Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Konsumsi Media, Gender, dan Binge-Watching Annisa Nurizki Fitri; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v3i2.8290

Abstract

Abstract. Media consumption refers to an activity carried out by individuals or groups in consuming various forms of available media such as movies. The media available in the digital era have wide, free, and unlimited access. The freedom to access the media must be balanced with critical thinking skills to avoid and overcome exposure to the negative impacts arising from consuming the media, because the negative impacts do not look at gender or age, men and women can all be negatively affected by excessive media exposure. In terms of movie media consumption and gender, the genre or type of a movie may attract audiences from certain gender groups. The development of the era into a digital era changes the habits and ways of consuming media, binge-watching is one of the new ways that emerged from the development of the era. The purpose of this research is to know the description of binge-watching in media consumption, to know the description of gender that has a greater possibility to do binge-watching, and to know the most motivating factor for a gender to do binge-watching. This research uses a quantitative research method with a descriptive approach by using Vroom's Expectancy theory which has been modified by Subramanian et al to strengthen the research. The conclusions obtained after conducting this research are binge-watching is a change in the way of media consumption produced by developments in the digital era that gave birth to online streaming platforms, women are the gender that has a greater possibility of binge-watching, and the entertaining factor is the most motivating factor for women to binge-watch. Abstrak. Konsumsi media mengacu pada suatu kegiatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam mengonsumsi berbagai bentuk media yang tersedia seperti film. Media-media yang tersedia di era digital memiliki akses yang luas, bebas, dan tanpa batas. Kebebasan dalam mengakses media harus diimbangi dengan keterampilan untuk berpikir kritis untuk menghindari dan mengatasi paparan dari dampak negatif yang ditimbulkan dari mengonsumsi media, karena dampak negatif yang ditimbulkan tidak memandang jenis kelamin atau usia, laki-laki mauapun perempuan semuanya bisa terkena dampak negatif dari paparan media yang berlebihan. Dalam hal konsumsi media film dan gender, genre atau jenis dari suatu film mungkin dapat menarik penonton dari kelompok gender tertentu. Perkembangan jaman menjadi era digital mengubah kebiasaan serta cara dalam mengonsumsi media, binge-watching merupakan salah satu cara baru yang muncul dari perkembangan era tersebut. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini ialah untuk mengetahuin gambaran mengenai binge-watching dalam konsumsi media, mengetahui gambaran mengenai gender yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan binge-watching, dan untuk mengetahui faktor yang paling memotivasi suatu gender untuk melakukan binge-watching. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dengan menggunakan teori Pengharapan Vroom yang telah dimodifikasi oleh Subramanian, et. al. untuk memperkuat penelitian. Kesimpulan yang didapatkan setelah dilakukannya penelitian ini adalah binge-watching merupakan perubahan cara dalam konsumsi media yang dihasilkan oleh perkembangan di era digital yang melahirkan platform-platform streaming online, perempuan merupakan gender yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan binge-watching, dan faktor enterteinment adalah faktor yang paling memotivasi perempuan untuk melakukan binge-watching.
Karakteristik dan Motivasi Komunikator di RSHS Arya Rhiangga Putra; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v3i2.8623

Abstract

Abstract. Communication in health can play a significant role in health service delivery and health promotion. Nurses are one of the many health professions available. All existing health professions certainly have the same vision, namely the realization of excellent health services. This study aims to examine and analyze how the individual characteristics and motivation of nurses in carrying out tasks. All actions and abilities that are inherent in individuals as a result brought from their environment are individual characteristics. Measurement of individual characteristics can be done through attitudes, interests and needs. Motivation is the desire that exists in an individual who stimulates him or her to take actions. Descriptive research methods are used when conducting research, descriptive namely finding facts through appropriate interpretations. All nurses at the Bandung Hasan Sadikin Hospital (RSHS) in the Kemuning Building became the study population. Research data were collected through the use of questionnaires and interviews with nurses at the Bandung Hospital in the Kemuning Building. The results of the study indicated that nurses at the Bandung Kemuning Hospital Bandung Hospital had good individual characteristics. Besides that, they also have good motivation, so nurses can carry out their duties properly. Abstrak. Dalam bidang kesehatan, komunikasi berperan cukup penting pada saat penyampaian layanan dan promosi kesehatan. Perawat adalah salah satu di antara beberapa profesi kesehatan. Seluruh profesi kesehatan tentunya mempunyai kesamaan visi yaitu terciptanya layanan kesehatan prima. Tujuan dilakukan penelitian yaitu untuk mengkaji serta melakukan analisis bagaimana karakteristik individu beserta motivasi perawat dalam melaksanakan tugas. Segala perbuatan dan kesanggupan yang melekat pada individu sebagai hasil yang dibawa dari lingkungannya merupakan karakteristik individu. Pengukuran karakteristik individu dapat dilakukan melalui sikap minat maupun kebutuhan. Motivasi adalah hasrat dalam diri individu yang mendorongnya agar bertindak. Metode penelitian deskriptif dipakai saat melakukan penelitian, deskriptif yaitu pencarian fakta melalui interpretasi yang tepat. Seluruh perawat Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung di Gedung Kemuning menjadi populasi penelitian. Data penelitian dikumpulkan melalui penggunaan teknik pengyebaran kuesioner beserta wawancara kepada perawat RSHS Bandung di Gedung Kemuning. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa perawat RSHS Bandung Gedung Kemuning memiliki karakteristik individu yang baik. Selain itu juga memiliki motivasi yang baik, sehingga perawat dapat melaksanakan tugas dengan baik.
Interpersonal Communication Competence of Faculty of Communication Sciences Alumni Jauhar Majid Prawiananda; Yulianti
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v6i1.9646

Abstract

Abstract. This study aims to analyze the profile of interpersonal communication competence among 2023 graduates of the Faculty of Communication Sciences, Universitas Islam Bandung, using the ten-dimensional Interpersonal Communication Competence Scale (ICCS) framework. A quantitative descriptive method was applied, surveying 106 alumni selected via purposive sampling. Data gathered through online questionnaires were analyzed using descriptive statistics. Results revealed that the graduates' overall interpersonal communication competence is highly effective, indicated by an overall mean score of 2.148 (where lower scores denote higher frequency). Even development across all ten dimensions was observed; supportiveness (M = 1.90) and immediacy (M = 1.94) emerged as the most prominent dimensions, reflecting strong relational warmth and supportive behaviors. In contrast, self-disclosure (M = 2.49) and social relaxation (M = 2.48) showed more selective tendencies, indicating calculated self-regulation in professional environments. In conclusion, the 2023 graduates possess adaptive and robust soft skills required to navigate post-pandemic professional interactions, providing vital considerations for curriculum development in communication management.
Gambaran Keterbukaan Komunikasi Kepala Madrasan dan Kepuasan Relasional Guru Vika Hissan Raihani; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management 485 - 492
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25787

Abstract

This study aims to describe the level of communication openness of the madrasah principal and the relational satisfaction of teachers at MI Attaqwa 06 Kebalen, Bekasi. Communication openness is a critical factor shaping the quality of interpersonal relationships in educational organizations, particularly in Islamic madrasah settings where the values of amanah (trustworthiness) and shiddiq (honesty) underlie leadership communication. This study employs a quantitative descriptive method with a census technique involving all 41 active teachers as respondents. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed descriptively. The theoretical framework integrates Organizational Transparency Theory (Schnackenberg & Tomlinson, 2016) and Relational Satisfaction Theory (Canary & Stafford, 1992). Results show that communication openness of the principal falls in the high category (81.63%), with accuracy as the highest dimension (82.44%) and disclosure as the lowest (80.61%). Teacher relational satisfaction is also high (82.71%), with emotional support as the highest dimension (83.66%) and communication openness as the lowest (81.79%). These findings confirm that transparent, Islamic-value-based leadership communication is positively associated with strong relational satisfaction among teachers in madrasah settings.   Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat keterbukaan komunikasi kepala madrasah dan kepuasan relasional guru di MI Attaqwa 06 Kebalen, Bekasi. Keterbukaan komunikasi merupakan faktor krusial dalam membentuk kualitas hubungan interpersonal pada organisasi pendidikan, khususnya di lingkungan madrasah yang menjunjung nilai amanah dan shiddiq dalam komunikasi kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik sensus terhadap seluruh 41 guru aktif sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis secara deskriptif. Kerangka teoretis penelitian ini mengintegrasikan Organizational Transparency Theory (Schnackenberg & Tomlinson, 2016) dan Relational Satisfaction Theory (Canary & Stafford, 1992). Hasil penelitian menunjukkan keterbukaan komunikasi kepala madrasah berada pada kategori tinggi (81,63%), dengan dimensi ketepatan (accuracy) sebagai capaian tertinggi (82,44%) dan dimensi pengungkapan (disclosure) sebagai capaian terendah (80,61%). Kepuasan relasional guru juga berada pada kategori tinggi (82,71%), dengan dimensi dukungan emosional sebagai capaian tertinggi (83,66%) dan dimensi keterbukaan komunikasi sebagai capaian terendah (81,79%). Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi kepemimpinan yang transparan dan berlandaskan nilai Islam berkorelasi positif dengan kuatnya kepuasan relasional guru di lingkungan madrasah.
Pengalaman Komunikasi Generasi Z dan Milenial dalam Penyampaian Ide Kerja: Studi Fenomenologi di Telkom Bandung Sabrina Rahmasari; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management 1007 - 1016
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.26305

Abstract

Differences in communication characteristics between Generation Z and Millennials in the workplace have the potential to influence the effectiveness of idea sharing and collaboration within organizations. This issue is particularly relevant at Telkom Bandung, a technology-based company where cross-generational interactions are an integral part of daily work activities. This study aims to explore the experiences, meanings, and communication adaptations of Generation Z and Millennial employees in conveying work-related ideas at Telkom Bandung. The study employed a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using qualitative data analysis with source triangulation to ensure the credibility of the findings. The results indicate that cross-generational communication experiences are influenced more by organizational culture, interpersonal relationships, work experience, and communication structures than by generational differences themselves. These factors encourage learning and collaboration rather than conflict. Communication is perceived as a means of building professional legitimacy, fostering interpersonal relationships, facilitating work coordination, and creating psychological safety. Communication adaptation is achieved through adjustments in communication media, language use, the level of information detail, and an open communication culture. The study concludes that cross-generational communication at Telkom Bandung is adaptive and collaborative, enabling the differing characteristics of Generation Z and Millennials to become valuable sources of learning, knowledge sharing, and strengthened collaboration in the communication of work-related ideas.   Perbedaan karakteristik komunikasi antara Generasi Z dan Generasi Milenial di lingkungan kerja berpotensi memengaruhi efektivitas penyampaian ide dan kolaborasi dalam organisasi. Kondisi tersebut menjadi penting untuk dikaji di Telkom Bandung sebagai perusahaan berbasis teknologi yang melibatkan interaksi lintas generasi dalam aktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman, makna, dan penyesuaian komunikasi Generasi Z dan Generasi Milenial dalam menyampaikan ide kerja di Telkom Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan analisis data kualitatif dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman komunikasi lintas generasi lebih dipengaruhi oleh budaya organisasi, hubungan interpersonal, pengalaman kerja, dan struktur komunikasi dibandingkan faktor generasi, sehingga mendorong pembelajaran dan kolaborasi daripada konflik. Komunikasi dimaknai sebagai sarana membangun legitimasi profesional, hubungan interpersonal, koordinasi pekerjaan, dan psychological safety. Penyesuaian komunikasi dilakukan melalui penyesuaian media, bahasa, tingkat detail informasi, serta budaya komunikasi yang terbuka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi lintas generasi di Telkom Bandung berlangsung secara adaptif dan kolaboratif sehingga perbedaan karakteristik Generasi Z dan Generasi Milenial menjadi sumber pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan penguatan kolaborasi dalam penyampaian ide kerja.
Kepemimpinan Komunikatif Ketua dan Loyalitas Majelis Taklim Nuurun Nisa Kota Cimahi Nadhiira Zahrani; Yulianti
Bandung Conference Series: Communication Management 1073 - 1080
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25963

Abstract

This study examines the practice of communicative leadership and its relation to the loyalty of administrators in Majelis Taklim Nuurun Nisaa, Cimahi City. The research is motivated by the phenomenon of declining activity and sustainability in many community-based religious organizations, which is often influenced by ineffective leadership communication. Therefore, this study aims to describe how communicative leadership is implemented and how administrator loyalty is formed within the organization.This research uses a quantitative descriptive approach. The research object consists of 17 active administrators selected using a saturated sampling technique. Data were collected through primary sources using a questionnaire instrument with a Likert scale, supported by observation. The data were processed using descriptive statistical analysis, including frequency distribution and percentage calculations.The results show that communicative leadership is implemented very well, particularly in aspects of empathy, openness, and communication clarity. Administrator loyalty is also categorized as high, especially in affective, continuance, and normative commitment. However, loyalty in behavioral aspects, such as role modeling, is relatively less optimal. The findings indicate that effective communication by leaders plays a significant role in strengthening administrator loyalty and organizational sustainability.It is recommended that future research explore this topic using different approaches and broader research objects to obtain more comprehensive findings.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik communicative leadership serta loyalitas pengurus pada Majelis Taklim Nuurun Nisaa Kota Cimahi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena menurunnya keberlanjutan organisasi keagamaan berbasis komunitas yang seringkali disebabkan oleh lemahnya komunikasi kepemimpinan. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memahami bagaimana komunikasi pemimpin dapat membentuk loyalitas anggota dalam organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Objek penelitian adalah 17 pengurus aktif yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan melalui sumber data primer menggunakan kuesioner dengan skala Likert, serta didukung oleh observasi. Data kemudian diolah menggunakan analisis statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa communicative leadership diterapkan dengan sangat baik, terutama dalam aspek keterbukaan, empati, dan kejelasan komunikasi. Loyalitas pengurus juga tergolong tinggi, khususnya pada komitmen afektif, kontinuitas, dan normatif. Namun, pada aspek perilaku seperti keteladanan, masih belum optimal. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif dari pemimpin berperan penting dalam memperkuat loyalitas dan keberlanjutan organisasi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan yang berbeda serta objek yang lebih luas agar memperoleh hasil yang lebih komprehensif.