I Ketut Sinardja
Anesthesiology and Intensive Care Department, Udayana University, Sanglah General Hospital, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Correlation Between Protein Intake and Nitrogen Balance of Surgical Patients in Anesthesiology and Intensive Care Installation, Sanglah General Hospital, Denpasar, Bali, Indonesia Wiryana, Made; Sinardja, I Ketut; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Widnyana, I Made Gede; Panji, Putu Agus Surya; Aryabiantara, I Wayan; Cindryani, Marilaeta
BALI MEDICAL JOURNAL Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : BALI MEDICAL JOURNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.832 KB)

Abstract

Background: A cell injury from surgical stress in a trauma or a non-trauma case will induce a hyper metabolic response in which the protein degradation increases, the somatic protein synthesis decreases and the amino acid catabolism increases. Thus, the pyper metabolic response contributes to nitrogen loss in urine. This response, without an adequate nutrition, will lead an iatrogenic malnutrition and deterioration. A balance nitrogen formula through urinary urea nitrogen is one of many nutrition evaluation methods. This method aids in evaluating the daily nutrition status and it can be the baseline data for daily intake. Objective: To find a correlation between the protein intake and the nitrogen balance of the surgical patients in anesthesiology and intensive care installation, Sanglah General Hospital, Denpasar, Bali. Methods: Fifty-one surgical patients with trauma and non-trauma cases were observed for their protein intake for 2-3 days continuously. Moreover, they were evaluated for their nitrogen balance based on the urinary urea nitrogen per 24 hours for 2-3 days. For statistical analysis, we utilized Shapiro-Francia, Shapiro-Wilk, Spearman Frank correlation, two-sample t test, and multivariate regression analysis in Strata SE 12.1. Results: The correlation between the protein intake and the nitrogen balance on the first day was ra=0.50 (p<0.05), on the second day ra=0.70 (p<0,05), and on the third day ra=0.740 (p<0,05) Conclusions: There is a correlation between the protein intake and the nitrogen balance of surgical patients in Anesthesiology and Intensive Care Installation Sanglah General Hospital Denpasar.
STABILITAS HEMODINAMIK PADA PEMBERIAN FENTANYL SEBAGAI KOINDUKSI PROPOFOL DIBANDINGKAN DENGAN MIDAZOLAM PADA PEMASANGAN LARYNGEAL MASK AIRWAY Rismantara, I Dewa Gede Tresna; Sinardja, I Ketut; Widnyana, I Made Gede
Medicina Vol 45 No 3 (2014): September 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.935 KB)

Abstract

Kestabilan hemodinamik pada pemasangan laryngeal mask airway (LMA) dengan propofol sebagaiagen induksi dapat dioptimalkan dengan penambahan agen koinduksi. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui apakah fentanyl sebagai koinduksi dapat memberikan kestabilan hemodinamikdan  kondisi  relaksasi  yang  lebih  baik  dibandingkan  dengan midazolam  pada  pemasangan LMA.Setelah mendapat persetujuan dari bagian etik RSUP Sanglah Denpasar, 42 pasien dengan statusfisik ASA I dan II dilakukan pembiusan umum dengan pemasangan LMA, dipilih secara consecutiverandom sampling. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok A diberikan midazolam 0.03 mg/kgbb dan kelompok B diberikan  fentanyl 2 mcg/kgbb.  5 menit  setelah koinduksi pasien diinduksidengan menggunakan target control infusion (TCI) propofol efek target 4 mcg/ml hingga tercapai nilaibispectral index (BIS) 40-60. Kondisi hemodinamik dianggap tidak stabil bila terjadi penurunan nilaitekanan arteri  rerata  (TAR)   postinduksi  lebih dari 20% TAR basal. Total dosis propofol dihitungsejak mulai induksi sampai tercapai nilai BIS 40-60 yang tercatat pada mesin TCI. Kondisi relaksasidinilai  dengan  kriteria Young?s. Data  yang  didapat  akan  diolah  dengan  software  SPSS  17.0.karakteristik  sampel  diuji  normalitas  dengan Shapiro-Wilk  dan  homogenitas  dengan  tes  levene.Perbandingan hemodinamik dan total dosis propofol diuji dengan uji t-2-sampel tidak berpasangandan kondisi  relaksasi  saat pemasangan LMA diuji dengan  chi-square  dengan  tingkat kemaknaanP<0,05 Terdapat perbedaan yang tidak bermakna pada penurunan nilai TAR saat pemasangan LMAdibandingkan nilai basal pada kedua kelompok uji yaitu A 13,08%  (SB 2,88%) dan B 14.11%  (SB2.96%) dengan nilai P = 0.216, total dosis propofol yang digunakan secara signifikan lebih sedikit padakelompok A 118.71 mg (SB 13,24 mg) dibandingkan kelompok B 131,61 mg (SB 12.86 mg) dengan P =0,003,  sedangkan  kondisi  relaksasi  yang  dihasilkan  tidak  berbeda  bermakna  dengan P  =  0,739.Simpulan penelitian  ini bahwa  fentanyl  sebagai koinduksi propofol  tidak  lebih baik dibandingkanmidazolam  dalam hal  stabilitas hemodinamik  dan kondisi  relaksasi  pada  pemasangan LMA,  danmenurunkan  dosis  induksi  propofol  lebih  sedikit  dibandingkan  dengan midazolam.  [MEDICINA2014;45:145-150].
Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Chiari Malformation dan Syringomyelia Tomas Ari Kurniawan; I Ketut Sinardja
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.297 KB) | DOI: 10.14710/jai.v6i1.6651

Abstract

Latar belakang: Chiari malformation merupakan kelainan anatomi dari otak kecil dimana tonsil cerebellum turun ke arah Foramen magnum dan menimbulkan serangkaian gejala klinis. Secara umum kelainan ini memiliki 4 tipe klasifikasi berdasarkan derajat beratnya kelainan anatomi dari cerebellum. Pada beberapa kasus dijumpai kelainan juga disertai dengan syringomyelia. Tindakan yang bisa dikerjakan untuk mengurangi gejala klinis antara lain dengan melakukan dekompresi pada tulang cranium bagian occipital, sehingga dapat mengurangi gejala penekanan pada bagian cerebellum yang turun.Kasus: Pasien kami mengalami Chiari malformation tipe 2 dengan adanya syringomyelia. Gejala klinis yang muncul berupa nyeri kepala dan leher bagian belakang, disertai dengan kelemahan pada tangan kiri. Melalui tindakan operatif, dikerjakan dekompresi foramen magnum dan duroplasty. Anestesi dikerjakan dengan anestesi umum intravena, diberikan induksi dengan propofol dan fentanyl, pemeliharaan dengan propofol intravena dosis 100 mcg/kg/menit. Nyeri paska operasi pasien dikelola dengan epidural analgesia yang dipasang pada daerah setinggi vertebra cervical 3, dengan regimen bupivakain 0,1% dan morfin 0,5 mg dalam volume 5 ml.Ringkasan: Chiari malformation adalah kelainan anatomi cerebellum yang memiliki potensi berbahaya. Kompresi yang terjadi pada foramen magnum dapat menyebabkan terjadinya bulbar palsy dan menyebabkan apnea. Tindakan dekompresi dikerjakan untuk mencegah terjadinya kelumpuhan tersebut. Pasien dengan Chiari malformation seringkali disertai dengan syringomyelia dan hidrosefalus. Manajemen anestesi yang direncanakan sebaiknya tidak menimbulkan peningkatan tekanan intra kranial.
KUALITAS DAN DERAJAT NYERI PADA INJEKSI PROPOFOL INTRAVENA DENGAN PEMBERIAN LIDOKAIN INTRAVENA DI RSUP SANGLAH DENPASARr Pratiwi, Made Sindy Astri; Suranadi, I Wayan; Sinardja, I Ketut; Kurniyanta, I Putu
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i03.P01

Abstract

Induksi anestesi menggunakan propofol secara intravena menyebabkan nyeri yang dapat diatasi dengan premedikasi lidokain intravena. Hingga kini, belum ada penelitian terbaru mengenai derajat dan kualitas nyeri akibat induksi propofol dengan premedikasi lidokain intravena di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kedua hal di atas. Desain penelitian ini adalah deskriptif observasi cross-sectional bertempat di RSUP Sanglah Denpasar. Subjek penelitian dipilih dengan consecutive sampling berjumlah 39 pasien berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, berusia 18-64 tahun, BMI 18,5-22,9 kg/m2, status fisik ASA I atau II, menjalani operasi elektif dengan propofol intravena dan premedikasi lidokain intravena, serta menandatangani informed consent. Penilaian kualitas nyeri menggunakan SFMP-Q sementara derajat nyeri dinilai menggunakan kombinasi VAS dan NRS. Data yang terkumpul akan dianalisis secara univariat. Nyeri akibat propofol intravena dengan premedikasi lidokain penelitian ini ditemukan tidak nyeri 23,1%, nyeri ringan 74,4%, nyeri sedang 2,6%, dan tidak ada yang mengalami nyeri berat. Lidokain menyebabkan sensitisasi nyeri sensori yang rendah terhadap 80% pasien dan tidak mengalami gangguan afeksi pada 80% pasien. Pada penelitian ini, propofol intravena dengan premedikasi lidokain dapat mengurangi rasa nyeri dengan sensitisasi nyeri yang rendah tanpa gangguan afeksi.
Penatalaksanaan Anestesi pada Kehamilan dengan Tumor Medula Spinalis Supradnyawati, Ni Made; Suarjaya, I Putu Pramana; Sinardja, I Ketut
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.444 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i2.141

Abstract

Anestesi pada pembedahan nonobstetri dalam kehamilan merupakan tantangan khusus bagi ahli anestesi. Sekitar 0,75%2% pembedahan nonobstetri dilakukan selama masa kehamilan. Setiap tahunnya di AS diperkirakan sekitar 75.000 wanita hamil menjalani anestesi dan pembedahan. Penatalaksanaan anestesi optimal memerlukan pemahaman mengenai perubahan fisiologi maternal, pertimbangan terhadap fetus akibat pembedahan dan anestesi, dan upaya mempertahankan perfusi uteroplasenta dan oksigenasi maternal-fetus. Tujuan yang ingin dicapai adalah anestesi yang aman kepada ibu dan memelihara kesejahteraan janin. Kami melaporkan kasus wanita berusia 29 tahun dengan G4P1A21 25?26 minggu janin tunggal hidup yang mengalami kelemahan motorik akut pada kedua tungkai bawah, gangguan sensibilitas semua kualitas setinggi Th6, serta inkontinensia urine dan alvi. Hasil pemeriksaan penunjang magnetic resonance imaging thorakolumbal menunjukkan suatu massa di daerah epidural setinggi C7Th1 sisi kanan dan hambatan aliran likuor serebrospinal. Pasien dilakukan anestesi umum dengan intubasi endotrakeal. Induksi menggunakan propofol dan fentanyl, diikuti dengan penekanan krikoid. Fasilitas intubasi menggunakan vecuronium. Pemeliharaan menggunakan isofluran, oksigen, compressed air, bolus fentanyl dan vecuronium intravena intermitten. Posisi operasi adalah posisi prone. Intraoperatif ditemukan tumor ekstradura setinggi level C7Th1, dilakukan laminektomi total dan stabilisasi dengan pemasangan pedicle screw. Pascabedah pasien menunjukkan perbaikan status neurologis dan kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm.Anesthesia Management for Spinal Cord Tumor in PregnancyAnesthesia management for non-obstetric surgery in pregnancy was considered a specific challenge for anesthesiologist. About 0,752% of non-obstetric surgery is performed during pregnancy. Annually in the US, about 75.000 pregnant women are exposed to anesthesia and surgery. Optimal anesthetic management requires comprehensive understanding on maternal physiologic changes, fetal consideration due to effect of surgery and anesthesia, and maintaining uteroplacental perfusion and maternal-fetal oxygenation. The endpoint is to provide safe anesthesia for both the mother and fetal well being. We reported a case of a 29-year old pregnant woman G4P1021 single fetus with 2526 weeks of gestation, acute weakness of lower limbs, and sensibility impairment on all qualities at Th 6 level, as well as urine and alvi incontinence. Thoraco lumbal MRI examination showed epidural mass at C 7Th 1 level of the right side vertebrae, and cerebrospinal fluid flow obstruction. The patient underwent general anesthesia with endotracheal intubation. Induction with propofol and fentanyl, followed by cricoid pressure. Intubation was facilitated with vecuronium. Maintenance with isoflurane, oxygen, compressed air, intermittent IV bolus of fentanyl and vecuronium. Surgery was performed on prone position. Extradural tumor at C7Th1 vertebrae level was found intraoperatively and total laminectomy and stabilization with pedicle-screw were performed. Patient showed improvement in neurological status after the surgery, and the pregnancy was survived until aterm period.
Pemberian Salin Hipertonik 3% Selama Kraniotomi pada Pasien dengan Cedera Otak Traumatik Memberikan Relaksasi Otak yang Lebih Baik Dibandingkan dengan Manitol 20% Damayanthi, Made Ayu; Sinardja, I Ketut
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.624 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol2i3.152

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Manitol telah dipakai secara luas sebagai pilihan osmoterapi untuk menurunkan masa otak baik itu akibat cedera otak maupun tumor. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa salin hipertonik sama efektifnya bahkan lebih baik dalam menurunkan tekanan intrakranial maupun menurunkan masa otak intraoperatif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi relaksasi otak setelah pemberian salin hipertonik 3% dibandingkan dengan manitol 20% selama kraniotomi pada pasien dengan cedera otak traumatik. Subyek dan Metode: Empat puluh dua pasien dengan cedera otak traumatik yang memenuhi kriteria eligibilitas diikutsertakan dalam penelitian uji klinik prospektif ini. Keempatpuluhdua pasien dibagi menjadi dua kelompok, kelompok A menerima 5 mL/kgBB salin hipertonik 3% dan kelompok B menerima 5 mL/kgBB mannitol 20% yang diberikan saat insisi kulit kepala selama 15 menit. Pada saat pembukaan duramater, dokter bedah saraf menilai relaksasi otak berdasarkan skala empat poin, selanjutnya data relaksasi otak dibagi menjadi data dikotom (favorable dan unfavorable). Analisis statistik dilakukan uji chi-kuadrat dan nilai p0,05 dianggap signifikan. Hasil: Kondisi otak favorable didapatkan pada 19 pasien (90,5%) pada kelompok A dan 13 pasien (61,9%) pada kelompok B. Analisis statistik menyebutkan kondisi relaksasi otak setelah pemberian salin hipertonik 3% bermakna lebih baik dibandingkan dengan manitol 20% (uji chi-kuadrat), nilai p0,05). Simpulan: Pemberian salin hipertonik 3% selama kraniotomi pada pasien dengan cedera otak traumatik memberikan relaksasi otak yang lebih baik dibandingkan manitol 20% Hypertonic Saline 3% Provide a Better Brain Relaxation During Craniotomy in Patients with Traumatic Brain Injury Compared to Mannitol 20% Background and Objective: Mannitol has been widely used as an osmotherapy agent to reduce brain mass caused either by brain injury or tumor. Many studies argued that hypertonic saline is as effective or even better in reducing intracranial pressure and intraoperative brain mass. The purpose of this study was to evaluate brain relaxation after administration of hypertonic saline 3% compared to mannitol 20% during craniotomy in patients with traumatic brain injury.Material and Methods: Forty two patients who met the eligibility criteria were enrolled into this prospective clinical trial. Patients were randomized into two groups, group A received 5 mL/kg of hypertonic saline 3% and group B received 5 mL/kg of mannitol 20% at scalp incision, infused in 15 minutes. After opening duramater, neurosurgeon assessed brain relaxation on four-point scale. Data were dichotomized into two points (favorable and unfavorable) and analyzed by chi-square test, p-value less than 0.05 was considered significant. Results: Favorable brain were observed in 19 patients (90.5%) in group A and 13 patients (61,9%) in group B. Statistical analysis showed that brain relaxation after administration of hypertonic saline 3% was significantly better compared to mannitol 20% (chi-square test, p-value less than 0.05). Conclusion: The present study demonstrated that administration of hypertonic saline 3% provides better brain relaxation during craniotomy in patients with traumatic brain injury compared to mannitol 20%.
Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Cedera Medula Spinalis Segmen Cervicalis Kurniawan Komala, Tomas Ari; Suarjaya, I Putu Pramana; Sinardja, I Ketut
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.085 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i2.142

Abstract

Manajemen medula spinalis, terutama bagian cervical selama operasi dan resusitasi pasien dengan cedera spinal, memiliki banyak pertimbangan penting untuk ahli anestesi, antara lain dengan memperhitungkan hal-hal yang berpotensi menyebabkan cedera berat irreversibel selama dilakukan intubasi trakeal. Pasien laki-laki usia 57 tahun, datang ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar dalam kondisi sadar mengeluh nyeri pada leher dan tidak bisa menggerakkan ke empat anggota geraknya segera setelah kecelakaan. Pengelolaan anestesi untuk membantu tindakan operasi ini dilakukan dengan anestesi umum inhalasi dengan pemasangan pipa nasotrakheal non kinking, nafas kendali. Untuk premedikasi diberikan midazolam intravena, induksi dengan propofol dan fentanyl intravena, dan fasilitasi intubasi dengan menggunakan vekuronium intravena. Intubasi dikerjakan dengan bantuan glidescope untuk meminimalisasi ekstensi kepala. Pemeliharaan anestesi dengan menggunakan N2O, O2, sevofluran dan vekuronium intermitten. Monitoring tanda vital tekanan darah, laju nadi, EKG, SaO2, dan ET CO2. Operasi dikerjakan dengan posisi telungkup, pendekatan dari posterior. Selama operasi hemodinamik pasien relatif stabil. Hari I pascaoperasi dimulai program diet enteral, hari II pascaoperasi penderita dipindahkan ke ruangan biasa. Penilaian nyeri dengan Numeric Rating Scale (NRS) dengan hasil 12. Fungsi motorik pasien meningkat 1 point dibandingkan pre op, hari IX pascaoperasi penderita diprogram rawat jalan oleh sejawat Bedah Saraf. Cedera pada medulla spinalis segmen cervical memerlukan penanganan yang cermat. Penanganan jalan nafas definitif dengan melakukan intubasi trakheal harus sangat berhatihati, dan harus dijaga agar tidak terjadi cedera lebih jauh akibat tindakan laryngoscopy. Anesthetic Management for Patient with Cervicalis Spinal Cord InjuryManagement for spinal cord injury, especially the cervical part during surgery and also resuscitation of patients with spinal injuries, has many important considerations for anesthesiologists,which is also have potential to cause severe irreversible injury during tracheal intubation. Patient male, 57 years old, came to Sanglah Hospital with chief complain neck pain and could not move all extremities immediately after an accident. Anesthesia performed by general anesthesia inhalation with insertion nasotracheal tube. For premedication was given IV midazolam. Induction with IV propofol and fentanyl, and vecuronium used as muscle relaxant. Intubation performed with glidescope guidance to minimize the extension of the head. Maintenance of anesthesia with N2O, O2, sevoflurane and intermittent IV vecuronium. Monitoring during anesthesia and surgery such as blood pressure, pulse rate, ECG, SaO2, and ET CO2. The surgery was done with prone position and posterior approach. During surgery the patients hemodynamic relative stable. Day I post operation, patient start to have enteral diet, and the next day patient was transferred to regular ward. Pain assesment was done with Numeric Rating Scale (NRS) with score 12. Motor function of the patients increased 1 point compared to preoperation. Day IX post operation, patient was discharged from the hospital. Cervical spinal cord injury requires careful handling. Definitive airway by endotracheal intubation should be done with extreme careful, and shall not cause further injury due to laryngoscopy.