Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pers Libertarian TOPAN BILARDO
Jurnal Network Media Vol 2, No 1 (2019): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v2i1.446

Abstract

PERAN MEDIA MASSA DALAM PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK TERHADAP KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH Achmad Naufal Naufal; Muhammad Iqbal Fakhlevi; Topan Bilardo
SYMBOLE Vol. 4 No. 1 (2026): SYMBOLE (In Press)
Publisher : Yayasan Formadana Tabagsel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media massa memegang peranan yang sangat strategis dalam membentuk opini publik terhadap berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah. Di era konvergensi media dan digitalisasi informasi, fungsi media massa tidak hanya sebatas penyampaian berita, melainkan telah berkembang menjadi aktor yang turut memengaruhi konstruksi realitas sosial di tengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis peran media massa dalam pembentukan opini publik terhadap kebijakan pemerintah daerah; (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pemberitaan media dalam membentuk persepsi masyarakat; dan (3) menelaah dinamika interaksi antara media massa, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam konteks kebijakan publik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur sistematis (systematic literature review) terhadap 50 sumber yang diterbitkan antara tahun 2019–2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media massa berperan melalui tiga mekanisme utama: agenda setting, framing, dan priming. Efektivitas pembentukan opini publik dipengaruhi oleh kredibilitas media, aksesibilitas informasi, dan tingkat literasi digital masyarakat. Kajian juga menemukan bahwa media sosial telah menggeser dominasi media konvensional dalam membentuk opini publik, meski menimbulkan tantangan berupa penyebaran disinformasi dan polarisasi opini. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pemerintah daerah dalam merancang strategi komunikasi kebijakan yang efektif dan responsif terhadap dinamika media.
REPRESENTASI PERAN AYAH SEBAGAI FIGUR PENGASUH DALAM FILM PANGGIL AKU AYAH (2025): ANALISIS TEORI REPRESENTASI STUART HALL DAN ANALISIS NARATIF TZVETAN TODOROV Muhammad Egalit Tualeka; Rizky septiandra; Topan Bilardo
SYMBOLE Vol. 4 No. 1 (2026): SYMBOLE (In Press)
Publisher : Yayasan Formadana Tabagsel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi peran ayah sebagai figur pengasuh dalam film Panggil Aku Ayah (2025) karya Benni Setiawan. Fenomena fatherless yang kian meluas di Indonesia, dikombinasikan dengan pergeseran narasi sinema Indonesia tentang peran ayah, melatarbelakangi urgensi kajian ini. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan paradigma konstruktivisme, penelitian ini memadukan Teori Representasi Stuart Hall dan Analisis Naratif Tzvetan Todorov yang dimodifikasi oleh Lacey dan Gillespie sebagai kerangka analitik utama. Novelty penelitian ini terletak pada integrasi dua kerangka teori tersebut untuk mengkaji secara simultan dimensi struktural-naratif dan dimensi representasional-kultural dalam satu objek kajian film Indonesia kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Panggil Aku Ayah merepresentasikan transformasi signifikan peran ayah melalui lima tahapan naratif Todorov: dari equilibrium yang menampilkan figur ayah konvensional sebagai provider dan protector, melewati disruption berupa krisis pengasuhan, recognition atas kegagalan relasional, serangkaian attempt to repair, hingga mencapai new equilibrium di mana figur ayah bertransformasi menjadi caregiver yang aktif, hangat, dan hadir secara emosional. Representasi peran caregiver mendominasi narasi dengan proporsi terbesar, diikuti protector dan provider. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus kajian representasi gender dalam sinema Indonesia dan membuktikan bahwa film dapat menjadi medium transformasi sosial dalam membentuk ulang norma pengasuhan ayah.