya. Dalam studi singkat ini kita mau melihat bagaimana Teresia menulis kisah tentang hidupnya dan mengapa.
Israel Bercerita Tentang Masa Lampaunya Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema hari studi ini ialah tentang Gereja Katolik Indonesia, masa lalu, sekarang dan masa depan. Kita mau menengok ke masa lampau, merenungkan yang sekarang ini dan mau menatap ke depan. Tiga dimensi waktu ini merupakan hal yang tidak terpisahkan satu sama lain dan memang demikian. Hidup manusia itu punya masa lalu sebagai akarnya, masa sekarang sebagai waktu yang sedang dihayati dan masa depan sebagai arah. Tema ini menarik dan saya mau mendekatinya dari sudut Perjanjian Lama. Perjanjian Lama sendiri mempunyai ciri-ciri seperti itu yakni menengok ke masa lampau, merefleksikan kehidupan yang sekarang ini dan menatap ke masa depan. Itulah pembagian pokok dari Perjanjian Lama yang terdiri atas Pentateukh dan Kitab-Kitab Sejarah (lampau), Kitab-kitab Kebijaksanaan dan Nyanyian (sekarang) dan Kitab-kitab Para Nabi (masa depan). Perjanjian Lama adalah bagian yang hakiki dari Kitab Suci kita. Teologi tentang Gereja Katolik Indonesia (lampau, sekarang dan masa depan) tidak dapat mengabaikan Perjanjian Lama sebagai sumber ilhamnya, karena Perjanjian Lama selalu digunakan Gereja dalam Liturginya. Perjanjian Lama harus menjadi jiwa dari teologi. Persoalannya ialah apakah Perjanjian Lama dapat menolong kita untuk merefleksikan tema ini dan melihatnya dengan lebih jelas? Bagaimana kita harus kembali ke masa lalu Gereja Katolik Indonesia sebagai orang beriman? Apakah Perjanjian Lama dapat menjadi ilham bagi kita untuk berteologi? Menurut 2 Tim 3:16, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Marilah sekarang kita melihat apa yang dilihat Israel dari masa lalunya, mengapa dan bagaimana dia melihatnya.
Berdoa Bagi Gereja Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di mana tempat doa dalam pembangunan Gereja masa depan yang gembira dan berbelaskasihan? Apa yang dapat dilakukan doa? Apakah berdoa bagi Gereja itu penting? Menurut hemat saya bukan saja penting, melainkan amat mendasar. Hal ini sudah menjadi keyakinan para nabi Perjanjian Lama dalam doa mereka bagi keselamatan Israel dan selalu diteruskan dalam perjalanan sejarah. Tulisan ini mau menunjukkan hal tersebut. Tanpa doa Gereja masa depan tidak bisa dibangun. Hal ini sudah diyakini oleh para rasul (bdk Kis 6:2-4). Injil selalu menekankan hal yang kelihatannya tidak berarti, yang kecil dalam pandangan manusia. Doa termasuk salah satunya. Untuk itu kita perlu mendalami persoalan ini.
Homili Dan Pembangunan Gereja Masa Depan (Evangelii Gaudium, Art.135-159) Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paus Fransiskus memberi perhatian besar pada homili. Menurut beliau homili menduduki tempat yang istimewa dalam konteks pewartaan Injil. Hal ini terungkap dalam bab III.II dari surat apostoliknya Evangelii Gaudium. Dalam bagian II ini Paus berbicara tentang pentingnya homili (art.135-136), hakekatnya (art.137-144) dan bagaimana harus dipersiapkan (art.145-159).1 Dapat dilihat bahwa Paus Fransiskus memberi perhatian istimewa kepada tema ini dan membicarakannya sebagai seorang guru yang bijaksana. Nadanya mendesak. Dalam uraiannya ini beliau juga mengutip beberapa kali pernyataan dan ajakan para pendahulunya, khususnya dari Beato Paulus VI dan Benediktus XVI.2 Menurut hemat saya para imam dan diakon perlu membaca bagian ini dan merenungkannya kembali dengan baik. Dalam tulisan ini saya ingin mengangkat kembali tema ini agar dapat direnungkan kembali oleh setiap imam dan dapat memperbaharui semangatnya dalam memberikan homili.
Sulitnya Mengampuni Dan Sukacita Pengampunan Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGAMPUNAN termasuk salah satu tema yang berat. Beratkarena kita hidup dalam dunia yang sulit mengampuni. Kita sendiri mungkinsulit mengampuni kesalahan sesama kita. Sulitnya mengampuni merupakanpengalaman banyak orang dan kiranya tidak perlu diberikan data-datanyadi sini. Ada pengalaman-pengalaman yang amat memedihkan sepertipengkhianatan dalam cinta dan persahabatan, kebencian dan kekerasan,pemerkosaan, penghinaan dan masih banyak lagi. Semuanya itu bisamembawa dampak yang luar biasa pada jiwa manusia. Bagaimana sayabisa mengampuni orang yang telah melakukan hal itu terhadap saya atauterhadap orang-orang yang paling saya cintai?Kitab Suci sendiri telah memberi kesaksian tentang hal sulitnyamengampuni itu. Ada dua teks dalam Perjanjian Baru yang memberi kesaksiantentang hal ini. Keduanya terdapat dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Yangpertama, dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak tahu mengampuni(Mat 18:20-35) dan kedua, dalam perumpamaan tentang anak yang hilang(Luk 15:11-32). Tujuan tulisan ini ialah merenungkan kedua perumpamaanini dan mendalami artinya bagi Gereja dewasa ini.
Sukacitaku Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Puisi St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus
Pencarian Kohelet Tentang Nilai Jerih Payah Manusia (Pkh. 1:12-2:26) Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudah sejak awal mula manusia itu selalu mencari kebahagiaan (bdk.Kej. 3). Dia akan terus mengejarnya dan kalau bisa memperolehnya. Akantetapi, apakah kebahagiaan itu dapat diperoleh dalam hidup ini?Kita sangat beruntung karena memiliki sebuah buku yang khususberbicara tentang tema ini yakni kitab Pengkhotbah. Penulisnya tidakdiketahui, tetapi sekarang biasanya disebut Kohelet menurut nama buku inidalam bahasa Ibrani. Kohelet adalah salah seorang pencari kebahagiaanyang paling utama yang pernah hidup. Ada yang menyebutnya seorangpesimis dan melankolis. Akan tetapi, ada yang punya pendapat lebih positif.Buku ini ditulis mungkin menjelang akhir abad-3 sM dalam kekuasaanimperialis Yunani. Pengarang mungkin mengenal pandangan filsuf-fisuf rakyatdari Yunani.
Surga Bagi Teresia Dari Wajah Tersuci Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika tema Kebahagiaan dipilih untuk menjadi pendalaman studikita pada hari-studi 2014 ini,1 saya teringat akan dua puisi St Teresia dariWajah Tersuci (1873—1897) tentang surga. Saya pernah membaca keduapuisi ini, tetapi belum pernah mendalaminya. Mungkin sekaranglahkesempatannya.Berbicara tentang surga tentu saja berarti berbicara tentangkebahagiaan. Teresia mengungkapkan pengalamannya dalam bentuk puisi.Surga yang dinyanyikan Teresia itu adalah surga yang sudah dialaminya didunia ini. Kebahagiaan surga itu menjadi kerinduannya yang bernyala-nyalasudah sejak kecil dan makin lama makin menjadi lebih kuat dan murni denganperkembangan hidup rohaninya. Paulus dalam suratnya kepada jemaat diKolose menulis, “Saudara-saudara terkasih, kamu telah dibangkitkanbersama dengan Kristus, maka carilah perkara yang di atas, di mana Kristusada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukanyang di bumi. Sebab kamu telah mati, dan hidupmu tersembunyi bersamaKristus di dalam Allah” (Kol. 3:1-3). Tentu saja hanya sedikit orang yangmengerti nasihat rasul agung ini.
Bahasa Para Mistik dan Puisi Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 23 No. 22 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v23i22.206

Abstract

-
Musik untuk Merayakan Tuhan Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 23 No. 22 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v23i22.210

Abstract

-