p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Seni Makalangan
Ria Dewi Fajaria
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ESTETIKA TARI JAIPONGAN KAWUNG ANTEN KARYA GUGUM GUMBIRA Shinda Regina; Ria Dewi Fajaria; Sopian Hadi
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi”
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i2.1416

Abstract

ABSTRAKKawung Anten merupakan salah satu tarian Jaipongan yang diciptakan oleh Gugum Gumbira pada sekitar tahun 1991, belatar cerita seorang putri dari Kerajaan Sumedang Larang yang bernama Kawung Anten yang mendapat tugas dari ayahnya yaitu Prabu Jaya Perkosa untuk menjaga pohon hanjuang. Tarian ini memiliki karakteristik yang berbeda dari karya-karya tari Jaipongan yang telah diciptakan sebelumnya, terutama pada properti yang digunakan yaitu duhung (senjata tradisional yang berasal dari Sumedang). Berawal dari perbedaan itulah yang menjadi salah satu ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam upaya mengupas estetika dari Tari Jaipongan Kawung Anten. Penelitian ini menggunakan teori estetika instrumental A.A.M Djelantik dengan memakai pendekatan metode kualitatif deskriptif analisis. Adapun hasilnya adalah satu-satunya repertoar tari Jaipongan yang enerjik, dinamis, dan maskulin dengan menggunakan duhung sebagai propertinya.  Kata Kunci: Jaipongan, Tari Kawung Anten, Estetika Tari.  ABSTRACT. Estetika Dance Jaipongan Kawung Anten Gugum Gumbira Works, Desember 2020. Kawung Anten is one of the Jaipongan dances created by Gugum Gumbira around1991, the background story of a princess from the Sumedang Larang Kingdom named Kawung Anten who got a task from her father, Prabu Jaya Perkosa, to guard the hanjuang tree. This dance has different characteristics from the previously created Jaipongan dance works, especially in the property used, namely the duhung (a traditional weapon originating from Sumedang). Starting from this difference, it became one of the writers' interests to conduct further research in an effort to explore the aesthetics of the Jaipongan Kawung Anten Dance. This research uses the instrumental aesthetic theory of A.A.M Djelantik using a descriptive qualitative analysis method approach. The result is the only repertoire of Jaipongan dance that is energetic, dynamic, and masculine using duhung as its property. Keywords: Jaipongan, Kawung Anten Dance, Dance Aesthetics.       
DARI KLASIK KE KONTEMPORER: DINAMIKA PERKEMBANGAN TARI SUNDA Meiga Fristya Laras Sakti; Lia Amelia; Ria Dewi Fajaria
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan dalam dunia tari saat ini sangat pesat, terutama dalam bentuk penyajian tari. Munculnya beragam bentuk tari kreasi maupun tari kontemporer di wilayah Kota Bandung, menunjukkan perkembangan yang signifikan. Keberadaan penciptaan tari dapat bersinergi dan memberikan dampak positif dalam keilmuan seni tari, berupa proses penciptaan karya seni pertunjukan. Proses penciptaan tari di Kota Bandung khususnya dalam ruang akademisi tradisi, tanpa disadari berangkat dari bentuk kaidah Tari Sunda yang ada dalam ruang institusi menurut kurun waktu “Akademisi Seni Tari Indonesia (ASTI), Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) sampai dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung”. Tujuan penelitian ini mengungkapkan perkembangan idiom-idiom tari tradisi budaya Sunda yang direkontruksi dalam kaidah keilmuan penciptaan tari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, menggunakan teori Strukturasi A. Gidden. Dimana institusi ditempatkan sebagai agen perubahan yang melahirkan aktor-aktor yaitu seniman atau kreator tari hasil lulusan dari proses Pendidikan agen tersebut, sesuai dengan kurikulumnya. Bagaimana para aktor dapat mendominasi dan memiliki nilai otoritatif serta alokatif; Bagaimana aktor dapat melegitimasi hasil karya tarinya dan bagaimana peran agen dan aktor dalam mengsignifikansikan proses perkembangan fenomena kekaryaan tari saat ini. Hasil dari penelitian ini akan diseminarkan dengan capaian prosiding, jurnal nasional terakreditasi sinta, dan HKI (Hak Kekayaan Intelektual) berupa karya tulis ringkasan penelitian.
KONSEP PENCIPTAAN TARI ‘PRAPANCA GARINI’ BERLATAR PERJUANGAN, KEGELISAHAN NYAI RADEN DEWI KONDANG HAPA Sakinnatun Nisa; Ria Dewi Fajaria
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prapanca Garini merupakan judul karya tari yang menggabungkan dua kata yaitu prapanca artinya gelisah, dan Garini adalah istri. Judul karya tari ini diartikan sebagai perjuangan Nyai Raden Dewi Kondang Hapa yang gelisah karena dipoligami. Karya tari ini digarap dalam tipe dramatik, dan untuk mewujudkanya dilakukan langkah-langkah proses kreatif menggunakan metode eksplorasi, improvisasi dan komposisi. Hasilnya, terwujudnya koreografi kelompok dengan lima orang penari perempuan multi peran dalam gambaran kegelisahan Nyai Raden Dewi Kondang Hapa sebagai seorang istri yang mengalami poligami, dan diusung oleh kekuatan garap musik tari serta artistik tari meliputi penataan rias, busana, cahaya lampu dan panggung. ABSTRACT THE CONCEPT OF CREATION OF 'PRAPANCA GARINI' DANCE BASED ON THE STRUGGLE, THE ANXIETY OF NYAI RADEN DEWI KONDANG HAPA, DECEMBER 2025. 'Prapanca Garini' is the title of a dance work that combines two words, namely Prapanca which means restless, and Garini which means wife. The title of this dance work is interpreted as the struggle of Nyai Raden Dewi Kondang Hapa who is restless because of polygamy. This dance is worked on a dramatic type, and to realize it, the creative process steps are carried out using exploration, improvisation and composition methods. The result is the realization of a group choreography with five female dancers in multiple roles in the depiction of Nyai Raden Dewi Kondang Hapa's restlessness as a wife who experiences polygamy, and is carried by the power of dance music and artistic work including makeup, costume, lighting and stage arrangements. Keywords: Prapanca Garini, The Story of Nyai Raden Dewi Kondang Hapa, Dramatic Dance.