Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTERPRETASI POLA PENYEBARAN BATUAN DAN DAERAH TERAKUMULASI AIR TANAH MENGGUNAKAN METODE MAGNETIK DESA OEMATNUNU KABUPATEN KUPANG Oktavianus Kette; Hadi I. Sutaji; Bernandus Bernandus
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 5 No 2 (2020): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/fisa.v5i2.2284

Abstract

Abstrak Telah dilakukan penelitian interpretasi pola penyebaran batuan dan daerah terakumulasi air tanah menggunakan metode magnetik di Desa Oematnunu Kabupaten Kupang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola sebaran batuan dan daerah terakumulasinya air tanah serta membuat pemetaannya. Akuisisi data dilakukan dengan Proton Precession Magnetometer (PPM) tipe GSM–19T dan data yang diperoleh berupa nilai medan magnet total serta variasi harian yang diolah serta diinterpretasikan secara kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif menunjukkan nilai anomali medan magnet total berkisar -250 nT sampai 450 nT dan terbagi atas anomali medan magnet rendah pada kisaran -250 nT sampai -10 nT, anomali medan magnet sedang dengan kisaran nilai -10 nT sampai 110 nT serta anomali medan magnet tinggi di kisaran 110 nT sampai 450 nT. Untuk interpretasi kuantitatif menunjukkan struktur batuan yang diduga berupa batu pasir (aquifer) berada di bagian utara hingga barat laut dengan kedalaman sekitar 0 m - 100 m. Kata kunci: Metode magnetic; suspeptibilitas; akuifer; Oematnunu Abstract Interpretation of rock distribution patterns and areas groundwater accumulation using magnetic methods in Oematnunu Village Kupang District. The purpose of this research was to determine the pattern distribution of rocks and areas of groundwater accumulation and to make the mapping. The acquisition data was carried out by using the GSM-19T Proton Precession Magnetometer (PPM) and the data obtained in the form of total magnetic field values and daily variations were processed and interpreted qualitatively and quantitatively. The qualitative interpretation shows the total magnetic field anomaly values ranging from -250 nT to 450 nT and is divided into low magnetic field anomalies in the range -250 nT to -10 nT, moderate magnetic field anomalies with values ranging from -10 nT to 110 nT, and high magnetic field anomalies. in the range 110 nT to 450 nT. For quantitative interpretation, it shows the rock structure which is thought to be sandstone (aquifer) in the north to the northwest with a depth of about 0 m - 100 m.Keywords: Magnetic method; suspension; aquifer; Oematnunu
Analisis  Kerapatan  Sambaran  Petir   Jenis  Cloud  To  Ground Berbasis Sistem  Informasi  Geografis di Kota  Kupang Tahun 2021-2022 Yohana Nenik; Abdul Wahid; Philips B. Mudamakin; Hadi I. Sutaji; Arief Tyastam
Magnetic: Research Journal of Physics and It’s Application Vol. 5 No. 2 (2025): Magnetic: Research Journal of Physics and It’s Application
Publisher : Program Studi Fisika - Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/magnetic.v5i2.499

Abstract

Telah dilakukan penelitian dengan judul Analisis Kerapatan Sambaran Petir Jenis Cloud To Ground Berbasis Sistem Informasi Geografis Di Wilayah  Kota Kupang Tahun 2021-2022. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis sambaran petir jenis cloud to ground (CG) di wilayah Kota Kupang dan hubungannya terhadap variasi ketinggian/elevasi dengan memanfaatkan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil menunjukkan bahwa pada Tahun 2021 jumlah sambaran petir tertinggi terjadi pada bulan Februari, sedangkan pada Tahun 2022 terjadi di bulan November. Kerapatan sambaran petir CG sepanjang Tahun 2021 adalah 291,41 sambaran/km² dan meningkat menjadi 336,30 sambaran/km² pada Tahun 2022, dengan kerapatan tertinggi lebih dari 300 sambaran/km². Kerapatan petir tertinggi Pada Tahun 2021 teridentifikasi di Kecamatan Alak, sementara itu pada Tahun 2022 menyebar di beberapa wilayah yaitu Kecamatan Kota Lama, Kelapa Lima, Oebobo, dan Maulafa. Distribusi kerapatan sambaran petir CG di wilayah Kota Kupang didominasi pada ketinggian 0-10 mdpl, ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan kerapatan petir di wilayah kota Kupang tidak berbanding lurus dengan pertambahan ketinggian. Hal ini disimpulkan bahwa meskipun ketinggian merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan awan konvektif, hal tersebut tidak berarti bahwa wilayah dengan luasan yang lebih besar pada ketinggian tertentu akan memiliki kerapatan petir yang lebih tinggi.