Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH KADAR HEMOGLOBIN DALAM SERUM TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN KADAR ALBUMIN Okta Riviana; Sistiyono Sistiyono; Siti Nuryani
Jurnal Labora Medika Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Labora Medika
Publisher : Program Studi Teknologi Laboratorium Medik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.807 KB) | DOI: 10.26714/jlabmed.3.2.2019.36-40

Abstract

Serum hemolisis merupakan faktor kesalahan tahap praanalitik yang dapat menganggu pemeriksaan karena adanya hemoglobin didalam serum. Hemoglobin tersebut menyebabkan perubahan warna yang menganggu analisa fotometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar hemoglobin dalam serum terhadap hasil pemeriksaan kadar albumin. Penelitian ini menggunakan sampel serum yang dibagi menjadi 6 kelompok, setiap kelompok dibuat 700µl, masing-masing ditambah 0 µl, 65 µl, 130 µl, 195 µl, 260 µl, 325 µl hemolisat dengan kadar hemoglobin 845 mg/dl sehingga didapatkan kadar hemoglobin dalam campuran 0 mg/dl, 78 mg/dl, 157 mg/dl, 235 mg/dl, 313 mg/dl, 392 mg/dl. Data hasil pemeriksaan kadar albumin sebanyak 42 data. Data dianalisis secara deskriptif dan statistik, untuk analisis statistiknya menggunakan uji One Way Anova. Hasil analisis deskriptif menunjukkan penurunan kadar albumin pada serum yang didalamnya mengandung kadar hemoglobin. Analisis statistik juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Uji One Way Anova menunjukkan ada perbedaan kadar albumin pada kadar hemoglobin dalam serum dan menunjukkan ada hubungan yang sangat kuat. Penurunan hasil kadar albumin karena kadar hemoglobin 96,5 % dan 3,5% oleh karena faktor lain. Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh kadar hemoglobin dalam serum terhadap hasil pemeriksaan kadar albumin. Semakin tinggi kadar hemoglobin dalam serum, hasil pemeriksaan kadar albumin semakin turun.
PENGARUH HEMOLISIS DALAM SERUM TERHADAP AKTIVITAS ENZIM ALANIN AMINOTRANSFERASE (ALT) Iswari Nurmandari; Siti Nuryani; Bambang Supriyanta
Jurnal Labora Medika Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Labora Medika
Publisher : Program Studi Teknologi Laboratorium Medik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.814 KB) | DOI: 10.26714/jlabmed.3.2.2019.41-44

Abstract

Hemolisis yang dapat menggangu pemeriksaan laboratorium disebabkan karena adanya hemoglobin dalam serum sehingga dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kadar hemoglobin dalam serum terhadap aktivitas enzim Alanin aminotransferase (ALT). Penelitian ini merupakan Eksperimen murni berupa sampel darah yang dibuat menjadi pool serum yang kemudian dibagi menjadi 6 kelompok. Masing-masing  kelompok ditambah hemolisat sebanyak 0 µl, 335 µl, 665 µl, 1000 µl, 1335 µl dan 1665 µl. Sehingga didapatkan kadar hemoglobin dalam 0 mg/dl, 85,2 mg/dl, 170,4 mg/dl, 231 mg/dl, 340,8 mg/dl dan 426,1 mg/dl. Kemudian diukur aktivitas enzim Alanin aminotransferase (ALT) dengan metode kinetik enzimatik. Hasil pemeriksaan akan diperoleh data sebanyak 42 data. Analisis deskriptif menujukan penurunan aktivitas enzim Alanin aminotransferase (ALT) pada serum yang mengadung hemoglobin. Uji ANOVA One-Way  menujukan adanya perbedaan aktivitas enzim Alanin aminotransferase (ALT) pada serum yang mengandung variasi hemoglobin. Uji korelasi menunjukan adanya hubungan yang sangat kuat antara kadar hemoglobin dalam serum terhadap pemeriksaan aktivtas enzim Alanin aminotransferase (ALT). Presentase penurunan aktivitas Alanin aminotransferase (ALT) karena kadar hemoglobin dalam serum sebesar 93,3 % dan 6,7% oleh faktor lain. Disimpulkan bahwa ada pengaruh hemolisis dalam serum terhadap aktivitas enzim Alanin aminotransferase (ALT).
Perbandingan Nilai Rasio Monosit Terhadap Limfosit (MLR) Pada Pasien Tuberkulosis Sebelum Dan Setelah Pengobatan Ririh Jatmi Wikandari; Qurrotu A’yuni Auliya; Fitriani Kahar; Siti Nuryani; Sistiyono Sistiyono
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55141

Abstract

Treatment monitoring is crucial for preventing drug resistance, using both clinical and laboratory approaches. One parameter receiving increasing attention is the monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR), which reflects the body's immune response to infection. Several studies have shown an increase in MLR in active TB patients, but its role as a predictive indicator of pulmonary TB treatment outcomes has not been fully studied. This study aimed to evaluate the value of MLR in predicting treatment success in pulmonary tuberculosis (TB) patients. This was a descriptive study with a cross-sectional design, using a population of smear-positive pulmonary tuberculosis patients undergoing treatment. A total of 40 newly diagnosed TB cases were randomly selected. Three ml of patient blood was collected in EDTA vacuum tubes and hematological parameters were analyzed. Blood was then drawn from the same patients after 1 month of antituberculosis treatment, and hematological parameters were analyzed. Pre- and post-treatment parameters were compared and analyzed using appropriate statistics. The results showed that patients diagnosed with pulmonary TB did not experience significant changes in monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR) values ​​before and after treatment.
PENGGUNAAN OVEN SEBAGAI ALTERNATIF PEMANASAN PADA PROSES PEMATANGAN JARINGAN TERHADAP KUALITAS HISTOMORFOLOGI APPENDIX DENGAN PEWARNAAN HE (HEMATOXYLIN-EOSIN) UMI RAHMAWATI NINGRUM; ULLYA RAHMAWATI; SUJONO SUJONO; SITI NURYANI
Journal of Nursing and Public Health Vol 13 No 1 (2025)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v13i1.8521

Abstract

Pendahuluan: Proses pematangan jaringan meliputi dehidrasi, clearing dan infiltrasi paraffin. Proses pematangan jaringan yang dilakukan menggunakan Automatic tissue processor memudahkan tenaga laboratorium dalam memproses jaringan tetapi juga memerlukan waktu yang cukup lama. Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pematangan jaringan. Suhu berpengaruh di dalam pelebaran celah membrane sel yang berdampak terhadap meningkatkan laju penetrasi dan pertukaran cairan. Penggunaan oven menjadi alternatif pemanasan pada proses pematangan jaringan agar proses menjadi lebih cepat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengtahui bahwa oven dapat dijadikan sebagai alternatif pemanasan pada proses pematangan jaringan terhadap kualitas histomorfologi Appendix dengan pewarnaan HE (Hematoxylin-Eosin). Metode: Jenis penelitian ini menggunakan metode observasional dengan desain penelitian post-test only control group yaitu 16 sampel jaringan Appendix dilakukan proses pematangan jaringan menggunakan alat oven sebagai alternatif pemanasan selama 6 jam dan menggunakan Automatic tissue processor selama 16,5 jam sebagai control lalu diamati histomorfologi dari setiap perlakuan. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan gambar dan grafik Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian proses pematangan jaringan Appendix menggunakan Automatic tissue processor selama 16,5 jam dan oven suhu 60OC selama 6 jam menghasilkan gambaran yang hampir sama. Kesimpulan: Oven dengan suhu 60OC selama 6 jam dapat digunakan sebagai alternatif pada proses pematangan jaringan terhadap kualitas histomorfologi Appendix dengan pewarnaan HE (Hematoxylin Eosin).