Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

VALUASI EKONOMI EKOSISTEM MANGROVE DI KOTA MUKOMUKO, KABUPATEN MUKOMUKO, PROVINSI BENGKULU Zamdial Ta’alidin; Dede Hartono; Yar Johan
EnviroScienteae Vol 15, No 3 (2019): EnviroScienteae Volume 15 Nomor 3, November 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.928 KB) | DOI: 10.20527/es.v15i3.7436

Abstract

The purpose of this study is to calculate the economic valuation of mangrove ecosystems, as well as their contribution to the community in Mukomuko City, Mukomuko Regency, Bengkulu Province. This research was conducted by survey methods and using primary and secondary data. Primary data collection is done by observation and interview methods. The research respondents were determined by purposive sampling. Data analysis with qualitative descriptive method. The method of economic valuation was applied to estimate Total Economic Valuation (TEV) based on the total direct use value, indirect use value, option value, and existence value. Mangrove ecosystem in Mukomuko City is found in 3 locations (Bandar Ratu Village, Ujung Padang Village, and Pasar Mukomuko Village) with a total area of ± 121.14 ha. The composition of mangrove vegetation found in Mukomuko City consists of 4 true mangrove species and 1 non-mangrove species. The calculation results show that the TEV of the mangrove ecosystem in Mukomuko City is Rp. 7,135,622,252.76 per year or Rp. 58,903,931.41 per ha per year. Total Economic Value of the mangrove ecosystem in Mukomuko City consists of the direct use value of Rp. 732,600,000,- or Rp. 6,047,548.29,- per year; the indirect use value of Rp. 2,445,468,722.76,- or Rp. 20,187,128.30 per hectare per year; option value Rp. 25,984,530,- per year; existence value Rp. 3,858,309,000,- per year or Rp. 31,850,000 per hectare per year; and bequest value Rp. 73,260,000,- or Rp. 604,754.83 per hectare. The biggest use-value is the existing value, which is 54.07%, while the direct value only 10.22%.
PENGARUH PEMBERIAN BAYAM PADA PAKAN TERHADAP DURASI MOULTING KEPITING BAKAU (Scylla olivacea) DI TAMBAK KEPITING BAKAU Christina Natalia Sihombing; Dede Hartono; Maya Angraini FU
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlaot.v2i2.3067

Abstract

Kepiting bakau (Scylla olivacea) adalah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi maka perlu dilakukan peningkatan produksi kepiting bakau baik jumlah maupun kualitasnya. Salah satu perkembangan teknologi budidaya perikanan dalam meningkatkan produksi kepiting bakau yakni produksi kepiting lunak atau kepiting soka (soft shell). Tingginya peminat terhadap kepiting soka akan mendorong para pembudidaya untuk memproduksi lebih banyak kepiting soka. Namun ada kendala yang di alami dalam kegiatan produksi kepiting soka yaitu penggunaan metode mutilasi organ tubuh seperti kaki jalan atau kaki renang, hal seperti ini dianggap tidak layak untuk dilakukan dan melanggar hukum. Berdasarkan uji yang telah dilakukan terbukti bahwa ekstrak bayam dapat diberikan melalui pakan buatan dan efektif mempercepat moulting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung durasi moulting kepiting bakau di tambak kepiting yang diberi tambahan bayam dengan konsentrasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental, rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan setiap perlakuan memiliki 3 ulangan, pengamatan dilakukan setiap 24 jam. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat pengaruh konsentrasi bayam terhadap durasi moulting kepiting bakau. Dengan uji Beda Nyata Terkecil maka diketahui bahwa penambahan bayam 60 gr (P4) merupakan konsentrasi yang paling baik, yaitu dengan rata-rata moulting 13 hari dan menjadi durasi yang paling cepat dibandingkan dengan perlakuan lainnya.Hasil pengukuran parameter kualitas air didapatkan suhu berkisar 28-31 oC, salinitas berkisar antara 22-25 ppt, derajat keasaman (pH) berkisar 6,9-7,3 dan oksigen terlarut berkisar antara 5,4-6,3 mg/l. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas perairan cukup baik dan mendukung kehidupan kepiting bakau.