Paul W. McNellis
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SEPTEMBER 11, OR QUID SIT HOMO? Paul W. McNellis
Studia Philosophica et Theologica Vol 2 No 2 (2002)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v2i2.156

Abstract

Artikel ini memiliki nuansa “eulogia”. Tetapi, bukan kata-kata yang mengharukan yang diajukan. Melainkan, sebuah refleksi kritis atas peradaban manusia yang didominasi oleh fenomen “11 September”, sebuah fenomen dehumanisasi. Peristiwa 11 September merupakan peristiwa beruntun runtuhnya bangunan-bangunan World Trade Center di New York, Pentagon, dan pembajakan pesawat oleh para teroris. Tulisan ini menyimak peristiwa itu dalam suatu cara pandang filosofis yang mengatasi fakta runtuhnya aneka bangunan plus sekalian dengan korban manusia yang tak terbilang jumlahnya. Tulisan ini memandang peristiwa itu sebagai suatu deklarasi “dehumanisasi.” Maka, pertanyaan dasarnya ialah quid sit homo? Siapakah manusia? Refleksi tentang manusia juga dapat dilansir dari terminologi “perang”. Manusia ternyata bukan hanya cinta damai, melainkan juga “self-destructive”. Diperlukan kesadaran-kesadaran yang humanis dari keterpurukan hidup manusia sendiri.
RIGHTS, DUTIES AND THE PROBLEM OF HUMILITY Paul W. McNellis
Studia Philosophica et Theologica Vol 2 No 1 (2002)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v2i1.159

Abstract

Tema humilitas dalam etika politik terbilang baru. Sejak Machiavelli tak pernah kerendahan hati menjadi suatu elaborasi filsafat etika politik. Sebab karakter kerinduan opini penguasa atau yang bertanggung jawab atas tata hidup bersama selalu dalam bingkai jalan pikiran kesuksesan. Setiap kegagalan adalah kenaifan. Pengakuan atas kegagalan harus dijalankan dengan suatu strategi yang tidak boleh memalukan. Artikel ini menganalisis tema-tema yang sangat penting dalam lapangan filsafat etika politik: hak, kewajiban, dan kerendahan hati. Pembahasannya merujuk kepada kontribusi filosofis dan social teaching of the Church, buah refleksi Romo Ernest Fortin (seorang assumpsionist) yang mengajar filsafat dan teologi selama kurang lebih empat puluhan tahun di Assumption College dan Theological Department dari Boston College, USA. Artikel ini sedianya dimaksudkan untuk buku Gladly to Learn and Gladly to Teach: Essays on Religion and Political Philosophy in Honor of Ernest Fortin, A.A., edited by Michael P. Foley and Douglas Kries, Lexington Books, 2002. Penerbit memberikan ijin resmi untuk dipublikasikan di Studia ini. Problem humilitas dalam etika politik sangat krusial. Jika problem humilitas dipandang sepele, aktivitas politik akan mudah terjerat pada pengedepanan self-interest penguasa dan pembelakangan kepentingan umum warga.