Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

A Postcolonial Biography of Sadrach: the Tragic Story of an Indigenous Missionary Singgih, Emanuel Gerrit
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.367-386

Abstract

Nowadays, many Indonesian Christians are fully aware that evangelic mission in Indonesian context is to be involved in the dialogue of life with one’s neighbor and share their struggles. Sadrach, an indigenous missionary who lived in 19th century, can be seen as a pioneer in this mission method. However, this method was not accepted by the foreign missionaries at that time. They accused Sadrach’s method as a form of syncretism. This work is an attempt to analyze Sadrach’s biography in the framework of postcolonial theory which argues that Indonesian Christians have to learn about their colonial past and strive to maintain equal relationships with non-Indonesian Christians. It is hoped that his achievements can be appreciated by the present generation, and they will not repeat the mistakes of the past. It is also good to be aware that resistance to Sadrach’s mission nowadays will come from some contemporary international mission-bodies which continue the old way of propagating Christian faith without regard to the context of Indonesia.[Banyak orang Kristen sekarang ini sadar bahwa misi dalam konteks Indonesia adalah melibatkan diri dalam dialog kehidupan dengan sesama dan ambil bagian dalam pergumulannya. Sadrach, seorang penginjil lokal yang hidup pada abad ke-19 dapat dianggap sebagai salah satu pelopor metode misionaris seperti ini. Akan tetapi penyebaran misi ala Sadrach ini tidak diterima oleh para misionaris asing. Upaya seperti ini dianggap sebagai sinkretisme. Tulisan ini merupakan studi biografi Sadrach dalam kerangka teori poskolonial yang bertujuan untuk menunjukkan peranan Sadrach dalam penyebaran misi Injil di Indonesia. Diharapkan generasi sekarang akan belajar dari dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan masa lampau. Studi ini juga untuk menyadarkan bahwa perlawanan terhadap model misi Sadrach pada masa kini akan muncul dari badan-badan misi internasional yang tetap menjadi model-model misi Kristen yang tidak memedulikan konteks Indonesia sama sekali.]
Etika Kitab Suci dan Hak Asasi Manusia. Tinjauan Hermeneutik Singgih, Emmanuel Gerrit
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 11, TAHUN 1998
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2065.038 KB)

Abstract

---
Di Antara Identitas dan Kebersamaan: Masalah Misi dan Universalisme di Dalam Trito Yesaya Singgih, Emmanuel Gerrit
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 06, TAHUN 1992
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3793.085 KB)

Abstract

----
Dari Kandungan Doktrinal Ke Kandungan Literer: Makna Keluaran 3:14 Singgih, Emmanuel Gerrit
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 10, TAHUN 1997
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1831.836 KB)

Abstract

--- 
"Apa yang mau dibuat dengan Allah yang kalah?" Makna Kej 33:10 Singgih, Emanuel Gerrit
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : P3TK, Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v9i01.2279

Abstract

Artikel ini khusus dipersembahkan kepada Romo Kardinal Prof. Dr. Ignatius Suharyo yang akan pensiun dari Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Isi artikel ini merupakan sebuah tanggapan atas disertasi Daniel K. Listijabudi (DKL) (Amsterdam, 2016) yang telah dicetak menjadi buku yang berjudul “Bergulat di Tepian” (Jakarta, 2019). Salah satu point penting yang ditanggapi di artikel ini adalah bahwa ternyata DKL berusaha memahami narasi “Pergumulan Yakub dengan Allah” (Kej 32:22-32) dalam konteks narasi menyeluruh Yakub-Esau, namun ia hanya memperhatikan konteks sebelum perikop tersebut dan mengabaikan konteks sesudahnya, khususnya Kej 33:1-20. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah dengan menganalisis “Kisah Yakub di Yabok” (Kej 32:22-32) dalam terang Kej 33:10 dan berusaha menemukan pemaknaan baru dan aktualisasinya dalam kehidupan beragama di Indonesia. Dari penelitian ini, ditemukan dua point penting: (1) Setuju dengan pendapat DKL, bahwa kisah Yakub di Yabok merupakan sebuah pengalaman mistik dalam mimpi (atau penglihatan), namun bukan pengalaman unio mystica (kesatuan mistik); dan (2) Kemenangan Yakub terhadap Allah di Yabok membawa perubahan sudut pandang dalam diri Yakub dalam memandang Esau, kakaknya. Pengalaman Yakub dengan Esau dapat pula diaktualisasikan pada relasi Kristen-Islam di Indonesia, di mana relasi ini tidak selalu baik. Namun pada akhirnya, kita diajak (Umat Kristen) untuk melihat Umat Islam di Indonesia itu secara keseluruhan, ternyata mereka seperti Esau yang menyambut Yakub dengan baik, “Ia ternyata baik!”.
Di Antara Identitas dan Kebersamaan: Masalah Misi dan Universalisme di Dalam Trito Yesaya Emanuel Gerrit Singgih
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 06, TAHUN 1992
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

----
Etika Kitab Suci dan Hak Asasi Manusia. Tinjauan Hermeneutik Emanuel Gerrit Singgih
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 11, TAHUN 1998
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

---
A Postcolonial Biography of Sadrach: the Tragic Story of an Indigenous Missionary Emanuel Gerrit Singgih
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.367-386

Abstract

Nowadays, many Indonesian Christians are fully aware that evangelic mission in Indonesian context is to be involved in the dialogue of life with one’s neighbor and share their struggles. Sadrach, an indigenous missionary who lived in 19th century, can be seen as a pioneer in this mission method. However, this method was not accepted by the foreign missionaries at that time. They accused Sadrach’s method as a form of syncretism. This work is an attempt to analyze Sadrach’s biography in the framework of postcolonial theory which argues that Indonesian Christians have to learn about their colonial past and strive to maintain equal relationships with non-Indonesian Christians. It is hoped that his achievements can be appreciated by the present generation, and they will not repeat the mistakes of the past. It is also good to be aware that resistance to Sadrach’s mission nowadays will come from some contemporary international mission-bodies which continue the old way of propagating Christian faith without regard to the context of Indonesia.[Banyak orang Kristen sekarang ini sadar bahwa misi dalam konteks Indonesia adalah melibatkan diri dalam dialog kehidupan dengan sesama dan ambil bagian dalam pergumulannya. Sadrach, seorang penginjil lokal yang hidup pada abad ke-19 dapat dianggap sebagai salah satu pelopor metode misionaris seperti ini. Akan tetapi penyebaran misi ala Sadrach ini tidak diterima oleh para misionaris asing. Upaya seperti ini dianggap sebagai sinkretisme. Tulisan ini merupakan studi biografi Sadrach dalam kerangka teori poskolonial yang bertujuan untuk menunjukkan peranan Sadrach dalam penyebaran misi Injil di Indonesia. Diharapkan generasi sekarang akan belajar dari dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan masa lampau. Studi ini juga untuk menyadarkan bahwa perlawanan terhadap model misi Sadrach pada masa kini akan muncul dari badan-badan misi internasional yang tetap menjadi model-model misi Kristen yang tidak memedulikan konteks Indonesia sama sekali.]
Dari Kandungan Doktrinal Ke Kandungan Literer: Makna Keluaran 3:14 Emanuel Gerrit Singgih
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 10, TAHUN 1997
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

---
Mati dan Bangkit Bersama Kristus: Sebuah Spiritualitas Kristen Berdasarkan Refleksi Biblis Kolose 2:16–3:4 Emanuel Gerrit Singgih; Nindyo Sasongko
Indonesian Journal of Theology Vol 5 No 2 (2017): Edisi Khusus Studi Biblika
Publisher : Asosiasi Teolog Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.683 KB) | DOI: 10.46567/ijt.v5i2.25

Abstract

What is “spirituality”? The term finds wide usage in the literature today, yet its meaning remains nebulous. One crucial problem lies in how precepts and propositions are maintained as truth, oftentimes becoming obstacles for the flourishing of authentic spirituality. In our reading of Colossians 2:16–3:4, we see the challenges Colossian Christians faced as stemming not from what has been termed the “Colossian heresy,” but rather from what we are calling the “Colossian orthodoxy.” Those who were enthusiastically eager in spiritual matters built stumbling blocks for the spiritual growth of others. In contrast, the epistolary author underscores for the Colossian church just how important is their union with Christ, which must be manifest in their everyday lives. We contend that authentic spirituality relies upon the love of God for the people of God, not on religious precepts.