Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Model Pengelolaan Air Bersih di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan Alfonsus H Harianja,SP,M.Sc
Jurnal Ecolab Vol 14, No 2 (2020): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2020.14.2.111-124

Abstract

Kelangkaan sumberdaya air untuk memenuhi kebutuhan penduduk memerlukan sistem pengelolaan yang baik, dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia.  Penelitian ini dilakukan untuk membuat model pengelolaan sumberdaya air bersih di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan dengan menggunakan metode pemodelan system dinamics.  Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari dokumen berupa laporan, hasil penelitian dan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) yang terkait dengan kependudukan dan potensi sumberdaya air bersih pada kecamatan tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa penyediaan air bersih yang hanya mengandalkan sumber air tanah tidak mencukupi kebutuhan penduduk pada tahun 2019.  Rencana pemenuhan kebutuhan dengan penyediaan air oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan memanfaatkan air permukaan mulai tahun 2018 cukup membantu ketersediaan air bersih, namun kemudian mengalami defisit kembali pada tahun 2021.  Skenario penggunaan kembali grey water merupakan alternatif pengelolaan air bersih yang lestari yang dibuktikan oleh surplus air bersih sampai tahun 2023.
DISTRIBUSI PENCEMARAN MERKURI DI DAS BATANGHARI SUMATERA Dewi Ratnaningsih; Ridwan Fauzi; Muhamad Yusup Hidayat; Alfrida Suoth; Niniek Triana; Yunesfi Sofyan; Alfonsus H Harianja
Jurnal Ecolab Vol 13, No 2 (2019): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.872 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2019.13.2.115-123

Abstract

Pencemaran merkuri menimbulkan dampak berbahaya terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya.  Sungai Batanghari yang melintasi Provinsi Sumatera Barat dan Jambi, mempunyai potensi deposit emas, khususnya di wilayah hulu sungai yang berada di Provinsi Sumatera Barat. Hal tersebut telah mendorong timbulnya penambangan emas secara tradisional dengan menggunakan merkuri yang dilakukan oleh masyarakat. Aktivitas masyarakat tersebut mengakibatkan pencemaran merkuri di Sungai Batanghari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi pencemaran merkuri di Sungai Batanghari.  Pengambilan sampel dilakukan di 10 lokasi di DAS Batanghari yang berada di Provinsi Sumatera Barat dan 5 lokasi di Provinsi Jambi pada tahun 2007-2008. Data juga diambil 6 titik pantau yang berbeda yang berada di wilayah hulu Sumatera Barat dengan frekuensi pengambilan sampel dilakukan 5 kali dalam setahun dari tahun 2008-2014 yang dilaksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup, Provinsi Sumatera Barat dalam kerja sama pemantauan sungai dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hasil identifikasi tersebut mengindikasikan adanya distribusi merkuri baik di air sungai maupun sedimen sungai. Merkuri di air sungai berfluktuasi pada kisaran <0,0005 mg/L – 0,32 mg/L, sedangkan pada sedimen sungai terdeteksi dengan kisaran 0,01 – 0,42 mg/kg. Keberadaan merkuri di air sungai dan sedimen sungai perlu mendapatkan perhatian agar sumber pencemar yang berasal dari pertambangan emas tradisional dapat dicegah lebih lanjut sehingga dampak negatif pencemaran merkuri dapat diminimalisasi.
Mitigasi dampak pencemaran timbel di sekitar peleburan aki bekas Ridwan Fauzi; Muhamad Yusup Hidayat; Bambang Hindratmo; Siti Masitoh; Rahmad Onig Witama; Alfonsus H Harianja
Jurnal Litbang Industri Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.528 KB) | DOI: 10.24960/jli.v11i1.6364.39-47

Abstract

Pencemaran logam berat timbel (Pb) di sekitar peleburan aki bekas sudah sangat memperihatinkan dan sangat berisiko bagi kesehatan lingkungan. Penggunaan tanaman yang mempunyai kemampuan dalam menyerap timbel perlu diaplikasikan dengan memperhatikan kondisi lanskap di sekitar peleburan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas tindakan mitigasi dampak pencemaran timbel di udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi penanaman dalam desain lanskap membuktikan tanaman dapat menjadi agen pengendali pencemaran logam berat timbel yang efektif dengan diketahuinya trend peningkatan nilai jerapan timbel dalam daun beberapa jenis tanaman yang diaplikasikan. Jenis tanaman flamboyan (Delonix regia) adalah jenis tanaman yang paling tinggi konsentrasi timbel dalam daunnya yang mencapai 3.946,05 mg/kg, apabila dibandingkan dengan jenis tanaman yang lain seperti Pinus (Pinus merkusii) yang mencapai 2.062,14 mg/kg dan Mahoni (Swietenia macrophylla) yang mencapai 910,68 mg/kg.
CONSUMER ACCEPTANCE AND ECONOMIC VALUE OF Cratoxylum formosum ESSENTIAL OIL Muhamad Yusup Hidayat; Ridwan Fauzi; Grace Serepina Saragih; Alfonsus H. Harianja
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 10, No 1 (2023): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Agency for Standardization of Environment and Forestry Instruments

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/ijfr.2023.10.1.61-74

Abstract

Cratoxylum formosum (Jack) Benth. & Hook.f. ex Dyer is one of the plant species that have the potential to be developed into an antibacterial and antioxidant essential oil product. This study was conducted to determine the value of organoleptic tests and the consumers' willingness to pay (WTP) for the three variants of Cratoxylum formosum essential oil products. For the parameters of colour, hedonic test values and score tests showed good results; panellists did not mind the pure and mixed Cratoxylum formosum essential oil colours. However, for fragrance parameters, the hedonic test showed a dislike score. Most panellists disliked the strong "scent of leaves" of pure C. formosum oil. The score test showed satisfactory values, the panellists accept the fragrance of Cratoxylum formosum essential oil, but it is necessary to add a more preferred scent mixture to reduce the strong original fragrance of the oil. The cost of production of Cratoxylum essential oil is Rp.7,259.23 (USD 0.48)/mL or Rp.72,592.30 (USD 4.84) for every 10 mL. Based on the cost of production, the appropriate selling value for every 10 mL of Cratoxylum essential oil is a minimum of USD 4.84.
CONSUMER ACCEPTANCE AND ECONOMIC VALUE OF Cratoxylum formosum ESSENTIAL OIL Muhamad Yusup Hidayat; Ridwan Fauzi; Grace Serepina Saragih; Alfonsus H. Harianja
Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 10 No. 1 (2023): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : APTKLHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/ijfr.2023.10.1.61-74

Abstract

Cratoxylum formosum (Jack) Benth. & Hook.f. ex Dyer is one of the plant species that have the potential to be developed into an antibacterial and antioxidant essential oil product. This study was conducted to determine the value of organoleptic tests and the consumers' willingness to pay (WTP) for the three variants of Cratoxylum formosum essential oil products. For the parameters of colour, hedonic test values and score tests showed good results; panellists did not mind the pure and mixed Cratoxylum formosum essential oil colours. However, for fragrance parameters, the hedonic test showed a dislike score. Most panellists disliked the strong "scent of leaves" of pure C. formosum oil. The score test showed satisfactory values, the panellists accept the fragrance of Cratoxylum formosum essential oil, but it is necessary to add a more preferred scent mixture to reduce the strong original fragrance of the oil. The cost of production of Cratoxylum essential oil is Rp.7,259.23 (USD 0.48)/mL or Rp.72,592.30 (USD 4.84) for every 10 mL. Based on the cost ofproduction, the appropriate selling value for every 10 mL of Cratoxylum essential oil is a minimum of USD 4.84.