Yoyok Budi Pramono
Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kadar Lemak dan Organoleptik Daging Analog Jamur Shitake dengan Perbandingan Tepung Terigu dan Tepung Biji Kecipir Berbeda Tria Septiawati; Nurwantoro Nurwantoro; Yoyok Budi Pramono
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2023.35146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan perbandingan tepung terigu dan tepung biji kecipir terhadap kandungan lemak dan organoleptik daging analog jamur shitake. Materi yang digunakan adalah jamur shitake, biji kecipir, tepung terigu dan bahan tambahan lain untuk membuat daging analog dengan formulasi yang berbeda tiap perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 replikasi. Penelitian ini terdiri dari formulasi yang dibagi menjadi 4 perlakuan perbedaan perbandingan tepung biji kecipir, jamur shitake dan tepung terigu dengan perbandingan 0:3:7; 1:3:6; 2:3:5; dan 3:3:4. Analisis data yang digunakan yaitu Analysis of Variance (ANOVA) untuk data parametrik dan Uji Kruskal-Wallis untuk data non-parametrik pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa daging analog jamur shitake dengan perbedaan perbandingan tepung terigu dan tepung biji kecipir memberi pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar kadar lemak dan organoleptik daging analog jamur shitake. Semakin banyak penggunaan tepung biji kecipir dapat meningkatkan kadar lemak dan meningkatkan kesukaan warna dan tekstur daging analog jamur shitake. Perlakuan dengan perbandingan antara tepung biji kecipir, jamur shitake dan tepung terigu berturut-turut yaitu 2:3:5 (P2) merupakan perlakuan terbaik.The aim of this research was to find out the effect of differences ratio of wheat flour and winged bean seeds flour on fat content, and organoleptic shitake mushroom meat analog. The material used were shitake mushrooms, winged bean, wheat flour, and other additives to make analog meat with different formulations for each treatment. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replication. The research consisted by a formulation which was divided into 4 treatments with the different ratio of winged bean seeds flour, shiitake mushroom and wheat flour with ratio of 0:3:7; 1:3:6; 2:3:5; and 3:3:4.  Data analysis used was Analysis of Variance (ANOVA) for parametric data and Kruskal-Wallis test for non-parametric data at 5% significance level. The result showed that shiitake mushroom analog meat with different ratio of wheat flour dan winged bean seeds flour had a real effect (P<0,05) to fat content and organoleptic.The more use of winged bean seeds flour can increase fat content and preferences color and texture of shiitake mushroom analog meat. The treatment with different ratio of winged bean seeds flour, shiitake mushroom and wheat floor in a row 2:3:5 is the best treatment.
Kadar Air dan Sifat Organoleptik Teh Daun Sirsak dan Daun Stevia dengan Lama Pengeringan Berbeda Ayunda Intan Bistyari; Yoyok Budi Pramono; Bambang Dwiloka
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2023.35345

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air dan sifat organoleptik berupa warna dan rasa pada teh daun sirsak dan daun stevia dengan lama pengeringan yang berbeda serta mengetahui pengaruh lama pengeringan yang berbeda pada teh daun sirsak dan daun stevia. Materi yang digunakan adalah daun sirsak, daun stevia, air, kantong teh celup, cup kecil, cawan, loyang, oven, desikator, timbangan, dan kertas quisioner. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Penelitian ini terdiri dari formulasi yang dibagi menjadi 5 perlakuan berupa lama pengeringan menit ke 30; 60; 90; 120 dan 150. Analisis data yang digunakan yaitu Analysis of Varian (ANOVA) untuk kadar air dan uji Kruskal-Wallis untuk sifat organoleptik dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa teh daun sirsak dan daun stevia dengan lama pengeringan yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (p≥0,05) terhadap kadar air, dan memberikan pengaruh nyata (p<0,05) pada sifat organoleptik warna dan rasa. Perlakuan dengan lama pengeringan 150 menit merupakan perlakuan terbaik secara kimia, dan 90 menit secara sensori.AbstractThis study aims to determine the water content and organoleptic properties of color and taste in soursop leaf tea and stevia leaf with different drying times and to determine the effect of different drying times on soursop leaf tea and stevia leaf. The materials used were soursop leaves, stevia leaves, water, tea bags, small cups, saucers, baking sheets, oven, desiccator, scales, and questionnaire paper. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. This study consisted of a formulation which was divided into 5 treatments in the form of drying time to 30; 60; 90; 120 and 150 minutes. The data analysis used was Analysis of Variance (ANOVA) for moisture content and Kruskal-Wallis test for organoleptic properties with a level of confidence. 95% and followed by the Mann-Whitney test. The results showed that soursop leaf tea and stevia leaf with different drying times did not have a significant effect (p≥0.05) on the moisture content, and had a significant effect (p<0.05) on the organoleptic properties of color and taste. Treatment with a drying time of 150 minutes was the best chemically and 90 minutes sensory.
Aktivitas Antioksidan, Total Asam, Kadar Protein, dan Tingkat Kesukaan Yoghurt Jagung dengan Penambahan Sari Parijoto (Medinilla speciosa B.) Ana Rohana Nuranggraeni Wijayanti; Mina Khusania; Zevira Aldilata Safitri; Heni Rizqiati; Yoyok Budi Pramono
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.28225

Abstract

Produksi jagung di Indonesia berlimpah ruah namun untuk produk olahan jagung belum begitu banyak yang memanfaatkannya sehingga dapat diolah menjadi yoghurt. Untuk memperkaya kandungan antioksidan yoghurt maka dapat dilakukan penambahan sari buah yang mengandung aktivitas antioksidan yang tinggi. Salah satunya adalah parijoto. Buah parijoto merupakan buah yang sering dijumpai di Kudus tepatnya di Pegunungan Muria dan memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari parijoto terhadap aktivitas antioksidan, total asam, kadar protein, dan tingkat kesukaan pada yoghurt jagung. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jagung, buah parijoto, susu UHT, susu skim, CMC, starter yoghurt, sukrosa, dan reagen 2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH). Penelitian dilakukan dengan uji rancangan acak lengkap dengan variasi perlakuan yaitu T0 tanpa penambahan sari parijoto (kontrol), T1 dengan penambahan sari parijoto 5%, T2 dengan penambahan sari parijoto 10%, dan T3 dengan penambahan sari parijoto 15%. Data kadar aktivitas antioksidan dan kadar protein dilakukan analisis secara deskriptif kuantitatif. Data hasil pengujian total asam dianalisis dengan menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5%, jika terdapat pengaruh maka dilakukan uji lanjutan dengan uji wilayah Duncan. Tingkat kesukaan (organoleptik) dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dengan taraf signifikansi 5%. Jika terdapat pengaruh maka dilakukan uji lanjutan dengan uji Mann Whitney untuk mengetahui perbedaan antarperlakuan. Penambahan konsentrasi sari parijoto yang semakin tinggi akan meningkatkan aktivitas antioksidan dan kadar proteinnya. Total asam yoghurt jagung juga berpengaruh, dimana total asam akan semakin turun seiring dengan meningkatnya penambahan konsentrasi sari parijoto. Tingkat kesukaan yoghurt jagung secara umum disukai oleh panelis pada semua perlakuan.Corn production in Indonesia is abundant but for the processed corn products not so much that use it so it can be processed into yogurt. To enrich the antioxidant content of yogurt, the addition of fruit juices containing high antioxidant activity. One of them is parijoto. Parijoto fruit is a fruit that is often found in Kudus precisely in the Muria mountains and has a fairly high antioxidant content and has not been utilized optimally. This research aims to determine the effect of adding parijoto juice to antioxidant activities, total acids, protein levels, and the favorite levels on corn yogurt. The materials used in this study are corn, parijoto fruit, UHT milk, skim milk, CMC, starter yogurt, sucrose, PP reagent (rejection) 1%, reagent 2.2-diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH), a mixture of selenium catalysts, sulfuric acid technical (concentrated), H3BO3 4%, methylene indicator red (MR) and methylene blue (MB), NaOH 45%, NaOH 0.1 N, and HCl 0.1 N. The research used RAL test with variation of treatment is T0 without the addition of a parijoto juice (control), T1 with the addition of a 5% parijoto juice, T2 with the addition of a 10% parijoto juice, and T3 with the addition of 15% parijoto juice. Data on antioxidant activity and protein levels are performed in a quantitative descriptive analysis. The total acid test data is analyzed by using the Analysis of Variance test (ANOVA) with a significance of 5%, if there is an influence then the follow-up test with Duncan's test area. The level of preference (organoleptic) was analyzed using Kruskal Wallis's test with a significance of 5%. If there is an influence there is a follow-up test with Mann Whitney test to determine the difference between treatment. The addition of higher concentrations of parijoto sari increases the antioxidant activity and its protein levels. Total acid yogurt corn is also influential, where the total acid will be decreased as the increase of the concentration of parijoto juice. The favorite level of corn yogurt is generally liked by panelists on all treatments.